Ketika Madeline Berhenti Mencari Alice

A A

Ilustrasi seorang perempuan berapron berdiri di antara rangkaian bunga di sebuah toko. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Dua orang bertabrakan di sebuah bandar udara di New York, lalu pulang membawa ponsel yang salah. Yang satu bernama Jonathan. Ia membuka layar yang bukan miliknya, dan yang muncul bukan foto liburan atau daftar belanja, melainkan berkas perkara: laporan, potongan keterangan, gambar, tanggal, nama seorang anak perempuan yang diulang-ulang. Hampir seribu keping, dan semuanya mengarah ke satu perkara yang belum ditutup. Pemilik ponsel itu seorang polisi bernama Madeline, dan sejak halaman itu pembaca tahu ada sesuatu yang salah dengan cara Madeline bekerja.

Adegan itu berasal dari novel L’Appel de l’Ange karya penulis Prancis Guillaume Musso, terbitan 2017, tiga puluh delapan bab sepanjang 432 halaman. Sherli Putri Permatasari, mahasiswa Program Studi Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, membacanya dengan alat yang jarang dipakai untuk novel kriminal populer: psikoanalisis Sigmund Freud. Kajiannya, Libidinal Cathexis dalam Perjalanan Madeline dalam L’Appel de l’Ange Karya Guillaume Musso: Analisis Psikoanalisis Sigmund Freud, terbit di Jurnal Ilmu Budaya, Volume X Nomor 1, tahun 2026.

Daftar Isi
  1. Seribu Keping Berkas yang Ditemukan Orang yang Keliru
  2. Tiga Minggu di Kamar yang Tidak Ia Tinggalkan Sama Sekali
  3. Sebuah Toko Bunga di Paris dan Nama yang Sudah Lama Ia Simpan

Seribu Keping Berkas yang Ditemukan Orang yang Keliru

Ilustrasi tangan bertumpu di samping tumpukan berkas dan guntingan surat kabar.
Ilustrasi tangan bertumpu di samping tumpukan berkas dan guntingan surat kabar. [Foto: Pexels]

Novel itu tidak menyembunyikan harga yang sudah dibayar Madeline. Pada halaman 136 tertulis, dalam terjemahan yang dipakai Sherli, “Secara keseluruhan, ada hampir seribu kepingan kecil yang membentuk puzzle yang tragis dan mengerikan. Jelas, polisi muda itu terobsesi dengan kasus ini, bekerja siang dan malam selama enam bulan, hingga akhirnya menderita kelelahan fisik dan kehilangan akal sehatnya.” Kalimat itu diucapkan narator, bukan Madeline. Orang yang membacanya pertama kali justru orang asing yang tidak pernah ia temui sebelum tabrakan di bandara.

Anak yang dicari itu bernama Alice, tiga belas tahun, hilang. Yang membuat Madeline tidak bisa melepaskannya bukan berkas perkaranya, melainkan kamar anak itu. Ia pernah masuk ke sana, dan apa yang ia lihat membangunkan masa kecilnya sendiri: ibu yang depresi, ayah yang peminum, rumah yang tidak pernah tenang. Alice tumbuh dalam keadaan yang serupa, dengan ibu peminum dan ayah yang tidak diketahui keberadaannya. Pada halaman 157 novel itu tertulis, “Gadis itu benar-benar mengingatkannya kepada dirinya sendiri saat masih remaja.”

Baca juga Akun Wisata Lamongan Ditata Ulang Lewat Model 5A

Di sinilah Sherli menurunkan istilah yang menjadi judul kajiannya. Freud menyebut energi psikis yang mendorong manusia bertahan hidup sebagai libido, dan menyebut pemusatan energi itu pada satu objek sebagai cathexis. Objeknya tidak harus manusia; bisa gagasan, cita-cita, bahkan sebuah perkara. Ketika pemusatan itu terlalu rapat, objek tadi berhenti menjadi sesuatu di luar diri dan mulai terasa sebagai bagian dari diri sendiri. Kehilangannya, karena itu, tidak terasa seperti kehilangan orang lain, melainkan seperti kehilangan sepotong diri.

Kata libido di sini gampang disalahpahami. Dalam pemakaian Freud yang dipakai kajian ini, libido tidak terbatas pada hasrat seksual, melainkan mencakup segala dorongan hidup yang mencari kepuasan, termasuk cita-cita, pekerjaan, dan hubungan sosial. Karena itu seorang polisi yang menolak tidur demi satu berkas perkara bisa dibaca dengan istilah yang sama seperti orang yang jatuh cinta. Freud juga mencatat kecemasan bekerja sebagai pelindung, muncul persis ketika kemampuan seseorang memenuhi dorongannya terancam.

Madeline sendiri yang menaikkan taruhannya. Ia meyakinkan dirinya bahwa hanya ia satu-satunya orang yang benar-benar peduli pada nasib Alice, bahwa ia telah menggantikan posisi ibu anak itu, dan bahwa tanggung jawab atas hilangnya Alice ada di pundaknya. Malam itu ia membuat janji kepada dirinya sendiri. Pada halaman 157 novel tersebut tertulis, “Malam itu, dia berjanji kepada dirinya sendiri: jika dia tidak mampu menemukan Alice hidup-hidup, dia tidak akan pernah punya anak.”

Janji itu janggal kalau dibaca sebagai kalimat polisi. Ia masuk akal kalau dibaca sebagai kalimat orang yang sedang menghukum dirinya lebih dulu, sebelum tahu apakah ia bersalah. Sherli membaca janji tersebut sebagai bukti seberapa jauh energi psikis Madeline sudah berpindah: nasib seorang anak yang tidak ia kenal sebelumnya kini menentukan apakah ia akan punya anak sendiri. Kesetiaan semacam itu tidak bisa ditukar dengan objek lain, dan justru itulah yang membuatnya berbahaya. Selama Alice belum ditemukan, janji tersebut tidak menuntut apa-apa; ia baru menagih ketika pencariannya selesai dengan cara yang paling buruk.

Tiga Minggu di Kamar yang Tidak Ia Tinggalkan Sama Sekali

Selama pencarian masih berjalan, keadaan itu belum menjadi persoalan. Madeline menolak menangani perkara lain dan bersedia melakukan apa saja untuk mempertahankan harapan yang tersisa; kalimatnya di halaman 158 menyebut ia merasa tidak sanggup bekerja pada penyelidikan dan berkas yang lain. Selama masih ada yang dicari, energi itu punya tempat menempel. Freud menyebut proses melepaskan ikatan semacam ini sebagai mourning, berkabung, dan menganggapnya sebagai reaksi yang wajar dan akan selesai dengan sendirinya.

Baca juga Tujuh Cara Laki-laki Menyokong Perempuan di Hidden Figures

Kabar kematian Alice mencabut tempat menempel itu. Yang terjadi sesudahnya digambarkan novel tersebut dengan hemat: Madeline pulang, tidak masuk kerja keesokan harinya, juga hari-hari berikutnya, lalu selama tiga minggu tidak beranjak dari tempat tidurnya. Ia tidak lagi berminat menangkap pelaku kejahatan itu. Ia tidak sanggup membayangkan masa depan. Cerita itu berlanjut ke sebuah percobaan bunuh diri, bagian yang dalam novel dipaparkan dengan rinci dan tidak perlu diulang di sini. Yang penting bagi kajian tersebut bukan caranya, melainkan urutannya: kehilangan objek, lalu kehilangan alasan untuk merencanakan apa pun sesudahnya.

Freud memisahkan dua keadaan yang dari luar tampak sama. Pada perkabungan, dunia luar terasa kosong dan minat pada apa pun surut, tetapi harga diri orang yang berkabung tidak ikut runtuh. Pada melancholia, yang runtuh justru harga dirinya: muncul celaan terhadap diri sendiri, kutukan kepada diri sendiri, sampai harapan akan hukuman. Perbedaan satu unsur itu, tulis Sherli mengikuti Freud, yang memisahkan duka yang akan sembuh dari duka yang berbalik menyerang orang yang mengalaminya.

Tanda-tandanya sebenarnya sudah muncul lebih awal dalam novel itu, di luar urusan Alice. Pada halaman 73 ada dialog yang menohok Madeline dengan sebuah kejanggalan: ia membuat orang-orang di sekitarnya percaya bahwa ia sedang berusaha punya anak, sementara ia justru mengambil segala langkah pencegahan agar itu tidak terjadi. Jarak antara yang ia katakan dan yang ia lakukan itu, menurut pembacaan Sherli, adalah bekas dari janji yang ia buat sendiri bertahun-tahun sebelumnya dan tidak pernah ia cabut.

Sebuah Toko Bunga di Paris dan Nama yang Sudah Lama Ia Simpan

Yang menarik dari novel ini, menurut kajian tersebut, jalan keluarnya tidak datang dari perkara yang akhirnya terpecahkan. Ia datang dari orang lain yang mendorong Madeline pergi. Pada halaman 186 tertulis kalimat yang ditujukan kepadanya: “Kejarlah impianmu. Pergilah ke Paris dan bukalah toko bunga yang selalu kau bicarakan sejak dulu! Jangan biarkan itu hanya menjadi angan-angan saja.” Kalimat itu menyebut sesuatu yang sudah ada di kepala Madeline jauh sebelum Alice hilang.

Baca juga Kanal Londokampung dan Bule yang Memilih Njawani

Dalam kerangka yang dipakai Sherli, pemulihan dari melancholia berarti energi psikis itu menemukan tempat menempel yang baru. Madeline melepaskan profesi polisinya dan membuka toko bunga di Paris. Pekerjaannya berganti dari mencari orang yang hilang menjadi merawat sesuatu yang setiap hari harus diganti. Freud sendiri, dalam bacaan itu, menganggap perkabungan akan berakhir ketika ikatan lama dilepas dan objek baru bisa menampung energi yang tersisa, dan novel ini memilih menutup ceritanya persis di titik tersebut.

Bacaan semacam ini punya batas yang perlu disebut. Sherli menganalisis satu novel dengan satu kerangka teori, memakai metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat, dan datanya berupa penggalan narasi serta dialog yang ia pilih sendiri karena dinilai cocok dengan konsep Freud. Tidak ada yang diukur di luar teks. Madeline juga tokoh rekaan, bukan pasien, sehingga perjalanannya tidak bisa dijadikan gambaran tentang bagaimana duka bekerja pada orang sungguhan. Yang diperiksa kajian ini adalah bagaimana sebuah novel menyusun kehancuran seorang tokoh, bukan bagaimana manusia berkabung.

Satu novel juga bukan sastra Prancis. Kajian itu sendiri mencatat penelitian sebelumnya atas L’Appel de l’Ange bergerak di wilayah lain: Fitriani dan Widayanti membedah transposisi dalam penerjemahannya ke bahasa Indonesia, Aisyah dan Sajarwa menghitung kehilangan dan penambahan makna pada penerjemahan kala lampau, sementara Vozdova membacanya sebagai gejala novel kriminal populer Prancis yang menaruh perhatian besar pada lanskap kota. Pembacaan psikoanalisis semacam yang dikerjakan Sherli belum pernah dilakukan atas novel ini.

Di Paris, toko itu punya nama yang sudah dipilih Madeline jauh sebelum ia tahu akan memakainya, diambil dari judul sebuah lagu lawas Prancis: Le Jardin Extraordinaire. Berkas-berkas tentang Alice tidak disebut lagi sesudah itu. Yang tersisa hanyalah bunga yang harus diganti setiap pagi, dan seseorang yang datang lebih awal untuk menggantinya.

Bagikan

Baca Juga

Lirik Evakuasi Hindia dan Beban Jadi Figur Publik
Pustek UGM Uji Coba Belanja Daring di Pasar Kolombo
Mahasiswa UGM Uji Daun Kelor untuk Korban Perundungan
Mahasiswa UGM dan Ibaraki Belajar Olah Kakao Jadi Cokelat
UGM Buka Akses Pasar Petani Merauke lewat Digipangan
Dosen UGM: Erupsi Freatik Sinabung Nyaris Tanpa Tanda Awal