Kanal Londokampung dan Bule yang Memilih Njawani

A A

Ilustrasi seorang lelaki berbusana tradisi Jawa berdiri di halaman berpepohonan. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Anak-anak itu sedang mandi di sungai kecil ketika seorang lelaki berkulit putih berhenti di tepiannya. Salah satu bocah menyapanya dengan bahasa Inggris. “What is your name?” Lelaki itu balas bertanya pendek, “What?”, seakan tidak menangkap apa-apa. Adegan itu terekam dalam sebuah video kanal YouTube Londokampung. Rencana pura-pura tadi hanya bertahan beberapa detik.

Yang membocorkannya seorang bapak yang berdiri tak jauh dari situ. Dalam video yang sama ia berseru kepada anak-anak, “Heh, kui bule isoh boso Jowo!” Anak-anak tidak langsung percaya dan bertanya lagi kepada si bapak, benarkah orang asing itu bisa. Mereka lalu mengulang pertanyaannya dengan bahasa Jawa, menanyakan dari mana lelaki tadi berasal. Kali ini jawabannya datang dengan bahasa Jawa pula. Ia mengeluh rencananya digagalkan bapak-bapak itu. Ia menanyakan letak rumah mereka. Ia menggerutu karena mandi di sungai tidak mengajaknya.

Lelaki itu David Andrew Jephcott, kelahiran Australia, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai Cak Dave. Kanalnya, Londokampung, dibuka dengan sapaan yang selalu sama, halo dulurs, yok opo kabare. Kanal itu tercatat memiliki 5,81 juta pelanggan dan 574 video yang sudah dimonetisasi ketika Rino Andreas dari Universitas Sebelas Maret memeriksanya. Hasil pemeriksaan tersebut terbit dengan judul The Njawani Bule: Wacana Poskolonial pada Kanal YouTube Londokampung di jurnal Metahumaniora Volume 15 Nomor 1 tahun 2025.

Rino memilih sepuluh video secara purposif, lalu membacanya dengan analisis isi dan kerangka pemikiran Homi Bhabha. Yang ia kejar bukan kefasihan Cak Dave berbahasa Jawa, melainkan apa yang terjadi pada satu kata lama ketika kata itu dibalik. Kata itu “bule”. Semula ia menunjuk orang Eropa, lalu lama menempel pada gagasan tentang yang modern, yang unggul, dan yang sedikit lebih tinggi. Indonesia, tulis Rino, menyimpan memori kolektif tentang susunan seperti itu, warisan dari masa penjajahan yang tidak selesai dengan berakhirnya penjajahan. Bhabha menyebut tempat pertemuan semacam itu sebagai ruang ketiga. Ia bukan sebuah lokasi, melainkan keadaan ketika dua kebudayaan saling memandang dan tidak ada yang keluar utuh. Rino menempatkan kanal YouTube beserta kolom komentarnya sebagai ruang semacam itu, dengan satu tambahan yang tidak dimiliki novel atau film: penontonnya ikut menyusun maknanya sambil menonton.

Daftar Isi
  1. Sungai Kecil di Kampung Pelangi
  2. Pasar Gunung Pati dan Ayam Horen
  3. Surjan, Blangkon, dan Dua Layar

Sungai Kecil di Kampung Pelangi

Ilustrasi rumah-rumah berwarna cerah berimpitan di lereng sebuah kampung.
Ilustrasi rumah-rumah berwarna cerah berimpitan di lereng sebuah kampung. [Foto: Pexels]

Sungai tempat anak-anak tadi mandi berada di Kampung Pelangi, Semarang. Dari kampung itu Cak Dave berpindah ke Kota Lama. Di kawasan bangunan tua tersebut ia bercerita tentang sejarah tempat itu dan apa saja yang ada di dalamnya, seluruhnya dengan bahasa Jawa. Rino mencatat penuturan itu berjalan fasih dan mudah diikuti penonton. Seorang pendatang menerangkan sejarah sebuah kota Jawa kepada orang Jawa, memakai bahasa Jawa, di depan kamera yang ditonton jutaan orang Indonesia.

Baca juga Lima Kaidah Budaya dalam The Architecture of Love

Bahasa Jawa bukan satu lapis. Ia bertingkat: ngoko lugu, ngoko alus, kromo lugu, kromo inggil, masing-masing dengan alamat sosialnya sendiri, masing-masing menandai siapa berbicara kepada siapa. Kepada penonton yang tidak tumbuh dengan tingkatan itu, Cak Dave menerangkan arti kata seperti monggo dan maturnuwun. Penjelasan semacam itu biasanya datang dari guru bahasa, bukan dari orang yang bahasa ibunya bahasa Inggris. Di kanal ini, penerjemahannya berjalan dua arah sekaligus, ke bahasa Indonesia untuk penonton dan ke bahasa Inggris untuk si bule.

Bentuk kontennya prank. Cak Dave berpura-pura tidak bisa berbahasa Jawa, membiarkan orang di sekitarnya kebingungan, lalu membuka penyamaran pada saat yang dianggapnya tepat. Segmentasi penontonnya, catat Rino, didominasi orang Indonesia sendiri. Lelucon itu bekerja pada orang yang mengenali kedua bahasa sekaligus, dan tahu persis kapan penyamaran tadi jatuh. Kanal ini juga menyediakan sesuatu yang tidak dimiliki novel atau film, yaitu kolom tempat penonton menuliskan tafsirnya sendiri dan saling membacanya.

Pasar Gunung Pati dan Ayam Horen

Di pasar Gunung Pati, Semarang, penyamaran itu bertahan lebih lama. Cak Dave menanyakan harga dengan bahasa Inggris. Ia menanyakan apakah ayam yang dijual ayam kampung atau ayam potong. Para pedagang kelabakan. Dalam rekaman video tersebut, seorang pedagang menjawab dengan dua kata, “Yes, chicken”, lalu seorang pedagang lain menoleh dan bertanya, “You can speak in Indonesia?”

Hitungan harga pun tersendat. Seorang pedagang menghitung pelan sebelum menyebut angkanya dalam bahasa Inggris, sementara pedagang di sebelahnya menerjemahkan pertanyaan tadi ke bahasa Jawa untuk teman-temannya. Baru setelah Cak Dave sendiri berpindah ke bahasa Jawa, suasana pasar berbalik. “Waaa tos sek, ngerti boso Jowo,” ujar salah seorang pedagang dalam video itu.

Ada yang menuduhnya iseng. “Kok sampean ngerjain wong Jowo,” kata pedagang lain, masih dalam rekaman yang sama. Cak Dave batal membeli. Ia justru memberi kue kepada pedagang yang tadi berani menjawab dengan bahasa Inggris, berupa produk usaha kecil dari wilayah Gunung Pati. Pedagang itu menjawab pendek, “Maturnuwun.”

Baca juga Dua Gendang Bengkulu yang Sengaja Tak Seketuk

Adegan seperti itu yang membuat Rino memakai istilah mimikri. Dalam kerangka Bhabha, mimikri adalah peniruan yang tidak pernah utuh, dan justru pada ketidakutuhannya letak dayanya. Bahasa Jawa Cak Dave tidak pernah persis sama dengan bahasa penutur aslinya. Ia memakai dialek Jawa Timuran, tetapi selalu ada nuansa Barat yang tersisa di dalamnya. Selisih itu tidak disembunyikan, malah dijadikan bahan tawa. Mengutip Faruk, Rino menyebut peniruan yang tidak utuh semacam ini juga mengandung ejekan terhadap pihak yang selama ini menjadi patokan.

Perbandingannya ada. Rino menyebut studi Oh dan Oh pada 2017 tentang kanal Eat Your Kimchi, tempat vlogger kulit putih mengeksotiskan budaya Korea lewat wacana keunggulan Barat. Londokampung berjalan ke arah sebaliknya. Yang dijadikan tontonan bukan keanehan orang lokal, melainkan kejanggalan si pendatang ketika berhadapan dengan kebiasaan setempat.

Surjan, Blangkon, dan Dua Layar

Dalam video berjudul Apa Bahasa Jawa Lebih Kaya Daripada Bahasa Inggris, Cak Dave tampil mengenakan surjan dan blangkon. Ia memerankan dua orang sekaligus. Yang satu berbicara Jawa Suroboyoan dan diperlakukan sebagai orang Jawa. Yang satu lagi berbicara bahasa Inggris dan diperlakukan sebagai bule Australia. Keduanya dimainkan orang yang sama, di layar yang sama.

Di episode lain, yang menjadi bahan tertawaan justru si bule. Ada video tentang kesulitan orang asing memakai kloset jongkok. Ada video tentang bule yang kewalahan menghadapi makanan pedas. Rino membaca adegan-adegan itu sebagai pembalikan: yang dieksotiskan bukan lagi orang Timur, melainkan orang Barat yang gagal menyesuaikan diri. Pembalikan itu tidak berdiri sendiri. Kanal ini juga menampilkan slametan, kenduri dengan duduk lesehan, panen padi sambil berbatik, serta masakan seperti bongko mento dan lontong balap. Cak Dave menekankan sikap ewuh-pekewuh dan cara menyapa tetua desa dengan membungkuk. Sementara itu si bule ditampilkan blak-blakan, memotong pembicaraan, bertanya langsung tentang hal yang tabu, dan kaget menghadapi makan tanpa sendok. Kesederhanaan desa ditampilkan sebagai sesuatu yang layak dipelajari, bukan sebagai keterbelakangan yang perlu dikasihani.

Baca juga Manuskrip Lontar Trowulan Menunggu Giliran Didata

Tawanya datang dari penonton sendiri. Rino membaca kolom komentar kanal itu dan menemukan orang-orang yang merasa terhibur justru karena ada bule yang berperilaku seperti orang Jawa. Lelucon semacam itu hanya berfungsi kalau penontonnya memegang ukuran tentang bagaimana orang Jawa seharusnya bersikap, dan melihat lelaki di layar sedang memenuhinya.

“Identitas Cak Dave adalah hasil dari hibridisasi antara budaya Australia dan Jawa,” tulis Rino. Ia menyebut Cak Dave mengadopsi bahasa Jawa sampai ke dialek daerah, tetapi tetap membawa cara hidup dan cara pandang Barat. Hasilnya bukan orang Jawa, dan bukan lagi bule dalam pengertian lama, melainkan sesuatu yang menempati ruang di antara keduanya.

Rino juga menunjuk satu ketimpangan yang tidak ikut hilang. Ketika orang Timur meniru cara Barat, tiruan itu cenderung dibaca sebagai ejekan yang negatif. Ketika orang Barat meniru cara Timur, tiruan itu dipuji sebagai hal yang baik. Kanal yang membalik hierarki tersebut, dengan kata lain, masih berdiri di atas hierarki yang sama.

Bahannya pun terbatas. Rino bekerja dengan sepuluh video dari satu kanal, dipilih menurut pertimbangannya sendiri, tanpa mewawancarai penontonnya. Ia mencatat kritik bahwa pendekatan semacam ini berisiko justru memperkuat dikotomi Barat dan Timur yang hendak dibongkarnya. Satu kanal juga bukan gambaran seluruh cara orang Indonesia memandang orang asing.

Yang bisa dikatakan karena itu lebih sempit daripada kesimpulan besar. Sebuah kanal dengan jutaan penonton memperlihatkan bahwa relasi lama itu bisa dipermainkan, dan bahwa mempermainkannya laku ditonton. Apakah cara pandang di luar layar ikut bergeser, penelitian tersebut tidak menjawabnya. Rino sendiri menutup papernya dengan menyerahkan pertanyaan lain kepada peneliti sesudahnya, tentang gender dan seksualitas di ruang digital yang sama.

Di sungai kecil Kampung Pelangi, urusannya jauh lebih sederhana. Anak-anak itu bertanya sekali lagi sebelum percaya. “Iki bule jowo po ora? Sing ning YouTube?” Lelaki di tepi sungai itu tidak langsung mengaku. Ia balas bertanya, apakah bule di YouTube itu ganteng. Anak-anak mengiyakan. Baru sesudah itu ia menjawab, “Yo, kui aku.”

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi seorang perempuan berdiri di belakang mimbar kayu berbicara di hadapan hadirin yang duduk di ruangan beralas karpet.
Delapan Puluh Tuturan dari Tiga Video English Speeches
Kompleks bangunan Perguruan Tamansiswa Jetis di Yogyakarta beratap genting merah dilihat dari ketinggian.
Tembang Wasita Rini dan Kemerdekaan Perempuan
Tangan memegang wadah produk perawatan kulit.
Sunnydahye, Han Yoo Ra, dan Putih yang Berganti Nama
Tiga anak muda muslim berdiskusi sambil membaca berkas di sebuah ruang kerja
Ta'aruf, Positiverse Creations, dan Muslim Muda
Ilustrasi penari berkostum tradisional bermahkota bunga di panggung terbuka malam hari
Lagu Padha Nonton Gandrung Hidup Kembali di Kolom Komentar
Ilustrasi kamera di atas tripod menghadap rumah kayu di kampung pada sore hari
Guru SMP di Pati Menggarap 100 Episode Film Pendek dari Desa