Fandom Konser Selawat dan Kerja Para Penggemarnya

A A

Ilustrasi ribuan orang berbaris rapat mengikuti salat berjamaah di lapangan terbuka. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Solo 1998 dan Panggung yang Dipindahkan Habib Syech
  2. Probolinggo 2005 dan 2016: Dua Majelis Menyusul
  3. Catatan Rosyid 2021 tentang Lantai Konser
  4. Turner dan Chen: Kaus, Stiker, dan Logo yang Dijahit Sendiri
  5. Sesudah PPKM Dicabut, Rantai yang Belum Selesai

Cekricek.id — Sampai akhir 1990-an, selawatan di Indonesia hampir selalu punya bentuk yang sama. Orang duduk melingkar di serambi surau atau di halaman pesantren, rebana ditabuh pelan, dan Al-Barzanji dibacakan bergantian sampai larut. Yang hadir umumnya santri dan tetangga sekitar, dan acaranya menempel pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad. Indrawan (2011) mencatat selawatan sebagai seni membaca doa salawat yang dilakukan bersama dengan iringan rebana dan beberapa alat musik setempat. Bentuk itu bertahan lama, nyaris tidak berubah, sampai seseorang memindahkannya ke atas panggung.

Perpindahan itulah yang dibedah Miranti Rohmanda dan Manneke Budiman dari Universitas Indonesia dalam artikel Articulation of Selawat Concert Fandom in the Contestation of Popular Culture Arena yang terbit di jurnal Metahumaniora Volume 15 Nomor 3 tahun 2025. Keduanya tidak meneliti para pelantunnya, melainkan penontonnya. Mereka menelusuri unggahan Instagram tiga komunitas penggemar — Syekher Mania, Zahir Mania, dan Syubban Lovers — lalu membacanya dengan teori artikulasi Stuart Hall, yang melihat identitas sebagai sesuatu yang dirakit dari serpihan unsur yang berserakan, bukan sesuatu yang diwarisi utuh. Hall (1996) menyebut artikulasi sebagai penghubung antara praktik dan akibatnya, teks dan maknanya, pengalaman dan politik, yang kemudian merangkai diri menjadi struktur yang lebih besar.

Solo 1998 dan Panggung yang Dipindahkan Habib Syech

Ilustrasi kaus putih polos di atas mesin cetak sablon di sebuah bengkel kerja.
Ilustrasi kaus putih polos di atas mesin cetak sablon di sebuah bengkel kerja. [Foto: Pexels]

Ahbaabul Musthofa berdiri di Solo pada 1998 di bawah naungan Habib Syech. Konsep konsernya, menurut catatan yang dikutip artikel ini, bukan gagasan Habib Syech sendiri, tetapi hasilnya persis menyerupai konser musik populer: ada panggung, ada tata suara, ada lampu, dan ada ribuan orang yang menyanyi bersama. Yang membedakannya adalah busana jubah dan rebana sebagai alat musik utama. Sarr (2019) menulis bahwa Habib Syech dan kelompoknya memindahkan pertunjukan selawatan dari ruang tradisionalnya di pesantren ke ruang publik, ke pusat-pusat kota dan wilayah pedesaan. Penontonnya datang dari kalangan umum, bukan lagi hanya santri, dan mereka membentuk jaringan yang mengelilingi produksi konser itu sendiri.

Woodward dan rekan-rekannya (2012) merinci apa yang dibutuhkan panggung seperti itu: tim teknis yang tertata, musisi, pejabat setempat, tata cahaya dan tata suara yang canggih, serta layar video untuk penonton yang meluber. Persiapannya makan waktu sehari penuh. Model ini juga berbeda dari jalur yang lebih dulu ditempuh Haddad Alwi, yang menurut Fairuz (2013) merekam di studio lalu menjual karyanya lewat kaset dan berkas mp3. Habib Syech tidak menjual rekaman. Ia mengumpulkan orang. Haddad Alwi juga kerap menggandeng penyanyi religi lain untuk berduet, dengan lirik berbahasa Indonesia bercampur Arab.

Baca juga Naskah Turang dan Larangan Kawin Semarga di Karo

Sesudah itu, bentuknya menyebar seperti waralaba. Rosyid (2021) mencatat Ahbaabul Musthofa membangun basis dan anggota di banyak daerah dengan standar tertentu; di Kecamatan Cepogo saja terdapat 15 grup rebana bernama sama. Selawat pun lepas dari kalender. Artikel ini menunjuk satu unggahan Majelis Sholawat Nusantara yang memuat jadwal selawat bersama Ahbaabul Musthofa untuk Juni 2024 sebanyak 14 titik, padahal bulan Maulid tahun itu baru dimulai pada 5 September. Rosyid menempatkan majelis itu sebagai bagian dari gerakan keagamaan bercorak sufisme baru, sebagaimana dicatat Woodward dan rekan-rekannya pada 2012.

Probolinggo 2005 dan 2016: Dua Majelis Menyusul

Popularitas itu menarik kelompok hadrah lain untuk mengikuti pola yang sama, lengkap dengan tata suara, tetapi tetap memakai kitab kuning sebagai pegangan lirik. Pada 2005, Syubbanul Muslimin muncul di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Qadim Kali Kajar Kulon, Paiton, Probolinggo. Menurut pendirinya, Gus Hafid, kelompok itu menyasar anak muda agar dekat dengan agama lewat musik yang mudah diterima. Laili (2017) mencatat visinya membumikan selawat dengan misi membentuk pemuda yang cerdas, beradab, religius, dan nasionalis. Majelis itu belakangan kerap diundang ke luar negeri, antara lain ke Malaysia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan Tiongkok. Laili juga mencatat kelompok itu sempat mendatangi Ahbaabul Musthofa Probolinggo untuk mengembangkan model selawat yang bisa diterima masyarakat luas.

Sebelas tahun berikutnya, giliran Az-Zahir yang lahir dari Pondok Pesantren Az-Zahir di Desa Widoro, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, pada 2016. Pendirinya Habib Ali Zainal Abidin Assegaf. Mulanya majelis itu hanya disebut Majelis Maulid; namanya baru ditetapkan ketika jemaah meminta pendirinya memberi nama menjelang sebuah Maulid akbar. Ukuran keduanya kini bisa dilihat dari angka pengikut: 1,1 juta untuk Syubbanul Muslimin dan 912 ribu untuk Az-Zahir, sementara Habib Syech yang tidak punya akun pusat Ahbaabul Musthofa memiliki 2,4 juta pengikut. Angka pengikut itu belum menghitung puluhan akun daerah yang dikelola penggemarnya sendiri. Nama Az-Zahir kemudian melekat pada majelis, kelompok hadrahnya, sekaligus komunitas penggemarnya di daerah.

Catatan Rosyid 2021 tentang Lantai Konser

Yang terjadi di lokasi acara tidak sepenuhnya menyerupai konser. Rosyid (2021) menggambarkan peserta yang tidak berdiri seperti penonton konser pada umumnya, melainkan duduk di lantai; rebana ditabuh dari panggung kedua yang menghadap panggung utama; dupa dinyalakan panitia di depan panggung; sebagian orang mengangkat kedua tangan, sebagian mengibarkan bendera, sebagian merekam dengan telepon, dan sebagian lagi memejamkan mata selama kira-kira dua jam. Rangkaiannya dibuka sambutan ketua panitia, lalu peserta melantunkan selawat mengikuti nada yang relatif tetap. Acaranya ditutup dengan mahalul qiyam, ketika semua berdiri dan aroma parfum nonalkohol kembali memenuhi udara.

Sebelum doa penutup, tulis Rosyid, Habib Syech memimpin peserta menyanyikan Indonesia Raya. Sesudah itu doa dibacakan untuk yang sakit, untuk yang telah meninggal, untuk murid yang menghadapi ujian, untuk anak muda yang mencari pekerjaan layak, dan untuk yang belum menikah. Miranti Rohmanda menulis bahwa gambaran itu persis seperti konser selawat yang beberapa kali ia hadiri sendiri di Jawa Tengah, khususnya di Banyumas. Penonton, tulisnya, datang berombongan dengan sepeda motor atau bus, lalu mengikuti seluruh rangkaian dari muqaddimah sampai mahalul qiyam. Tidak ada yang berdesakan di depan panggung sepanjang acara berlangsung.

Baca juga Saat Dua Bahasa di Kepala Berebut Giliran Bicara

Uangnya juga tidak berputar seperti di konser pop. Tidak ada tiket. Yang membayar kelompok hadrah adalah pihak yang mengundang, dan alasan mengundangnya bermacam-macam: peringatan Maulid, ulang tahun sebuah lembaga, peresmian gedung, sampai hajatan pernikahan dan khitanan. Kelompok hadrah akan datang begitu undangan masuk, tanpa menunggu bulan Maulid, dan penonton masuk tanpa membayar apa pun. Kerumunan sebesar itu pula yang menghidupkan pedagang di sekitar lokasi acara. Justru di situ artikel ini melihat konsumsi bekerja dengan cara lain, karena yang dibeli bukan akses masuk melainkan benda-benda yang menandai keanggotaan.

Turner dan Chen: Kaus, Stiker, dan Logo yang Dijahit Sendiri

Di sekitar panggung, pedagang lepas menjual peci, sorban, tasbih, sampai foto tokoh hadrah yang sedang tampil. Di ruang digital, barangnya lebih rapi: akun syubban_shop menjual suvenir Syubbanul Muslimin, kaus Az-Zahir dijual Rp65.000 di sebuah lokapasar, kalender bergambar Habib Syech dijual akun toko.habibsyech, dan stiker Syekher Mania beredar sampai ke pasar elektronik. Turner (1993), yang dikutip artikel ini, menyebut diri yang mengonsumsi pada zaman modern sebagai sesuatu yang bersifat representasional; permukaan tubuh menjadi sasaran promosi diri sekaligus tempat stigma melekat. Yang dijual bukan hanya barang bertanda majelisnya, melainkan juga barang yang menandai penggemarnya sendiri.

Penanda yang paling dijaga justru bukan barang dagangan, melainkan logo. Syekher Mania memakai gambar jabat tangan antara tangan kuning dan tangan putih, dengan tulisan melingkar di atas dan nama daerah melingkar di bawahnya; akun Syekher Mania Pusat memiliki 198 ribu pengikut per Desember 2024 dan diikuti lebih dari 30 akun daerah. Syubban Lovers memakai kaligrafi berbingkai grafis menyerupai bangunan masjid, dengan frasa Istiqomah Tanpa Batas di setiap logo. Zahir Mania tidak punya akun pusat sama sekali, hanya akun daerah dengan latar hitam dan lencana emas menghadap ke atas. Setiap akun koordinator daerah memuat tautan ke akun majelis idolanya, ke akun koordinator itu sendiri, dan ke akun pengurusnya.

Baca juga Mengapa Ongkos Pilkada Berpindah, Bukan Hilang

Chen (2013) berpendapat penggemar dipersatukan oleh label maya sebagai tuntutan atas individualitas yang mandiri sekaligus kebutuhan mencari identitas komunitas; label itulah yang memisahkan mereka dari penonton kebanyakan. Hall (1996) menyebut identifikasi dibangun di atas ciri yang sama atau makna yang dibagi bersama, berikut solidaritas dan kesetiaan yang tumbuh di atasnya. Ketiga komunitas dalam kajian ini, catat kedua penulis, tidak pernah tercatat saling menjatuhkan atau berusaha mengungguli satu sama lain. Hampir semua akun dalam kajian ini dipakai untuk dua hal saja: mengabarkan jadwal konser bulan depan dan mendokumentasikan konser yang sudah lewat.

Sesudah PPKM Dicabut, Rantai yang Belum Selesai

Pandemi memutus semuanya. Kerumunan dilarang, panggung dibongkar, dan nilai komunitas itu dialihkan ke media sosial, terutama Instagram. Maulana (2024) mencatat Syekher Mania melakukan terobosan besar untuk bangkit kembali sesudah pandemi, dan banyak konser sudah digelar bahkan sebelum pencabutan resmi PPKM diumumkan pada 30 Desember 2022. Yang kembali bukan hanya acaranya, melainkan jaringan yang selama dua tahun hanya hidup di layar telepon. Haoyang He dan rekan-rekannya (2021) menyebut pergeseran semacam itu sebagai perpindahan dari penerima pasif menjadi peserta aktif yang ikut menciptakan idolanya lewat konsumsi.

Jaringan itu kini bekerja tanpa menunggu idolanya. Zahir Mania Purbalingga membuka peluang kerja sama sponsor dan media lewat unggahan 6 Desember 2024 untuk hari lahir kelimanya, sebuah acara yang bahkan tidak dihadiri Az-Zahir dan menampilkan tamu lain. Syubban Lovers Bojonegoro memasang panduan cara masuk grup WhatsApp mereka di sorotan akunnya. Syubban Lovers Nusantara mendeklarasikan diri pada 2017 dan sejak itu menggelar musyawarah nasional setiap 9 November, sementara temu darat kedelapan penggemar di Padang digelar 28 Maret 2021 di Taman Imam Bonjol, lengkap dengan aturan busana dan uang kas sepuluh ribu rupiah. Musyawarah nasional itu disiarkan langsung lewat kanal YouTube masing-masing koordinator daerah.

“Ketiga komunitas ini memanfaatkan budaya konsumerisme anggotanya, membentuk identitas melalui media sosial, dan melakukan strategi komunitas berupa pertemuan rutin hingga penggalangan dana kolektif,” tulis Miranti Rohmanda dan Manneke Budiman dalam abstrak artikelnya. Kesimpulan itu perlu dibaca dengan batasnya. Kedua penulis mengakui data digital tentang lokasi konser selawat tidak banyak tersedia, dan bahan mereka bertumpu pada unggahan Instagram serta studi pustaka, bukan wawancara dengan penggemar. Tiga komunitas juga bukan seluruh penonton selawat di Indonesia. Kajian ini juga tidak mengukur berapa banyak uang yang sebenarnya berputar di sekitar panggung.

Jenkins menulis pada 1992 tentang penggemar televisi yang berhenti menjadi penonton pasif dan mulai ikut memproduksi makna. Tiga puluh tahun kemudian, catatan itu dipakai untuk membaca orang-orang yang duduk bersila di lapangan, memejamkan mata dua jam, lalu pulang membawa stiker.

Bagikan

Baca Juga

Murid di Sentani Belajar Bahasa Daerah Sambil Mengaduk Papeda
Hutan Adat Talang Mamak Jadi Taman Nasional, Hak Kelola Terbatas
Menebang Lima Pohon di Tengger Dibayar 300 Pinus dan 50 Sak Semen
Orang Korowai Turun dari Rumah Pohon, Sagu Pun Berganti Nasi
Nyeri Punggung Bawah Menimpa 56 Persen Pegawai Bank di Pokhara
Pemakai Rokok Elektrik Korea Turun Setelah Imbauan Tahun 2019