Daftar Isi
Cekricek.id — Di halaman 42 novel itu, seorang anak perempuan bertanya kepada tiga orang sekaligus. “Ma, Pa, Bang ... sampai kapan reya gak dianggap begini?” Pertanyaannya tidak diteriakkan dan tidak dijawab siapa pun di halaman berikutnya. Ia hanya menggantung di ruang itu, lalu berpindah tangan: dari novel ke lembar data dua peneliti bahasa yang mencatatnya sebagai satu dari 193 tuturan, dan memberinya nama teknis, yaitu mengeluh. Di lembar itu ia berdiri sejajar dengan 192 kalimat lain yang diucapkan tokoh-tokoh di sekitarnya, sebagian jauh lebih keras, sebagian jauh lebih dingin.
Novel itu berjudul Aku Juga Ingin Dianggap, ditulis Wulan Dwi Biraeng, dan tokoh yang bertanya bernama Reyana. Yang mencatat adalah Tinatun Anggraini dan Haris Syukri dari Universitas Negeri Padang, lewat artikel Tindak Tutur Ekspresif dan Strategi Bertutur dalam Novel Aku Juga Ingin Dianggap Karya Wulan Dwi Biraeng yang dimuat jurnal Persona Vol. 5 No. 1 tahun 2026. Keduanya membaca seluruh dialog di dalamnya, memotongnya menjadi satuan tuturan, lalu menimbang satu per satu apa yang sebenarnya sedang dilakukan si penutur ketika ia membuka mulut. Sebab menurut kerangka yang mereka pakai, orang tidak hanya menyampaikan isi ketika berbicara; ia sekaligus memuji, mengancam, mengeluh, atau menolak.
Kerangkanya berumur puluhan tahun. J.L. Austin sudah menyatakan pada 1962 bahwa setiap ujaran pada dasarnya adalah tindakan, bukan sekadar rangkaian kata yang mengangkut informasi. John Searle kemudian memilah salah satu jenisnya, tindak tutur ekspresif, menjadi sepuluh bentuk: berterima kasih, mengungkapkan kebencian, mengkritik, mengungkapkan kesengsaraan, menyatakan rasa senang, memuji, mengecam, mengeluh, meminta maaf, dan mengucapkan selamat. Sepuluh nama itu yang dipasang Anggraini dan Syukri di atas dialog sebuah novel remaja.
Cara kerjanya sederhana dan melelahkan. Novelnya disimak dari halaman pertama sampai terakhir, setiap dialog yang mengandung muatan perasaan dicatat berikut konteks situasinya, lalu hasilnya dikonfrontasikan dengan dua kerangka teori sekaligus agar penafsirannya tidak bergantung pada kesan pembaca semata. Tuturan yang sama bisa muncul dua kali dalam laporan itu, sekali sebagai jenis emosi dan sekali lagi sebagai strategi bicara, sebab dua pertanyaan yang berbeda sedang diajukan kepada kalimat yang sama.
Empat Puluh Sembilan Kali Tokohnya Mengungkapkan Kebencian

Dari 193 tuturan yang terkumpul, kebencian menempati posisi teratas dengan 49 data atau sekitar 25 persen. Bentuknya tidak selalu berupa makian. Sering kali ia hanya penilaian yang dijatuhkan tanpa jeda, seperti kalimat di halaman pertama novel itu, “Kamu memang hobi sekali membuat masalah!” Tidak ada permintaan maaf yang mendahului, tidak ada basa-basi yang melunakkan. Penilaian itu langsung ditaruh di depan lawan bicara, dan Anggraini serta Syukri mencatatnya sebagai ancaman terhadap muka mitra tutur. Kalimat itu muncul di halaman pertama, sebelum pembaca sempat mengenal siapa yang sedang bicara kepada siapa.
Baca juga Aksesibilitas Borobudur: Enam Fasilitas, Dua Tersedia
Di bawahnya berdiri kecaman dengan 33 data dan kesengsaraan dengan 32 data. Kecaman biasanya membawa ancaman, seperti tuturan di halaman 8 yang berbunyi, “tunggu di sini! Istri saya akan datang. Ia juga akan menghukum kamu!” Kesengsaraan berjalan ke arah sebaliknya, memperlihatkan penuturnya sendiri yang sedang runtuh. Di halaman 113 novel itu tertulis, “Saya sudah hancur. Tolong, jangan buat hidup saya makin sengsara.” Dua bentuk emosi, dua arah yang berlawanan, satu ruang percakapan yang sama. Yang satu menekan orang lain, yang lain menekan diri sendiri, dan keduanya sama-sama disampaikan tanpa perantara.
Kritik menyusul dengan 26 data, dan bentuknya lebih sering sindiran ketimbang teguran terbuka. Salah satunya dicatat dari halaman 26 novel itu, “Masker lo kebesaran, makanya mata lo ketutupan!” Kalimat semacam itu hanya mungkin diucapkan di antara orang yang sudah akrab; kepada orang asing, ia terlalu kasar untuk dilepas begitu saja. Permintaan maaf muncul 10 kali, salah satunya di halaman 121 yang berbunyi, “Gua gak akan ngelakuin hal yang kayak semalem. Maaf.” Janji lebih dulu, permintaan maafnya belakangan. Urutannya menurut kedua peneliti bukan kebetulan: penutur berusaha meredakan konflik sekaligus memulihkan hubungan yang sempat retak semalam sebelumnya.
Sisi terangnya jauh lebih tipis. Rasa senang muncul 12 kali, pujian 7 kali, ucapan terima kasih 4 kali, dan ucapan selamat hanya sekali dalam seluruh novel, yaitu ketika seseorang menyebut nama lengkap tokohnya pada hari ulang tahun di halaman 79. Satu-satunya ledakan kegembiraan yang dicatat justru datang dari sumber yang sama dengan keluhannya. Di halaman 45, Reyana mengulang pertanyaan yang sama dua kali sebelum menyimpulkan bahwa keberadaannya akhirnya dianggap. Kata “akhirnya” di kalimat itu, tulis kedua peneliti, menandakan penantian yang panjang, bukan kejutan yang datang tiba-tiba.
Yang menarik dari susunan angka itu bukan dominasi emosi negatifnya, melainkan siapa yang mengucapkannya kepada siapa. Tuturan-tuturan itu hampir seluruhnya berlangsung di dalam rumah, antara orang-orang yang saling kenal terlalu dekat untuk berbasa-basi. Kebencian, kecaman, dan keluhan bukan dilontarkan kepada orang asing di jalan, melainkan kepada ayah, ibu, kakak, dan orang-orang terdekat yang justru paling diharapkan memberi pengakuan. Judul novelnya sendiri sudah menyebut apa yang dicari tokohnya, dan seluruh angka itu berdiri sebagai catatan tentang apa yang ia dapat sebagai gantinya.
Sebagian Besar Marah Diucapkan Tanpa Basa-Basi Sedikit Pun
Bagian kedua kajian itu memakai pisau lain, teori kesantunan Penelope Brown dan Stephen Levinson yang terbit pada 1987. Di sana tuturan dipilah menurut seberapa jauh penutur bersedia menjaga muka lawan bicaranya: terus terang tanpa basa-basi, terus terang dengan kesantunan negatif, terus terang dengan kesantunan positif, atau samar-samar. Hasil hitungan Anggraini dan Syukri berat sebelah. Sebanyak 150 dari 193 tuturan, atau sekitar 78 persen, masuk kategori pertama.
Baca juga Kesurupan Gen Z di Terbang Buhun Majalaya
Kalimat di halaman pertama tadi menjadi contoh bakunya. Penutur menilai perilaku lawan bicaranya sebagai sesuatu yang negatif, tanpa penanda kesantunan apa pun, tanpa jalan mundur bila ternyata ia keliru. Menurut kedua peneliti, strategi semacam itu dipilih ketika penutur merasa kedudukannya lebih tinggi atau hubungannya sudah sangat dekat, sehingga norma kesantunan dianggap boleh dilonggarkan. Kelugasan di situ bukan tanda keterbukaan. Ia tanda bahwa risiko sosialnya dinilai kecil, bahwa penutur yakin hubungan itu akan tetap berdiri walau kalimatnya melukai, dan bahwa ia tidak merasa perlu menyediakan pintu keluar bagi lawan bicaranya.
Tiga strategi sisanya berbagi 43 data. Kesantunan negatif muncul 15 kali, biasanya ditandai sapaan kekerabatan yang menahan tekanan tuntutan, persis seperti kata “Ma, Pa, Bang” yang mendahului pertanyaan Reyana di halaman 42. Kesantunan positif muncul 16 kali, ditandai sapaan akrab yang mendekatkan, seperti pesanan di halaman 35 yang berbunyi, “Satu aja, kak. Tolong dibungkus rapi, ya. Buat orang cantik di seberang sana.”
Dua kategori tengah itu memperlihatkan hal yang sama dari arah berbeda. Yang satu bekerja dengan menjaga jarak, yang lain dengan merapatkannya, dan keduanya sama-sama menandakan bahwa penutur masih menganggap perasaan lawan bicaranya perlu diperhitungkan. Jumlahnya kecil, 31 data dari 193, atau kira-kira satu dari enam tuturan. Selebihnya, para tokoh memilih menyampaikan apa yang mereka rasakan tanpa mengurangi tekanannya sedikit pun.
Baca juga Membaca Stranger Things 4 lewat Teori Derrida
Strategi samar-samar paling jarang dipakai, hanya 12 kali. Bentuknya sindiran atau pertanyaan yang tidak benar-benar menunggu jawaban, dipakai justru ketika ancaman terhadap muka paling besar dan penutur perlu menyediakan ruang penyangkalan bagi lawan bicaranya. Di halaman 31, seorang tokoh membuka tuduhannya dengan kata “Oh, jadi betul”, membiarkan mitra tuturnya menafsirkan sendiri sisa kalimat itu. Semakin berbahaya isinya, semakin panjang jalan memutar yang ditempuh, dan semakin kecil kemungkinan penutur harus menanggung akibat langsung dari apa yang ia ucapkan.
Yang Tidak Terjawab Setelah Semua Tuturan Dihitung
Simpulan kedua peneliti tidak melangkah lebih jauh dari datanya. Dominasi strategi langsung, tulis mereka, “mencerminkan kecenderungan tokoh menyampaikan perasaan secara lugas tanpa prioritas pada bentuk kesantunan linguistik”, dan itu terjadi karena para tokoh berdiri pada jarak sosial yang dekat dan kedudukan yang relatif setara. Ketika jarak itu melebar atau kekuasaan timpang, strategi yang lebih santun dan lebih tidak langsung barulah muncul.
Batasnya juga mereka tulis sendiri di bagian metode: kajian ini berfokus pada satu novel, sehingga hasilnya memberikan gambaran khusus mengenai karya tersebut dan tidak dimaksudkan untuk digeneralisasi ke karya sastra lain. Angka 49 dan 150 itu milik satu teks, bukan potret cara orang Indonesia berbicara. Yang bisa disimpulkan hanyalah bahwa di dalam novel ini, kemarahan dan kelugasan berjalan beriringan, dan bahwa alat pragmatik yang biasa dipakai untuk percakapan sehari-hari ternyata bisa dipasang pada dialog rekaan tanpa kehilangan ketajamannya.
Sisanya urusan pembaca. Kajian pragmatik dapat menghitung berapa kali kebencian diucapkan dan dengan strategi apa, tetapi tidak dapat menjawab mengapa rumah dalam cerita itu menjadi tempat yang paling sedikit menyediakan pujian. Di sepanjang 193 tuturan, ucapan selamat hanya terdengar sekali, dan itu pun di hari ulang tahun.
Pertanyaan Reyana sendiri berpindah alamat menjelang akhir. Di halaman 102, ia tidak lagi bertanya kepada ayah, ibu, atau abangnya. “Bolehkah Reyana mengeluh pada Tuhan?” Anggraini dan Syukri mencatat kalimat itu sebagai strategi bertutur samar-samar, satu dari dua belas data yang mereka temukan. Novelnya tidak mencatat jawaban.















