Kesurupan Gen Z di Terbang Buhun Majalaya

A A

Ilustrasi seorang lelaki berbaju putih memainkan gendang panjang sambil duduk bersila di panggung berlatar gelap. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Kesenian buhun hampir selalu dibayangkan sebagai milik orang-orang tua, sesuatu yang bertahan di sanggar kecil karena kebiasaan dan kesetiaan, dan kalimat yang paling sering diucapkan tentang nasibnya adalah bahwa anak muda sudah tidak mau menoleh lagi. Di Desa Paseh, Majalaya, Kabupaten Bandung, dugaan itu patah dengan cara yang tidak diperkirakan siapa pun: yang berdiri paling depan ketika barisan terbang mulai ditabuh, yang paling dulu limbung ketika lagu buhun dilantunkan, dan yang paling banyak muncul dalam unggahan media sosial tentang pertunjukan itu justru mereka yang lahir puluhan tahun sesudah kesenian ini dianggap kehilangan penontonnya.

Pergeseran itu yang ditelusuri Anggi Lestari Paja, Jaeni, dan Yahfenel Evi Fussalam, ketiganya dari Pascasarjana Penciptaan dan Pengkajian Seni Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, lewat Terbang Buhun: The Trance Phenomenon among Generation Z in Majalaya yang terbit di Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Volume 27 Nomor 2 tahun 2025. Mereka mengamati pertunjukan di Sanggar Pusaka Walahir Kiansantang, mewawancarai ketua guyub, para nayaga, dan orang-orang yang mengalami trance, lalu menyusun temuannya dengan pendekatan fenomenologi — pendekatan yang, seperti diakui sendiri di bagian metode, menghasilkan data berupa kata-kata dan bukan angka. Kata yang dipakai warga setempat lebih sederhana daripada istilah yang dipakai di judul. Yang oleh penulisnya disebut trance, pada kata kunci versi Indonesia tulisan itu disebut kesurupan, dan kehadirannya dianggap wajar sejauh ada yang menjaga: seorang juru baksa yang lebih dikenal sebagai kuncen, sesajen yang disiapkan sebelum pertunjukan dimulai, dan lagu yang dibawakan menurut urutan tertentu. Justru kewajaran itu yang membuat gejala di Majalaya sulit dibaca semata-mata dengan kacamata kesehatan jiwa, sebab di sana ia bukan gangguan yang harus dihentikan, melainkan bagian dari acara yang ditunggu.

Daftar Isi
  1. Tubuh Muda yang Menyerah pada Lagu Lama
  2. Kayu Sisa Masjid dan Rute Panjang Sebuah Bunyi
  3. Kesurupan yang Diberi Jadwal
  4. Warisan yang Dipinjam Sebentar

Tubuh Muda yang Menyerah pada Lagu Lama

Ilustrasi kerumunan penonton duduk berdesakan menyaksikan sebuah pertunjukan, sebagian merekam dengan telepon genggam.
Ilustrasi kerumunan penonton duduk berdesakan menyaksikan sebuah pertunjukan, sebagian merekam dengan telepon genggam. [Foto: Pexels]

Yang membuat Majalaya berbeda dari daerah lain bukan alat musiknya, sebab terbang kempring, terbang ageung, terbang gebrung, terbang talingtik, dan terbang goong yang dipakai di sana sama saja dengan yang dipakai di Sumedang dan Garut, melainkan siapa yang kerasukan. Di kedua daerah pembanding itu, trance melekat pada prosesi dan pelakunya terbatas. Di Majalaya, menurut catatan lapangan penelitian ini, trance justru berangkat dari penonton: orang yang semula datang untuk menyaksikan berpindah sendiri menjadi bagian dari pertunjukan, dan sebagian besar dari mereka remaja, bahkan ada yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Baca juga Delapan Puluh Tuturan dari Tiga Video English Speeches

Ada dua lagu yang paling sering menjadi pintunya, Kembang Gadung dan terutama Wangsit Siliwangi. Hubungan antara lagu kedua dan keadaan trance sudah begitu dikenal warga sehingga, tulis Anggi Lestari Paja dan dua rekan penulisnya, begitu Wangsit Siliwangi mulai dimainkan hampir dapat dipastikan ada seseorang yang langsung masuk ke dalam keadaan itu. Lagu buhun lain seperti Ila Sola dan Bangbung Hideung ikut dibawakan, tetapi tidak satu pun punya daya panggil yang sama. Keganjilan kecil yang ikut dicatat: para pelaku trance berhenti menari begitu musik berganti ke bajidoran, diam di tempat, namun tetap dalam keadaan itu. Bertahannya kesenian ini di Majalaya juga berlawanan dengan apa yang penulisnya temukan di tempat lain. Dari penelitian mereka terdahulu, seni terbang buhun disebut menyusut peminatnya, bertahan tanpa berkembang, bahkan punah di sejumlah daerah, karena dianggap kuno dan tidak bisa diandalkan sebagai sumber penghidupan oleh para pegiatnya sendiri. Majalaya berjalan ke arah sebaliknya. Rekaman pertunjukannya beredar di Instagram dan TikTok, dan justru dari lalu lintas unggahan itulah para peneliti pertama kali menaruh curiga bahwa ada sesuatu yang berbeda pada antusiasme penonton di sana.

Kayu Sisa Masjid dan Rute Panjang Sebuah Bunyi

Bunyi yang kini membuat remaja Majalaya limbung punya asal-usul yang jauh lebih tenang. Terbang, menurut rujukan yang dipakai tulisan ini, dibuat dari sisa kayu pembangunan masjid, dan bentuk keseniannya diperkirakan muncul sekitar tahun 1550, ketika alat itu berfungsi sebagai sarana penyebaran Islam, terutama di wilayah Kabupaten Sumedang. Penyebaran Islam di Pulau Jawa sendiri dijalankan para wali yang juga bertindak sebagai guru agama dan penasihat raja, dan pada abad ke-16 hampir seluruh pesisir Jawa telah memeluk Islam sebelum agama itu bergerak ke pedalaman. Di Jawa Barat, penyebaran itu dikaitkan dengan Sunan Gunung Djati dan para utusannya, yang mendekati masyarakat lewat dakwah yang diselingi kesenian. Sepanjang pertunjukan dilantunkan pupujian, dan sampai sekarang lagu seperti Bismilah, Robun Allah, dan Sasamate masih ada dalam daftar.

Baca juga Makian Kolom Komentar TikTok Didominasi Nama Makanan

Perbedaan antardaerah baru terasa ketika ketiganya disandingkan. Di Sumedang, terbang buhun menjadi bagian ruatan lembur; prosesinya berlanjut ke tayuban atau gembyung, lalu bangreng, gabungan terbang dan ronggeng yang dipentaskan sesudah salat Isya sampai larut malam, dengan ciri khas pada sinden yang membuka lewat lantunan salam dan doa. Di Cilawu, Garut, pertunjukannya lebih ketat pada fungsi keagamaan, biasa dipakai pada Maulid Nabi, dengan nayaga yang membaca selawat dan tarian yang dibawakan juru baksa, mirip pencak silat. Sesajen di sana tidak wajib, bergantung pada kelompoknya. Majalaya memakai perangkat yang hampir sama, tetapi arahnya lain. Pertunjukan digelar malam hari sesudah Isya, didahului ritual juru baksa dan sesajen yang disiapkan sebagai simbol dalam budaya Sunda: nasi, telur ayam kampung, kopi hitam, bubur putih dan merah, kelapa dawegan, ayam bakakak, rokok, sampai kemenyan. Pemainnya lima nayaga dan seorang sinden, yang pada masa lalu tidak ada dalam susunan. Laki-laki mengenakan pangsi hitam, perempuan kebaya. Pada 1970-an kesenian ini sedang ramai dicari untuk ruwatan, hajatan, pernikahan, khitanan, dan syukuran di Garut, Sumedang, serta Majalaya.

Kesurupan yang Diberi Jadwal

Bagian paling tidak nyaman dari temuan ini menyangkut waktu. Trance di Terbang Buhun Majalaya, tulis tim peneliti, disajikan dalam dua bentuk: trance alami dan yang mereka sebut “trance secara skenario”, dan yang terjadi belakangan adalah pergeseran ke bentuk kedua karena lebih singkat. Pemilik hajat dan ketua sanggar menyelaraskan jalannya pertunjukan dengan pola hiburan yang sudah dipesan serta susunan acara yang harus terisi. Kesurupan, dengan kata lain, ikut masuk ke dalam jadwal. Penulisnya tidak menyimpulkan bahwa trance alami akan lenyap, hanya mencatat bahwa bentuk berskenario kini lebih populer.

Sebabnya dibiarkan berlapis. Tulisan itu menguraikan lima kelompok pemicu trance yang berlaku umum: budaya dan tradisi, dengan ritual serta dorongan untuk ikut dalam pengalaman kolektif; psikologis, termasuk stres berat, trauma, dan gangguan disosiatif; spiritual; fisiologis, seperti kelelahan atau kondisi neurologis tertentu; dan lingkungan, mulai dari pencahayaan sampai aroma. Gejalanya pun dirinci: kesadaran yang berubah, fokus yang menyempit sampai mengabaikan rangsangan lain, gerakan otomatis, ayunan emosi yang ekstrem, sensasi tubuh yang ganjil, dan pada sebagian orang tidak ada ingatan sama sekali tentang apa yang baru terjadi.

Baca juga Fandom Konser Selawat dan Kerja Para Penggemarnya

Yang tidak dikerjakan penelitian ini adalah memilih di antara lima kemungkinan itu untuk kasus Majalaya. Datanya kualitatif, dikumpulkan lewat pengamatan, wawancara, dan dokumentasi di satu desa dan satu sanggar, lalu diuji melalui kredibilitas, transferabilitas, dan dependabilitas — bukan melalui pengukuran fisiologis atau pemeriksaan klinis terhadap orang yang mengalaminya. Apa yang bisa dikatakan tulisan ini karena itu berhenti pada penuturan para pelakunya sendiri, dan tidak sampai pada penjelasan mengapa tubuh remaja di Majalaya lebih mudah terbawa daripada tubuh remaja di Cilawu yang mendengar alat musik serupa.

Warisan yang Dipinjam Sebentar

Kesimpulan penulisnya berhenti pada tafsir yang berhati-hati. Trance dalam terbang buhun, tulis mereka, bukan semata pengalaman spiritual, melainkan juga jalan bagi generasi muda untuk tersambung dengan akar budayanya sendiri. Tiga hal disebut menopang gejala itu: kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya yang menguat di kalangan anak muda, kemudahan akses informasi lewat media sosial yang membuat mereka lebih terbuka pada kesenian yang sebelumnya asing, dan kesempatan mengalami sesuatu yang berbeda dari tekanan hidup sehari-hari yang kerap membebani generasi ini.

Tafsir terakhir itu yang paling rapuh sekaligus paling menggoda, sebab ia bersandar pada penuturan segelintir orang di satu kecamatan dan tidak bisa diperluas menjadi keterangan tentang seluruh Generasi Z di Jawa Barat, apalagi di Indonesia. Namun ia menyisakan satu hal yang tidak terbantah: kesenian yang dianggap sudah kehilangan pewaris ternyata masih sanggup mengambil alih tubuh orang yang baru mengenal namanya beberapa menit sebelumnya. Kalau lagu berumur ratusan tahun bisa membuat anak sekolah dasar berhenti mengenali dirinya selama beberapa saat, siapa sebenarnya yang sedang melestarikan siapa?

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi pengunjung perempuan berdiri mengamati lukisan besar berwarna hijau dan kuning di dinding ruang pamer.
Ketika Buaya dan Badak Menggantikan Wajah Penguasa
Kamar tidur di rumah pengasingan Mohammad Hatta di Banda Neira.
Enam Belas Peti Buku Bung Hatta ke Boven Digul
Mulut gua pertahanan Jepang di Rane
101 Situs Pertahanan Jepang di Jawa Dipetakan Ulang
Dalang memainkan wayang kulit di depan kelir dalam sebuah pertunjukan
Kitsie Emerson dan Prinsip Diam di Atas Panggung
Siluet gunungan wayang kulit di depan layar yang disinari lampu
Haryo Membaca Ulang Serat Rama untuk Generasinya
Menara dan bagian depan Gereja Santo Yoseph Matraman, Jakarta Timur
Tiga Menara Berkubah di Gereja Santo Yoseph Matraman