Dua Nama Sasana dalam Novel Pasung Jiwa

A A

Ilustrasi sebuah buku terbuka di atas permukaan kayu yang lapuk. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Sebuah Panggung Dangdut yang Lebih Dulu Memanggilnya Sasa
  2. Rumah yang Sepi dan Sekolah yang Menganggap Kekerasan Urusan Kecil
  3. Siang yang Terlalu Terang bagi Perempuan yang Hidup di Malam Hari

Cekricek.id — Sorakan itu jatuh sebelum lagunya habis. Di depan panggung dangdut, orang-orang meneriakkan sebuah nama, dan nama yang mereka teriakkan bukan nama yang dipakai tokoh itu di rumah orang tuanya. Pada halaman 57 novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari, teriakan itu dituliskan begini: “Mantap... cocok... inilah Sasa sang Bintang! Sasa sang Biduan.” Beberapa jam kemudian, ketika matahari sudah naik, orang yang sama akan merasa cahaya siang menyorotnya terlalu terang. Panggung itu tidak pindah. Yang berubah hanya jam.

Jarak antara dua keadaan itu — malam yang membebaskan dan siang yang menghakimi — adalah yang dilacak Indah Marcela Putri dan Diantri Seprina Putri dari Universitas Negeri Padang. Keduanya menulis Analisis Disforia Gender pada Tokoh Sasana dalam Novel Pasung Jiwa Karya Okky Madasari, terbit di jurnal Persona Volume 5 Nomor 2 tahun 2026, halaman 265 sampai 272. Yang mereka periksa satu tokoh, dalam satu novel, dengan satu pertanyaan: bagaimana ketidaknyamanan itu ditulis. Cara kerjanya deskriptif kualitatif dengan pendekatan mimesis, yakni membaca karya sastra sebagai cerminan sekaligus kritik atas kenyataan sosial di luarnya.

Istilah yang mereka pakai adalah disforia gender. Menurut rujukan yang mereka kutip, buku pedoman diagnostik Asosiasi Psikiatri Amerika terbitan 2013, disforia gender adalah ketidaksesuaian antara gender yang dirasakan seseorang dan jenis kelamin yang ditetapkan padanya ketika lahir. Pedoman itu menyebut dua bentuk utamanya: keinginan memiliki ciri fisik gender lain, dan perilaku lintas gender yang tampak lewat cara berpakaian, jenis kegiatan, serta peran sosial. Ketiga penanda terakhir itulah yang paling banyak muncul dalam bacaan mereka atas Sasana, dan ketiganya bisa ditunjuk nomor halamannya.

Tokoh yang mereka baca bernama Sasana. Anak seorang ahli hukum dan seorang dokter bedah, dibesarkan di rumah yang menurut novelnya jauh dari musik, disekolahkan di sekolah khusus laki-laki, lalu suatu hari berdiri di panggung dangdut dengan nama Sasa. Kedua peneliti itu tidak menilai Sasana. Mereka menghitung: di halaman mana keinginan itu muncul, apa yang mendahuluinya, dan apa yang terjadi sesudahnya. Kalimat-kalimat yang relevan mereka tandai satu per satu, lalu mereka masukkan ke dalam tabel klasifikasi sebelum ditafsirkan.

Sebuah Panggung Dangdut yang Lebih Dulu Memanggilnya Sasa

Ilustrasi panggung pertunjukan malam hari dengan tata lampu merah dan penonton di bawahnya.
Ilustrasi panggung pertunjukan malam hari dengan tata lampu merah dan penonton di bawahnya. [Foto: Pexels]

Panggung adalah satu-satunya tempat dalam novel itu yang menerima Sasana tanpa syarat. Indah Marcela Putri dan Diantri Seprina Putri mencatat tiga hal yang berlangsung di sana sekaligus: cara berpakaian, jenis kegiatan, dan peran sosial. Ketiganya adalah unsur yang disebut pedoman diagnostik tadi sebagai penanda perilaku lintas gender, dan ketiganya kebetulan berkumpul di satu tempat yang sama. Tempat itu bukan rumah, bukan sekolah, melainkan panggung hiburan kampung yang tidak menuntut surat keterangan apa pun dari orang yang naik ke atasnya.

Baca juga Kesantunan Bahasa Jawa Tak Selalu Lewat Putaran

Soal kegiatan, novel itu menyebut goyang panggung yang kemudian dikenal orang dengan nama tokohnya. Pada halaman 94 gerakan itu diuraikan dari pinggul sampai tangan, mengikuti irama. Kedua peneliti membaca adegan tersebut bukan sebagai hiburan melainkan sebagai cara menghidupi identitas perempuan secara aktif, di depan orang banyak, di tempat yang tidak menuntutnya berpura-pura. Soal pakaian, mereka mencatat satu adegan berganti busana yang mereka sebut momen krusial dalam perpindahan dari Sasana menjadi Sasa. Rinciannya tidak perlu diulang di sini; yang penting adalah pembacaan mereka bahwa pakaian di novel ini bukan hiasan melainkan alat, dipilih untuk menjembatani jarak antara tubuh yang ditolak tokohnya dan sosok yang ia inginkan.

Peran sosialnya datang belakangan, dan justru itu yang paling menentukan. Pada halaman 79 novel itu tertulis kalimat pendek: “Orang-orang biasa memanggilku Mbak Sasa atau Neng Sasa.” Dua sapaan itu, tulis kedua peneliti, menggantikan sapaan maskulin seperti Mas atau Kang. Bukan Sasana yang mengumumkan dirinya; orang lain yang lebih dulu mengubah cara memanggilnya. Pengakuan itu, mereka tegaskan, berlaku di lingkungan panggung, tidak otomatis di luar sana. Sebuah sapaan, dalam bacaan mereka, adalah keputusan sosial yang diambil orang banyak tanpa rapat.

Di titik ini analisis mereka menahan diri. Mereka tidak menyimpulkan bahwa dunia dangdut adalah ruang aman bagi siapa pun. Yang mereka tunjukkan lebih sempit: dalam novel Okky Madasari, satu panggung memberi Sasana sesuatu yang tidak diberikan rumah dan sekolahnya, yaitu tepuk tangan yang datang tepat ketika ia menjadi dirinya. Validasi itu berlangsung setiap penampilan, dan berulang. Pengulangan itu yang membedakannya dari pujian sesekali: ia menjadi kebiasaan, lalu menjadi kenyataan sehari-hari, setidaknya selama lampu panggung menyala.

Untuk melihat mengapa tepuk tangan itu terasa begitu besar, kedua peneliti mundur jauh ke belakang, ke masa sebelum Sasana pernah naik panggung. Di sana mereka menemukan dua hal yang mereka sebut faktor psikoseksual dan faktor sosial. Faktor biologis tidak mereka temukan, dan mereka menuliskannya terus terang: bahan untuk itu memang tidak ada di dalam novelnya. Pengakuan sependek itu jarang ditulis peneliti sastra, dan justru itu yang membuat sisa analisisnya lebih bisa diperiksa orang lain.

Rumah yang Sepi dan Sekolah yang Menganggap Kekerasan Urusan Kecil

Rumah Sasana digambarkan lewat satu kalimat kering. Pada halaman 16 novel itu tertulis bahwa pekerjaan kedua orang tuanya jauh dari musik: ayahnya ahli hukum, ibunya dokter bedah. Kalimat itu tampak sebagai keterangan biasa. Indah Marcela Putri dan Diantri Seprina Putri membacanya sebagai keterangan tentang siapa yang tidak ada di rumah itu, dan seberapa sering. Dua profesi yang menuntut jam kerja panjang, ditulis berdampingan dalam satu kalimat, tanpa satu pun kata tentang perasaan.

Dari situ mereka menarik penjelasan psikoseksual dengan bersandar pada teori Sigmund Freud tentang tahap falik, usia tiga sampai enam tahun, ketika seorang anak menurut teori itu mengidentifikasi dirinya dengan figur ayah. Ayah yang sibuk dan ibu yang jarang hadir membuat Sasana tumbuh tanpa model maskulin yang kuat dan tetap. Yang tersedia justru figur perempuan: adiknya, Melati, dan pembantu rumah tangga yang mengasuhnya sehari-hari. Kekaguman Sasana pada tubuh adiknya, yang di halaman 30 digambarkan seperti orang menatap karya seni, mereka baca sebagai iri yang berbalik menjadi keinginan.

Baca juga Prasasti Prasi A dan Umur Desa Dawan di Klungkung

Bagian ini yang paling perlu dibaca hati-hati. Freud menulis lebih dari seabad lalu, dan kerangka Oedipus Complex bukan penjelasan yang diterima bulat-bulat dalam psikologi hari ini. Kedua peneliti memakainya sebagai lensa untuk membaca sebuah novel, bukan sebagai diagnosis atas manusia sungguhan. Yang mereka klaim adalah bahwa teks Okky Madasari menyediakan bahan yang cocok dengan pola itu, bukan bahwa pola itu menjelaskan disforia gender pada umumnya. Lensa keduanya sebenarnya lebih dari satu: selain Freud, mereka memakai gagasan bahwa gender dibentuk lewat tindakan yang diulang-ulang, serta gagasan tentang maskulinitas yang menguasai lingkungan sekitar tokoh.

Faktor kedua jauh lebih terang buktinya. Sasana disekolahkan di sekolah khusus laki-laki, dan di sana ia menjadi sasaran perundungan serta kekerasan dari sebuah geng. Sekolahnya tidak mengurus. Pada halaman 34 novel itu tertulis bahwa bagi sekolah tersebut, keributan, perkelahian, dan penganiayaan adalah urusan kecil remaja laki-laki yang bisa mereka selesaikan sendiri. Kekerasan itu datang dari sebuah geng yang di novelnya punya nama sendiri, dan berlangsung berulang, bukan sekali dua kali.

Kalimat berikutnya di halaman yang sama adalah yang paling penting bagi kedua peneliti. Di situ tokohnya menyatakan ia jadi membenci laki-laki, dan membenci dirinya sendiri karena ia bagian dari laki-laki. Rantai sebabnya, tulis mereka, berjalan begitu: kekerasan yang dibiarkan membuat maskulinitas identik dengan penderitaan, dan kebencian itu berbalik ke dalam. Yang ditolak Sasana bukan hanya sekolahnya, melainkan tubuhnya sendiri. Di halaman itu tokohnya juga berandai-andai: seandainya ia bukan laki-laki, ia tidak akan masuk sekolah itu, dan tidak akan menderita seperti itu.

Kontrasnya dengan panggung dangdut sengaja mereka tajamkan. Di sekolah, keberadaannya sebagai orang yang dianggap lemah dan aneh mengundang pukulan; di panggung, keberadaannya yang sama mengundang tepuk tangan. Dua lingkungan itu memberi umpan balik yang berlawanan atas hal yang persis sama, dan Sasana harus hidup di keduanya. Bukan hanya bergantian, melainkan pada hari yang sama. Kedua peneliti menyebut hal ini mekanisme yang berlawanan arah, dan menempatkannya sebagai inti faktor sosial yang mereka temukan.

Siang yang Terlalu Terang bagi Perempuan yang Hidup di Malam Hari

Dampaknya, menurut analisis mereka, ada dua: penolakan sosial dan kecemasan. Depresi tidak mereka temukan pada tokoh ini, dan mereka menyebutkannya secara khusus — sebuah kejujuran kecil yang membuat kesimpulan lainnya lebih bisa dipercaya. Penolakan sosial sudah terbukti lewat riwayat sekolahnya. Kecemasan muncul di tempat yang lebih sunyi, dan lebih sulit dilihat orang lain. Untuk yang satu ini mereka hanya punya satu kalimat sebagai bukti, tetapi kalimat itu cukup padat.

Baca juga Kesantunan Warganet di 94 Komentar Pujian Instagram

Buktinya satu kalimat di halaman 78. Di situ tokohnya mengatakan bahwa kalau bekerja malam ia benar-benar merasa bebas, tidak ada lagi malu atau takut, karena ia telah menjadi Sasa; tetapi pada siang seperti itu, ia merasa sinar matahari terlalu terang menyorotinya. Kedua peneliti membaca cahaya siang di kalimat itu sebagai kiasan kecemasan sosial: tubuh yang terus disorot, terus dinilai, dan tidak punya tempat bersembunyi. Perhatikan bahwa kiasannya justru dibalik dari yang lazim: cahaya, bukan gelap, yang menakutkan; dan malam, bukan siang, yang membebaskan.

Kecemasan itu, tulis mereka, bukan sekadar takut ketahuan. Ada beban lain di dalamnya, yakni takut menyakiti keluarganya sendiri. Dua ketakutan itu bekerja berlawanan arah: yang satu menuntutnya tetap menjadi Sasa, yang lain menuntutnya kembali menjadi Sasana. Novel itu tidak menyelesaikan tarikan tersebut, dan kedua peneliti tidak memaksanya selesai. Di simpulan mereka, konflik identitas Sasana disebut sebagai sesuatu yang tidak pernah tuntas, dan kecemasannya berkepanjangan.

Batas kajian ini perlu disebut. Indah Marcela Putri dan Diantri Seprina Putri membatasi datanya hanya pada satuan kebahasaan di dalam novel — kata, frasa, kalimat, dialog, dan narasi — dan mereka menyatakan sejak bagian metode bahwa penelitian ini tidak dimaksudkan menguji hipotesis apa pun. Karena itu ketiadaan faktor biologis dan ketiadaan depresi hanya berlaku untuk teks yang mereka baca, bukan untuk orang. Pembatasan itu mereka pasang sendiri sebagai kriteria pemilihan data sekaligus penjaga fokus, dan konsekuensinya harus ikut dibaca.

Satu novel juga bukan potret sastra Indonesia, dan satu tokoh rekaan bukan data klinis. Yang bisa diambil dari kerja kedua peneliti itu lebih sederhana dan tetap berguna: sebuah teks fiksi terbitan 2013 ternyata menyimpan pola yang bisa dipetakan secara sistematis, halaman demi halaman, dan pola itu berbicara tentang bagaimana lingkungan memperlakukan orang yang tidak muat di dalam kotaknya. Sekolah yang menganggap kekerasan sebagai urusan kecil dan penonton yang bertepuk tangan sama-sama sedang mengambil keputusan, meski hanya satu yang menyadarinya.

Kembali ke panggung itu. Lampunya masih menyala, sorakan masih memakai nama Sasa, dan pemiliknya masih bergerak mengikuti irama. Beberapa jam lagi lampu itu padam dan matahari terbit di kota yang sama. Okky Madasari menulis dua keadaan itu berurutan, dalam satu tubuh, tanpa memberi tanda mana yang seharusnya dianggap asli. Yang ia berikan hanya dua nama, dan satu tubuh yang harus menanggung keduanya sampai pagi.

Bagikan

Baca Juga

Tujuh Cerpen Horison 1969 dan Keyakinan Redaksinya
Seribu Tiga Puluh Kata Tunjuk di Novel Lilin
Subjektivasi Perempuan dalam Dua Novel Jawa
124 Tuturan Emosi dalam Novel The Lady Escort
Revolver Dipanggil Sobat, Monyet Dipanggil Kawan
Soneta Wing Kardjo yang Menampung Novel Mochtar Lubis