Kesantunan Warganet di 94 Komentar Pujian Instagram

A A

Ilustrasi tangan memegang telepon genggam yang menampilkan lini masa media sosial. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Mengetik “mantap pak gub” di bawah unggahan seorang gubernur adalah perbuatan sehari-hari yang punya nama panjang dalam ilmu bahasa: tindak tutur ekspresif memuji. Maksudnya tidak rumit. Kalimat semacam itu tidak meminta apa pun, tidak memerintah, tidak bertanya, dan tidak menuntut jawaban. Ia hanya menaruh penilaian baik pada orang yang dituju, lalu berhenti di situ. Dua peneliti dari Universitas Negeri Padang mengumpulkan 94 kalimat semacam itu dari satu kolom komentar Instagram, lalu menghitung apa yang sebenarnya dikerjakan warganet ketika mereka memuji seseorang yang tidak pernah mereka temui.

Hitungan itu terbit sebagai Pematuhan Prinsip Kesantunan dalam Tindak Tutur Ekspresif Memuji di Kolom Komentar Instagram @dedimulyadi71, karya Theresia Novita dan Haris Syukri dari Universitas Negeri Padang, dimuat jurnal Persona volume 5 nomor 1 terbitan 2026. Bahannya diambil dari unggahan periode Januari sampai Maret 2026 pada akun tersebut, masa ketika unggahan tentang kegiatan sosial dan kemasyarakatan sedang padat dan menarik banyak tanggapan. Pendekatannya kualitatif deskriptif: komentar disimak, dicatat, lalu dikelompokkan, tanpa penelitinya ikut menimpali di kolom yang sama.

Istilah kedua yang perlu diterjemahkan lebih dulu adalah maksim. Dalam pragmatik, maksim adalah aturan main tidak tertulis yang dipatuhi orang supaya percakapan tidak melukai siapa pun. Geoffrey Leech menyusun enam di antaranya, dan edisi Indonesia bukunya, Prinsip-prinsip Pragmatik, terbit pada 1993. Keenamnya bernama kearifan, kedermawanan, pujian, kerendahan hati, kesepakatan, dan simpati. Keenamnya juga muncul di 94 komentar tadi, sehingga yang membedakan satu maksim dari maksim lain bukan kehadirannya. Yang membedakan adalah porsinya, dan porsi itu timpang sekali.

Daftar Isi
  1. Maksim Pujian: Memaksimalkan Penilaian Baik
  2. Maksim Simpati: Pujian yang Diselipi Doa
  3. Konteks Situasi Tutur: Siapa Bicara kepada Siapa
  4. Kesantunan Daring: Batas Sebuah Istilah

Maksim Pujian: Memaksimalkan Penilaian Baik

Ilustrasi jemari mengetik pesan pada papan ketik telepon genggam.
Ilustrasi jemari mengetik pesan pada papan ketik telepon genggam. [Foto: Pexels]

Maksim pujian menuntut penutur memperbesar penghargaan kepada lawan bicara sekaligus mengecilkan celaan terhadapnya. Dari 94 komentar, 60 masuk kategori ini, atau 63,83 persen. Sebagai pembanding, maksim kerendahan hati, yang menuntut penutur mengecilkan pujian atas dirinya sendiri, hanya muncul dua kali atau 2,13 persen. Selisih tiga puluh kali lipat itu bukan soal sopan atau tidak sopan. Ia soal arah gerak kalimat: di kolom komentar tersebut, warganet jauh lebih sering menaikkan derajat orang lain daripada menurunkan derajat dirinya sendiri untuk mendapat efek yang sama.

Bentuk paling murninya, menurut catatan penelitian itu, adalah komentar yang tidak menempel pada apa pun. Salah satu data yang dicatat berbunyi “Sumpah ini gubernur terbaik di Indonesia”. Tidak ada saran di sana, tidak ada tawaran bantuan, tidak ada doa, tidak ada perbandingan dengan pejabat lain. Hanya penilaian, dan penilaian itu langsung dipasang pada titik tertinggi lewat kata “terbaik”. Peneliti menggolongkannya sebagai pematuhan maksim pujian justru karena tidak ada unsur lain yang menumpang di dalam kalimat sependek itu.

Baca juga Marah Mendominasi Novel Aku Tak Membenci Hujan

Di sinilah contoh tadi mulai meleset kalau dibawa terlalu jauh. Kalimat semacam itu tidak menerangkan apakah penulisnya benar-benar mengagumi kinerja yang ia puji. Maksim pujian menilai bentuk kalimat, bukan isi kepala orang yang mengetiknya. Seseorang yang memuji karena kagum dan seseorang yang memuji karena ikut arus akan tercatat pada baris yang sama di tabel yang sama, dengan bobot yang sama pula. Batas itu melekat pada pendekatan pragmatik yang dipakai, karena yang bisa dibaca hanyalah tuturan yang tampak di layar.

Maksim Simpati: Pujian yang Diselipi Doa

Kelompok kedua terbesar adalah maksim simpati, 20 data atau 21,28 persen. Penandanya khas dan mudah dikenali orang Indonesia, yaitu doa. Satu komentar yang dicatat berbunyi “Pa gubernur yng merakyat jujur adil dan tegas sehat2 pa”. Empat kata sifat di bagian depan adalah pujian; dua kata di ujung adalah doa. Penambahan doa itulah yang memindahkan komentar tersebut dari kotak maksim pujian ke kotak maksim simpati, sebab penutur tidak berhenti pada penilaian, melainkan menaruh perhatian pada keadaan orang yang ia puji.

Empat maksim sisanya berbagi kurang dari lima belas persen. Maksim kearifan terisi lima data, kedermawanan empat, kesepakatan tiga, kerendahan hati dua. Kedermawanan ditandai kesediaan menanggung beban, seperti pada komentar yang berbunyi “Keren pisan bapa aing, kalau butuh bantuan sya siap turun”. Kalimat itu tetap memuji, tetapi memuji sambil menjanjikan tenaga. Bandingkan dengan maksim kesepakatan, yang cukup menyatakan persetujuan tanpa memberi apa-apa, seperti pada komentar “Setuju pisan bapak aing emang juara”. Beda keduanya hanya terletak pada ada atau tidaknya tawaran itu.

Maksim kerendahan hati, yang paling jarang, bekerja dengan cara terbalik dari kelima maksim lain. Penuturnya memuji dengan cara merendahkan dirinya lebih dulu. Satu-satunya contoh yang dipaparkan berbunyi “Terus terang kami belum bisa sprti kangdedi... Tapi kang dedi ini patut diapresiasi”. Pujiannya sebenarnya biasa saja; yang membuatnya menonjol adalah pengakuan tidak sanggup di kalimat pertama. Dua data dari 94 menunjukkan bahwa cara memuji seperti ini nyaris tidak dipakai di ruang yang tidak menuntut kehadiran fisik penuturnya.

Konteks Situasi Tutur: Siapa Bicara kepada Siapa

Bagian kedua penelitian memakai istilah yang lebih sulit diterjemahkan, yaitu konteks situasi tutur. Penelope Brown dan Stephen Levinson pada 1987 memilahnya dengan dua sumbu. Sumbu pertama adalah kekuasaan, ditandai huruf K, yang menanyakan apakah penutur berada di atas atau di bawah lawan bicaranya. Sumbu kedua adalah solidaritas, ditandai huruf S, yang menanyakan seberapa akrab keduanya. Tanda minus berarti tidak ada, tanda plus berarti ada. Hasilnya sederet kotak yang ditulis menyerupai rumus, seperti kurang K kurang S.

Baca juga Naskah Bharatayuddha yang Diterjemahkan ke Jawa Baru

Dari 94 komentar, sebanyak 70 berada di kotak kurang K kurang S: penuturnya tidak berkuasa atas lawan bicaranya dan tidak akrab dengannya. Itu 74,47 persen. Kotak berikutnya, tidak berkuasa tetapi merasa dekat, terisi 23 komentar atau 24,47 persen, dan penandanya sering berupa sapaan akrab seperti “bapa aing” pada komentar tadi. Kotak ketiga hanya menampung satu komentar, 1,06 persen, dan justru kotak bernomor paling kecil itu yang paling banyak menyimpan persoalan.

Komentar tunggal tersebut digolongkan tambah K kurang S, artinya penuturnya diperlakukan berada di atas orang yang ia puji. Alasannya bukan jabatan, melainkan cara ia menyebut dirinya. Ia menulis atas nama rakyat, pihak yang dalam kerangka demokrasi memegang kedaulatan lebih tinggi daripada pejabat yang sedang menjalankan amanah. Peneliti memasukkannya ke kotak itu karena posisi tutur yang dibangun sendiri oleh penulis komentarnya, bukan karena kedudukan formal di luar layar. Satu data, dan tafsirnya bergantung penuh pada satu kata.

Tiga kotak terisi dari enam kemungkinan yang disediakan kerangka itu. Penelitian ini menyandingkan angka tersebut dengan kajian Witri terbitan 2026 yang menemukan enam variasi konteks sekaligus. Bedanya, menurut Theresia Novita dan Haris Syukri, terletak pada jenis medianya dan pada sempitnya sumber data. Satu akun Instagram menghasilkan satu pola hubungan yang berulang terus. Ruang kelas dan acara televisi, tempat penelitian Diana dan Manaf pada 2022 serta Musthofa dan Utomo pada 2021 mengambil bahan, menyediakan lebih banyak kemungkinan siapa berbicara kepada siapa.

Baca juga Novel Deana dan Kelas Sosial yang Runtuh oleh Stigma

Perbedaan itu bukan sekadar soal jumlah. Pada penelitian terdahulu, tutur berlangsung dua arah dan hubungan sosial penuturnya jelas: guru dan murid, pemandu acara dan bintang tamu. Di kolom komentar, arahnya nyaris selalu satu: warganet menulis, dan tokoh yang dituju hampir tidak pernah membalas satu per satu. Kesantunan pun bekerja tanpa umpan balik. Orang tetap memilih kalimat yang menjaga perasaan lawan bicara meskipun tidak ada kepastian bahwa lawan bicara itu akan pernah membacanya.

Kesantunan Daring: Batas Sebuah Istilah

Kesimpulan yang ditarik penelitian ini menantang anggapan umum bahwa kolom komentar adalah tempat orang kehilangan sopan santun. “Temuan ini menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa dijunjung tinggi dalam komunikasi digital melalui ucapan positif,” tulis Theresia Novita dan Haris Syukri. Pujian, dalam pembacaan mereka, bukan sekadar tepuk tangan yang dilempar ke layar. Ia strategi menjaga jarak yang sopan terhadap orang yang tidak dikenal, tidak bisa dijangkau, dan berada pada kedudukan yang lebih tinggi.

Kalimat itu perlu dibaca dengan satu syarat yang dipasang penelitiannya sendiri. Yang dikumpulkan hanya komentar memuji. Komentar mencela, menyindir, atau menyerang tidak pernah masuk hitungan sejak awal karena memang bukan itu yang dicari. Maka 94 data tersebut tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan bahwa kolom komentar akun itu santun secara keseluruhan, apalagi bahwa warganet Indonesia santun. Yang ditunjukkan deretan angka tadi adalah bentuk pujian, bukan perbandingan antara jumlah pujian dan jumlah cacian di ruang yang sama.

Keterbatasan itu dinyatakan terbuka pada bagian penutup papernya. Penelitian ini, tulis keduanya, dibatasi pada data dari satu akun media sosial dan hanya berfokus pada tindak tutur memuji, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasikan secara luas. Mereka menyarankan penelitian berikutnya mengambil beberapa akun sekaligus, bahkan lintas platform, dan membandingkan pematuhan dengan pelanggaran maksim agar gambarannya lebih utuh. Keabsahan data sendiri diuji lewat triangulasi dan divalidasi seorang ahli pragmatik sebelum angka-angka itu ditulis.

Yang tersisa dari kerja tersebut adalah sebuah peta kecil tentang cara orang memuji orang yang tidak pernah ia temui. Enam maksim, tiga kotak konteks, satu akun, tiga bulan pengamatan. Cukup untuk menunjukkan bahwa pujian daring punya tata bahasanya sendiri, dan tidak cukup untuk mengatakan apa pun tentang perasaan yang menggerakkannya. Tindak tutur ekspresif memuji hanya menamai apa yang dikerjakan sebuah kalimat. Sisanya tetap tinggal di kepala orang yang mengetiknya, di luar jangkauan tabel mana pun.

Bagikan

Baca Juga

Kebencian Mendominasi Dialog Novel Aku Juga Ingin Dianggap
Makian Warganet Dibaca Lewat Linguistik Forensik
Cuitan Lama Ridwan Kamil dan Pilkada Jakarta 2024
Maksim Kesantunan yang Runtuh di Kolom Komentar
Delapan Puluh Tuturan dari Tiga Video English Speeches
Dua Gaya Bahasa Islam di Beranda Facebook