Cekricek.id — Kekayaan tidak menyelamatkan Deana. Ia perempuan kelas atas dalam sebuah novel Indonesia, lahir kaya dan menikah dengan orang kaya. Begitu penyakitnya diketahui orang, lingkaran yang dulu menghormatinya menutup pintu dalam hitungan hari.
Deana adalah tokoh utama novel Deana pada Suatu Ketika karya Titie Said, terbitan Pustaka Populer Obor, cetakan pertama 2004, setebal 160 halaman. Novel itu dibedah Harmayla Yanti dan Zulfadhli dari Universitas Negeri Padang dalam kajian berjudul Kelas Sosial dalam Novel Deana pada Suatu Ketika Karya Titie Said.
Tulisan mereka terbit di jurnal Persona, Volume 5 Nomor 2, tahun 2026, halaman 292 sampai 300. Novel itu dipilih karena penurunan status tokohnya tergambar rinci, dari perempuan yang dipuja menjadi perempuan yang dijauhi. Kekayaan dan jaringan ternyata tidak menghalangi diskriminasi.
Titie Said menulis dengan latar wartawan, dan gaya itu membuat novelnya realistis sekaligus kritis. Konfliknya tampak personal, tetapi sasarannya struktur kelas. Sastra dipakai sebagai bahan kajian karena ia merekam zamannya, dan Sapardi Djoko Damono menyebutnya kristalisasi nilai yang hidup di masyarakat, sementara Rene Wellek dan Austin Warren melihatnya sebagai kerja kreatif yang mengekspresikan imajinasi manusia.
Daftar Isi
Tiga Lapis dalam Satu Rumah

Alat bacanya dua. Pertama, tiga dimensi stratifikasi Max Weber, yaitu kelas, status sosial, dan kekuasaan. Kedua, rumusan Soerjono Soekanto bahwa lapisan sosial muncul karena ada hal-hal yang dihargai masyarakat, mulai dari sumber daya ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan sampai gaya hidup, prestise, serta pengakuan sosial.
Dari novel itu ditemukan tiga strata: kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Ketiganya tidak berdiri terpisah, melainkan berdesakan di dalam satu rumah besar. Pembagiannya juga tidak kaku, sebab ketiganya saling memengaruhi dan bisa bergeser.
Kelas atas diwakili Deana, suaminya Don, Prof. Bandri, Dokter Utama, dan Buntaran. Penandanya kehidupan mewah, pendidikan tinggi, gelar bergengsi, dan akses ke fasilitas elite. Penggambaran itu bukan sekadar latar, melainkan bahan kritik terhadap kerapuhan posisi mereka ketika berhadapan dengan penyakit yang selama ini diasosiasikan dengan kelas bawah.
Kelas bawah muncul lewat pembantu dan sopir, di antaranya Warti, Bari, Kirah, dan Maman. Warti ikut bekerja sejak putus sekolah dasar, lalu dibiayai kursus menjahit dan memiliki ijazah salon. Penghidupan mereka seluruhnya bergantung pada satu keluarga.
Kelas bawah juga hadir sebagai stereotip yang berulang, yaitu kelompok yang oleh masyarakat dianggap sumber penyakit. Penyebutan itu bukan gambaran tokoh, melainkan cermin prasangka yang hidup di sekeliling mereka. Titie Said memakainya sebagai bayangan gelap yang mempertegas kelas atas.
Baca juga Dua Jalan Rekognisi Diri Sesudah Pembatasan Sosial
Kelas menengah paling tipis dan hanya terwakili lewat asal-usul keluarga Don. Ayahnya, Ndoro Haryono, seorang pegawai negeri berjabatan wedana, birokrat menengah dengan gaji tetap dan status terhormat tetapi tidak kaya. Perbandingan itu sengaja diletakkan berhadapan dengan keluarga Deana, dan dalam pembacaan kedua peneliti kelas menengah berfungsi sebagai jembatan sekaligus pengingat ketidaksetaraan.
Kaya Turun-Temurun
Kekayaan Deana bukan hasil pernikahan, sebab ia lahir dan dibesarkan di kelas atas. Orang tuanya jauh lebih kaya daripada orang tua Don. Aspek pewarisan itu yang membuat posisinya tampak kokoh sejak awal cerita.
Buktinya justru datang dari mulut pembantu. Pada halaman 67 novel itu, percakapan Warti dengan sesama pekerja rumah tangga membandingkan kekayaan kedua keluarga besan dan menyimpulkannya tidak sebanding. Kelas dibicarakan oleh orang yang paling jauh dari puncaknya.
Percakapan yang sama merekam satu kebiasaan: orang kaya kawin dengan orang kaya, lalu bertambah kaya. Yanti dan Zulfadhli membacanya sebagai endogami kelas atas. Perkawinan antarkeluarga kaya memperbesar dan memperkuat kekayaan yang sudah ada.
Don sendiri naik kelas lewat pernikahan, tetapi akar keluarganya tetap menengah. Posisi seperti itu, tulis kedua peneliti, menandakan mobilitas sosial yang rapuh. Ia berada di lapisan atas tanpa benar-benar berasal dari sana.
Kekayaan pasangan itu kemudian tumbuh sendiri karena perusahaan yang mereka kelola berjaya. Rumah mereka berpindah dua kali dan setiap kali bertambah besar. Jumlah pramuwisma, sopir, satpam, dan tukang kebun ikut mekar mengikuti mekarnya rumah, seperti dicatat pada halaman 62 dan 63 novel itu, hanya untuk melayani tiga orang penghuni inti.
Gelar yang Bisa Dijual
Uang saja belum cukup menjelaskan posisi Deana, sebab Weber memisahkan kelas dari status. Yang kedua menyangkut kehormatan, bukan rekening. Di titik itulah novelnya paling banyak memberi bahan.
Deana kaya gelar. Ia pernah menjadi Putri Kampus dan Putri Asia Pasifik, dan sesudah menikah pun masih memenangi sejumlah kejuaraan bertema busana serta rumah tangga. Deretan gelar itu terekam pada halaman 15 dan 16 novel tersebut, termasuk saat ia mewakili Indonesia dalam ajang Istri Idola ASEAN.
Gelar-gelar itu, menurut novelnya, belakangan diobral dan dipakai untuk mencari dana. Kehormatan dengan demikian bisa ditukar dengan uang. Prestise pun dipamerkan, bukan disimpan, dan Don digambarkan bangga karena semua orang menyebut istrinya cantik.
Baca juga Mawar Melapor Pelecehan, Abah Menjawab Kodrat
Yanti dan Zulfadhli membaca hal itu sebagai penumpukan modal ekonomi, sosial, dan budaya pada satu orang. Gaya hidup elite lahir dari pertemuan ketiganya. Dimensi ketiga Weber, yaitu kekuasaan formal, justru tidak muncul kuat dalam pembentukan kelas para tokoh.
Peluang yang Menyusut
Sebelum diagnosis, peluang hidup Deana nyaris tanpa batas: warisan keluarga, perusahaan yang sukses, rumah mewah, dan banyak pembantu. Pemeriksaan kesehatannya lengkap dan ditangani dokter spesialis ternama. Akses semacam itu sendiri sudah merupakan penanda kelas pada awal 2000-an.
Sesudah diagnosis, daftar itu menyusut cepat, bukan karena uangnya habis. Yang bekerja adalah stigma, yang menutup pintu-pintu yang dulu terbuka sendiri. Perhatian Deana kemudian berpindah ke satu nama saja, yaitu anaknya, Poppy, karena yang ia takutkan bukan lagi kehilangan harta melainkan masa depan anak itu.
Pada halaman 88 novel itu, Deana meminta separuh depositonya, menjual dua dari empat rumah warisan orang tuanya, dan memasukkan hasilnya ke deposito atas nama Poppy. Dua rumah sisanya ia simpan untuk pernikahan anaknya kelak. Tawaran Don yang jauh lebih besar ia tolak.
Merujuk Robert Holton dan Bryan Turner, kedua peneliti menyimpulkan stigma sanggup meruntuhkan peluang hidup kelas atas dengan cepat. Kekayaan yang selama ini melindungi Deana menjadi sia-sia. Di sinilah pemisahan Weber terbukti berguna, sebab posisi ekonominya tidak bergerak sementara statusnya jatuh.
Label yang Datang Cepat
Reaksi masyarakat datang tanpa bertanya lebih dulu. Begitu penyakitnya diketahui, Deana dilabeli dengan sebutan merendahkan yang mengaitkannya dengan pekerja seks. Pada halaman 150, ia menjawab bahwa ia terinfeksi lewat donor darah, tetapi jawaban itu tenggelam.
Statusnya jatuh meski kekayaannya tidak berubah sepeser pun, dan mobilitas sosialnya ikut turun. Teman hilang, jaringan menyempit, undangan berhenti datang. Pola itu bukan hanya milik Deana, sebab penyakitnya saat itu lekat dengan tuduhan dosa.
Novel itu juga merekam dampaknya ke bawah, ke arah orang-orang yang bekerja di rumahnya. Sikap Deana kepada pembantunya berubah kasar. Warti terheran-heran karena majikannya dulu dikenal sabar, manusiawi, dan tidak pernah memaki.
Baca juga Delusi Cinta Kanuma dalam Novel Jepang Kankin
Perubahan itu dibaca kedua peneliti sebagai bukti timpangnya kuasa di dalam rumah tangga elite. Pekerja rumah tangga tidak memiliki otonomi ekonomi dan bergantung pada stabilitas emosi majikan. Satu kalimat di halaman 40 novel itu merangkum keadaan yang lebih luas: “Kasihan, penderita itu dikucilkan, disingkiri dan mendapat perlakuan tidak adil.”
Akibatnya melebar ke luar rumah, karena ketakutan dan prasangka merusak solidaritas antarwarga. Muncul jarak antara kelompok yang merasa normal dan kelompok yang dianggap berbeda. Latarnya perlu diingat: novel itu terbit pada 2004, ketika HIV di Indonesia masih dibicarakan lewat kacamata moral.
Satu Novel, Bukan Indonesia
Kajian ini punya batas yang diakui sendiri, yaitu objeknya hanya satu novel. Kedua peneliti menyarankan kajian lanjutan yang membandingkannya dengan karya Titie Said yang lain atau novel sezaman bertema serupa. Perspektif feminisme dan kesehatan masyarakat mereka usulkan sebagai tambahan, sebab temuan ini mereka harapkan bisa mengurangi prasangka terhadap kelompok yang terpinggirkan.
Ada batas kedua yang mereka catat sendiri. Kutipan yang mewakili kelas menengah hanya satu, yaitu latar keluarga Don, sehingga analisis lapisan itu tidak seproporsional kelas atas dan kelas bawah. Cara kerjanya sendiri terbuka dan bisa diperiksa.
Novel dibaca berulang, bagian yang memuat penanda kelas ditandai, lalu dicatat ke tabel berisi kutipan, halaman, unsur intrinsik, dan tafsir awal. Analisisnya deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra teks. Yang diperiksa teksnya, bukan pembacanya dan bukan masyarakatnya, sehingga temuannya berlaku bagi novel itu dan bukan bagi Indonesia awal 2000-an secara keseluruhan.
Letak tulisan itu dalam percakapan yang lebih besar cukup jelas. Kajian kelas sosial dalam novel biasanya memakai Karl Marx, seperti penelitian Noorazizah dan rekan atas karya Fatima Mernissi, atau strukturalisme genetik Lucien Goldmann. Yang ditawarkan Yanti dan Zulfadhli berbeda arah.
Mereka tidak mengejar konflik antarkelas, melainkan apa yang terjadi pada satu orang ketika stigma kesehatan masuk ke perhitungan status. Batas ketiganya tidak tertulis, tetapi wajar disebut. Yang dibaca di sini representasi, bukan survei, dan satu novel merekam cara stigma bekerja tanpa mengukur seberapa luas ia bekerja.
Deana tetap kaya sampai bagian akhir cerita. Yang berkurang bukan uangnya. Yang berkurang adalah jumlah orang yang bersedia duduk di dekatnya.














