Mawar Melapor Pelecehan, Abah Menjawab Kodrat

A A

Ilustrasi seorang perempuan menatap ke luar melalui bilah tirai jendela. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Enam Belas Tahun, Sebuah Akad, dan Rumah yang Menyempit Sesudahnya
  2. Nafkah Lima Ratus Ribu Sebulan dan Cara Uang Mengunci Sebuah Pilihan
  3. Yang Diterima Mawar, dan Pertanyaan yang Akhirnya Ia Ajukan Sendiri

Cekricek.id — Mawar baru pulang dari warung ketika ia menceritakan sentuhan itu kepada suaminya. Seorang lelaki pengunjung warung meraba tubuhnya di sela belanja. Ia bercerita karena berharap dibela.

Yang ia terima adalah anjuran supaya berkerudung dan berpakaian lebih tertutup. Percakapan itu tercatat pada halaman 35 novel Mawar Bukan Nama Sebenarnya karya Dian Purnomo. Di halaman itu Mawar bertanya pendek sekali, “Jadi Neng yang salah, Bah?” Suaminya, yang ia panggil Abah, menjawab, “Ya, bukan gitu. Tapi, kan laki-laki memang kodratnya begitu.” Dua kalimat itu berhadapan di satu halaman. Yang satu meminta keberpihakan. Yang lain menutup perkara dengan menyebut kodrat.

Halaman itu menjadi salah satu data dalam artikel Stereotipe Gender terhadap Perempuan dalam Novel Mawar Bukan Nama Sebenarnya Karya Dian Purnomo yang ditulis Putri Eka dan Nesa Riska Pangesti, keduanya dari Universitas Negeri Padang. Artikel itu terbit di jurnal Persona, Volume 5 Nomor 1, tahun 2026, pada halaman 75 sampai 84. Yang mereka kumpulkan bukan jalan ceritanya, melainkan kata, frasa, klausa, dan kalimat yang memikul pelabelan terhadap perempuan.

Enam Belas Tahun, Sebuah Akad, dan Rumah yang Menyempit Sesudahnya

Ilustrasi seorang nenek dan seorang anak di depan tungku kayu sebuah dapur tradisional.
Ilustrasi seorang nenek dan seorang anak di depan tungku kayu sebuah dapur tradisional. [Foto: Pexels]

Mawar menikah pada usia enam belas tahun. Abah dua kali lebih tua darinya. Akad itu bukan lahir dari keinginan, melainkan dari desakan ekonomi keluarga, dan sejak hari itu jarak usia bekerja sebagai jarak kuasa. Kedua peneliti membaca selisih itu bukan sebagai detail biografis tokoh, melainkan sebagai penopang seluruh adegan yang datang kemudian, termasuk adegan yang paling sulit dibaca dalam novel tersebut. Salah satu adegan itu berisi kekerasan fisik yang dilakukan Abah kepada istrinya, tercatat oleh peneliti pada halaman 64 novel. Pemicunya sederhana dan justru karena itu telak: Mawar menolak berhubungan intim karena kelelahan. Penolakan itu tidak diakui sebagai hak. Dalam bacaan Putri Eka dan Nesa Riska Pangesti, adegan tersebut memperlihatkan tubuh seorang istri yang tidak lagi dianggap miliknya sendiri.

Baca juga Tiga Kata Arab untuk Cinta di Dalam Al-Quran

Untuk menjelaskan mengapa hal semacam itu bisa terjadi berulang, kedua peneliti bersandar pada Mansour Fakih. Dalam bukunya yang terbit pada 2008, Fakih menyatakan bahwa anggapan perempuan sebagai makhluk lemah memberi laki-laki semacam izin sosial untuk bertindak keras. Label itu tampak sepele ketika diucapkan di ruang tamu. Ia berhenti sepele ketika dipakai sebagai alasan di kamar tidur. Kerangka teoretis yang dipakai artikel ini adalah feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir. Dalam edisi terjemahan yang dirujuk peneliti, Beauvoir menyebut laki-laki menempatkan diri sebagai Sang Diri dan perempuan sebagai Sang Liyan, sosok yang keberadaannya selalu didefinisikan lewat hubungannya dengan laki-laki. Mawar, dalam kerangka itu, tidak sedang kalah karena lemah. Ia sedang ditempatkan.

Memakai novel sebagai bahan penelitian bukan jalan pintas. Artikel ini membuka argumennya dengan rujukan pada Sapardi Djoko Damono, yang pada 1977 menyebut sastra sebagai lembaga sosial yang memakai bahasa, sementara bahasa itu sendiri ciptaan masyarakat. Hayati, dalam bukunya yang terbit pada 2016, menambahkan bahwa peran dan relasi laki-laki serta perempuan dibentuk lewat konstruksi sosial dan budaya yang berulang. Dari dua pijakan itu, kalimat-kalimat Dian Purnomo diperlakukan bukan sebagai khayalan, melainkan sebagai endapan dari sesuatu yang beredar di luar buku.

Adegan di warung tadi dibaca dengan pijakan yang sama. Peneliti merujuk pada kajian Nanil dan rekan-rekannya yang terbit pada 2022, yang mencatat bagaimana tubuh perempuan direpresentasikan sebagai objek pandangan laki-laki. Yang dilakukan Abah sesudah mendengar cerita istrinya bukan membantah pelakunya, melainkan memindahkan beban ke pakaian. Feminisme eksistensialis menolak anggapan bahwa perilaku semacam itu bersifat alamiah. Ia dipahami sebagai hasil bentukan yang terus diproduksi ulang, dan sesuatu yang dibentuk selalu punya kemungkinan dibongkar.

Nafkah Lima Ratus Ribu Sebulan dan Cara Uang Mengunci Sebuah Pilihan

Ada satu angka yang muncul di halaman 24 novel itu dan tidak bisa dilewatkan. Dalam kutipan yang dianalisis peneliti, Mawar bercerita bahwa nafkah pertamanya dari Abah adalah lima ratus ribu rupiah, sebulan sesudah mereka menikah. Kalimat suaminya menyertai uang itu: “Dihemat-hemat ya, Neng. Beras sama minyak Abah udah belikan, itu buat beli sayur dan lauk hari-hari.” Beras dan minyak memang sudah dibelikan. Persoalannya bukan di situ. Jumlah itu tetap tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan kekurangan itulah yang membuat setiap pengeluaran kecil harus dilaporkan, dimintakan, atau ditunda. Uang yang sedikit menciptakan ketergantungan yang besar. Dalam bacaan kedua peneliti, dengan membatasi akses terhadap sumber daya, Abah mengendalikan pilihan dan tindakan istrinya tanpa perlu melarang apa pun secara terbuka.

Baca juga Janlup dan Gercep di Kolom Komentar TikTok

Pola itu disandingkan peneliti dengan temuan Yuliyana yang terbit pada 2025 tentang praktik ketaatan istri di Desa Banuaju Barat. Di sana, keharusan patuh kepada suami bekerja sebagai bentuk kontrol yang memangkas ruang perempuan dalam pengambilan keputusan. Novel Dian Purnomo, kata artikel ini, memakai bahan yang sama dan menaruhnya dalam satu rumah tangga. Tindakan Abah, tulis Putri Eka dan Nesa Riska Pangesti, adalah bentuk reduksi perempuan menjadi Sang Liyan.

Rumah tangga itu akhirnya bubar. Mawar bercerai, lalu menjadi tulang punggung keluarganya sendiri. Pendidikan yang rendah dan kemiskinan mempersempit daftar pilihannya sampai tinggal beberapa baris, dan ia masuk ke dunia kawin kontrak serta prostitusi. Yang menunggunya di sana bukan simpati. Masyarakat dalam novel itu justru menstigmanya sebagai objek seks, label yang sebelumnya sudah dipakai orang lain untuk menjelaskan pelecehan yang menimpanya. Di sinilah novel itu, menurut artikel di Persona, memperlihatkan lingkaran yang rapat. Perempuan dianggap objek seksual, lalu keadaan mendorongnya ke pekerjaan yang menjadikannya objek seksual, lalu anggapan awal tadi dipakai untuk membenarkan dirinya sendiri. Kedua peneliti menolak membaca lingkaran itu sebagai kodrat. Mereka menyebutnya konstruksi sosial yang terus direproduksi, dan justru karena dibentuk, ia bisa diubah.

Yang Diterima Mawar, dan Pertanyaan yang Akhirnya Ia Ajukan Sendiri

Sikap perempuan terhadap pelabelan itu, menurut hasil penelitian, terbelah dua. Yang pertama sikap menerima. Pada halaman 152, Mawar digambarkan tidak sanggup melawan ketika mengalami kekerasan. Peneliti mencatat bahwa keinginan melawan sebenarnya ada. Yang tidak ada adalah posisi untuk melakukannya, sebab relasi kuasanya terlalu timpang dan tekanan ekonominya terlalu dekat.

Baca juga Ketika Prompt Jadi Pelajaran di Kelas Bahasa

Yang kedua sikap menolak, dan penolakan itu terjadi di dalam kepala. Kembali di halaman 35, sesudah jawaban tentang kodrat tadi, novel memuat rentetan pertanyaan batin Mawar yang mempersoalkan anggapan bahwa dirinya sekadar barang dan bahwa perempuan yang dilecehkan adalah pihak yang bersalah. Rentetan itu disertai umpatan. Marah dan kecewa datang bersamaan, dan yang membuatnya penting bukan volumenya, melainkan arahnya: kepada anggapan, bukan kepada dirinya sendiri.

Dalam kerangka feminisme eksistensialis yang dipakai artikel ini, pertanyaan-pertanyaan itu adalah bentuk penolakan terhadap posisi sebagai Sang Liyan. Kesadaran itu tidak mengubah keadaan Mawar dalam waktu dekat. Ia tetap miskin, tetap sendiri, tetap dinilai. Tetapi kesadaran itu memindahkan satu hal: pertanyaan tentang siapa yang bersalah tidak lagi ia arahkan ke dalam. Artikel di Persona menutup pembahasannya dengan menyebut fungsi ganda sastra: mencerminkan kenyataan sosial sekaligus mengkritik ideologi yang menopangnya. Rujukannya pada Maggie Humm mengingatkan bahwa feminisme berangkat dari keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya. Novel seperti karya Dian Purnomo, kata kedua peneliti, bisa menjadi rujukan bagi pembaca untuk mengapresiasi karya sastra Indonesia sekaligus berpikir kritis terhadap pelabelan yang sudah lama dianggap wajar.

Kajian ini punya batas yang jelas, dan penulisnya menyebutkannya sendiri. Ia bekerja pada satu novel, dengan metode deskriptif yang menurut rujukan mereka memang tidak memakai angka, dan peneliti sendiri yang menjadi instrumen utama pengumpulan data. Putri Eka dan Nesa Riska Pangesti juga mencatat bahwa penelitian atas novel Mawar Bukan Nama Sebenarnya masih terbatas, sehingga temuan mereka belum punya banyak pembanding.

Karena itu, apa yang mereka temukan berlaku untuk teks yang mereka baca. Tiga bentuk pelabelan yang mereka catat, yaitu perempuan dianggap lemah, dianggap objek seksualitas, dan harus mematuhi perintah suami, adalah bentuk yang muncul di dalam novel Dian Purnomo. Satu novel bukan potret sastra Indonesia, dan satu Mawar bukan seluruh perempuan Indonesia. Yang bisa dikatakan artikel ini adalah bahwa bahan ceritanya diambil dari sesuatu yang dikenali pembacanya.

Pertanyaan di halaman 35 itu tidak pernah dijawab siapa pun di dalam novel. Abah sudah menutupnya dengan kata kodrat, dan Mawar menyimpannya sendiri. Kalimatnya tetap pendek, tetap tanpa tanda seru, dan tetap berbunyi seperti orang yang sedang meraba dinding di ruangan gelap: apakah dia yang salah.

Bagikan

Baca Juga

Religiusitas dan Otonomi Perempuan, Beda Hasil Dua Metode
Ketimpangan Gender 38 Provinsi Dipetakan, SVM Paling Akurat
Deiksis Novel Fabel, 3.690 Data dari Dua Novel Indonesia
Dua Puisi Duka, Dua Bayangan tentang Kematian
Marah Mendominasi Novel Aku Tak Membenci Hujan
Ketika Tipologi Soekanto Membaca Novel 1998