Daftar Isi
Cekricek.id — Pada 1996 Harimurti Kridalaksana membagi cara orang Indonesia memendekkan kata menjadi lima bentuk: singkatan, penggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf. Pembagian itu disusun untuk bahasa yang beredar lewat surat kabar, papan nama, dan percakapan tatap muka. Tiga puluh tahun kemudian, tempat paling produktif untuk memendekkan kata bukan lagi ruang-ruang itu, melainkan kolom komentar yang bergulir cepat di bawah video berdurasi belasan detik. Di sana bentuk seperti yg, dll, caper, dan janlup muncul berulang-ulang, sebagian dikenal semua orang, sebagian lagi lahir kemarin sore dan hanya dipahami sesama penonton akun yang sama.
Ke ruang itulah Indah Permata Sari dan Ermanto dari Universitas Negeri Padang membawa daftar Kridalaksana. Dalam artikel Abreviasi pada Kolom Komentar Akun @aqeelaaz_ dan @fattahsyach11 di Media Sosial TikTok yang terbit di jurnal Persona Vol. 5 No. 2 tahun 2026, keduanya memakai pendekatan kualitatif deskriptif untuk mencatat bentuk pemendekan yang muncul di kolom komentar dua akun tersebut sepanjang Februari hingga September 2025. Kedua akun dipilih dengan syarat yang mereka tetapkan sendiri: pengikut lebih dari 500 ribu, rata-rata sedikitnya seratus komentar per unggahan, dan respons pengguna yang konsisten ramai di tiap video. Datanya dikumpulkan dengan metode simak beserta teknik simak bebas libat cakap, artinya kedua peneliti mengamati percakapan tanpa pernah ikut berkomentar di dalamnya.
Kridalaksana 1996 dan Lima Pola Singkatan

Dari pengamatan itu terkumpul 265 data abreviasi, terdiri atas 151 singkatan atau 56,98 persen dan 114 akronim atau 43,02 persen. Datanya dikumpulkan dengan metode simak dan teknik catat, tanpa peneliti ikut berkomentar, lalu dipilah, dikelompokkan, dan ditafsirkan. Keabsahannya dijaga lewat penyilangan sumber antarunggahan dan penilaian seorang ahli morfologi yang masukannya dipakai untuk merevisi hasil klasifikasi. Bentuk yang paling sering muncul adalah yang paling sering pula diketik orang tanpa berpikir: yg, bgt, jd, km, sy, blm, udh, otw, fyp, dan omg. Bentuk yg sendiri mereka bedah sebagai singkatan visual, karena hanya huruf y dan g yang dipertahankan sementara pembacanya tetap melafalkannya sebagai yang, bukan mengejanya huruf demi huruf.
Baca juga Frankenstein yang Dijahit Ulang oleh Remaja Perempuan
Yang menarik justru pembagian di dalamnya. Pola terbanyak adalah pengekalan beberapa huruf dalam satu kata, 74 data atau sekitar 49,01 persen, yaitu bentuk seperti yg untuk yang, bgt untuk banget, brp untuk berapa, dan mnt untuk menit, tempat huruf vokal paling sering dikorbankan. Pola kedua, pengekalan huruf pertama tiap kata, mencatat 47 data, menghasilkan bentuk seperti PHP untuk pemberi harapan palsu, HTS untuk hubungan tanpa status, dan TTM untuk teman tapi mesra. Sisanya jauh lebih tipis: 15 data mengekalkan huruf pertama dan terakhir sehingga bentuknya masih mirip secara visual dengan kata asalnya, 8 data mengekalkan sebagian huruf tiap kata, dan hanya 7 data yang mengekalkan huruf pertama saja. Pola terakhir itu paling sedikit dipakai, dan kedua peneliti menduga sebabnya sederhana: satu huruf tunggal terlalu mudah menimbulkan salah tafsir kalau konteksnya tidak jelas.
Dari Instagram Hermanisa 2021 ke TikTok Kirana
Temuan itu tidak berdiri sendirian. Sebelumnya Hermanisa pada 2021 menyisir akun Instagram Suduik Minang dan menemukan 98 singkatan dari total 113 data abreviasi, sebuah perbandingan yang bahkan lebih timpang daripada temuan di TikTok. Pada tahun yang sama Kirana meneliti kolom komentar akun Tribunnews di TikTok dan juga mendapati singkatan sebagai bentuk yang paling dominan, sementara Putri dan Sabardila membedah tajuk kanal YouTube Najwa Shihab. Dua tahun berikutnya Dhika dan Ermanto membandingkan abreviasi pada situs resmi Akmil dan Lemdiklat Polri, lalu Sari pada 2024 memeriksa status Facebook para calon presiden.
Rangkaian itu memperlihatkan pola yang berulang di platform mana pun: begitu ruang tulis menyempit dan tempo percakapan naik, singkatan selalu unggul atas bentuk lain. Yang belum dikerjakan siapa pun, tulis Indah Permata Sari dan Ermanto, adalah kolom komentar TikTok yang lalu lintasnya didominasi remaja dan dibaca secara khusus untuk dua bentuk itu saja. Kajian terdahulu umumnya menyapu kelima bentuk Kridalaksana sekaligus, sehingga proses pembentukan singkatan dan akronim tidak pernah dibedah sampai ke pola-pola kecilnya. Dominasi singkatan itu sendiri mereka jelaskan lewat sifat ruangnya: percakapan berlangsung seketika, ruang tulisnya sempit, dan pengguna berusaha menekan jumlah karakter tanpa kehilangan maksud utama pesan.
Gercep, Janlup, dan Catatan Rengganis 2019
Akronim bergerak dengan cara berbeda dari singkatan. Ia tidak dieja huruf demi huruf, melainkan dilafalkan sebagai satu kata utuh, sehingga hasilnya bukan bentuk pendek melainkan kata baru. Dari 114 akronim yang terkumpul, 106 di antaranya terbentuk lewat penggabungan bagian awal kata: gercep dari gerak cepat, janlup dari jangan lupa, salfok dari salah fokus, salting dari salah tingkah, dan baper dari bawa perasaan. Kedua peneliti membedahnya sampai ke suku kata, misalnya gamon yang mengambil ga dari gagal dan mon dari move on. Bentuk semacam itu, catat mereka, tidak berhenti sebagai pemendekan; ia masuk ke perbendaharaan kata dan dipakai seperti kata biasa, lengkap dengan kemampuan berdiri sendiri dalam kalimat.
Baca juga Kesantunan Bahasa Jawa Tak Selalu Lewat Putaran
Pola kedua jauh lebih jarang, hanya tujuh data, dan bekerja dengan mengambil potongan yang dianggap paling mudah diucapkan: pasutri dari pasangan suami istri, bukber dari buka bersama, cinlok dari cinta lokasi. Pola ketiga bahkan cuma satu data. Rengganis dan Agus pada 2019 sudah mencatat bahwa akronim di media sosial dibentuk lewat berbagai pola pengekalan huruf dan suku kata, dan Sari pada 2024 menemukan hal serupa di Facebook. Yang ditambahkan kajian ini adalah bukti bahwa pola-pola tersebut tidak acak, melainkan tunduk pada kaidah bunyi bahasa Indonesia. Ada semacam kesepakatan tidak tertulis di antara penggunanya tentang huruf dan suku kata mana yang boleh dibuang dan mana yang harus tinggal supaya bentuknya masih terbaca.
Cenderamata 2018 dan Sisi Lain Efisiensi
Kecepatan itu ada harganya. Cenderamata pada 2018 sudah mengingatkan bahwa abreviasi di media sosial memberi dua akibat sekaligus: menghemat waktu dan menambah kosakata, tetapi berpotensi menghambat komunikasi begitu bentuknya tidak dikenali pembaca. Kedua peneliti mengulang peringatan itu di bagian pembahasan mereka, sesudah menemukan bentuk-bentuk yang lahir dari kreativitas pengguna dan hanya dipahami di lingkaran tertentu. Bentuk seperti yg dan otw dikenal hampir semua orang; bentuk yang lebih baru sering kali hanya terbaca oleh sesama penonton akun yang sama. Banyak akronim, tulis mereka, memang lahir lebih dulu di satu kelompok kecil sebelum menyebar dan akhirnya diterima sebagai kosakata umum di ruang digital.
Baca juga Maksim Kesantunan yang Runtuh di Kolom Komentar
Di titik itu abreviasi berhenti menjadi soal hemat karakter. Merujuk kajian Herring dan rekan pada 2013 tentang komunikasi berperantara komputer, keduanya menempatkan singkatan dan akronim sebagai ciri khas bahasa daring yang ringkas, interaktif, dan cepat berubah. Fungsinya bertumpuk: mempercepat balasan pada percakapan yang berlangsung seketika, menandai keanggotaan dalam satu lingkaran digital, sekaligus memberi nada santai yang sulit dicapai dengan ejaan lengkap. Orang yang tidak mengerti satu bentuk bukan hanya kehilangan makna, ia juga kehilangan pintu masuk ke percakapannya. Bahasa, dalam kerangka yang mereka pinjam dari kajian terdahulu, memang tidak pernah berhenti menyesuaikan diri dengan cara manusia berhubungan, dan penambahan kosakata berjalan seiring perubahan perilaku sosial penuturnya.
Batas yang Diakui Indah Permata Sari 2026
Kedua peneliti menolak menyembunyikan satu hal yang mudah dilewatkan pembaca. Lima pola singkatan dan dua pola akronim yang mereka pakai, tulis keduanya, “merupakan hasil kategorisasi mandiri peneliti berdasarkan temuan empiris di lapangan, bukan klasifikasi mentah dari teori asal”. Artinya kerangka Kridalaksana tidak diterapkan begitu saja, melainkan disusun ulang mengikuti bentuk yang benar-benar muncul di layar. Pengakuan semacam itu mengubah kedudukan angka 49,01 persen tadi: ia bukan hukum bahasa, melainkan hasil hitungan atas kategori yang mereka rumuskan sendiri.
Batas lainnya mereka sebut satu per satu. Data hanya berasal dari dua akun TikTok sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasikan ke seluruh pengguna platform itu, apalagi ke remaja Indonesia pada umumnya. Kajiannya juga dibatasi pada singkatan dan akronim, tanpa menyentuh penggalan, kontraksi, dan lambang huruf. Rentang pengambilan datanya pun terkunci pada delapan bulan tertentu, sementara bentuk baru terus lahir sesudah periode itu ditutup. Tujuh bulan berikutnya bisa saja menghasilkan daftar yang berbeda. Angka 265 itu, dengan begitu, adalah potret satu ruang dalam satu musim, bukan takaran seberapa jauh bahasa Indonesia sudah berubah.
Yang tersisa adalah pertanyaan lama dalam kajian morfologi, yang kini pindah tempat. Kridalaksana menyusun daftarnya dari bahasa cetak; Rengganis dan Agus membacanya di percakapan sehari-hari daring; Hermanisa dan Kirana memindahkannya ke Instagram dan TikTok; Sari mengujinya pada status kampanye. Kajian Indah Permata Sari dan Ermanto menambahkan satu mata rantai, dan mata rantai itu memberi kesimpulan yang tidak kecil: media sosial, tulis keduanya, bukan sekadar ruang pemakaian bahasa, melainkan tempat kata baru dilahirkan. Mata rantai berikutnya, mereka sarankan sendiri, seharusnya menyisir bentuk yang belum tersentuh di platform yang belum diperiksa.















