Kesantunan Bahasa Jawa Tak Selalu Lewat Putaran

A A

Ilustrasi warga berkumpul dan bercakap-cakap di sebuah pasar tradisional di Jawa. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Inti yang Keluar Lebih Dulu
  2. Beban yang Menentukan Panjang Kalimat
  3. Sisa Pertanyaan di Balik Layar

Cekricek.id — Orang Jawa, begitu bunyi keyakinan yang sudah lama diterima tanpa banyak diperiksa, tidak pernah meminta sesuatu secara lurus; ia berputar, menyinggung, menyiapkan basa-basi yang panjang sebelum sampai ke maksudnya, sebab bagi masyarakat berkonteks tinggi keharmonisan dianggap lebih berharga daripada kejelasan. Keyakinan itu diajarkan di ruang kuliah, dikutip di buku panduan lintas budaya, dan dipakai untuk menjelaskan hampir segala hal tentang cara orang Jawa memperlakukan satu sama lain. Sebuah kajian pragmatik yang baru terbit menaruh keyakinan tersebut di atas meja, menghitungnya kalimat demi kalimat, lalu menemukan bahwa ia tidak bertahan sebaik yang dikira.

Yang menaruhnya adalah Emi Nursanti, Suhandano, dan Sulistyowati, tiga peneliti dari Universitas Gadjah Mada, dalam artikel berjudul Modern Javanese directives: Balancing clarity and politeness in a high-context society yang terbit di jurnal Diksi Volume 34 Nomor 1 tahun 2026. Bahan mereka bukan kuesioner dan bukan pula rekaman percakapan di warung kopi, melainkan dua puluh film pendek berbahasa Jawa produksi Paniradya Kaistimewan, lembaga di lingkungan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dirilis antara Januari 2021 dan Juni 2023. Dari dua puluh film itu mereka menarik 525 tuturan direktif — kalimat yang dipakai seseorang untuk membuat orang lain mengerjakan sesuatu — lalu membongkarnya satu demi satu bersama seorang ahli bahasa Jawa yang diminta memeriksa ulang pelabelan datanya.

Setiap tuturan direktif, dalam kerangka yang mereka pakai, terdiri atas dua bagian yang bisa dipisahkan. Ada inti perintahnya, yang disebut head act, bagian paling kecil yang sanggup berdiri sendiri sebagai suruhan. Ada pula bagian penyertanya, supportive moves, yang bisa melunakkan tuntutan atau justru mempertajamnya. Sapaan yang mendahului, alasan yang menyusul, pertanyaan pendek yang digantung di ujung kalimat, semuanya termasuk penyerta. Pertanyaan yang ingin dijawab Nursanti dan dua rekannya sederhana dan sedikit berbahaya bagi kenyamanan teori: dalam bahasa Jawa masa kini, mana yang lebih dulu keluar dari mulut orang, intinya atau bungkusnya?

Inti yang Keluar Lebih Dulu

Ilustrasi seorang perempuan memasak di tungku kayu dalam dapur tradisional.
Ilustrasi seorang perempuan memasak di tungku kayu dalam dapur tradisional. [Foto: Pexels]

Jawabannya intinya. Dari 525 tuturan itu, 308 atau 58,7 persen berstruktur berorientasi head act: penuturnya membuka mulut langsung dengan perintah, baru menambahkan pelunak sesudahnya, atau tidak menambahkan apa pun sama sekali. Struktur yang dibuka pelunak menempati posisi kedua dengan 193 tuturan atau 36,7 persen. Yang dibuka penguat — ancaman, penekanan, konsekuensi buruk — hanya 24 tuturan atau 4,6 persen, angka yang begitu kecil sehingga lebih tepat dibaca sebagai pengecualian daripada sebagai pola. Pada tingkat yang lebih rinci, empat susunan yang paling sering muncul adalah pelunak lalu inti sebanyak 27,2 persen, inti lalu pelunak 23,6 persen, inti tanpa apa-apa 23,6 persen, dan inti lalu penguat 9,7 persen.

Baca juga Sudah Punya Rekening, Belum Tentu Terlayani

Bentuk paling telanjang dari kecenderungan itu adalah tuturan satu kata. Ajeng, tokoh dalam salah satu film, kesal karena foto yang diambil pacarnya tidak cukup bagus untuk diunggah, dan yang keluar dari mulutnya cuma satu kata kerja, ‘Baleni!’, ulangi. Tidak ada sapaan, tidak ada alasan, tidak ada penanda kesantunan apa pun. Di film yang lain, Kismo yang sedang membuat bakpia berseru ‘Kacang ijo!’ kepada orang-orang yang menunggu di depan dapurnya, dan mereka semua paham bahwa yang dimaksud adalah menyerahkan kacang hijau itu kepadanya. Kalimatnya bahkan tidak berpredikat. Konteks bersama yang menanggung sisa maknanya, dan konteks bersama itu ternyata cukup kuat untuk menanggungnya.

Yang menarik bukan bahwa orang Jawa bisa berkata sependek itu — siapa pun bisa — melainkan bahwa kependekan itu tidak otomatis dibaca sebagai kekasaran oleh yang menerimanya. Di sinilah Nursanti dan timnya meletakkan bantahan mereka terhadap paradigma lama. Temuan ini, tulis mereka, menggugat anggapan bahwa ketidaklangsungan adalah komponen yang mesti ada dalam kesantunan; sebaliknya, “dalam komunikasi Jawa modern, kelangsungan dan kesantunan bekerja sebagai tujuan yang saling melengkapi, bukan yang saling bertentangan.” Tuturan yang ringkas dan lurus tidak dengan sendirinya tidak sopan, sebab penafsirannya selalu diatur oleh konteks sosial budaya dan hierarki yang sedang berlaku di antara dua orang yang berbicara.

Konteks itu bukan hiasan argumen. Struktur inti tunggal, kata kajian ini, paling banyak dipakai dalam strategi langsung yang kuat, dan strategi langsung yang kuat sendiri paling sering muncul di antara orang-orang yang jarak sosialnya kecil atau dalam hubungan yang menurun secara hierarkis — orang tua kepada anak, yang lebih tua kepada yang lebih muda, kawan kepada kawan. Di antara mereka, keakraban sudah menanggung pekerjaan yang di tempat lain harus ditanggung oleh kata-kata. Justru ketika lawan bicaranya asing atau lebih senior, atau ketika permintaannya membebani, pelunak mulai bermunculan dan formulanya memanjang dengan sendirinya.

Beban yang Menentukan Panjang Kalimat

Seorang ibu dalam salah satu film tidak menyuruh anaknya makan. Ia bertanya, ‘Ra maem dhisik pa, Le?’, tidak makan dulu, Nak, lalu menambahkan bahwa hari sudah malam dan bahwa meja akan segera ia bereskan. Bentuk pertanyaan negatif semacam itu, menurut kajian ini, secara tersirat sudah memuat jawaban yang diinginkan penuturnya, sementara keterangan tentang malam dan meja berfungsi sebagai alasan yang membuat permintaannya terasa masuk akal dan bukan sewenang-wenang. Dua pelunak dalam satu tarikan napas. Yang sampai ke telinga anaknya bukan sebuah perintah, melainkan ajakan bekerja sama yang sulit ditolak tanpa terdengar keras kepala.

Baca juga Wayang dan Sate dalam Terjemahan Cantik Itu Luka

Formula terpanjang justru muncul di forum yang paling resmi. Dalam sebuah pertemuan warga, seorang penutur membuka dengan sapaan ‘Ibu-ibu sedaya’, berpindah ke ragam krama yang halus, menyebut dirinya hanya ndherek menghimbau atau sekadar ikut mengimbau, memberi alasan bahwa kasus kenakalan remaja sedang banyak terjadi, dan baru setelah semua itu menyampaikan intinya: agar para orang tua ikut mengawasi anak-anak mereka. Empat lapis pelunak sebelum satu perintah. Semakin besar beban yang ditaruh penutur di pundak lawan bicaranya, tulis Nursanti dan timnya sambil mengutip kajian terdahulu, semakin rumit formula pragmatiknya dan semakin tinggi tingkat strategi kesantunan yang ia pakai.

Di ujung yang berlawanan, penguat memang ada tetapi jarang dan hampir selalu bersyarat. Kenthos, seorang pemuda desa, mengingatkan kawannya Parto agar tidak terpengaruh sekelompok anak muda tertentu, dan ia membuka dengan ‘aku ki sebagai kancamu’, sebagai kawanmu, sebelum menutupnya dengan konsekuensi bahwa hidup Parto akan celaka. Pelunak di depan, penguat di belakang. Bahkan ketika sedang mengancam, penuturnya masih merasa perlu memasang alas persahabatan lebih dulu. Kelangkaan struktur semacam ini, dua puluh empat dari lima ratus dua puluh lima, memberi kesan bahwa yang dihindari penutur Jawa modern bukanlah kejelasan, melainkan tuturan yang berpotensi melukai orang di hadapannya.

Baca juga 58 Masjid Padang Berdiri di Zona Risiko Tsunami

Pola lain yang tidak kalah konsisten adalah kecenderungan memilih formula yang sederhana. Susunan satu atau dua unsur jauh lebih sering muncul daripada susunan tiga unsur yang berlapis-lapis. Kajian ini menghubungkannya dengan maksim cara yang dirumuskan Grice, yang menyatakan bahwa penutur cenderung memilih bentuk ringkas agar mudah dipahami, dan dengan temuan serupa pada tuturan direktif bahasa Thai, tempat pola rumit juga dihindari karena menyulitkan lawan bicara menafsirkan maksud. Kejelasan, dalam bacaan seperti ini, bukan lawan kesantunan melainkan salah satu syaratnya: kalimat yang terlalu berputar berisiko menjadi kabur, dan kalimat yang kabur adalah beban tersendiri bagi orang yang harus menebak isinya.

Sisa Pertanyaan di Balik Layar

Ada satu hal yang membuat seluruh temuan ini harus dipegang dengan tangan yang tidak terlalu erat, dan penulisnya sendiri yang menyebutkannya. Datanya diambil dari film berskenario, bukan dari percakapan yang terjadi dengan sendirinya. Dialog film ditulis, disunting, dilatih, lalu diucapkan di depan kamera; ia menyerupai percakapan harian tanpa pernah benar-benar menjadi percakapan harian. Nursanti dan timnya menutup artikel mereka dengan mendorong penelitian lanjutan yang menguji apakah kecenderungan berkata lurus ini juga bertahan dalam komunikasi yang sungguh-sungguh terjadi, di pasar, di ruang tamu, di antrean puskesmas, tempat tidak ada sutradara yang bisa meminta pengambilan ulang.

Ada pula lapisan yang tidak dibahas panjang tetapi sulit diabaikan: dua puluh film itu diproduksi sebuah lembaga pemerintah daerah. Film yang dibiayai negara membawa kepentingannya sendiri terhadap bagaimana orang Jawa ingin ditampilkan kepada penontonnya, dan pilihan diksi seorang penulis skenario selalu merupakan pilihan estetis sekaligus pilihan sikap. Kajian ini, harus diakui, tidak mengklaim lebih dari yang sanggup ia tanggung. Ia berbicara tentang struktur pragmatik dalam dua puluh film pendek, bukan tentang seluruh penutur bahasa Jawa di Yogyakarta, apalagi tentang orang Jawa di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jumlahnya puluhan juta.

Namun pertanyaan yang ditinggalkannya tetap menempel dan tidak mudah dilepas. Kalau tuturan sependek satu kata bisa dibaca sopan oleh orang yang menerimanya, dan kalau susunan empat lapis pelunak hanya dipakai ketika bebannya memang berat, maka apa yang selama ini kita sebut kesantunan Jawa barangkali tidak pernah benar-benar berada di dalam kalimatnya. Ia berada di antara orang-orang yang mengucapkannya, dalam hitungan jarak, umur, dan utang budi yang tidak tertulis di mana pun. Kalau begitu, apa sesungguhnya yang bergeser ketika sebuah masyarakat disebut menjadi lebih langsung: bahasanya, atau jarak di antara para penuturnya?

Bagikan

Baca Juga

Siagai Laggek, Penyembuh Mentawai yang Mengobati Tanpa Ritual
Bonus Demografi Indonesia Belum Otomatis Jadi Pertumbuhan Ekonomi
Cara Orang Kerinci Merawat Adat Tanpa Menolak Teknologi Baru
Lidah Buaya Gunungkidul Diminati Calon Pembeli dari Swedia
Orang Rimba Membagi Hutan Jadi Rumah Dewa, Kebun Buah, dan Ladang
Padi Orang Baduy Tak Dijual, Disimpan di Leuit sampai Lima Tahun