- Padi yang disimpan di sana dapat bertahan hingga lima tahun.
- Benih hanya ditanam dengan tugal, sepotong bambu yang diruncingkan.
- Ketiganya bernama pare koneng, pare siang, dan pare ketan langgasari.
- Dari kelima jenis itu, durian dan pisang disebut sebagai tanaman buah unggulan.
Daftar Isi
Lumbung padi orang Baduy tidak berdiri di samping rumah. Bangunan yang mereka sebut leuit itu ditempatkan di sekeliling permukiman, di kawasan hutan, terpisah dari tempat warga tinggal. Tiap keluarga memilikinya. Di dalamnya tersimpan gabah kering hasil ladang, dan gabah itu tidak dijual.
Leuit menjadi salah satu simpul dalam tulisan Mirajiani dan Siti Widiati, Pengetahuan Lokal Masyarakat Adat Baduy dalam Pranata Sosial untuk Menunjang Ketahanan Pangan, yang terbit di Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat volume 1 nomor 1 tahun 2022. Keduanya pengajar di Departemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten.
Mereka datang ke Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, pada Januari 2022. Pertanyaannya lahir dari masa pandemi. Ketika banyak tenaga kerja dikurangi dan usaha besar maupun kecil merugi, akses keluarga pada pangan ikut terganggu. Apakah masyarakat adat dengan tata hidup yang khas itu merasakan guncangan yang sama?
Leuit di tepi hutan
Jawabannya mereka temukan di lumbung. Mata pencaharian utama orang Baduy adalah bertani, dan dalam keseharian mereka tetap kokoh memegang aturan adat yang disebut pikukuh. Gabah kering hasil berladang, atau ngahuma, dibawa ke leuit. Padi hasil panen tidak dilepas ke pasar. Menurut kedua penulis, leuit adalah bangunan khusus yang dipakai tiap keluarga Baduy untuk menyimpan padi ladang. Padi yang disimpan di sana dapat bertahan hingga lima tahun. Selama itu kondisinya tetap baik dan masih layak dimakan.
Dari situlah kesimpulan mereka tentang pandemi ditarik. “Sumber pangan pokok beras berasal dari ladang dan tidak diperjualbelikan, dan digunakan sebagai lumbung pangan, sehingga pandemic COVID-19 tidak berpengaruh dalam mekanisme pemenuhan kebutuhan pangan Masyarakat Adat Baduy,” tulis Mirajiani dan Siti Widiati dalam naskahnya.
Baca juga Di Baduy, Bersekolah Haram tapi Toleransi ke Luar Wajib
Ladang yang tidak dibajak
Dari lumbung, jalan ceritanya mundur ke ladang. Sumber pangan utama orang Baduy adalah hasil huma, yakni ladang di lahan kering. Di sini pikukuh kembali menjadi pegangan. Kontur lahan tidak boleh diubah, sehingga cara berladangnya sangat sederhana.
Tanah tidak diolah dengan bajak. Lereng tidak dibuat berteras. Benih hanya ditanam dengan tugal, sepotong bambu yang diruncingkan. Pupuk dan pestisida tidak diperbolehkan, begitu pula mesin pertanian. Alat yang boleh dipakai hanya alat sederhana dan peralatan tradisional.
Di sela padi, umbi-umbian dan sayur-sayuran ditanam secara tumpang sari. Dari segi sosial dan ekonomi, tulis kedua penulis, cara ini dapat meningkatkan hasil pertanian dan membuat lahan terpakai lebih maksimal. Teknik itu diatur tradisi dan adat yang dilestarikan turun-temurun. Akibatnya terlihat pada tanah. Karena kontur tidak diubah, ladang padi tidak merusak tanah dan lingkungan di sekitarnya. Pencemaran oleh pestisida tidak terjadi, dan keseimbangan ekosistem ladang terpelihara. Para penulis juga mencatat tingkat kesuburan tanah di Desa Kanekes tinggi, sehingga hasil alam berperan besar dalam perekonomian desa.
Tiga padi di satu petak
Yang ditanam pun tidak sembarang padi. Sebagian jenisnya merupakan padi khusus yang diwajibkan oleh pemerintah adat. Mengutip Iskandar, kedua penulis menyebut setiap keluarga Baduy yang ladangnya cukup luas, minimal setengah hektare, wajib menanam tiga varietas padi sakral di petaknya.
Ketiganya bernama pare koneng, pare siang, dan pare ketan langgasari. Letaknya sudah ditentukan. Pare koneng ditanam di bagian tengah petak, pare siang di bagian timur, dan pare ketan langgasari di bagian barat. Ketiganya harus ditanam terpisah dan tidak boleh bersinggungan.
Di luar yang tiga itu, keluarga masih menanam beberapa varietas lain yang dianggap tidak sakral. Naskah menyebut di antaranya pare seungkeu, pare pendok, dan pare tunggul.
Baca juga Limah Menanam Padi, Rumah Betang Ensaid Panjang Bertahan
Kapuunan dan pikukuh
Aturan sedetail itu punya penjaga. Dari ladang, tulisan Mirajiani dan Siti Widiati bergerak ke kampung, ke susunan kelembagaan yang menegakkannya. Orang Baduy mengenal kelembagaan nonformal yang menyangkut pelaksanaan aturan adat, dan kelembagaan formal yang menyangkut hubungan dengan pemerintah Indonesia.
Wewenang tertinggi dalam adat terletak pada kapuunan, yang dikepalai seorang Puun. Ia harus berasal dari Baduy Dalam, sebagai wakil dari Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Kapuunan berwenang mengatur, melaksanakan, dan menegakkan pikukuh. Bila terjadi pelanggaran, lembaga ini pula yang memutuskan sanksinya.
Di bawahnya ada deretan jabatan dengan tugas masing-masing. Seurat bertugas mengurus huma dan menjadi pembantu penghubung dengan Puun. Jaro Tangtu menjadi kepala kampung sekaligus pimpinan harian adat. Jaro Dangka bertugas sebagai penahan perubahan, baik yang dilakukan orang Baduy sendiri maupun yang datang dari luar. Ada pula Kokolot Lembur di setiap kampung, yang membina warga dan menyampaikan pikukuh di wilayahnya. Urusan dengan negara dipegang Jaro Pamarentah, yang menjalankan tugas sebagai Kepala Desa Kanekes dengan dibantu Carik dan Panggiwa. Penghubung antara organisasi adat dan Jaro Pamarentah adalah Jaro Tanggungan Duabelas.
Pikukuh sendiri, menurut naskah itu, adalah ketentuan adat mutlak yang menjadi inti kepercayaan orang Baduy. Mereka percaya kepada Tuhan yang tunggal, yang disebut Batara Tunggal, pencipta dan pemelihara alam dengan segala isinya. Kepercayaan itu disebut Sunda Wiwitan.
Isi terpenting pikukuh, tulis kedua penulis dengan mengutip Garna, adalah konsep tanpa perubahan apa pun, atau perubahan sesedikit mungkin. Rumusannya dalam bahasa setempat: yang panjang tidak boleh dipotong, yang pendek tidak boleh disambung. Aturan hidup itu diajarkan turun-temurun, dan orang Baduy tidak mengenal pendidikan formal karena dilarang hukum adat.
Durian, pisang, dan kambing
Padi bukan satu-satunya penopang. Ketahanan pangan orang Baduy juga didukung tanaman buah yang mereka budidayakan sendiri: rambutan, durian, duku, pisang, dan koskosan. Dari kelima jenis itu, durian dan pisang disebut sebagai tanaman buah unggulan.
Dari kebun dan hutan mereka mengambil bambu, madu, dan kayu, dengan tetap menimbang aturan adat yang berlaku dan tidak berlebihan. Bambu dan kayu dipakai untuk membangun rumah dan sarana lain. Sebabnya juga adat: bangunan tidak boleh memakai bata dan beton. Mayoritas warga juga memelihara ternak. Jenisnya ayam kampung, bebek, dan kambing. Ternak itu dipelihara untuk dimakan ataupun untuk upacara adat. Menurut para penulis, pangan pokok orang Baduy lebih banyak dipenuhi dengan memanfaatkan potensi sumber daya komunitas sendiri.
Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat
Warung-warung Ciboleger
Tidak semuanya datang dari dalam. Wilayah Baduy memiliki batas yang jelas, dan pintu masuknya terletak di Kampung Ciboleger. Kampung ini, tulis kedua penulis, merupakan pusat perdagangan dan logistik masyarakat Baduy. Kebutuhan pangan, sandang, dan pelengkap lain tersedia di warung dan toko yang banyak terdapat di sana.
Makanan utama sehari-hari adalah nasi. Lauk-pauknya berupa sayuran, yang diperoleh dari hasil pertanian sendiri ataupun dipasok dari luar komunitas. Keberagaman lauk itu didapat dari penjual yang berasal dari luar adat, biasanya di Ciboleger.
Penghasilan tambahan rumah tangga datang dari pekerjaan yang diperbolehkan adat di luar bertani. Warga menjadi perajin tenun dan pembuat cendera mata. Aksesori khas Baduy dan kain tenun dijual kepada pengunjung, atau dibawa dalam perjalanan untuk berjualan. Sebagian warga menjadi pemandu bagi wisatawan yang berkunjung.
Kedua penulis mendeskripsikan satu komunitas di Desa Kanekes pada Januari 2022, lewat pengamatan, wawancara mendalam, dan studi literatur. Tujuannya mengidentifikasi peran pengetahuan lokal dalam pranata sosial untuk menunjang ketahanan pangan tingkat rumah tangga.
Di bagian saran, Mirajiani dan Siti Widiati mengaitkan ketersediaan bahan pangan dengan daya dukung lahan pertanian. Jika pemanfaatan sumber daya alam tidak dibarengi kearifan lokal, tulis mereka, akan muncul permasalahan keberlanjutan sumber daya alam. Hal itu sangat memengaruhi status ketahanan pangan.
Maka mereka menutup dengan cadangan pangan. Ketersediaan dan cadangan pangan yang berbasis pengetahuan dan kearifan lokal, menurut keduanya, ditujukan untuk meningkatkan ketersediaan pangan dan pengelolaan cadangan dengan mengoptimalkan potensi sumber daya secara berkelanjutan, khususnya bagi Masyarakat Adat Baduy.
Cadangan itu berwujud bangunan di tepi hutan. Kesimpulan naskah menyebut kebutuhan beras terpenuhi dari padi ladang, sementara kebutuhan lain diperoleh dari hutan, kebun, ternak, tenun, dan tamu yang datang. Di leuit, gabah yang tidak dijual itu menunggu, dan menurut kedua penulis ia bisa menunggu sampai lima tahun.















