Delusi Cinta Kanuma dalam Novel Jepang Kankin

A A

Ilustrasi lorong bangunan berlampu remang dengan deretan kursi tunggu kosong. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Kantin yang Menghadap Meja Perawat
  2. Masker Bekas dan Tombol Panggil
  3. Gedung Kosong Milik Keluarga
  4. Dua Edisi di Meja Peneliti

Cekricek.id — Seorang laki-laki duduk sepanjang hari di kantin sebuah rumah sakit, di kursi yang menghadap ke area perawat. Ia tidak menunggu siapa pun yang akan datang menemuinya. Ia hanya mengikuti satu orang dengan matanya, dari jam kerja dimulai sampai jam kerja selesai. Perempuan yang diikutinya seorang perawat bernama Yukie, dan Yukie sudah lebih dulu memutuskan untuk tidak lagi masuk ke kamar rawat laki-laki itu.

Adegan itu ada di halaman 56 novel Kankin karya Akiyoshi Rikako, terbitan Futabasha, 2021. “Namun begitu tahu bahwa aku tidak akan menginjakkan kaki di kamarnya, dia duduk seharian penuh di kantin yang menghadap ke area perawat dan terus mengejarku dengan matanya,” demikian bunyi halaman 61 pada edisi terjemahan Indonesia. Yang bercerita adalah Yukie sendiri, dari sudut pandang orang pertama yang dipakai novel itu untuk separuh alurnya.

Empat peneliti dari Universitas Hasanuddin membaca kursi kantin itu bukan sebagai bumbu cerita, melainkan sebagai gejala. Aqilah Nurilmi, Fithyani Anwar, Kasmawati, dan Nurfitri menulis Delusi Erotomania Tokoh Kanuma dalam Novel Kankin Karya Akiyoshi Rikako di Jurnal Ilmu Budaya volume 14 nomor 1, tahun 2026, halaman 130 sampai 138. Laki-laki di kantin itu bernama Kanuma, dan sepanjang artikel sepanjang sembilan halaman tersebut ia diperlakukan sebagai satu berkas kasus.

Kantin yang Menghadap Meja Perawat

Ilustrasi seorang lelaki duduk sendirian menunduk sementara orang lain berbincang di belakangnya.
Ilustrasi seorang lelaki duduk sendirian menunduk sementara orang lain berbincang di belakangnya. [Foto: Pexels]

Kantin itu satu-satunya tempat di dalam gedung yang membuat Kanuma tetap bisa melihat Yukie tanpa harus mendekatinya. Ia tidak menegur, tidak memanggil, tidak melintas. Ia memilih jarak yang cukup jauh untuk tidak dianggap melanggar apa pun, dan cukup dekat untuk mengawasi seluruh pergerakan satu orang. Kantin rumah sakit terbuka bagi siapa saja, dan tidak ada yang bisa menanyai orang yang duduk di sana terlalu lama. Peneliti menyebut pola itu penguntitan pasif: pelakunya tidak menghampiri sasaran, tetapi terus mengikuti pergerakannya dari jarak tertentu.

Istilah teknisnya berasal dari Paul Mullen, Michele Pathe, dan Rosemary Purcell, tiga peneliti yang menulis buku tentang penguntit dan korbannya pada 2009. Menurut ketiganya, penderita erotomania kerap mengawasi objek delusinya karena merasa hubungan romantis itu benar-benar ada. Rasa memiliki itulah yang membuat pengawasan terasa sah bagi pelakunya. Yang dari luar tampak sebagai pelanggaran, dari dalam terasa sebagai hak.

Baca juga Film Dokumenter untuk Kesenian Bangreng Sumedang

Di dalam novel, penghindaran Yukie tidak menghentikan apa pun. Justru ketika Yukie berhenti masuk ke kamar rawat, Kanuma berpindah ke kantin. Satu pintu ditutup, satu jendela dibuka. Yang berubah hanya letak kursinya. Peneliti mencatat perpindahan itu sebagai bukti bahwa obsesinya tidak berhenti di tingkat pikiran, tetapi sudah menjadi tindakan yang melampaui batas sosial. Tidak ada aturan rumah sakit yang bisa dipakai untuk mengusir seseorang dari kursi kantin.

Masker Bekas dan Tombol Panggil

Sebelum kursi kantin, ada benda-benda yang lebih kecil. Kanuma menekan tombol panggil di kamar rawatnya hanya pada jam Yukie bertugas. Ia menyimpan masker bekas yang dipakai Yukie. Ia mengumpulkan barang yang berkaitan dengan perempuan itu tanpa pernah memintanya, dan benda-benda itu semuanya benda yang seharusnya dibuang. Semua tindakan itu terjadi ketika Kanuma masih berstatus pasien dan Yukie masih berstatus perawat yang merawatnya. Bahkan setelah dinyatakan boleh pulang, Kanuma melukai dirinya sendiri agar bisa dirawat kembali di tempat yang sama.

Pada mulanya ia tampak sebagai pasien yang pendiam. Perubahan datang bertahap dan tanpa peristiwa besar yang menandainya. Peneliti menempatkan rangkaian ini sebagai ciri pertama erotomania menurut pembagian Mary Seeman pada 1978: tipe menetap, yaitu delusi cinta yang terpaku pada satu objek dalam jangka panjang dan tidak berpindah. Lawannya adalah tipe berulang, yang objeknya bisa berganti dari satu orang ke orang lain.

Dasar keyakinan itu terlihat pada halaman 80 novel tersebut. Dalam dialog di halaman itu, ketika ditanya ia siapanya Yukie, Kanuma menjawab “Belahan jiwanya.” Di halaman yang sama ia juga menyatakan bahwa Yukie adalah miliknya. Tidak ada satu pun bagian cerita yang menunjukkan Yukie pernah mengatakan hal serupa. Dialog itu berlangsung dengan Hironobu, bukan dengan perempuan yang sedang dibicarakan.

Halaman 80 juga memuat kalimat yang lebih jauh lagi. Di sana Kanuma mengaku langsung tahu bahwa Yukie adalah takdirnya sejak pertemuan pertama, dan mengaku Yukie telah menyampaikan bahwa perasaan itu berbalas. Peneliti menandai bagian terakhir sebagai bagian yang tidak berdasar sama sekali di dalam alur novel. Keyakinan itu tidak dibangun dari bukti, melainkan dari tafsir sepihak atas hal-hal yang biasa terjadi di ruang rawat.

Ellis dan Mellsop, dua peneliti yang menguji status klinis sindrom ini pada 1985, menjelaskan mengapa hal seperti itu bisa bertahan. Penolakan, jarak, dan sikap netral tidak dibaca sebagai tanda ketiadaan hubungan. Ketiganya diserap ke dalam sistem keyakinan yang sudah ada, lalu diberi tempat sebagai gangguan sementara. Keyakinan itu tidak runtuh oleh kenyataan karena kenyataan lebih dulu ditata ulang agar cocok dengan keyakinan.

Gedung Kosong Milik Keluarga

Rumah sakit akhirnya memindahkan Yukie ke bagian lain. Kepala perawat mengatakan kepada Kanuma bahwa Yukie sudah keluar dari rumah sakit. Keterangan itu tidak diterima. Pada halaman 121, Kanuma menyimpulkan bahwa Yukie tidak lagi ingin bertemu di rumah sakit yang selalu menghalangi mereka, dan bahwa perempuan itu sebenarnya ingin berdua saja dengannya.

Baca juga Mawar Melapor Pelecehan, Abah Menjawab Kodrat

Peneliti membaca kalimat itu sebagai lapisan baru delusi. Penolakan tidak dibantah, melainkan dibaca ulang menjadi tanda cinta yang tersembunyi. Pihak rumah sakit dipindahkan posisinya menjadi penghalang. Alan Munro, penulis buku tentang gangguan delusional pada 1999, menyebut pola ini sebagai perluasan keyakinan yang justru berfungsi mempertahankan keyakinan utama. Semakin banyak penghalang yang dibayangkan, semakin kukuh keyakinan yang dijaganya.

Pada halaman yang sama, Kanuma menyebut tiga bulan persiapan. Sebelum itu ia sempat melukai diri sendiri agar bisa dirawat kembali di rumah sakit tempat Yukie bekerja. Sesudah itu, persiapan tiga bulan tadi bermuara pada penculikan dan penyekapan Hironobu, mantan suami Yukie, di sebuah gedung milik keluarganya. Sasarannya bukan Yukie, melainkan orang yang dianggap berdiri di antara mereka berdua.

Apa yang terjadi di gedung itu tidak perlu dikutip. Novelnya memuat adegan kekerasan fisik yang berat terhadap Hironobu, lengkap dengan ancaman terhadap nyawanya, dan peneliti menempatkan bagian tersebut sebagai ciri kelima: potensi berkembang menjadi berbahaya. Kalimat-kalimat Kanuma di bagian itu memperlihatkan kekerasan yang disampaikan dengan sadar dan tenang.

Dampak pada Yukie dicatat terpisah. Kehadiran Kanuma menimbulkan rasa takut, jijik, tertekan, dan tidak aman. Yukie berpindah bagian kerja dan memutus semua kemungkinan kontak, sebuah keputusan yang harganya ditanggung sendiri oleh pihak yang tidak melakukan apa-apa. Delusi yang semula tampak sebagai obsesi sepihak berubah menjadi persoalan keselamatan, dan perubahan itu berlangsung tanpa satu pun tindakan dari pihak yang menjadi objeknya.

Dua Edisi di Meja Peneliti

Bahan kerja keempat peneliti itu sederhana: novel dan catatan. Mereka memakai metode baca catat terhadap edisi Jepang terbitan 2021, dengan edisi terjemahan berbahasa Inggris berjudul Imprisonment sebagai pembanding untuk memastikan pemahaman teks. Kutipan yang dianggap relevan dikumpulkan, dikelompokkan, lalu dicocokkan dengan lima ciri erotomania dari kepustakaan psikiatri: kronis dan persisten, kurang terpengaruh faktor luar, obsesif, kompleks, dan berpotensi berbahaya.

Baca juga Cuitan Lama Ridwan Kamil dan Pilkada Jakarta 2024

Rantai kepustakaan itu panjang dan tuanya berlapis. Gaetan Gatian de Clerambault, psikiater Prancis, menjelaskan sindrom ini secara sistematis pada awal abad ke-20. Seeman memecahnya menjadi dua tipe pada 1978. Ellis dan Mellsop mengujinya sebagai satuan diagnosis pada 1985. Mullen dan rekan-rekannya menambahkan dimensi penguntitan pada 2009. Kelima ciri yang dipakai membaca Kanuma diambil dari rantai itu, bukan dari novelnya.

Keterbatasan kerja seperti ini diakui sendiri di bagian metode. Mengutip Sugiyono, keempat peneliti menyatakan bahwa metode deskriptif kualitatif yang mereka pakai hanya menggambarkan data yang terkumpul tanpa bermaksud menarik kesimpulan yang berlaku umum. Artinya, yang diperiksa adalah satu tokoh dalam satu novel, bukan penderita erotomania di dunia nyata.

Pembatasan itu penting karena bahannya fiksi. Kanuma dirancang oleh penulisnya untuk menjadi pusat konflik, dan perilakunya disusun agar cerita bergerak. Kecocokan tokoh itu dengan lima ciri dari kepustakaan psikiatri tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa gambaran novel tersebut akurat sebagai potret klinis. Kajian yang secara khusus membahas delusi erotomania dalam novel Jepang pun, menurut keempat peneliti, masih relatif sedikit.

Yang tetap bisa dibaca dari sana adalah bentuk pengalamannya dari sisi korban. Novel ini bergerak lewat dua sudut pandang, dan salah satunya milik Yukie. Lewat sudut pandang itu pembaca melihat bagaimana perhatian yang tidak diminta berubah menjadi tekanan, dan bagaimana tekanan itu sulit dijelaskan kepada orang lain selama belum ada yang terluka. Tombol panggil yang ditekan pada jam tertentu bukan kejahatan, dan kursi kantin yang menghadap ke satu arah juga bukan.

Kursi di kantin itu tetap ada di halaman 56. Tidak ada yang dilanggar di sana, tidak ada suara yang ditinggikan, tidak ada tangan yang menyentuh. Hanya seseorang yang duduk menghadap ke arah yang salah, sepanjang hari, sampai jam kerja perawat itu habis.

Bagikan

Baca Juga

Seribu Tiga Puluh Kata Tunjuk di Novel Lilin
Ketika Kata Di Sini Terasa Asing dalam Die Sommer
124 Tuturan Emosi dalam Novel The Lady Escort
Roti, Hasrat, dan Novel yang Dibicarakan Pembaca
Stres Kerja Pegawai Pertanian Kirkuk dan Butir yang Hilang
Novel Al-Khaba dan Ruang Aman yang Runtuh