Dua Jalan Rekognisi Diri Sesudah Pembatasan Sosial

A A

Ilustrasi seorang perempuan menatap layar ponsel sendirian pada senja hari. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Mead Menyebutnya Me, Goffman Menyebutnya Wajah
  2. Yang Ditawarkan Panggung, Yang Diminta Etika
  3. Cinta di Rumah, Hak di Depan Hukum
  4. Nilai yang Dibagi dan Nilai yang Diikuti Saja

Cekricek.id — Seorang anak yang baru menyadari bahwa ibunya juga seorang guru di luar rumah, dan seorang dewasa yang menghitung tanggapan atas unggahannya menjelang tengah malam, sedang mengerjakan pekerjaan yang sama. Keduanya membaca dirinya lewat mata orang lain. Yang pertama sedang menyusun diri; yang kedua sedang memeriksa apakah dirinya masih diterima. Jarak antara keduanya sekitar dua puluh tahun dan satu layar. Yang membedakan bukan kebutuhannya, melainkan siapa yang menjawab.

Pekerjaan itu punya nama di ruang kuliah filsafat, dan namanya rekognisi. Fatimah Fraya dan Fristian Hadinata dari Departemen Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia, menelusurinya dalam artikel Interaksionisme Simbolik dan Kesadaran dalam Teori Rekognisi Axel Honneth: Menangkap Distorsi Konsep Diri Pasca-Covid-19, yang terbit di jurnal Mozaik Humaniora Vol. 25 No. 1 pada 2025. Mereka menyandingkan tiga pemikir yang jarang dibaca berdampingan — George Herbert Mead, Erving Goffman, dan Axel Honneth — lalu bertanya apa yang berubah pada pekerjaan itu sesudah pembatasan sosial berakhir. Jurnalnya terbit di bawah lisensi CC BY-SA 4.0.

Latar belakangnya bukan teori. Ketika ancaman penyakit menempati urusan paling depan, kebutuhan akan kepercayaan diri, cinta, dan kebersamaan tertunda; Fraya dan Hadinata mengutip Shoib dan rekan-rekannya yang mencatat masyarakat lalu terperangkap dalam rutinitas depresif yang menutup diri dari lingkaran respons positif. Alfano dan Guarino menambahkan sisi lain: mereka yang pernah terinfeksi dan dikarantina membawa bekas berupa kebiasaan menghindari interaksi dan rasa takut pada stigma. Dua rombongan berbeda, satu akibat yang sama. Dalam piramida Maslow, rekognisi berdiri satu anak tangga di bawah aktualisasi diri dan satu anak tangga di atas cinta; ketika tangga bawahnya goyah, yang di atasnya ikut tidak terjangkau.

Mead Menyebutnya Me, Goffman Menyebutnya Wajah

Ilustrasi seorang lelaki menatap bayangan dirinya di cermin.
Ilustrasi seorang lelaki menatap bayangan dirinya di cermin. [Foto: Pexels]

George Herbert Mead mengajar filsafat di University of Chicago dan berlatar belakang psikologi. Sahabatnya, John Dewey, menyebut Mead sebagai “pemikir seminal dalam jajaran sosiologi tingkat awal”. Bagi Mead, diri terbelah dua secara fungsional, bukan secara metafisik. Me adalah diri yang diketahui, akumulasi pemahaman orang lain atas kita. I adalah yang mengetahui, spontan dan kreatif. Kita tidak pernah bisa memegang I, sebab begitu ia diketahui ia langsung berubah menjadi Me. Diri, bagi Mead, karena itu bukan benda melainkan proses sosial yang tidak pernah selesai.

Erving Goffman menyusun bahasanya sendiri untuk urusan yang sama. Interaksi ia baca sebagai penampilan yang dibentuk oleh lingkungan dan penontonnya. “Penampilan hadir tanpa mengindahkan keadaan mental individu tersebut, sebagai sebuah persona yang dilekatkan pada individu di luar keyakinannya atau bahkan ketidaksadarannya pada penampilan tersebut,” tulis Goffman pada halaman ketiga bukunya. Dalam Interaction Ritual ia memerinci siklusnya: line, yaitu segala yang dinyatakan seseorang; face, nilai sosial positif yang berhasil diklaim; dan expressive order, yang menjaga keduanya tetap selaras. Siklus itu berputar selama pertukaran interaksi berlangsung, tanpa peduli apakah keadaan batin si aktor sejalan dengan wajah yang sedang ia jaga.

Baca juga Melodi Penutup Randai Kuantan Jadi Komposisi Baru

Dua bahasa itu bertemu pada satu titik dan berpisah pada titik lain. Keduanya sepakat bahwa diri tidak dibangun dari dalam, melainkan dirakit dari respons orang lain; Mead bahkan menolak gagasan bahwa introspeksi bisa memberi kita gambaran siapa kita sesungguhnya. Bedanya terletak pada pertanyaannya. Mead bertanya bagaimana makna terbentuk, dari tahap meniru, bermain peran, sampai anak menyadari bahwa ibunya juga seorang guru dan ayahnya seorang mekanik. Goffman bertanya bagaimana kesan dikelola. Para interaksionis menamai hasil bacaan atas mata orang lain itu the looking glass self; Goffman menyebut hasil yang sama sebagai wajah yang harus dijaga.

Yang Ditawarkan Panggung, Yang Diminta Etika

Axel Honneth, yang oleh Fraya dan Hadinata dipakai sebagai pisau bedah, tidak puas pada keduanya. Terhadap Goffman ia menilai dramaturgi bekerja di permukaan saja: individu ditempatkan sebagai aktor strategis yang perhatian utamanya adalah merepresentasikan diri, sehingga komitmen moral yang lebih dalam terabaikan. Risikonya, tulis Honneth, kehidupan sosial berubah menjadi sesuatu yang ditampilkan secara manipulatif, padahal seharusnya ia ruang tempat orang saling mencari hormat dan pengenalan dengan tulus. Bagi Honneth, interaksi sosial bukan sekadar urusan menghindari rasa malu, melainkan urusan mencapai penghargaan, penghormatan, dan penerimaan.

Terhadap Mead keberatannya berbeda arah. Honneth menilai transformasi naturalistik dalam teori Mead tidak sistematis dan belum menjelaskan bagaimana nilai moral masyarakat dikonstruksikan. Mead juga dianggap melupakan satu bentuk mendasar penghargaan diri, yaitu kepercayaan pada kemampuan sendiri. Solusi Mead menyandarkan derajat rekognisi pada terpenuhinya fungsi seseorang dalam pembagian kerja; Fraya dan Hadinata menilai syarat itu mungkin masuk akal pada era awal Revolusi Industri, tetapi terlalu sempit bagi orang yang justru sedang mencari pekerjaan. Yang lebih pantas dihitung, menurut Honneth, adalah apa saja yang dikerjakan seseorang dan berguna secara intersubjektif, bukan posisi yang kebetulan ia pegang.

Herbert Blumer, murid Mead yang memberi nama interaksionisme simbolik, menyodorkan keberatan yang lebih tajam kepada kalangannya sendiri. “Orang-orang ilmuwan adalah budak dari pemahaman yang sudah dimiliki sebelumnya dari ruang pikirnya sendiri,” tulisnya pada halaman 52 bukunya, seperti dikutip Fraya dan Hadinata. Kalimat itu bekerja sebagai peringatan: makna baru selalu dirumuskan di atas asumsi lama, sehingga orang terpelajar dan orang yang tidak sempat bersekolah masuk ke percakapan yang sama dengan landasan yang tidak sama. Tiga premis Blumer berdiri di atasnya: manusia bertindak atas dasar makna, makna lahir dari interaksi, dan makna terus dimodifikasi lewat tafsir.

Cinta di Rumah, Hak di Depan Hukum

Honneth membagi rekognisi ke dalam tiga lingkungan, dan ketiganya menghasilkan hal yang berbeda. Keluarga dan pertemanan, lewat cinta dan kasih sayang, menghasilkan kepercayaan diri. Institusi resmi berbasis hukum, lewat pengakuan atas hak yang sama bagi setiap orang, menghasilkan penghormatan diri. Jaringan solidaritas dalam komunitas tertentu, lewat penghargaan atas apa yang seseorang kerjakan, menghasilkan harga diri. Tiga pintu, tiga ongkos, dan tiga bentuk kehilangan yang tidak bisa saling menggantikan. Seseorang yang dihormati di depan hukum belum tentu dipercaya di rumahnya, dan seseorang yang dicintai di rumah belum tentu dianggap ada oleh komunitas tempat ia bekerja.

Baca juga Lembaga Adat Borobudur Tersisih dari Meja Kebijakan

Yang paling awal juga yang paling rapuh. Honneth menempatkan interaksi ibu atau pengasuh utama dengan anak sebagai dasar seluruh bangunan: dari egosentrisme, anak bergerak ke negosiasi dan pertukaran respons, lalu terbentuk kepercayaan diri. Syaratnya satu dan berat, yaitu keyakinan si anak bahwa kasih sayang itu akan tetap ada bahkan sesudah ia mandiri. Sementara di lingkungan kedua, pengakuan tidak bergantung pada kasih sayang siapa pun, melainkan pada agensi kekuasaan yang bersedia menerimanya sebagai anggota penuh. Yang pertama diberikan tanpa diminta dan bisa dicabut tanpa alasan; yang kedua harus dituntut, dan justru karena dituntut ia dapat dipersoalkan secara terbuka.

Bentuk perampasannya pun berpasangan dengan bentuk pemberiannya. Pada lingkungan pertama, yang terancam adalah integritas fisik, dan perampasnya berupa penganiayaan. Pada lingkungan kedua, yang terancam adalah integritas sosial, dan perampasnya berupa pencabutan hak serta pengucilan. Pada lingkungan ketiga, yang terancam adalah kehormatan dan harga diri, dan perampasnya berupa penafian keberadaan serta penghinaan. Daftar itu disusun Honneth sebagai tabel, dan tabel itulah yang dipakai Fraya dan Hadinata sebagai kerangka bacanya. Honneth juga mencatat distribusi kuasa mengatur ruang dan alur kegiatan; selama pandemi, aturan itu bahkan menjangkau hari raya.

Nilai yang Dibagi dan Nilai yang Diikuti Saja

Lingkungan ketiga adalah yang paling terbuka sekaligus paling mudah rusak. Harga diri, menurut Honneth, muncul ketika seseorang mengenali kemampuan khasnya yang tidak harus dimiliki semua orang, lalu kemampuan itu dihargai dalam kerangka nilai yang sama-sama dijunjung. Contoh yang diajukan dua penulis itu sederhana: seorang pendakwah yang muncul dari keluarga ekonomi bawah tetap memperoleh penerimaan setara di komunitas keagamaannya, dan seseorang yang berprestasi secara intelektual dikenali di lingkungan akademiknya. Status sosial tidak menjadi syarat masuk. Yang menjadi syarat adalah adanya kerangka nilai yang benar-benar dibagi, sebab tanpa itu penghargaan berubah menjadi peringkat, dan peringkat selalu menuntut ada yang kalah.

Baca juga Singkatan Gaul dan Satuan Baku di Komentar TikTok

Ruang digital menawarkan pintu yang mirip dengan ongkos yang lain. Pengakuan datang lebih cepat, tetapi diperantarai algoritma dan makna yang terbentuk secara acak akibat disrupsi informasi; Fraya dan Hadinata mengutip Baudrillard lewat Haryatmoko untuk menyebut kaburnya batas antara yang riil dan yang imajiner. Di ruang itu pula muncul apa yang mereka sebut perburuan penyihir, padanan lain dari pembunuhan karakter, ketika penilaian moral atas seseorang dibeberkan secara terbuka demi menonjolkan diri sendiri. Struktur nilainya pun tidak seragam: media sosial melahirkan ukuran yang berbeda-beda pada Gen X, milenial, Gen Z, sampai Gen Alpha yang baru beranjak dewasa.

Dalam The Struggle for Recognition, Honneth mengutip Machiavelli untuk menggambarkan keadaan semacam itu: manusia terdorong ambisi yang tak ada habisnya, terus menciptakan strategi baru untuk tindakan yang berorientasi kesuksesan, dan berhadapan satu sama lain dalam posisi tidak percaya karena rasa takut. Kutipan berumur lima abad itu dipakai untuk membaca kolom komentar. Fraya dan Hadinata menilai perebutan seperti itu bermotif bukan lagi rekognisi, melainkan superioritas. Mereka juga meminjam Bourdieu, yang menyebut tugas sosiologi adalah mengungkap yang tersembunyi agar kekerasan simbolik dalam relasi komunikasi bisa ditekan.

Jalan keluar yang mereka tawarkan berbentuk tiga syarat yang harus hadir bersamaan sebelum seseorang menyerahkan penilaian atas dirinya kepada sebuah kelompok: kesamaan latar belakang nilai dan kepentingan, kapasitas intelektual yang setara, serta kematangan diri yang menurut mereka tidak selalu sejalan dengan usia atau latar belakang ekonomi. Di atasnya mereka meletakkan etika komunikasi sebagaimana dirumuskan Haryatmoko, yaitu refleksi kritis atas produksi dan penggunaan informasi demi kesejahteraan bersama. Tiga syarat itu, tegas mereka, harus koeksis; satu saja tidak terpenuhi, intersubjektivitas yang terbentuk cenderung dipaksakan dan pengakuannya tidak bertahan lama.

Sejauh mana semua itu berlaku, tidak dijawab artikelnya. Metodenya, sebagaimana mereka nyatakan sendiri, adalah analisis kritis berbasis tinjauan literatur dengan pendekatan filsafat — tanpa responden, tanpa survei, tanpa angka. Artinya tulisan ini menawarkan cara membaca, bukan pengukuran atas berapa banyak orang Indonesia yang benar-benar mengalami distorsi konsep diri sesudah pandemi. Beberapa bagian bahkan mereka tandai sendiri sebagai belum tereksplorasi, termasuk soal ketimpangan landasan pemaknaan antarindividu. Satu artikel filsafat bukan potret sebuah masyarakat, dan tiga syarat yang mereka susun adalah anjuran, bukan temuan yang sudah diuji.

Yang tersisa adalah dua sisi yang sama-sama sulit ditolak. Goffman benar bahwa permainan lakon memang selalu ada dan tidak terhindarkan di ruang profesional maupun ruang hukum; Honneth benar bahwa lakon yang dimainkan terus-menerus akan meninggalkan pengakuan yang semu. Fraya dan Hadinata tidak memenangkan salah satunya. Mereka hanya menyarankan dua pertanyaan yang diajukan lebih dulu, sebelum ditentukan siapa yang berhak menilai kita: siapa saya, dan apakah saya jujur terhadap diri saya. Anak yang menemukan ibunya seorang guru tidak perlu menanyakannya. Orang dewasa di depan layar itu yang perlu.

Bagikan

Baca Juga

Hoaks Kesehatan di Media Sosial Lebih Sering Dijumpai Anak Muda
Meta Hapus Klausul Ambil Konten Situs Bisnis untuk Latih AI
Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja Sama Cemasnya Saat Mengasuh Bayi
Remaja Norwegia Lebih Percaya Pesan Antivape dari Teman Sebaya
Sekali Berhenti di Video Sedih, Layar Remaja Inggris Ikut Muram
Media Sosial Menjerat Lebih dari Sepertiga Mahasiswa di Kerala