Cekricek.id — Selama puluhan tahun, kesenian Randai di Kuantan Singingi hidup dari acara yang datang sendiri. Ia dipentaskan pada pembukaan pacu jalur, pesta perkawinan, khitanan, dan turun mandi, dengan cerita yang menyesuaikan suasana kampung. Yang biasanya dicatat orang adalah ceritanya, kadang tariannya, sesekali alat musiknya. Bagian yang nyaris tidak pernah dibicarakan justru beberapa detik terakhir setiap lagu, saat pemain viola menutup dendang dengan melodi pendek dan penonton mulai beranjak.
Beberapa detik itulah yang dibedah dalam Komposisi Musik Svarasa Bersumber dari Dendang Panjek Panjek Tabulusui Randai Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Penulisnya Renol Prayoga dan Asep Saepul Haris, keduanya dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Laporan penciptaan itu terbit di Jurnal Musik Etnik Nusantara Volume 5 Nomor 2, edisi Juli sampai Desember 2025, halaman 162 sampai 170. Yang mereka kerjakan bukan penelitian lapangan biasa, melainkan pembacaan ulang satu unsur tradisi yang kemudian dipakai sebagai bahan sebuah komposisi baru.
Daftar Isi
Catatan Muslim 2006 dan Jejak Perantau Minangkabau

Pengetahuan tentang Randai Kuantan sebelumnya bertumpu pada kajian yang memandangnya sebagai teater. Salah satu rujukan yang dipakai laporan ini adalah Pengkajian Teater Tradisi Randai Kuantan yang disusun Muslim bersama tim pada 2006. Di sana dijelaskan bahwa Randai Kuantan berakar pada tradisi randai Minangkabau, dibawa para perantau ke daerah Kuantan Singingi, lalu berkembang dan berpadu dengan budaya Melayu setempat sampai memiliki ciri yang berbeda dari randai di tanah asalnya. Dari titik itu, kesenian ini dibaca sebagai pertunjukan yang menggabungkan lakon, musik, dan tari sekaligus, dan berfungsi terutama sebagai hiburan bagi orang sekampung. Catatan 2006 itu menetapkan asal-usulnya, tetapi tidak membedah bunyinya.
Baca juga Generasi Sandwich dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
Kerangka teater itu membuat perhatian tertuju pada cerita. Randai Kuantan memainkan lakon Bujang Parantau, Babini Duo, dan Sarinam, dan sesekali menyesuaikan ceritanya dengan keadaan kampung, termasuk kampanye dan pacu jalur. Musiknya diperlakukan sebagai pengiring: piual atau viola, gondang dobat, pluit, dan tamborin. Repertoar dendangnya beberapa, di antaranya Bintang Timur, Olang Binti, Lomak Dek Awak Katuju Pulo Dek Urang, serta Panjek Panjek Tabulusui. Yang berubah pada laporan 2025 ini adalah arah pandangnya. Renol Prayoga masuk lewat melodi, bukan lewat lakon, dan hanya mengambil satu dendang dari sekian yang ada.
Suparmi dan Arti Panjek Panjek Tabulusui
Pintu masuknya lapangan. Pada Rabu, 5 Februari 2025 pukul 20.00 WIB, Renol Prayoga menonton pertunjukan Randai Kuantan pada sebuah acara khitanan. Ia mewawancarai dua seniman dari grup Randai Alibaba asal Desa Munsalo Kopah, yakni Suparmi yang memegang piual dan Epriadi. Dari wawancara pada 29 Januari 2025, Suparmi menerangkan bahwa dendang Panjek Panjek Tabulusui bukan sekadar lagu pengiring. Menurut seniman Randai Kuantan itu, dendang tersebut berisi pedoman: siapa pun yang sedang berada di puncak kehidupan dan memegang jabatan jangan melupakan orang yang berada di bawah, apalagi sampai menginjak harga dirinya, sebab roda kehidupan berputar.
Susunan sajiannya tetap. Lagu dibuka melodi pembuka yang dalam bahasa setempat disebut malajak, dimainkan viola. Sesudah itu dua penyanyi saling berbalas pantun, diiringi viola, gondang dobat, tamborin, dan pluit sebagai pengatur ritme. Di antara pantun yang satu dan berikutnya disisipkan pengulangan frasa melodi yang disebut bunga bunga melodi. Pada ujungnya ada melodi penutup bernama pamotih. Kata itu berasal dari bahasa Taluk Kuantan dan artinya berhenti. Di situlah pemain viola menandai bahwa lagu telah selesai, dan di situ pula Renol Prayoga menemukan kejanggalan yang menjadi pokok laporannya.
Kejanggalannya ada dua dan keduanya terjadi berturut-turut. Peralihan dari badan lagu menuju pamotih tidak melandai, melainkan melompat naik satu oktaf secara tiba-tiba dari nada dasar semula. Lalu, di pertengahan melodi penutup itu, warna nadanya berpindah dari mayor ke minor. Untuk memastikan wilayah nadanya, laras dendang itu diukur langsung pada piual memakai aplikasi penala DaTuner di sebuah ponsel Android. Hasilnya tangga nada diatonis dengan interval F minor: F, G, Ab, Bb, C, Db, dan Eb. Melodi penutupnya kemudian ditranskripsikan Renol Prayoga pada 15 Maret 2025.
Zuraidah, Populer Melayu, dan Pilihan Bunyi
Pertanyaan berikutnya bukan lagi soal apa yang terjadi pada pamotih, melainkan hendak dibawa ke mana temuan itu. Renol Prayoga memilih pendekatan Populer Melayu, dan untuk itu ia bersandar pada Zuraidah Mohd dalam Musik Melayu: Tradisi dan Kontemporer terbitan 2017. “Musik Populer Melayu dapat dipahami sebagai bentuk evolusi musik Melayu yang menggabungkan elemen-elemen tradisional dengan sentuhan modern yang dipengaruhi oleh tren musik internasional,” tulis Zuraidah Mohd, pengajar musik Melayu yang dikutip laporan itu. Genre tersebut, lanjutnya, lentur dan sanggup berbaur dengan berbagai gaya musik lain, tetapi tetap mempertahankan nuansa Melayu yang kuat. Rumusan itu yang memberi izin bagi gondang dobat berdiri satu panggung dengan gitar bas.
Baca juga Ketimpangan Perempuan Jawa Bukan Kodrat Budaya
Judul karyanya, SvaRasa, menyimpan dua konsep yang dipasang berdampingan. Svara diambil dari bahasa Sanskerta dan dalam tradisi musik klasik India mencakup napas, vokal, not, kualitas bunyi, serta rangkaian langkah oktaf yang disebut saptaka. Bagian itu dipakai untuk menamai lompatan oktaf yang terjadi menjelang pamotih. Rasa dipakai untuk menamai hal kedua, yaitu kualitas emosi yang muncul akibat perpindahan dari mayor ke minor di tengah melodi penutup. Dua kejanggalan yang ditemukan di lapangan, dengan kata lain, langsung menjadi dua suku kata judulnya.
Alat musiknya disusun mengikuti logika yang sama. Instrumen tradisi Randai Kuantan tetap dipertahankan, yaitu piual, gondang dobat, pluit, dan tamborin. Di sekelilingnya ditambahkan accordion, gambus, gendang Melayu, keyboard, seruling, cello, violin, marakas, gitar listrik, gitar bas, dan drum. Alasan penambahan itu disebut lugas: memperkaya warna bunyi. Prosesnya sendiri bertahap, dari observasi dan wawancara, diskusi bersama dosen serta pendukung karya, kerja studio tempat sketsa melodi dibuat lalu diekspor menjadi berkas audio agar para pemain bisa berlatih sendiri, sampai bimbingan dan penghalusan akhir.
Baca juga Makna Tersirat di Balik Komik Strip Sampahisasi
Cara kerjanya pun dipinjam dari rujukan yang disebut terang. Untuk soal metode, laporan itu bersandar pada Bambang Sunarto, yang merumuskan metode sebagai jalan atau prosedur sistematis untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk soal konsep penciptaan, dipakai rumusan I Wayan Sujana Suklu yang menyebut konsep penciptaan sebagai ujung dari cara pandang seniman, bentuk artistik yang diyakini sesuai dengan kehendak ekspresi yang hendak diajukan. Dua rujukan itu yang memberi bingkai bagi enam tahap kerja tadi, sehingga sebuah karya panggung bisa dilaporkan sebagai penelitian dan diuji orang lain.
Hoeridjah Adam, Juli 2025, dan Mata Rantai Berikutnya
Karya itu dipentaskan di Gedung Pertunjukan Hoeridjah Adam, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, pada 8 Juli 2025, dan didokumentasikan Ferdian Erta. Bagian pertama disusun tenang dan lembut. Melodi mengalir perlahan dengan harmonisasi minimalis, vokal digarap halus, dan viola, cello, keyboard, gambus, accordion, serta gendang dobat memainkan pola ritmis sederhana tanpa saling mendominasi. Menjelang bagian kedua, gerak melodi yang naik dan turun dipakai membangun momentum, dimainkan serentak oleh keyboard, gambus, seruling, accordion, dan vokal, lalu dijawab berlapis oleh cello, viola, gitar, dan gitar bas.
Bagian kedua berbalik arah menjadi gembira dan energik. Pola pamotih yang tadinya hanya beberapa detik di ujung lagu diperlakukan sebagai bahan utama, diulang, divariasikan, dan diperpanjang supaya wataknya tetap terasa tanpa menjadi membosankan. Di sana masuk permainan meter, teknik tanya jawab antarinstrumen, serta permainan serentak yang mempertegas motif. Pada penutupnya dihadirkan polimeter, yakni hitungan yang berbeda-beda antarinstrumen dan vokal, dilengkapi teknik tutti, kanon, jalinan ritme, hingga melodi lawan. Kesan tradisi yang dibuka pada bagian pertama kembali muncul di ujung, kali ini bersama instrumen modern.
Batas laporan ini diakui penulisnya sendiri. Yang dibedah satu dendang dari beberapa repertoar Randai Kuantan yang disebutkan, dengan pengukuran nada yang dilakukan pada satu piual memakai aplikasi penala di ponsel. Lewat penjelajahan unsur tradisi seperti pamotih, tulis Renol Prayoga, ia hendak “memberikan sumbangan kecil dalam upaya pelestarian kesenian Randai Kuantan.” Ia juga menempatkan karyanya sebagai bentuk penghargaan bagi para seniman Indonesia yang menjaga tradisi daerah, dan sebagai ruang belajar bagi dirinya sendiri. Satu komposisi jelas bukan potret musik Riau, dan satu melodi penutup bukan seluruh Randai Kuantan.
Rantainya bisa dilihat utuh sekarang. Muslim dan timnya mencatat Randai Kuantan sebagai teater pada 2006. Suparmi menyimpan arti dendangnya dan menyerahkannya lewat wawancara pada Januari 2025. Rumusan Zuraidah pada 2017 memberi bentuk bagi pengolahannya. Transkripsi dibuat pada Maret 2025, dan pada Juli 2025 pamotih terdengar di panggung Padangpanjang, jauh dari khitanan tempat ia direkam. Mata rantai berikutnya ada pada pemain viola di Kuantan Singingi, yang tetap menutup dendang mereka dengan melodi yang sama, dan belum tentu tahu ada yang menghitung lompatannya.















