Cekricek.id - Sebuah penelitian mengungkap fakta menarik terkait asal usul Candi Muara Takus yang berada di Kabupaten Kampar, Riau. Candi ini ternyata memiliki kaitan erat dengan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra bagian selatan.
Menurut Schnitger, arkeolog sekaligus kepala dinas purbakala Hindia Belanda di Palembang pada masa itu, dalam penelitiannya pada 1935, menyebutkan bahwa Candi Muara Takus sezaman dengan candi-candi di hulu Sungai Batanghari yang merupakan peninggalan Kerajaan Mauli. Kerajaan Mauli diperkirakan menganut aliran Buddha Bhairawa yang juga dianut Kertanegara dari Singhasari, Jawa Timur.
Arkeolog yang menggali beberapa situs di Jawa dan Sumatra, termasuk Candi Muara Takus itu mengatakan, raja Kerajaan Mauli dan Kertanegara rupanya memiliki hubungan baik ditandai dengan dibangunnya candi-candi dengan gaya arsitektur serupa di kedua kerajaan tersebut. Gaya serupa ini juga ditemukan di Candi Muara Takus.
Selain itu, gaya serupa candi Muara Takus juga dijumpai di situs candi lainnya di Sumatra bagian utara seperti di Padang Lawas dan hulu Sungai Rokan. Hal ini mengindikasikan Muara Takus memiliki keterkaitan dengan kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut pada masa lalu.
Meskipun kini berada di bawah Provinsi Riau, Candi Muara Takus ternyata memiliki akar sejarah panjang yang menghubungkannya dengan kerajaan-kerajaan besar di berbagai penjuru Sumatra. Dengan demikian, peninggalan bersejarah ini penting untuk dilestarikan sebagai saksi bisu masa kejayaan kerajaan-kerajaan di pulau Sumatra.
Jejak Sekte Buddha Bhairawa
Adityawarman diketahui sebagai penerus dinasti Mauli dari Kerajaan Mauli. Peninggalan situs kerajaannya saat ini berada di Dharmasraya. Ia dikukuhkan sebagai raja pada 1347 dengan gelar Maharajadiraja Srimat Sri Udayadityawarma Pratapaparakrama Rajendra Maulimali Warmadewa.
Dari gelar tersebut, selain namanya sendiri (Adityawarman), juga terdapat nama Rajendra (Chola) dan Mauli yang menunjukkan pengaruh dari luar. Adityawarman dinobatkan di era Majapahit, beberapa tahun setelah berakhirnya Singhasari.
Singhasari dipimpin oleh Kertanegara sebelum runtuh. Pada masa pemerintahan Kertanegara, Singhasari menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Aru di daerah aliran Sungai Barumun. Hal ini ditandai dengan adanya pertukaran pengaruh seni, terutama arsitektur dan aksara yang terlihat pada relief Candi Padang Lawas dan aksara Batak. Kertanegara wafat pada 1292, tahun yang sama saat Marcopolo singgah di Sumatra.
Setelah melakukan ekskavasi di Candi Padang Lawas pada 1935, Schnitger menyimpulkan bahwa Kertanegara adalah pendukung fanatik aliran Buddha Bhairawa.
Simpulan Schnitger ini menjadi berita besar di koran-koran di Hindia Belanda dan Belanda. Banyak yang mengaitkannya dengan runtuhnya Singhasari dan munculnya Majapahit yang beragama Hindu setelah Kertanegara wafat. Schnitger juga menyimpulkan bahwa Adityawarman adalah penganut Buddha Bhairawa.
Schnitger kemudian menemukan arca batu pertama terkait seni Jawa Tengah di Palembang, berdasarkan prasasti Telaga Batu abad ke-8 meskipun lebih muda dari prasasti Sriksetra. Ia juga mendapat laporan soal penemuan candi di Jambi dan patung gajah batu andesit sepanjang 2,17 meter diduga berasal dari Asia Tenggara atau Tiongkok Selatan.
Temuan-temuan Schnitger menunjukkan dua zaman kerajaan di Sumatra, sebelum dan sesudah invasi Rajendra Chola dari India Selatan pada 1025 ke kerajaan Sriwijaya dan sekitarnya. Dinasti Sailendra yang bermigrasi ke Jawa pada abad ke-7 setelah Sriwijaya menguasai tanah Jawa juga diduga berasal dari Sumatra.
Hal ini berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit (684) yang menyebut nama Minana atau pelabuhan kerajaan Aru di sungai Barumun tempat Schnitger menemukan candi-candi pengaruh Buddha Bhairawa.
Candi Muara Takus: Antara Rokan dan Kampar
Sejarawan memiliki beragam versi mengenai masa awal Adityawarman, namun pada tahun 1347, ia didokumentasikan mendirikan Kerajaan Malayapura di Dharmasraya, Sumatra. Gelar lengkapnya adalah Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli.
Hal ini menandai berdirinya kerajaan baru yang menggantikan Kerajaan Mauli, yang terbentuk setelah invasi Chola. Patung batu Amoghapasa, hadiah dari raja Singhasari, menjadi bukti peresmian kerajaan ini melalui Prasasti Padang Roco di Dharmasraya.
Pada tahun yang sama, Kertanegara, raja Singhasari, mengirim patung Amoghapasa ke hulu sungai Batanghari, yang menandai pemerintahan Adityawarman. Meskipun Kertanegara wafat pada tahun 1292, kesimpulan Schnitger menyebutkan bahwa keduanya merupakan pendukung fanatik agama Buddha sekte Bhairawa.
Pertanyaan muncul mengenai alasan Adityawarman, dari Kerajaan Malayu yang sudah menjadi Kerajaan Malayapura, memindahkan ibu kotanya ke Kerajaan Pagaroejoeng di hulu sungai Indragiri. Salah satu kemungkinan adalah serangan dari Majapahit, yang menganut agama Hindu, terhadap kerajaan-kerajaan di pantai timur Sumatra yang beragama Buddha, terutama pusat agama Buddha sekte Bhairawa di Panai, Kerajaan Aru, di daerah aliran sungai Barumun.
Catatan Negarakertagama juga menyebutkan nama-nama pelabuhan di pantai timur Sumatra, seperti Mandailing, Panai, dan Haru, yang menjadi saksi sejarah hubungan perdagangan antara kedua wilayah tersebut.
Kerajaan Aru dan Catatan Cheng Ho
Kerajaan Aru dan Kerajaan Pagarujung di Sumatra Timur disebut tetap eksis meskipun Kerajaan Sriwijaya telah dikalahkan oleh Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Hal ini diketahui dari catatan sejarah Tiongkok yang menyebutkan bahwa Kerajaan Aru masih berhubungan erat dengan Tiongkok paling tidak sampai pada masa ekspedisi Laksamana Cheng Ho pada 1402-1433.
Dalam catatan Laksamana Cheng Ho disebutkan bahwa raja Kerajaan Aru telah memeluk agama Islam, padahal sebelumnya mereka menganut agama Buddha aliran Bhairawa. Perpindahan agama ini bertepatan dengan kedatangan rombongan Laksamana Cheng Ho yang merupakan seorang Muslim ke pelabuhan Kerajaan Aru di muara Sungai Barumun.
Baca juga: Perantau Minang di Duri dan Bayang-bayang PRRI
Menurut informasi yang ada, Kerajaan Aru pada mulanya merupakan penganut agama Buddha. Hal ini ditandai dengan peninggalan Candi Simangambat di Siabu yang dibangun pada abad ke-8 Masehi. Kemudian pusat Kerajaan Aru dipindahkan ke pelabuhan Binanga yang telah berkembang pesat. Di sinilah Kerajaan Aru banyak berinteraksi dengan para pedagang Buddha dari Indocina dan mendirikan candi-candi Buddha yang baru.
Sejarah mencatat bahwa Kerajaan Chola pernah menginvasi Selat Malaka dan menaklukkan Kedah, Panai (Kerajaan Aru), dan Sriwijaya pada abad ke-11. Invasi ini diduga tidak hanya karena persaingan jalur perdagangan menuju Tiongkok, tetapi juga karena perbedaan agama di mana Kerajaan Chola beragama Hindu sedangkan kerajaan-kerajaan di Selat Malaka beragama Buddha. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya Candi Sangkilon yang merupakan satu-satunya candi Hindu di hulu Sungai Barumun, Sumatra Timur.
Candi Hindu yang Diubah Menjadi Candi Buddha
Penelitian Schnitger di Candi Sangkilon, Sumatera Utara mengungkap fakta menarik tentang perubahan agama di Kerajaan Aru. Schnitger menyimpulkan bahwa Candi Hindu peninggalan Kerajaan Chola telah diubah menjadi Candi Buddha oleh Kerajaan Aru.
Kerajaan Aru diduga telah mengkhianati agama Hindu dan kembali ke agama Buddha. Namun, mereka menganut aliran baru dalam agama Buddha, yaitu aliran Bhairawa.
Selama invasi Chola, muncul kerajaan baru di hulu Sungai Batanghari, yaitu Kerajaan Mauli. Kerajaan lain juga muncul di hulu Sungai Kampar, yang dibuktikan dengan ditemukannya Candi Muara Takus.
Melalui penelitiannya di Candi Manggis di hulu Sungai Rokan, Schnitger menyimpulkan adanya jalur perdagangan dan transportasi dari Candi Sangkilon ke Candi Manggis di satu sisi, dan dari Candi Manggis ke Candi Muara Takus di sisi lain.
Schnitger tidak menghubungkan Kerajaan Mauli dengan Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Ia juga tidak menghubungkan kerajaan-kerajaan di hulu Sungai Batanghari dengan Sriwijaya.
Baca juga: Makam Imam Bonjol di Minahasa dan Nisan yang Berubah
Diduga setelah invasi Chola, pemimpin Kerajaan Aru melarikan diri ke selatan dan mendirikan pusat perdagangan baru di hulu tiga sungai besar, yaitu Sungai Rokan, Kampar, dan Batanghari. Kerajaan di hulu Batanghari inilah yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Mauli, sebelum menjadi Kerajaan Malayu di masa Raja Adityawarman.
Dua Kerajaan Bangkit Setelah Invasi Chola
Pasca invasi Kerajaan Chola dari India Selatan pada abad ke-11, dua kerajaan besar di Sumatera, yaitu Kerajaan Aru dan Kerajaan Sriwijaya, bangkit kembali. Di Kerajaan Aru, muncul sekte agama Buddha baru, yaitu sekte Bhairawa, yang berbeda dengan aliran Buddha di wilayah Sriwijaya.
Pada masa kejayaan Kerajaan Aru, wilayah Padang Lawas terhubung dengan kerajaan di Jawa, yaitu Singhasari. Raja Singhasari Kertanegara diketahui menjadi pendukung fanatik sekte Bhairawa, seperti yang ditulis oleh Schnitger. Sekte Bhairawa tidak lazim di Jawa kecuali pada masa pemerintahan Raja Kertanegara.
Hubungan antara Kerajaan Aru dan Singhasari semakin erat dengan pengiriman patung Buddha aliran Bhairawa oleh Raja Kertanegara kepada Kerajaan Mauli di hulu Sungai Batanghari pada tahun 1286. Patung tersebut kemudian diperkaya oleh Adityawarman pada tahun 1347 saat penobatannya sebagai raja di Kerajaan Mauli dengan nama baru Kerajaan Malayu.
Masih menjadi misteri bagaimana reaksi Kerajaan Aru dan Kerajaan Mauli terhadap Candi Muara Takus di hulu Sungai Kampar. Di kalangan masyarakat setempat, terdapat legenda tentang serangan orang Batak di wilayah tersebut.
Schnitger hanya menyimpulkan adanya jalur transportasi dari Candi Sangkilon di Barumun ke Candi Manggis di Rokan dan Candi Muara Takus di Kampar, tanpa menghubungkannya dengan Kerajaan Mauli. Namun, kesamaan gaya arsitektur candi-candi tersebut sejalan dengan legenda serangan orang Batak itu.
Prasasti Batugana dan Petunjuk Islam
Di balik legenda yang menyelimuti Candi Muara Takus, terkubur kisah tentang Kerajaan Aru, sebuah kerajaan maritim yang pernah berjaya di Sumatera Utara. Nama "Padang Lawas", yang ditemukan di dekat situs Dharmasraya dan Pagaruyung, mengundang rasa penasaran. Di dua tempat itu, tidak ditemukan padang yang luas, ciri khas yang terkandung dalam nama tersebut.
Prasasti Batugana di Candi Bahal 1, Padang Lawas, memberikan petunjuk penting. Kata "padang ...", "batu ganam", "... damarhaya", "hang daja kudhi haji", dan "pannai" terukir di prasasti tersebut. Ditemukannya kata "haji" memicu pertanyaan tentang pengaruh Islam di kerajaan ini.
Catatan Ibnu Batutah, seorang penjelajah Moor dari Afrika Utara, pada tahun 1345, menjadi kunci jawaban. Kunjungannya dikaitkan dengan komunitas Moor di Sumatra pasca Perang Salib. Diduga, mereka berdagang ke Panai (Padang Lawas) setelah invasi Chola dan berakhirnya agama Buddha sekte Bhairawa, yang mendorong Raja Aru memeluk Islam dan pergi ke Mekkah.
Laporan Mendes Pinto pada tahun 1537 memperkuat bukti ini. Ia menyebut Raja Aru beragama Islam dan memiliki gelar haji. Militernya yang kuat, dengan 7.000 pasukan dari Indragiri, Jambi, Brunei, dan Luzon, diperkuat oleh orang-orang Moor.
Baca juga: Jejak Kereta Api Payakumbuh yang Nyaris Hilang
Barus, pelabuhan Kerajaan Aru di pantai barat Sumatra, telah mengekspor kamper dan kemenyan sejak abad ke-5 atau ke-6 M. Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 682 menyebut nama Minana (Binanga), pelabuhan Kerajaan Aru di pantai timur, tempat Prasasti Batugana ditemukan. Kerajaan ini tampaknya memiliki dua pelabuhan utama: Barus di pantai barat dan Binanga di pantai timur.
Catatan kuno Eropa menunjukkan bahwa Sumatra Utara kaya akan kamper pada abad ke-2. Kerajaan Aru, dengan kekayaan kampernya, kemungkinan besar telah berdiri sejak abad ke-2 dan bertahan hingga abad ke-16, ketika Mendes Pinto mengunjunginya.
Keberhasilan Kerajaan Aru dibuktikan dengan kemampuannya menyerang kerajaan di hulu sungai Kampar (Candi Muara Takus) dan membangun candi-candi megah seperti Candi Muara Takus dan Candi Manggis. Candi Muara Takus, dengan nama sungainya yang merujuk pada "kamper", menjadi pelabuhan produk kamper ke Sriwijaya. Candi Manggis di hulu sungai Rokan, dengan nama "aru" yang berarti sungai, menunjukkan pengaruh Kerajaan Aru di wilayah tersebut.
Kerajaan Aru merupakan kerajaan maritim yang kaya dan kuat, meninggalkan jejak sejarah yang tak terhapuskan. Kajian prasasti, catatan kuno, dan peninggalan candi membuka lembaran baru dalam kisah kejayaan kerajaan ini.
Baca Berita Riau Hari Ini setiap hari di Channel Cekricek.id.



















