Cekricek.id — Setelah PRRI runtuh pada 1961, sebagian orang Minangkabau menambahkan nama berbau Jawa di belakang nama mereka. Bukan karena ingin, melainkan agar selamat. Ranah Minang saat itu berada di bawah kendali militer, banyak pemuda yang menjanjikan tewas dalam konflik, dan nama Minangkabau tercoreng — orang menyebut mereka pihak yang kalah.
Dari titik itulah gelombang perantauan besar bergerak. Salah satu tujuannya sebuah kawasan hutan berawa di Riau yang baru saja disulap perusahaan minyak Amerika menjadi kota industri: Duri.
Perjalanan enam dekade itu ditelusuri Farel Fahrezi dan Midawati, keduanya dari Universitas Andalas, lewat artikel Minangkabau Trace in Oil City: The History of Minangkabau Migrants and Social-Economic Life in Duri City, Riau Province (1961–2024) yang dimuat jurnal Analisis Sejarah Vol. 15 No. 2 keluaran Laboratorium Sejarah Universitas Andalas pada 2025. Mereka memakai metode sejarah dan menggabungkan arsip, data kependudukan, artikel jurnal, serta kesaksian perantau Minang dan tetua Duri di Kecamatan Mandau.
Merantau yang Bukan Pilihan
Merantau memang sudah lama menjadi ciri paling menonjol dari kebudayaan Minangkabau. Ia bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan proses pembentukan watak dan jati diri. Seorang pemuda dianggap belum lengkap kalau belum menaklukkan rantau dan pulang membawa keberhasilan, entah berupa harta atau ilmu. Keberhasilan seorang perantau bahkan menjadi ukuran kebanggaan keluarga dan kampung halamannya.
Tapi ada pendorong lain yang lebih pahit. Kedua peneliti mencatat, keterbatasan tanah pertanian di ranah Minang — yang diwariskan lewat sistem matrilineal — mempersempit peluang laki-laki untuk memiliki lahan dan penghidupan. Merantau menjadi jalan keluar yang masuk akal.
Lalu datang PRRI. Pergolakan yang berlangsung 15 Februari 1958 sampai 21 Juni 1961 itu meninggalkan kerusakan mental, material, dan moral. Perdagangan dan pertanian anjlok, kepercayaan pada stabilitas politik goyah. Bagi banyak orang Minangkabau, terutama laki-laki muda, meninggalkan kampung halaman menjadi langkah paling aman dan paling rasional untuk bertahan hidup.
Riau menjadi tujuan yang masuk akal karena keamanannya cepat pulih. Meski gerakan PRRI sempat memasuki wilayah itu, pemerintah pusat segera menurunkan pasukan APRI dan berhasil mengusir pengaruh pemberontakan. Riau menjadi kawasan aman, dan berbagai suku bangsa berdatangan.
Baca juga: Inilah Kondisi Hidrologi Riau, Provinsi yang Dialiri Sungai Terdalam di Indonesia
Dari Rawa Menjadi Negeri Petrodolar
Nama Duri diyakini berasal dari Sungai Batang Duri — dilafalkan Batang Duwi — yang mengalir di kawasan berawa tempat ladang minyak Duri kini berdiri. Sebelum itu, wilayah ini adalah bagian dari Mandau, yang berakar pada kerajaan kecil bernama Koto Pahit di bawah Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Pada masa kolonial, Mandau berstatus onderdistrict. Antara 1925 dan 1928, pusat pemerintahannya berada di Balai Pungut di bawah Datuk Boedjang Sayang, yang mengoordinasi tiga belas perbatinan — lima di Minas dan delapan di kawasan Duri. Istilah batin sendiri merujuk pada permukiman keturunan Pagaruyung yang menetap di Mandau. Delapan perbatinan di Duri itu adalah Petani, Sebanga, Air Jamban, Pinggir, Semunai, Syam-Syam, Kandis, dan Balai Makam.
Semua berubah ketika tim geologi PT California Texas — Caltex — menemukan ladang minyak Duri pada 1941. Operasinya baru dimulai pada 1958, dan sejak itu wajah Duri berubah drastis dari belantara menjadi kota industri. Perusahaan membuka hutan lebat, membangun jaringan jalan raya yang sebelumnya tidak ada, dan membuka kawasan Mandau yang tadinya hanya bisa dijangkau lewat sungai. Duri kemudian dijuluki negeri petrodolar.
Yang terpinggirkan adalah penduduk aslinya. Suku Sakai selama ini tinggal di pedalaman Mandau, di tepi sungai, mata air, dan rawa, dengan mata pencaharian menangkap ikan, berburu, dan berladang. Data Dinas Sosial Riau pada 1987 mencatat 1.159 keluarga atau sekitar 5.437 jiwa orang Sakai di Duri. Pembukaan hutan untuk kawasan industri dan jalan raya menggusur banyak dari mereka dari tanah leluhur.
Kedua peneliti mencatat satu detail yang getir: masyarakat Sakai memang menerima ganti rugi dari perusahaan atas tanah, ladang, dan tanaman yang terdampak, namun sebagian besar dana itu tidak dipakai untuk hal produktif dan habis untuk kesenangan. Sebagian dari mereka kemudian pindah ke permukiman baru, ada yang membaur dengan masyarakat umum, ada yang menempati kawasan yang disiapkan Dinas Sosial Provinsi Riau. Belakangan sebagian menerima pendidikan dan pelatihan dari pemerintah dan mulai berperan dalam pemerintahan lokal.
Tiga Puluh Persen Sejak Awal
Angka-angka dalam riset ini memperlihatkan seberapa cepat komposisi penduduk Duri berubah. Setelah peristiwa PRRI pada 1961, penduduk Duri sekitar 7.691 jiwa, dan orang Minangkabau sudah menempati posisi mayoritas dengan sekitar 30 persen atau kira-kira 2.307 jiwa. Pada 2024, penduduk Kelurahan Air Jamban saja tercatat 46.123 jiwa.
Puncak kemakmuran datang pada 1980-an, dibawa lonjakan harga minyak dunia yang berlangsung antara 1973 dan 1980. Caltex memperluas kegiatan usaha sekaligus ikut membangun infrastruktur. Perantau berdatangan untuk bekerja sebagai karyawan perusahaan, pedagang, sopir, guru, dan berbagai pekerjaan lain.
Salah satu angka paling mengejutkan dari riset ini: pada 1980, sekitar 60 persen dari kurang lebih 4.000 pekerja di ladang minyak Duri adalah orang Minangkabau. Gaji tinggi, kontrak panjang, dan tunjangan besar membuat sektor ini sangat menarik. Monografi Nagari Magek tahun 1978 bahkan mencatat 17 perantau asal Magek bekerja di PT Caltex.
Sejak 2021, ketika perusahaan itu diambil alih Pertamina, sebagian keluarga masih menikmati fondasi ekonomi yang dibangun generasi sebelumnya.
Nasi Kapau di Jalan Sudirman
Di luar ladang minyak, orang Minangkabau menguasai perdagangan. Mereka mendominasi Pasar Mandau dan Pasar Dewi Sartika, menjual sayur, buah, daging, pakaian, rempah, sampai perlengkapan rumah tangga. Sejak 1980-an sebagian berdagang keliling dengan becak, gerobak, atau berjalan dari pintu ke pintu.
Salah satu rumah makan Padang pertama di Duri adalah Nasi Kapau di Jalan Sudirman, berdiri pada 1980-an dan menjadi langganan karyawan PT Caltex. Perantau lain membuka toko emas dan usaha perlengkapan keselamatan kerja untuk pekerja minyak — sepatu safety, helm, dan seragam kerja.
Yang jarang dibicarakan, banyak perantau Minang di Duri justru hidup dari sektor transportasi: sopir oplet, sopir bus, tukang becak, dan ojek. Profesi ini jarang dilekatkan pada orang Minangkabau yang telanjur dikenal sebagai pedagang.
Di bidang pendidikan, kedua peneliti menyebut sejumlah nama: Nurmainis, guru Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah Kota Duri; Muhammad, pengajar di SD IT dan SMP IT Yayasan Mutiara; serta Jasma, guru mengaji di Masjid Muthmainnah.
Baca juga: Hutan Nagari Sumbar dan Negara yang Berdiri Dua Kaki
Puluhan Ikatan Keluarga
Yang membuat komunitas ini bertahan adalah jaringannya. Perantau yang lebih dulu menetap membantu pendatang baru mencari pekerjaan, tempat tinggal, atau modal usaha — perwujudan prinsip duduak samo randah, tagak samo tinggi.
Jaringan itu dilembagakan lewat organisasi yang jumlahnya mengejutkan. Ada Ikatan Keluarga Minang Riau (IKMR), Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP), Ikatan Keluarga Lubuk Basung Saiyo (IKLBS), dan Ikatan Wanita Minang Riau (IWMR). Di bawahnya masih ada organisasi berbasis nagari dan suku: Ikatan Keluarga Situjuah Limo Nagari, Ikatan Keluarga Tanah Datar, Magek Saondoh, Ikatan Keluarga Daerah Agam, Pemuda Agam, Ikatan Keluarga Suku Jambak, Ikatan Keluarga Suku Sikumbang Bengkalis, Keluarga Tujuh Koto Saiyo, Ikatan Keluarga Tanjung Mutiara dan Sekitarnya, Ikatan Keluarga Besar Suku Koto, hingga Ikatan Keluarga Suku Chaniago.
Organisasi-organisasi ini tidak sekadar wadah temu kangen. Mereka menyalurkan bantuan untuk korban bencana, menyantuni anak yatim dan warga miskin, memberi beasiswa pendidikan, dan ikut membangun kampung halaman.
Ketika Pasar Menjadi Pemicu
Riset ini tidak menutupi bahwa kerukunan Duri pernah retak. Pada 1997–1998 terjadi ketegangan antara kelompok Minangkabau dan Batak. Pemicunya bukan perbedaan budaya, melainkan perebutan kendali atas kawasan dagang di Pasar Simpang Padang serta persaingan di sektor angkutan barang dan penumpang.
Konflik memuncak ketika terjadi insiden di sekitar Gereja HKBP Simpang Padang, dan seorang warga Minangkabau terluka karena terkena imbas bentrokan. Hubungan kedua kelompok sempat memburuk.
Penyelesaiannya lewat mediasi yang melibatkan aparat, kepolisian, tokoh masyarakat kedua belah pihak, dan pihak gereja. Setelah musyawarah, perwakilan gereja dan komunitas Batak menyampaikan permintaan maaf yang diterima ninik mamak dan tokoh adat Minangkabau. Kini kedua komunitas kembali hidup berdampingan.
Dalam keseharian, akulturasi berjalan jauh lebih dalam daripada yang terlihat. Bahasa Minangkabau dipakai bukan hanya oleh orang Minang, tetapi juga oleh warga Jawa dan Batak di pasar maupun di lingkungan tempat tinggal. Saat Idulfitri, warga Batak Kristen berkunjung ke rumah tetangga Muslim; saat Natal, giliran warga Muslim yang datang.
Baca juga: Mengapa Orang Melayu Medan Tidak Menganggap Melayu Malaysia Sebagai Saudara?
Kota yang Belum Diakui
Sampai sekarang Duri belum berstatus kota otonom. Ia masih bagian dari Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Padahal warganya yakin daerah itu sudah memenuhi kriteria kota: pembangunan pesat, sumber daya manusia maju, tingkat pendidikan tinggi, ekonomi stabil, dan penduduk yang sebagian besar berciri urban.
Upaya mengubah status itu dimulai pada 16 Mei 1999 melalui Forum Komunikasi Antar Suku dan Antar Agama, tokoh adat, Lembaga Adat Melayu Riau, serta dukungan masyarakat luas. Sampai riset ini terbit, belum ada keputusan resmi.
Yang perlu dicatat pembaca, kedua peneliti sendiri menyatakan keterbatasan riset ini secara terbuka: kajian mereka dibatasi oleh ketersediaan sumber lisan dan cakupan dokumentasi arsip. Mereka menyarankan penelitian lanjutan berupa perbandingan dengan pusat diaspora Minangkabau lain, kajian dinamika gender dalam perantauan, serta penelusuran pewarisan identitas antargenerasi pada anak muda Minang di kota industri. Sebagian angka kependudukan dalam artikel itu juga dirujuk ke sumber yang tahun terbitnya lebih tua daripada tahun datanya, sehingga sebaiknya diperlakukan sebagai perkiraan, bukan angka pasti.
Meski begitu, benang merahnya jelas. Duri adalah tempat sebuah komunitas mengubah trauma kolektif menjadi daya tahan — apa yang dalam pepatah mereka sendiri disebut mambangkik batang tarandam, mengangkat kembali batang yang pernah terendam.




















