- Kajian folklor di Metahumaniora 2025 membaca laku tapa dan mandi Prabu Siliwangi di hulu Citarum sebagai jalan memahami Islam lewat tasawuf dan tauhid.
- Naskah mengikuti Saleh Danasasmita bahwa Siliwangi identik dengan Sri Baduga, dan menolak Ayatrohaedi yang menunjuk Niskala Wastu Kancana.
- Juru pelihara kolam, Atep, menjelaskan ritual berendam dan berkumur tiga kali, bukan untuk permohonan pribadi.
- Naskah memuat dua deret tahun berbeda untuk raja yang sama, 1474-1513 dan 1482-1521, tanpa penjelasan.
Daftar Isi
- Sebelum tim Kodam 1968: satu nama untuk banyak raja
- Ayatrohaedi menggeser tokohnya, Danasasmita menariknya kembali
- Masa Sri Baduga: parit, telaga, dan pelabuhan Kalapa
- Subang Larang, Walangsungsang, dan Islam di Cirebon
- Atep dan kolam di kaki Gunung Wayang
- Tafsir para penulis: tapa sebagai jalan menuju tauhid
- Dua deret tahun dalam satu naskah
Selama berabad-abad orang Sunda menyebut raja agung mereka dengan satu nama saja, Prabu Siliwangi, tanpa peduli ia hidup di kurun yang mana, sehingga kisahnya membentang dari zaman dewa-dewi Sunda kuno hingga tibanya Islam di Tatar Sunda menjelang runtuhnya Pajajaran. Nama itu hidup sebagai ingatan kolektif, bukan sepenuhnya catatan sejarah. Pada 2025, lima peneliti dari Bandung mencoba membaca satu babak paling samar dari ingatan itu: laku tapa dan mandi di mata air Citarum.
Kelimanya, Saepul Basor dari Universitas Persatuan Islam serta Yan Nurcahya, Muhammad Kautsar Thariq Syah, Deri Sugiarto, dan Sopian Suprianto dari UIN Sunan Gunung Djati, menuliskannya dalam Kejuangan Prabu Siliwangi Bertapa dan Menyucikan Diri di Mata Air Citarum dalam Memahami Islam; Kajian Folklor, yang terbit di Metahumaniora volume 15 nomor 1, tahun 2025. Naskah itu menyusun ulang bacaan lama dari prasasti, babad, dan pantun, lalu menyambungkannya ke sebuah kolam di kaki Gunung Wayang.
Sebelum tim Kodam 1968: satu nama untuk banyak raja
Yang lama diyakini, dan diakui sendiri oleh Basor dan kawan-kawannya, adalah bahwa Prabu Siliwangi tokoh semi-mitologi. Tradisi lisan menyebut raja agung Sunda dengan gelar itu tanpa memperhatikan era, sehingga, tulis mereka, “sulit untuk memastikan dan mengidentifikasi siapakah tokoh sejarah yang dimaksudkan sebagai Prabu Siliwangi yang legendaris ini.” Ingatan kolektif Tatar Sunda menyimpannya sebagai raja ideal yang keberadaannya sengaja dibumbui hal mistis demi menjaga kesucian namanya, seperti dicatat R.M. Ali dan T. Asmar pada 1975.
Bacaan yang lebih tegas datang dari tim penulis sejarah Kodam Siliwangi dalam buku Siliwangi dari Masa ke Masa tahun 1968, yang dikutip panjang oleh naskah ini. Menurut prasasti Kawali, Prabu Niskala Wastukancana atau Prabu Wangi memerintah 104 tahun dari 1363 sampai 1467 di Kawali-Galuh, dan namanya tersohor karena kejayaan yang panjang itu. Ayah Siliwangi, Rahiyang Dewa Niskala, justru tidak muncul dalam babad, wawacan, ataupun cerita pantun, sementara sang cucu selalu menjadi tokohnya.
Dari sanalah nama itu, menurut tim Kodam, lahir. Sri Baduga satu-satunya raja yang secara resmi berganti gelar, dari Prabu Guru Dewataprana menjadi Sri Baduga Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, yang dalam Carita Parahyangan disebut Sriman Sri Wacana. “Karena pernah berganti gelar itulah kemungkinan besar (alasan) rakyat menyebut Sri Baduga dengan Siliwangi, yang artinya berganti nama atau gelar,” tulis tim itu. Babad menyebutnya asilih wawangian, menggantikan Prabu Wangi dalam segala kebesarannya.
Ayatrohaedi menggeser tokohnya, Danasasmita menariknya kembali
Pendapat itu tidak berdiri tanpa lawan. Naskah mencatat legenda Siliwangi sudah dikenal dalam Carita Pantun sejak 1518, ketika Prabu Jayadewata masih bertahta, dan sejarawan Sunda Ayatrohaedi berpendapat seorang tokoh butuh bertahun-tahun untuk memperoleh status legenda yang dipuja. Karena itu ia menolak gagasan bahwa raja yang masih berkuasa dipuja dalam syair yang beredar, lalu menunjuk pendahulunya, Niskala Wastu Kancana, yang meninggal sekitar 40 tahun sebelumnya, sebagai tokoh sejarah di balik legenda itu.
Di sisi yang lain berdiri Saleh Danasasmita, yang pada 2003 mengolaborasikan Purwaka Caruban, Naskah Pamarican, Waruga Jagat, Babad Pajajaran, Carita Parahiyangan, dan Babad Siliwangi. Kesimpulannya, yang oleh Basor dan kawan-kawannya disebut lebih kuat, adalah bahwa Prabu Siliwangi hanya satu dan identik dengan Sri Baduga Maharaja alias Jayadewata, raja yang menyatukan kembali Galuh dan Sunda di dua sisi Sungai Citarum. Naskah 2025 ini mengikuti Danasasmita, bukan Ayatrohaedi.
Baca juga Snouck Hurgronje Menjaga Muridnya Sampai ke Kursi Birokrasi
Masa Sri Baduga: parit, telaga, dan pelabuhan Kalapa
Pada Sri Baduga itulah naskah menimbun bukti kebesaran. Prasasti Batutulis, yang dibuat putranya Surawisesa pada akhir Desember 1533 sebagai peringatan 12 tahun wafat sang ayah, menyebut parit keliling Pakuan, jalan yang dikeraskan batu, gugunungan, hutan lindung samida, dan Telaga Rena Mahawijaya. Danasasmita pada 1984 memperkirakan parit itu sepanjang empat kilometer di tebing Cisadane, dan gugunungannya adalah bukit Badigul di Rancamaya, tujuh kilometer di tenggara Bogor.
Kesaksian orang luar menopangnya. Tome Pires, yang singgah bersama empat kapal dagang Portugis pada 1513, mencatat Kerajaan Sunda diperintah dengan adil, ibu kotanya dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa, dan istananya dikelilingi 330 pilar sebesar tong anggur setinggi kira-kira sembilan meter. Naskah menambahkan Pakuan berpenduduk 50 ribu jiwa, kota terbesar kedua di Nusantara setelah Demak, dengan wilayah yang dikatakan membentang dari Dieng sampai sebagian Lampung.
Subang Larang, Walangsungsang, dan Islam di Cirebon
Di ujung masa itulah Islam masuk ke keluarga raja, dan di sini naskah menyambung dua sumber yang berbeda. Sulyana pada 2006 mencatat Siliwangi beristrikan Subang Larang, perempuan bangsawan Muslim, dan dari pernikahan itu lahir Walangsungsang, Rara Santang, dan Rajasangara yang semuanya beragama Islam. Walangsungsang, yang oleh gurunya Syekh Datuk Kahfi diberi nama Ki Samadullah, pada 1445 membuka permukiman Cirebonlarang di hutan pantai, lalu setelah naik haji bergelar Haji Abdullah Iman.
Sri Baduga, menurut catatan yang sama, tidak menghalangi. Ia mengutus Ki Jagabaya membawa tanda kekuasaan dan gelar Sri Mangana untuk Walangsungsang, dan pada 1482 cucunya, Syarif Hidayat putra Rara Santang, diangkat menjadi raja Cirebon bergelar Susuhunan Jati. Sumber yang lebih jauh, Carita Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon tahun 1720, malah menyebut Prabu Siliwangi masuk Islam saat hendak menikahi Subang Larang; naskah 2025 ini tidak memutuskan mana yang benar.
Bagian lain naskah menggambarkan hal yang lebih tegang: islamisasi yang dipelopori putranya, Prabu Kian Santang, mengancam keutuhan wilayah, pesisir jatuh ke tangan Cirebon dan Banten, dan Sri Baduga berusaha membentuk koalisi politik dengan Portugis yang berpusat di Malaka. Dua gambaran itu dibiarkan berdampingan; para penulis menyebut Siliwangi “bersikap toleran” sambil mengakui islamisasi sebagai “persoalan genting” yang dihadapi Sri Baduga.
Atep dan kolam di kaki Gunung Wayang
Dari naskah kuno, Basor dan kawan-kawannya berpindah ke hulu Citarum. Salah satu mata air sungai itu adalah Situ Cisanti di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, di kaki Gunung Wayang setinggi 2.181 meter yang tidak pernah lagi meletus sejak 1600. Danau buatan ini menampung aliran tujuh mata air, dan menurut cerita rakyat yang dicatat naskah, Prabu Siliwangi rutin melakukan ritual pembersihan diri di sebuah kolam di kawasan itu.
Satu-satunya saksi yang diwawancarai adalah Atep, pemelihara Cagar Budaya Sungai Citarum Pemandian Prabu Siliwangi dan generasi ketujuh penjaga situs, pada 4 Oktober 2024. Ia menjelaskan tata cara bagi pengunjung yang ingin ikut ritual: melepas alas kaki, berendam tiga kali, dan berkumur dengan air itu tiga kali. Ritual itu, tegasnya, bukan untuk permohonan pribadi “karena permohonan semacam itu harus diserahkan kepada Allah,” melainkan untuk membersihkan hati dan menjernihkan pikiran.
Atep juga menunjukkan jejak kaki yang diyakini jejak kaki kiri Prabu Siliwangi, dan sebatang pohon berdiameter sekitar setengah meter yang tumbang pada 1974 di tengah kolam, lalu dipakai sebagai pembatas zona laki-laki dan perempuan. Sejumlah pejabat daerah kerap datang, tetapi ia enggan menyebut nama. Bayu, penjaga pintu gerbang situs, menambahkan: “Setelah datangnya Bapak Presiden, keadaan Situ Cisanti di kelola para jajaran TNI dan hulu sungai Citarum mulai dikenal banyak khalayak.”
Baca juga Poster Ramadan Kampung Kuningan dan Setan yang Diborgol
Tafsir para penulis: tapa sebagai jalan menuju tauhid
Di sinilah temuan baru naskah ini diletakkan, bukan pada fakta yang digali melainkan pada makna yang dibaca. Menurut Basor dan kawan-kawannya, “Proses tapa dan penyucian diri yang dilalui Prabu Siliwangi merupakan simbol dari perjuangan batin yang penuh dengan kesungguhan, kerendahan hati, serta keterbukaan terhadap perubahan nilai dan kepercayaan.” Air yang mengalir jernih dibaca sebagai pembersihan jiwa, dan laku itu dinilai selaras dengan tasawuf serta pencarian tauhid.
Kesimpulan mereka melangkah lebih jauh: Siliwangi “tidak menolak Islam, melainkan berusaha memahami esensinya secara mendalam melalui laku spiritual,” sehingga ia dapat dipandang sebagai jembatan budaya antara nilai lokal dan ajaran Islam. Pembacaan itu disandingkan dengan keadaan kolam hari ini: mata air Cikahuripan alias Pangsiraman dipagari besi, ada pendopo kecil untuk ziarah, dan pengunjung berminat khusus datang pada malam bulan purnama meminta air dan ritual siraman.
Yang perlu dicatat, naskah ini tidak memuat bagian keterbatasan, dan pembaca harus menyusunnya sendiri dari pengakuan yang tersebar. Tidak satu pun naskah kuno yang dikutip, dari Carita Parahyangan sampai Babad Siliwangi, disebut memuat tapa di mata air Citarum; babak itu bertumpu pada cerita rakyat dan satu juru pelihara. Klaim bahwa tapa itu jalan memahami Islam adalah tafsir simbolik para penulis, bukan temuan dari sumber primer.
Dua deret tahun dalam satu naskah
Ada pula ganjalan yang bisa diperiksa siapa saja yang membaca naskah itu utuh. Kutipan buku Kodam 1968 menyebut Sri Baduga bertahta 1474 sampai 1513, sedangkan bagian lain, termasuk yang merujuk Nina H. Lubis pada 1991, menulis 1482 sampai 1521; keduanya 39 tahun. Hal serupa terjadi pada Wastu Kancana, 1363 sampai 1467 di satu tempat dan 1371 sampai 1475 di tempat lain, sama-sama 104 tahun, tanpa keterangan mana yang dipilih.
Kejanggalan lain lebih kecil tetapi nyata. Perjanjian Sunda dengan Portugis pada 21 Agustus 1522 disebut sebagai usaha Sri Baduga, padahal naskah sendiri mencatat ia wafat pada akhir Desember 1521. Tujuh mata air Situ Cisanti ditulis dua kali dengan ejaan berbeda, Koleberes dan Cikoleberes, Cisadane dan Cisadana. Danandjaja dikutip untuk tahun 1994, tetapi daftar pustaka hanya memuat 1997 dan 2008, dan dua gambar berbeda sama-sama diberi nomor Gambar 4.
Baca juga Dua Fabel Solok Selatan Membicarakan Cara Memegang Kuasa
Dengan segala celahnya, naskah Basor dan kawan-kawannya menempati satu posisi yang jelas dalam rantai bacaan tentang Siliwangi. Ia mewarisi kesimpulan Danasasmita bahwa raja itu satu orang, Sri Baduga, menolak pergeseran Ayatrohaedi ke Wastu Kancana, lalu menambahkan lapisan yang belum ada pada pendahulunya: sebuah kolam di kaki Gunung Wayang dan tafsir tasawuf atas laku mandi di sana. Apakah lapisan itu bertahan, bergantung pada pembaca berikutnya yang membawa naskah kuno ke tepi kolam itu.















