Maulid Adat Wetu Telu di Bayan Mengarak Adam dan Hawa ke Masjid

A A

Ilustrasi Masjid Kuno Bayan Beleq beratap ijuk bertingkat di Bayan, Lombok Utara [Foto: HannoSEA/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Penganut Wetu Telu di desa itu mengarak dua lelaki berbusana pengantin ke masjid kuno.
  • Maulid adat jatuh pada bulan Rabiul Awal dan berlangsung dua hari.
  • Keduanya mengenakan busana pengantin adat dan melambangkan pasangan Adam dan Hawa.
  • Dalam pandangan Waktu Lima, hal tersebut menyimpang dari makna Maulid Nabi.
  • Ritual khusus di dalam masjid kuno tidak diuraikan, sebab hanya orang berizin yang boleh mengikutinya dan isinya bukan pengetahuan umum.
Daftar Isi
  1. Tanggal Menurut Naptu
  2. Lesung, Makam, Gamelan
  3. Arak-arakan Praja Maulid
  4. Di Dalam Masjid Kuno
  5. Hajat di Karang Bajo
  6. Maulid Versi Waktu Lima
  7. Ayat 31, Dua Bacaan
  8. Yang Tak Tercatat

Maulid di Bayan dirayakan dengan cara yang diwariskan leluhur. Penganut Wetu Telu di desa itu mengarak dua lelaki berbusana pengantin ke masjid kuno. Bagi mereka, upacara adat tersebut adalah wujud cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Gambaran itu dicatat Muhammad Ardi Kusumawardana dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dan Baiq Ayu Darma Ning Tyas dari Universitas Mataram. Artikel mereka, The Tradition of Celebrating the Birthday of Prophet Muhammad Reception of Wetu Telu Adherents in Bayan Village, North Lombok Regency, Regarding Mahabbah in Surah Ali Imran, Verse 31, terbit di Jurnal Ushuluddin volume 33 nomor 1 tahun 2025. Bahannya wawancara dengan pemuka adat, pemuka agama, dan warga biasa di Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

Wetu Telu adalah sistem kepercayaan dan praktik keagamaan sebagian Muslim Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Para penganutnya menyebut diri Muslim. Namun, adat memegang peran besar dalam hidup sehari-hari mereka, sampai batas antara adat, agama, dan tradisi menjadi kabur.

Kedua peneliti menulis bahwa pengaruh animisme dan kepercayaan Hindu masih mengakar di komunitas itu. Penganutnya tetap memuja roh leluhur. Karena itu mereka kerap dituduh menyimpang oleh kelompok yang merasa lebih lurus, yang di Lombok disebut Islam Waktu Lima.

Tanggal Menurut Naptu

Seperti Muslim lain, komunitas Wetu Telu di Bayan memperingati hari besar Islam. Bedanya terletak pada bentuk upacara dan waktunya. Muslim pada umumnya mengikuti jadwal Kementerian Agama, sedangkan penganut Wetu Telu memakai naptu, hitungan tradisional mereka sendiri.

Daftar peringatannya panjang. Selain Maulid Nabi, naskah menyebut Maleman Qunut, Maleman Likuran, Maleman Pitrah, Lebaran Tinggi, Lebaran Topat, dan Lebaran Pendek. Dari semuanya, ritual Maulid disebut sebagai yang paling membekas.

Maulid adat jatuh pada bulan Rabiul Awal dan berlangsung dua hari. Tempatnya Rumah Adat Karang Bajo dan Masjid Kuno Bayan. Warga dari berbagai desa diundang, dan upacara ini terbuka bagi umum.

Pakaian pun diatur. Laki-laki menutup tubuh dari bawah pusar sampai mata kaki dengan kain dan mengenakan sapuk, ikat kepala. Perempuan menutup tubuh dari dada sampai mata kaki, dan para tamu dianjurkan memakai busana adat buatan orang Bayan.

Lesung, Makam, Gamelan

Persiapan dimulai beberapa hari sebelumnya. Perempuan dari kampung Penghulu, Bayan Timur, Bayan Barat, Lebai, dan Bale Ketip menyiapkan makanan. Mereka menumbuk ketan di lesung kayu yang panjang dan sempit dengan alu bambu.

Penumbukan lengkap berlangsung di Karang Bajo. Di sana para perempuan berbusana adat penuh: jong sebagai penutup kepala, kereng sebagai sarung, dan kemben yang menutup dada sampai pinggang. Seorang pemimpin yang disebut inan menik duduk di dekat lesung dan berdoa sebelum penumbukan dimulai.

Pilihan berasnya juga punya aturan. Pada upacara, orang Bayan lebih suka menumbuk padi daripada menggilingnya dengan mesin. Sesaji dibuat dari padi bulu, varietas setempat, bukan padi IR yang diperkenalkan pemerintah.

Baca juga Nalar Mistis Kebo-keboan Banyuwangi Dicari Nilai Islamnya

Sehari sebelum acara, seluruh warga gubug, sebutan untuk kampung, menjalani mengosap. Mereka membersihkan kompleks makam leluhur dan meletakkan lekesan serta wadah air semalaman agar diberkati leluhur. Kiai memimpin upacara ini, dibantu pemandu dari tiap gubug.

Pada hari yang sama, sebagian lelaki Karang Bajo menjemput gamelan dari Bayan Barat. Serah terima dilakukan lewat upacara singkat. Sepanjang jalan pulang, gamelan itu mereka tabuh.

Di Karang Bajo, gamelan dimainkan di berugak. Pemangku Karang Bajo sudah menunggu di sana untuk memberkati alat musik itu dengan sembek. Sesudahnya gamelan ditabuh lagi, tanda bagi seluruh gubug bahwa upacara Maulid telah dimulai.

Urutan Maulid adat di BayanUrutan Maulid adat di BayanUrutan Maulid adat di BayanUpacara berlangsung dua hariLesungketanditumbukMakamdibersihkanwargaGamelandijemput,diberkatiArakanPrajaMaulidMakanancak dansampak
Sumber: Muhammad Ardi Kusumawardana dan Baiq Ayu Darma Ning Tyas, The Tradition of Celebrating the Birthday of Prophet Muhammad Reception of Wetu Telu Adherents in Bayan Village, North Lombok Regency, Regarding Mahabbah in Surah Ali Imran, Verse 31, Jurnal Ushuluddin, 33(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Arak-arakan Praja Maulid

Puncaknya esok hari. Tiap gubug menyembelih sapi, kambing, dan ayam untuk kenduri, dan sebagian warga mengurbankan hewan itu untuk memenuhi hajat mereka. Makanan upacara yang disiapkan bernama ancak dan sampak.

Sementara makanan disiapkan, dua lelaki dari Bayan Timur didandani di Bayan Barat. Keduanya mengenakan busana pengantin adat dan melambangkan pasangan Adam dan Hawa. Merekalah Praja Maulid, yang menurut catatan kaki naskah biasanya keturunan tokoh terkemuka Wetu Telu.

Rombongan penabuh gamelan dari Karang Bajo berjalan ke Bayan Barat untuk menjemput keduanya. Arak-arakan lalu bergerak ke masjid kuno. Para penabuh hanya mengantar sampai depan masjid dan tidak ikut masuk.

Arak-arakan inilah inti upacara. Dengan merayakan persatuan Adam dan Hawa, tulis kedua peneliti, orang Bayan menandai berkembang biak dan menyebarnya manusia di muka bumi. Maulid dengan begitu dijalin dengan adat sebagai penghubung kepada leluhur.

Di Dalam Masjid Kuno

Praja Maulid membasuh wajah, tangan, dan kaki sebelum masuk. Para kiai yang sudah menunggu menyambut mereka. Penghulu lalu membaca doa selamat dalam bahasa Arab, dan semua kiai mengamininya.

Sesudah doa, hadirin makan bersama. Sebelum makan dimulai, Pembekal Adat Bayan Timur menyampaikan maksud upacara. Acara ini disebut Pariapan Ancak Ngangkat Syare’at Maulid, yang oleh naskah diartikan makan ancak bersama untuk merayakan Maulid.

Ancak dikirim oleh tiap kampung, dan hidangan itu melambangkan satu gubug. Makan bersama juga digelar di Bayan Beleq dengan nama Pariapan Praja Maulid. Mengutip buku Erni Budiwanti, naskah menyebut hanya Kyai Kagungan, Pemangku, serta Toaq Lokaq dari Bayan Barat dan Penggantal Bayan yang ikut di sana.

Ada dua batas yang dicatat. Perempuan tidak boleh masuk masjid kuno, karena darah haid diyakini mengotori ruang suci itu. Ritual khusus para pemuka di dalam masjid juga hanya boleh diikuti orang yang mendapat izin.

Baca juga Seblang Olehsari: Izin Sehari Ditolak, Tari Tujuh Hari Batal

Hajat di Karang Bajo

Di Karang Bajo, Maulid ditandai dua ritual sebelum makan bersama. Yang pertama sesangi, mengucapkan hajat. Yang kedua saur sesangi, menunaikan hajat.

Peserta duduk bersila di berugak. Pemangku Karang Bajo menyampaikan maksud acara, lalu menyebut nama orang yang hendak mengucapkan atau menunaikan sesangi. Satu per satu mereka berjongkok di tanah dan menyampaikan hajatnya, terpisah dari berugak oleh pagar bambu.

Setelah semua hajat terucap, makan bersama dimulai. Kyai Kagungan, sejumlah kiai santri, Toaq Lokaq, dan Pemangku Karang Bajo duduk bersila berhadapan dalam susunan persegi panjang. Sampak, hidangan utama, diletakkan di tengah.

Penghulu berdoa sebelum dan sesudah makan untuk keselamatan seluruh warga. Seperangkat lekesan dalam wadah bambu kecil kemudian diedarkan, tanda makan bersama selesai. Seluruh upacara ditutup dengan sembek yang dioleskan di dahi setiap peserta.

Malamnya perayaan dimeriahkan gamelan. Para pemuda bertarung dengan tongkat rotan dalam peresean di luar masjid kuno, dan penonton dari luar Lombok ikut datang. Bagian luar masjid dihiasi bendera, sedangkan bagian dalamnya dihiasi panji warna-warni.

Maulid Versi Waktu Lima

Kelompok Waktu Lima di Bayan memperingati Maulid pada bulan yang sama dengan cara lain. Mereka mengenang kelahiran, wafat, kenabian, dan terutama ajaran Nabi Muhammad. Acara pokoknya pengajian tuan guru di masjid.

Para pendatang Waktu Lima di dusun-dusun Bayan menggelar pengajian pada hari berlainan supaya bisa saling mengundang. Ustaz Najam, misalnya, mendatangkan TGH Safwan, pemimpin Pesantren Nurul Hakim di Kediri, Lombok Barat, ke Masjid Babul Mujahidin di Bayan Timur. Warga Wetu Telu diajak hadir dan mendengarkan.

Di Dusun Lokok Aur, yang biasa diundang adalah TGH Helmi, pemimpin Pesantren Maraqitta’limat Mamben di Lombok Timur. Raden Gedarip, pemuka adat Wetu Telu, pernah diundang ke Maulid umum di masjid besar Bayan. Ia menghormati ajaran para tuan guru, tetapi tetap menjalani Maulid adat.

Satu bulan, dua cara merayakan MaulidSatu bulan, dua cara merayakan MaulidSatu bulan, dua cara merayakan MaulidDesa Bayan, Lombok UtaraWaktu LimaWetu TeluNabi MuhammadAdam dan HawaTokoh pusatPengajianPraja MaulidAcara utamaMasjid kampungMasjid kunoTempatJadwal KemenagHitungan naptuPenentu waktu
Sumber: Muhammad Ardi Kusumawardana dan Baiq Ayu Darma Ning Tyas, The Tradition of Celebrating the Birthday of Prophet Muhammad Reception of Wetu Telu Adherents in Bayan Village, North Lombok Regency, Regarding Mahabbah in Surah Ali Imran, Verse 31, Jurnal Ushuluddin, 33(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Di sinilah keberatan muncul. Menurut kedua peneliti, pusat perayaan Wetu Telu adalah penghormatan kepada Adam dan Hawa sebagai leluhur pertama, sehingga pada dasarnya upacara itu pemujaan leluhur. Dalam pandangan Waktu Lima, hal tersebut menyimpang dari makna Maulid Nabi.

Ayat 31, Dua Bacaan

Kedua peneliti lalu bertanya bagaimana penganut Wetu Telu memahami mahabbah, kata Arab untuk cinta, dalam Surah Ali Imran ayat 31. Ayat itu berisi perintah mengikuti Nabi bagi orang yang mencintai Allah. Jawaban warga Bayan terbelah dua.

Sebagian kecil membacanya apa adanya. Yuli, Novi, Aminah, dan Fitriani, warga biasa penganut Wetu Telu, menyatakan ayat itu jelas memerintahkan taat kepada Allah dan Rasul tanpa campuran budaya. Kedua peneliti menyebut temuan ini sangat menarik.

Sebagian besar menafsirkannya sesuai keadaan mereka. Kelompok ini membaca ayat melalui pengetahuan sejarah dan lingkungan budaya, sosial, serta keagamaannya sekarang. Cinta kepada Allah dijalankan menurut ajaran Islam, tetapi tidak dilepaskan dari ajaran leluhur.

Nikrana, anggota dewan adat yang menjadi juru bicara para penganut, merumuskannya singkat. “Kami mencintai Allah Ta’ala sesuai dengan ajaran Islam,” katanya, sebagaimana dikutip dalam naskah berbahasa Inggris itu. Ia menambahkan bahwa unsur budaya dan ritual leluhur tetap perlu disertakan agar pelajaran generasi terdahulu terjaga.

Raden Gedarip menyatakan hal senada. Setiap kegiatan keagamaan penganut Wetu Telu di Bayan, katanya, berakar pada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Raden Pala, seorang pemuka agama, menyebut kegiatan itu tidak terlepas dari Al-Qur’an dan hadis.

Asal cara baca itu ditelusuri sampai Sunan Prapen. Menurut naskah, ia mengajarkan Al-Qur’an kepada penganut Wetu Telu dengan pendekatan tasawuf. Hasilnya percampuran budaya yang bertahan sampai sekarang.

Baca juga Prabu Siliwangi di Hulu Citarum, Tapa yang Dibaca sebagai Islam

Yang Tak Tercatat

Penelitian ini punya batas. Ritual khusus di dalam masjid kuno tidak diuraikan, sebab hanya orang berizin yang boleh mengikutinya dan isinya bukan pengetahuan umum. Naskah juga tidak menyebut berapa orang yang termasuk sebagian kecil dan berapa yang sebagian besar.

Beberapa hal bisa diperiksa pembaca. Di bagian pendahuluan, ayat 31 diberi terjemahan yang di bagian lain dicantumkan sebagai ayat 32. Nama pemuka adat ditulis Raden Gedarip dan Raden Gedarif.

Kalimat berbahasa Inggris yang berarti alasan perbaikan kosakata dan kejelasan tertinggal di ujung empat paragraf. Satu paragraf tentang pandangan Al-Qusyairi tercetak dua kali. Bagian simpulan menyebut zikir dan pembacaan riwayat Nabi, padahal uraian upacaranya tidak memuat kedua hal itu.

Arak-arakan dua pengantin itu tetap berjalan ke masjid kuno. Hingga 2024, tulis kedua peneliti, tidak ada pernyataan pemuka adat dalam acara Maulid yang menyimpang dari kebiasaan mereka.

Bagikan

Baca Juga

Orang Rimba di Jambi Sudah Mengenal Satu Tuhan Sebelum Berislam
Kaset Adat Bugis Wajo Berjamur, Cerita Leluhur Ikut Hilang
Nelayan Suku Akit Pantang Membawa Lepat Saat Turun ke Laut
Lumbung Pangan Merauke Membuat Orang Marind Beralih ke Mi Instan
Suku Yei Menjaga Hutan Merauke lewat Tujuh Larangan Adat
Orang Tobelo Melawan Tambang Nikel Halmahera Tanpa Kekerasan