- Saluang Pauah di Kecamatan Pauh, Padang, dimainkan dua laki-laki: satu peniup saluang, satu pendendang, keduanya wajib laki-laki
- Saluang Pauah terbuat dari bambu 30-40 cm dengan 6 lubang, tiap lubang melambangkan satu suku adat Pauh
- Pertunjukan berjalan 4 babak dari pukul 20.00 sampai 03.00-04.00: pado-pado, pakok anam, pakok limo (7 irama), lambok malam
- Nada saluang diukur dengan aplikasi Soundcorset: E-Gis-Ais-C-Cis-Dis-F; tempo lagu Silaing Padangpanjang tercatat Allegro 120 bpm
Daftar Isi
Pukul delapan malam di Kecamatan Pauh, Kota Padang, dua laki-laki duduk berdampingan menghadap warga yang berkumpul untuk sebuah pesta adat. Satu memegang seruling bambu bernama saluang pauah, satu lagi bersiap mendendangkan kaba semalam suntuk. Yang membuat adegan ini janggal bagi siapa pun yang mengenal saluang di tempat lain: pendendangnya bukan perempuan seperti kebiasaan umum, melainkan laki-laki lagi, sama seperti peniup salungnya.
Kisah itu dicatat Vanesa Safina, Nursyirwan, Irwan, Wilman In, dan Emridawati dalam Interpretasi Elemen Musikal dalam Pertunjukan Saluang Pauah pada Lagu Silaing Padangpanjang di Kota Padang, dimuat Musica: Journal of Music volume 5 nomor 1, tahun 2025. Kelimanya adalah sivitas Program Studi Seni Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, meneliti pertunjukan Saluang Pauah yang masih hidup di Kecamatan Pauh sampai sekarang.
Kebiasaan yang Dibalik di Kecamatan Pauh
Saluang Pauah biasa dimainkan untuk memeriahkan pesta perkawinan, perayaan 17 Agustus, dan penyambutan tahun baru di Nagari Limau Manih dan Nagari Pauh, dua kenagarian yang membentuk Kecamatan Pauh. Pertunjukannya berjalan panjang, dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dan baru berakhir pukul 03.00 sampai 04.00 dini hari. Sepanjang waktu itu, dua laki-laki tadi bergantian menghidupkan panggung, satu meniup bambu, satu lagi berdendang.
Keharusan pendendang laki-laki inilah yang oleh naskah disebut sebagai hal unik, sebab pertunjukan saluang di daerah lain umumnya menempatkan perempuan sebagai pendendang, berpasangan dengan peniup saluang laki-laki. Di Pauh, aturan itu dibalik sepenuhnya, dan kebiasaan itu bertahan turun-temurun tanpa penjelasan tertulis mengapa harus demikian.
Naskah menyebut Saluang Pauah bukan sekadar instrumen tiup biasa, melainkan simbol identitas budaya Minangkabau yang dipakai membangun dan mempertahankan nilai-nilai adat setempat. Penggunaannya yang terus berulang di berbagai acara adat dan keramaian nagari, dari generasi ke generasi, memperlihatkan betapa lekatnya bunyi bambu berlubang enam ini dengan cara masyarakat Pauh merayakan setiap peristiwa penting dalam hidup bernagari mereka.
Empat Babak yang Mengatur Semalam Suntuk Pertunjukan
Pertunjukan berjalan dalam empat babak berurutan. Pado-pado adalah tiupan pembuka, semacam himbauan tanpa vokal yang memberi tahu penonton bahwa acara segera dimulai. Setelahnya menyusul pakok anam, ketika pendendang mulai bersuara lewat kato pasambahan, kata pembuka yang memperkenalkan diri sekaligus menyapa hadirin sebelum masuk ke cerita utama.
Babak ketiga, pakok limo, adalah inti pertunjukan: kaba atau cerita panjang dibawakan pendendang diiringi saluang, dengan tujuh irama berbeda yang dipilih sesuai suasana cerita, dari jain, dagang, lereng capek, lereng satangah capek, ibo yang mengiba-iba, sampai baliang-baliang. Pertunjukan ditutup lambok malam, satu-satunya babak yang dibawakan pendendang seorang diri tanpa iringan saluang, menjadi penanda bahwa malam sudah hampir habis.
Kaba sendiri didefinisikan naskah sebagai bentuk cerita atau narasi yang dinyanyikan, khas budaya Minangkabau, biasanya lebih panjang dan rumit dibanding dendang biasa, sering berkaitan dengan sejarah, mitos, atau nilai moral yang hendak disampaikan kepada penonton. Irama lereng capek dimainkan dengan tempo yang dipercepat pemain saluang, sementara ibo sengaja dibawakan mengiba-iba, agak sedih, menyesuaikan babak cerita yang sedang berlangsung malam itu.
Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Bambu Bertalang Enam Lubang yang Menyimpan Nama Suku
Alat musik yang dipakai peniup dinamai talang dalam bahasa Minangkabau, sepotong bambu sepanjang 30 sampai 40 sentimeter yang dilubangi enam kali. Bukan sekadar lubang nada biasa, tiap lubang di Saluang Pauah membawa makna adat: lubang kedua bernada re melambangkan suku Tanjung, lubang ketiga bernada mi untuk suku Jambak, lubang keempat bernada fa untuk suku Caniago, lubang kelima bernada sol untuk suku Melayu, dan lubang keenam bernada la untuk suku Koto.
Lubang pertama yang bernada do dimaknai sebagai Kapalo Rang Mudo, sedangkan lubang suara di bagian kepala saluang dimaknai sebagai Nagari itu sendiri, sehingga suku dan wilayah adat sama-sama tertanam dalam satu batang bambu. Untuk memastikan nada sebenarnya, peneliti mengukur bunyi Saluang Pauah satu per satu memakai aplikasi Soundcorset di ponsel, dan mendapati urutan nada mendekati E-Gis-Ais-C-Cis-Dis-F dengan interval 2-1-1 setengah-1-1.
Dendang yang menyertai saluang ini didefinisikan sebagai musik vokal tradisional, liriknya biasa menceritakan kisah dan pengalaman lewat melodi yang sederhana. Penelitian ini membaca elemen musikalnya lewat tiga rujukan teori, dari Hugh M Miler, C. Simanjuntak, sampai De With H. Parker, yang dipakai untuk membedah bagaimana melodi, ritme, dan harmoni saling berkaitan dalam satu pertunjukan yang sama.
Ritme, Melodi, dan Elemen Lain yang Membentuk Silaing Padangpanjang
Pada lagu Silaing Padangpanjang, ritme tiap babak punya kecenderungan not berbeda: Himbauan Pado-Pado didominasi not seperempat, seperenambelas, dan seperdelapan, sementara Pakok Anam justru memakai lebih banyak not sepertigapuluhdua yang jauh lebih pendek. Melodinya sendiri dihitung dalam ketukan tiga perempat, berulang-ulang dengan motif dan not yang berbeda tiap babak, umumnya dimulai dari nada rendah lalu naik.
“Ritme dalam pertunjukan Saluang Pauah terbilang kompleks, dengan variasi yang dinamis antara tempo cepat dan lambat.” tulis Vanesa Safina, Nursyirwan, Irwan, Wilman In, dan Emridawati dalam naskahnya, sembari mencatat bahwa variasi itulah yang menciptakan suasana beragam, dari ceria sampai melankolis, tergantung isi lirik yang sedang dibawakan pendendang saat itu.
Baca juga Salawaik Dulang Malalo Hidup dari Tabuhan yang Sinkop
Sumber suara pertunjukan ini cuma satu jenis timbre, sebab hanya Saluang Pauah yang berbunyi sebagai alat tiup atau aerofon, tanpa instrumen lain yang menyela. Dinamikanya bergerak dari lembut ke keras mengikuti bagian lagu, sedangkan harmoni justru muncul bukan dari perpaduan instrumen, melainkan dari interaksi antara melodi saluang dan vokal pendendang, terekam jelas dalam partitur pakok limo sepanjang bar pertama sampai bar ke-299.
Teksturnya tergolong homofoni, satu melodi utama yang ditemani vokal pendukung, dengan tempo keseluruhan tercatat Allegro pada 120 ketukan per menit. Interaksi dengan penonton pun ikut membentuk jalannya lagu: tepuk tangan muncul di awal pertunjukan, sorakan pecah ketika penonton menghayati bagian tertentu, dan sebaliknya keheningan menjalar saat suasana meminta itu, memberi umpan balik langsung kepada dua pemain di panggung.
Naskah mencatat lagu Silaing Padangpanjang sebagai salah satu lagu terkenal dalam pertunjukan Saluang Pauah, menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau lewat lirik dan melodi yang khas. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, menurut naskah, adalah nilai yang perlu terus dilestarikan, sebab kesenian tradisional seperti ini sudah dipakai turun-temurun oleh masyarakat Pauh sejak dulu sampai sekarang untuk memeriahkan berbagai upacara adat dan keramaian nagari.
Baca juga Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi
Sebuah Angka yang Diulang Dua Kali dalam Naskahnya Sendiri
Penelitian ini bertumpu pada metode kualitatif deskriptif yang mengandalkan pengamatan dan wawancara di lingkup satu keluarga seniman saja di satu kecamatan, sehingga pembacaannya sulit digeneralisasi ke pertunjukan Saluang Pauah di wilayah lain. Nada yang diukur pun bersumber dari aplikasi tuner ponsel biasa, bukan alat akustik terkalibrasi, sehingga presisi angka nadanya punya batas yang wajar diakui.
Ada satu hal ganjil yang bisa diperiksa sendiri oleh siapa pun yang membuka naskah aslinya. Pada bagian analisis elemen musikal, penulis menomori uraiannya berurutan, dimulai dari 1. Ritme, lalu 2. Melodi, tetapi bagian sesudahnya yang membahas warna suara alat musik ikut diberi angka 2 lagi, menjadi 2. Timbre, sebelum penomoran melompat lanjut ke 3. Dinamika, 4. Harmoni, 5. Tekstur, 6. Tempo, dan 7. Interaksi dengan penonton. Dua elemen berbeda kebagian nomor yang sama, sesuatu yang mudah terlewat kecuali pembaca menghitungnya sendiri satu per satu dari awal daftar.
Malam itu di Kecamatan Pauh, saluang bambu tetap ditiup dan kaba tetap didendangkan, mengikuti urutan pado-pado, pakok anam, pakok limo, sampai lambok malam yang menutup semuanya menjelang subuh. Dua laki-laki yang duduk berdampingan sejak awal petang itu menuntaskan tugasnya masing-masing sampai bunyi terakhir mereda, saluang berhenti ditiup, dendang terakhir selesai dinyanyikan, dan penonton yang masih bertahan sampai dini hari pulang membawa cerita panjang yang baru saja mereka dengar dari kaba semalam suntuk itu.















