Wong Kalang dan Samin, Dua Tafsir Asal Usul Orang Bojonegoro

A A

Warga duduk berjajar di depan sajian tradisi Gumbregan masyarakat Samin di Margomulyo, Bojonegoro. [Foto: InfoPublik Komdigi/Wikimedia Commons (Domain Publik)]

  • Kata Kalang sudah tercatat dalam Prasasti Harinjing tahun 804 Masehi sebagai sebutan pemimpin golongan Kalang.
  • Uji karbon-14 pada tulang dari Situs Kawengan menafsirkan budaya kubur kalang di Bojonegoro berasal dari 1460 hingga 1620 Masehi.
  • Asumsi pertama melihat kemiripan cara hidup, rumah berpagar rumpun bambu, dan ajaran antara Wong Kalang dan orang Samin.
  • Ekskavasi Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan konsep religi dan penguburan kubur kalang sangat berbeda dengan masyarakat Samin.
  • Para peneliti menyebut tidak ada bukti nyata yang mengonfirmasi keterikatan keduanya karena sebutan Wong Kalang terputus.
Daftar Isi
  1. Kubur Batu Kawengan dan Rentang 1460–1620
  2. Nama Kalang yang Lebur Menjelang 1840
  3. Gerakan Samin Surosentiko 1890–1914
  4. Kemiripan Wong Kalang dan Samin hingga Rumpun Bambu 1980-an
  5. Ekskavasi Balai Arkeologi Yogyakarta 1980-an Berkata Lain
  6. Dari Uji Karbon 2003 ke Tinjauan Historis 2021

Cekricek.id — Kata Kalang sudah tercatat dalam Prasasti Harinjing tahun 804 Masehi, berabad-abad sebelum Wong Kalang dan Samin disandingkan sebagai cikal bakal warga lokal Bojonegoro. Prasasti yang ditemukan di perkebunan Sukabumi, Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kediri, itu memuat sebutan Tuha Kalang, yang diterjemahkan sebagai pemimpin golongan Kalang bernama Daman Wanua, kemungkinan tukang kayu atau pembuat bangunan.

Pada tahun 1358, Piagam Tambang yang dikeluarkan Raja Hayam Wuruk mengisahkan golongan Kalang memiliki peranan dan kedudukan penting dalam kerajaan. Kitab Negarakartagama menyebut Atuha Kalang, orang yang diserahi tugas mengelola hutan, sementara dalam bahasa Jawa Kuno kata itu merujuk pada batas atau lingkaran. Para ahli kemudian menyebut Kalang sebagai golongan masyarakat dengan profesi khusus sebagai tukang kayu dan juru angkut di hutan.

Samin datang dari zaman yang jauh lebih muda. Ajaran Saminisme mulai disebarkan Samin Surosentiko pada tahun 1890 dari Randubelatung, Blora Selatan, hingga ke Madiun, Kudus, Pati, Rembang, Grobogan, dan Bojonegoro. Di Bojonegoro, komunitas itu masih bertahan di era modern, terutama di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, sedangkan Wong Kalang hanya menyisakan tinggalan arkeologi berupa kubur batu di perbukitan dan hutan.

Jarak zaman itulah yang menjadi titik tolak Ita Fajar April Liani dan Firza Azzam Fadilla dari Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Jember, bersama Agus Danugroho dari Program Studi Ketahanan Nasional Universitas Gadjah Mada. Tulisan mereka, Asal Muasal Wong Jonegoro: Tinjauan Historis Hubungan Wong Kalang dan Masyarakat Samin Bojonegoro, terbit di HISTORIA: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah volume 4 nomor 2 tahun 2021, halaman 131–142.

Ketiganya ingin membuktikan apakah Wong Kalang dan Samin Bojonegoro memang memiliki kesamaan. Mereka memakai metode sejarah yang terdiri atas heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sumber primernya berupa sumber kebendaan, yakni wadah kubur kalang peninggalan kebudayaan Wong Kalang di Bojonegoro, sedangkan sumber sekundernya berupa buku dan jurnal tentang kebudayaan Wong Kalang, masyarakat Samin, dan hubungan di antara keduanya.

Hasilnya bukan satu jawaban, melainkan dua asumsi yang saling berlawanan. Asumsi pertama menyatakan ada keterikatan di antara keduanya berdasarkan budaya, ajaran, tingkah laku, dan karakteristik tempat tinggal, sedangkan asumsi kedua menyatakan tidak ada hubungan karena sistem religi pemakamannya berbeda. “Meskipun demikian semua asumsi dilandasi dengan bukti dan argumen masing-masing,” tulis Liani, Fadilla, dan Danugroho dalam simpulan paper tersebut.

Kubur Batu Kawengan dan Rentang 1460–1620

Jejak Wong Kalang di Bojonegoro terutama berupa kubur batu. Menurut paper, makam Kalang di Bojonegoro paling banyak terdapat di Kawengan dengan sistem berkelompok, empat sampai delapan makam di setiap lokasi, dan hampir seluruhnya berada di dataran tinggi seperti perbukitan dan hutan. Temuan di kubur Kalang Kawengan, Kecamatan Kedewan, meliputi senjata besi, fragmen gerabah, cincin emas, serta manik-manik dari emas, kaca, dan batu.

Di Kubur Kalang Malo ditemukan fragmen rangka manusia, fragmen gerabah, fragmen wadah perunggu, pisau besi, mata tombak besi, dan manik-manik kaca. Penggalian Balai Arkeologi Yogyakarta di Situs Gunung Mas, Kecamatan Kasiman, pada 1989 dan 1990 menemukan fragmen rangka manusia, fragmen alat besi, mata sabit, gelang perunggu, dan manik-manik batu. Dari temuan itu, paper menyimpulkan Wong Kalang Bojonegoro sudah memasuki zaman perunggu dan zaman besi.

Baca juga Gua Umang Karo: Rumah Makhluk Halus atau Kubur Batu?

Penanggalan paling tegas datang dari Retno Handini, yang menguji fragmen tulang panjang manusia dari Kotak 18 Situs Kawengan dengan metode karbon-14. Tulang dipilih karena merujuk langsung pada kematian individu pendukung budaya kubur peti batu. Hasilnya 410 ± 80 BP, dihitung hingga 1950, sehingga budaya kubur kalang di Bojonegoro ditafsirkan diciptakan masyarakat pendukungnya antara tahun 1460 dan 1620 Masehi.

Dengan penanggalan itu, paper menafsirkan Wong Kalang Bojonegoro hidup pada zaman sejarah tetapi masih melanjutkan tradisi megalitik, dengan kubur batu sebagai buktinya. Hasil penggalian Gunung Mas juga disebut menunjukkan manusia Kalang Bojonegoro diperkirakan lebih tua dibanding manusia Kalang di Pekalongan, Tegal, dan Semarang. Di bagian lain naskah, rentang yang sama ditulis 1420 hingga 1620 Masehi dan disebut sebagai periode akhir Majapahit.

Nama Kalang yang Lebur Menjelang 1840

Sebelum Wong Kalang dan Samin dapat dibandingkan, asal muasal Wong Kalang sendiri belum terang. Para ahli sejarah dan antropologi, tulis paper, belum mendapat titik terang soal asal muasal mereka. Dari beberapa catatan, manusia Kalang hidup di gugusan Kendeng Utara, Kendeng Tengah, dan Kendeng Selatan, dan disebut demikian oleh berbagai masyarakat di Jawa karena hidup terisolasi di hutan. Paper juga mencatat pendapat bahwa orang Kalang adalah masyarakat pribumi sangat tua yang digolongkan ke dalam kasta Sudra.

Pendapat lain dalam paper menyebut orang Kalang berada di luar kasta agama Hindu sehingga dijauhi dan disisihkan, bahkan dicap berbahaya dan dianggap mengidap penyakit menular seperti kusta, yang disebut menjadi sebab mereka diasingkan ke hutan. Meski dikeluarkan dari kasta, orang Kalang mempunyai tingkatan sendiri. Golongan bawah menebang kayu, beternak, dan mencari pasokan makanan, sedangkan golongan atas bebas memilih pekerjaan seperti membuat kerajinan, menenun, atau bertukang.

Cerita-cerita miring itu, menurut paper, membuat keturunan Wong Kalang di Bojonegoro kini sulit ditelusuri. Beredar cerita bahwa orang Kalang keturunan anjing dan berekor, yang mungkin membuat keturunannya tidak berani menunjukkan diri lalu menghilangkan identitasnya. “Tak ada seorang pun yang mengaku keturunan orang Kalang,” tulis para peneliti. Keadaan berbeda di Cilacap, Adipala, dan Yogyakarta, tempat keturunan Kalang berani mengaku secara terbuka, bahkan dengan semacam kebanggaan.

Paper menempatkan titik baliknya pada Raden Surowijoyo atau Samin Sepuh, putra R.M. Adipati Brotodiningrat yang menjabat Bupati Sumoroto pada 1802–1826. Surowijoyo pindah ke Plosokediren, Randublatung, Blora, sekitar tahun 1840 untuk menghimpun orang pedesaan. Menurut paper, wilayah itu dihuni keturunan orang Kalang yang sudah berbaur dengan masyarakat umum sehingga tak ada lagi yang merasa sebagai Wong Kalang, dan setelah menjadi pengikut Samin mereka lebih bangga disebut wong Samin.

Gerakan Samin Surosentiko 1890–1914

Komunitas Samin menjadikan ajaran Surosentiko, tokoh yang dianggap Ratu Adil, sebagai identitas kolektifnya. Mereka menyebut diri Wong Sikep atau Sedulur Sikep, dengan sikap lugu dan mligi, yakni sederhana, tidak berbasa-basi, dan apa adanya. Paper mencatat, hingga Januari 1903 pengikut ajaran Samin Surosentiko telah mencapai 772 orang yang tersebar di desa-desa sekitar Blora Selatan hingga Kecamatan Margomulyo di Bojonegoro.

Baca juga Kisah Surontiko Samin: Pemimpin Saminisme yang Menentang Pemerintah Hindia Belanda

Gerakan itu, menurut paper, menggerakkan masyarakat menentang kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda antara 1890 dan 1903 tanpa kekerasan fisik. Di Desa Tapelan, Bojonegoro, sudah ada pengikut Samin sejak 1890. Pada 1912 mereka menyewa tanah milik pemerintah kolonial, tetapi pada 1914 menolak membayar pajak sewanya dengan alasan tanah itu sebenarnya milik penggarap dan pemerintah kolonial sama sekali tidak memiliki hak atasnya.

Penolakan juga menyasar kewajiban desa seperti jaga malam, dengan alasan mereka harus menjaga anak dan istri pada malam hari. Penutupan hutan jati oleh pemerintah kolonial ikut memicu perlawanan, sebab hutan di sekitar permukiman dianggap warisan leluhur. Sikap itu tertuang dalam ajaran “lemah pada duwe, banyu pada duwe”, yang dimaknai bahwa tanah, hutan, sumber air, dan alam semesta adalah milik semua manusia.

Kemiripan Wong Kalang dan Samin hingga Rumpun Bambu 1980-an

Asumsi pertama tentang Wong Kalang dan Samin bertumpu pada kemiripan cara hidup. Keduanya disebut hidup di pedesaan tepi hutan, bahkan di pedalaman hutan dan pegunungan, sangat mengandalkan alam, dan hidup berkelompok dengan memelihara anjing sebagai teman berburu. Paper mencatat orang Samin di Bojonegoro, Blora, Kudus, dan Pati sampai sekarang masih banyak yang memelihara anjing, sementara hewan peliharaan orang Kalang Bojonegoro juga mencakup kerbau, lembu, dan kambing.

Ilustrasi batang pohon jati muda rapat di hutan tepi jalan Grobogan menuju Solo
Ilustrasi hutan jati muda di tepi jalan antara Grobogan dan Solo, Jawa Tengah. [Foto: Heru P/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)]

Jejak itu juga dibaca pada nama tempat. Di Desa Kawengan ada hamparan tanah bernama Jatikandang yang dipercaya masyarakat sebagai bekas kandang kerbau orang Kalang, sedangkan di Desa Sekaran, Kecamatan Kasiman, ada kubangan kerbau bernama sendang guyang Kebo. Sawah Genengan yang kini menjadi tanah kas Desa Kawengan diasumsikan dulunya milik orang-orang Kalang. Peta geografis Kabupaten Bojonegoro dalam paper menandai masyarakat Samin di wilayah Margomulyo dan tinggalan makam Kalang di wilayah Kawengan.

Kemiripan lain ada pada rumah. Bangunan rumah orang Kalang dipagari tinggi sehingga tidak kelihatan dari luar, atau dikalangi, berbeda dengan kebanyakan orang Jawa yang suka menunjukkan kemewahan. Hingga 1980-an, desa-desa di Bojonegoro masih memiliki banyak rumah yang dikelilingi rumpun bambu sebagai pagar, dan permukiman semacam itu dikenal sebagai permukiman orang Samin. Para peneliti menyebut struktur bangunan itu masih dipegang teguh meski sudah tersentuh modernisasi.

Kesamaan juga dibaca pada ajaran. Paper menyandingkan Endriya Pra Astha, pegangan hidup orang Kanung yang disebut nenek moyang Wong Kalang, dengan ajaran Ki Samin Surowijoyo yang diteruskan putranya, Samin Surosentiko. Isinya antara lain giat bekerja tanpa iri hati, hormat kepada kedua orang tua, rukun dengan tetangga, dan musyawarah untuk membangun desa. Ajaran Samin tentang guyub rukun, gotong royong, sabar, tidak berbohong, dan menjaga alam disebut sebagai kesamaan sikap Wong Kalang dan Samin.

Baca juga Udeng Obor Sewu dari Sedulur Sikep ke Kantor Bupati

Gotong royong bahkan dibaca dari kubur batu. Menurut paper, satu lempeng batu kubur Wong Kalang tidak kuat diangkat empat orang, padahal satu makam membutuhkan enam lempeng batu utuh, meski ada juga lempeng yang harus disambung. Batu itu diambil dari tempat yang jauh dan harus dibawa naik karena semua makam berada di perbukitan, sesuatu yang menurut para peneliti tidak mungkin terjadi tanpa sikap gotong royong yang kuat.

Ekskavasi Balai Arkeologi Yogyakarta 1980-an Berkata Lain

Asumsi kedua, yang memisahkan Wong Kalang dan Samin, berangkat dari penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta. Pada 1980-an, lembaga itu mengekskavasi kubur batu di wilayah Bojonegoro dan meneliti konstruksi bangunan, konsep religi yang mendasarinya, serta teknik penguburannya. Kajian arkeologi dengan teori etnografi itu juga menelaah religi, kematian, dan tata cara penguburan komunitas yang masih hidup dan diduga berkaitan dengan kubur kalang, yakni orang Samin di hutan jati Bojonegoro, Tuban, dan Blora.

Hasilnya berbeda dari dugaan. Konsep religi kematian dan proses penguburan pada kubur kalang dinilai sangat berbeda dengan yang terjadi pada masyarakat Samin, sehingga menurut kajian itu “tidak terdapat keterkaitan sama sekali antara kubur kalang dengan masyarakat samin yang masih hidup saat ini”. Kubur peti batu itu dipandang sebagai hasil budaya sekelompok masyarakat tertentu yang pernah hidup di sekitar lokasi kubur dan kini telah benar-benar hilang.

Liani dan kawan-kawan menyatakan telah melakukan observasi pada tinggalan Wong Kalang dan Samin di Bojonegoro, dan menemukan bukti pendukung berupa budaya yang mirip, seperti rumah berpagar rumpun bambu. Namun, mereka juga menemukan sanggahan pada rentang tahun dan jarak. “Namun belum ada bukti yang meyakinkan hal tersebut mengingat orang kalang dan samin hidup dengan selisih tahun yang sangat jauh,” tulis mereka. Makam Wong Kalang pun ditemukan jauh dari sebaran masyarakat Samin.

Dari Uji Karbon 2003 ke Tinjauan Historis 2021

Keterbatasan bahan tentang Wong Kalang dan Samin diakui dalam naskah. Paper menyebut sangat minim sumber yang menguatkan dugaan Wong Kalang Bojonegoro hidup sebelum masa prasejarah, karena kebanyakan penelitian hanya berfokus pada orang Kalang di Pegunungan Kapur Selatan, sedangkan Pegunungan Kapur Utara belum banyak diteliti. Prasasti pertama yang ditemukan menyebut kata Kalang pun berasal dari Desa Tegalsari, Magelang, bukan Bojonegoro. Naskah juga tidak merinci waktu, lokasi, maupun narasumber observasi lapangan para peneliti.

Di antara dua asumsi tentang Wong Kalang dan Samin itu, para peneliti menawarkan jalan tengah. Mereka mengasumsikan kebudayaan dapat diturunkan dari generasi ke generasi, dan keturunan Wong Kalang menyebar ke berbagai daerah membawa kebudayaannya sambil menghapus nama Kalang karena cerita-cerita miring tadi. “Sebaran keturunan Wong Kalang dan pemutusan rantai generasi sebutan Wong Kalang di Bojonegoro menyebabkan tidak adanya bukti nyata dalam mengkonfirmasi keterikatan antara keduanya,” tulis mereka.

Pegangan terakhir mereka adalah urutan waktu, yakni Wong Kalang lebih dahulu ada di tanah Bojonegoro dibanding masyarakat Samin. Simpulan paper menyebut Wong Kalang dan Samin sama-sama cikal bakal masyarakat Bojonegoro, sementara keterikatan keduanya dapat dinilai secara pribadi berdasarkan bukti dan landasan masing-masing. Tinjauan tahun 2021 ini berdiri sesudah uji karbon-14 atas tulang dari Kotak 18 Kawengan, dengan Pegunungan Kapur Utara yang oleh penulisnya disebut belum banyak diteliti.

Bagikan

Baca Juga

Suku Sakai di Mandau, Sudah Sampai Kampus tapi Belum Sejahtera
Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia
Dukun Pandita Tengger dan Tiga Ujian di Gunung Bromo
Carok Madura, dari Tanah Kapur sampai Pemilihan Kepala Desa
Hawar Daun Padi Ditahan Bakteri dari Laut Pasir Bromo
Larangan Bermain di Sungai Brantas yang Dilukis Ulang