Larangan Bermain di Sungai Brantas yang Dilukis Ulang

A A

Ilustrasi aliran sungai berimbun pepohonan, latar larangan bermain di Sungai Brantas. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Di sebuah kanvas berukuran 110 kali 80 sentimeter, seorang anak duduk di atas rakit bambu. Airnya deras, warnanya cerah, suasananya riang.

Namun di balik rimbun dedaunan ada buaya yang mengintip. Seekor ular melingkar di antara daun, dan bintang-bintang kecil bertaburan seperti dalam mimpi.

Lukisan itu berjudul Bermain di Sungai Brantas. Yang dilukiskannya bukan sekadar pemandangan, melainkan sebuah larangan yang sudah diucapkan turun-temurun di sana.

Larangan itu berbunyi anak kecil jangan bermain di Sungai Brantas, nanti bisa hilang. Kalimat pendek itulah yang dijadikan bahan penelitian sekaligus bahan lukisan.

Penelitinya Ari Kurniawan, Yayan Suherlan, dan Achmad Nur Kholis. Ketiganya dari Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Laporannya berjudul Exploring Gugon Tuhon Meaning in Playing in the Brantas River as Life Wisdom in Tulungagung.

Artikel itu dimuat jurnal Ekspresi Seni Volume 27 Nomor 1, edisi Januari sampai Juni 2025, halaman 130 sampai 147. Penerbitnya ISI Padangpanjang.

Naskahnya diterima pada 11 Desember 2024, direvisi 15 April 2025, dan disetujui delapan hari sesudahnya. Metodenya deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.

Datanya dikumpulkan lewat wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil wawancara dan observasi dibandingkan silang lewat triangulasi sumber.

Pendekatan fenomenologi dipilih untuk menggali makna di balik simbol budayanya. Peneliti ingin tahu bagaimana nilai itu dipahami dan diwariskan sehari-hari.

Daftar Isi
  1. Kalimat yang Diucapkan Ibu-Ibu di Tepi Brantas
  2. Tiga Jenis Larangan dalam Satu Tradisi
  3. Naskah 1911 dan Lembah yang Dikelilingi Gunung
  4. Dari Ban Karet Menjadi Rakit Bambu
  5. Ceria di Permukaan, Bahaya di Baliknya
  6. Batas Kajian dan Satu Kanvas

Kalimat yang Diucapkan Ibu-Ibu di Tepi Brantas

Petuah semacam itu dalam budaya Jawa disebut gugon tuhon. Padanannya dalam bahasa Indonesia kira-kira pamali, yakni pantangan yang bertujuan mencegah hal buruk terjadi.

Asal katanya sudah menjelaskan banyak hal. Gugon berasal dari kata gugu yang berarti dipercaya, sedangkan tuhon dari tuhu yang berarti benar atau sungguh-sungguh.

Peneliti mencatat dua versi kalimatnya dari dua narasumber yang berbeda. Keduanya perempuan warga Tulungagung, dan diwawancarai pada waktu yang berlainan.

Menurut keterangan Ibu Suliyah kepada peneliti pada 19 September 2024, bunyinya bocah cilik aja dolanan Kali Brantas, mundhak banyune amber.

Artinya anak kecil jangan bermain di Sungai Brantas karena airnya banjir dan keruh. Peringatannya menyasar keadaan airnya, bukan makhluk apa pun di dalamnya.

Versi kedua datang dari Ibu Musir dalam wawancara pada 7 Desember 2024. Bunyinya bocah cilik aja sok dolanan menyang kali Brantas, mengko iso ilang.

Kalimat kedua itu jauh lebih menakutkan bagi telinga anak-anak. Ancamannya bukan lagi air keruh dan banjir, melainkan hilang begitu saja.

Baca juga Air Garam dan Mantra Sakit Perut dari Desa Jomboran

Tiga Jenis Larangan dalam Satu Tradisi

Gugon tuhon ternyata tidak seragam bentuknya. Peneliti membaginya menjadi tiga kategori yang berbeda tujuan sekaligus berbeda cara kerjanya.

Jenis pertama disebut gugon tuhon salugu. Isinya pedoman yang harus dipercaya, dan seluruhnya berkaitan dengan hubungan antara orang tua dan anak.

Jenis kedua bernama gugon tuhon kang isi pitutur sinandi. Nasihat moralnya sengaja disembunyikan di balik larangan bernada ora ilok, yang berarti tidak pantas.

Jenis ketiga adalah gugon tuhon kang kalebu pepali utawa wewaler. Larangan ini tidak boleh dilanggar sama sekali dan sudah disertai sanksi yang jelas.

Larangan bermain di Sungai Brantas masuk kategori pertama. Ia lahir dari hubungan paling dekat, yaitu orang tua yang mengkhawatirkan anaknya.

Menurut peneliti, fungsi utama gugon tuhon memang dua hal. Yakni memberi nasihat sekaligus mengawasi perilaku seseorang sejak masih kanak-kanak.

Menurut peneliti, larangan itu tidak hanya menghindarkan anak dari arus sungai yang deras. Ia juga melindungi dari binatang buas atau berbisa di sekitarnya.

Yang disebut peneliti antara lain ular, biawak, dan buaya. Ditambah tanaman berbahaya di tepiannya yang bisa menimbulkan iritasi maupun cedera.

Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Peneliti mengutip laporan tentang seorang remaja berusia tiga belas tahun yang tenggelam saat bermain di aliran Brantas.

Kejadiannya di Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Peristiwa serupa yang berulang sejak dulu itulah yang menurut peneliti melahirkan petuah tersebut.

Naskah 1911 dan Lembah yang Dikelilingi Gunung

Selain wawancara, peneliti menelusuri sumber tertulisnya. Rujukan utamanya Serat Gugon Tuhon karya Raden Prawira Winarsa.

Naskah itu pertama kali terbit di Yogyakarta pada tahun 1911. Aslinya ditulis dalam aksara Jawa dan kemudian dialihaksarakan oleh sebuah yayasan sastra.

Versi digitalnya kini tersimpan di Perpustakaan Nasional dengan kode koleksi NB 689. Naskah itulah yang menjadi pijakan pustaka utama dalam penelitian ini.

Peneliti juga menjelaskan mengapa Brantas di Tulungagung dianggap berbahaya. Wilayah itu berupa lembah rendah yang dikelilingi pegunungan.

Pembentukan lembahnya dipengaruhi pengangkatan Bukit Kapur Selatan dari dasar laut. Proses geologis itu membuat pola aliran sungainya tampak tidak biasa.

Tulungagung sendiri menyimpan warisan yang jauh lebih tua. Wilayah itu pernah menjadi bagian Kerajaan Majapahit dan meninggalkan sejumlah bangunan Hindu-Buddha.

Peneliti menyebut Arca Prajnaparamitha dan Candi Gayatri. Ditambah Candi Sanggrahan, Candi Dadi, Candi Mirigambar, dan Candi Penampihan.

Selain warisan berupa bangunan, daerah itu kaya budaya tak benda. Cerita rakyat, tradisi, adat istiadat, dan petuah lisan seperti gugon tuhon termasuk di dalamnya.

Baca juga Kesurupan Gen Z di Terbang Buhun Majalaya

Dari Ban Karet Menjadi Rakit Bambu

Bagian paling menarik dari kajian ini justru proses melukisnya. Peneliti mencatat tahapannya satu per satu, termasuk yang berubah di tengah jalan.

Konsep dan sketsanya disusun lebih dulu dari data penelitian yang terkumpul. Sesudah itu barulah dipindahkan ke kanvas dengan bantuan garis berskala.

Pemindahan sketsanya memakai goresan tipis pensil warna. Alasannya sederhana, yakni agar garisnya tidak terlihat dan mudah hilang bila terkena air.

Konsep itu lalu dikonsultasikan dan mengalami satu revisi penting. Elemen ban karet diganti menjadi rakit bambu.

Alasannya menyangkut keselarasan dengan budaya setempat. Rakit dinilai memberi kesan otentik dan tidak terkesan modern atau dibuat-buat.

Pewarnaannya dikerjakan berlapis dari belakang ke depan. Dimulai dari langit dan pepohonan, lalu bunga, aliran sungai, rakit, rumput, bebatuan, dan hewan.

Objek utamanya justru dikerjakan paling belakangan. Cara itu dipilih agar warna dan detail pada tiap elemen tetap konsisten sampai akhir.

Seluruh pengerjaannya memakan waktu kurang lebih satu bulan. Angka itu sudah termasuk penggalian data dan penelusuran makna simbolis tiap elemennya.

Gaya visualnya terinspirasi seni pop surealisme dan ilustrasi kartun. Proporsi tokohnya sengaja dibuat ekspresif untuk menonjolkan keceriaan anak-anak.

Medianya cat akrilik di atas kanvas berukuran 110 kali 80 sentimeter. Gaya lukisannya surealisme yang dipadukan dengan cara bertutur secara naratif.

Ceria di Permukaan, Bahaya di Baliknya

Hasil akhirnya sebuah adegan fantasi yang tampak gembira. Warna oranye, hijau, ungu, dan merah muda mendominasi hampir seluruh bidang kanvasnya.

Namun keceriaan itu disusun bersama unsur yang mengancam. Buaya digambarkan ramah tetapi tetap menyimpan aura misterius.

Teknik gelap-terangnya dipakai untuk memperkuat kesan itu. Kontras antara bagian cerah dan bagian gelap menghadirkan risiko di balik keriangan.

Tokoh utamanya seorang anak yang memegang pistol mainan air. Ia digambarkan berinteraksi dengan lingkungan sungai, bukan sekadar berpose di depannya.

Menurut peneliti, lukisan itu menghadirkan dualitas yang disengaja. Bermain terasa menyenangkan dan berbahaya pada saat yang bersamaan.

Kehadiran buaya dan ular juga punya alasan lain. Keduanya mengingatkan pada tokoh binatang dalam fabel, yang lazim dipakai menanamkan pendidikan karakter.

Menurut peneliti, larangan semacam ini sebenarnya menyiapkan anak memasuki kehidupan bermasyarakat. Ia memberi pedoman etika sekaligus melatih kecerdasan sosialnya sejak dini.

Peneliti menempatkan seni lukis sebagai jembatan di antara keduanya. Kearifan lokal yang mulai ditinggalkan dipertemukan dengan estetika visual yang masih relevan hari ini.

Ketika anak beranjak dewasa dan nalarnya matang, petuah itu akhirnya diterima. Ia lalu diteruskan sendiri kepada generasi sesudahnya.

Baca juga Pematang Sawah dan Tibu Palakan dalam Lontar Enggung

Batas Kajian dan Satu Kanvas

Kajian ini punya batas yang jelas dan sebaiknya dibaca bersama temuannya. Yang diteliti satu petuah, dari satu kabupaten, dan diwujudkan dalam satu kanvas.

Narasumber yang dikutipnya pun terbatas pada dua orang. Ragam gugon tuhon lain yang hidup di Tulungagung belum terdokumentasi dalam laporan ini.

Peneliti juga tidak mengukur dampaknya pada anak-anak. Klaim bahwa lukisan itu efektif sebagai media edukasi belum diuji pada penonton sasarannya.

Kesimpulannya karena itu bersandar pada pembacaan atas karya, bukan pada pengukuran. Peneliti menilai lukisan tersebut efektif sebagai media komunikasi visual.

Yang ditawarkan kajian ini lebih pada jalan keluarnya. Petuah lisan yang mulai ditinggalkan dicoba dipindahkan ke medium yang masih dilihat oleh anak muda.

Peneliti sendiri berharap kajian ini menambah literasi tentang ragam gugon tuhon di Tulungagung. Sekaligus menguji cara mengemasnya lewat seni lukis.

Yang tersisa satu pertanyaan yang tidak dijawab kanvas itu. Kalau larangan lisan sudah harus dilukis agar didengar, siapa yang masih mengucapkannya di rumah?

Bagikan

Baca Juga

Permukaan tanah kering yang merekah membentuk pola retakan
Tiga Puluh Tahun Kekeringan Ekstrem Indonesia dalam Satu Peta
Hamparan sawah hijau berlatar pohon kelapa di bawah langit berawan
Pagang Gadai Pusako Tinggi yang Bertahan di Tengah Pasar
Buah naga berkulit merah muda tersusun rapi dalam wadah dagangan
Buah Naga Merah Direndam Air Panas 50 Derajat 15 Menit
Hamparan tumbuhan eceng gondok berbunga ungu di permukaan air
Pertanian Terapung Daha Selatan, Fosfornya Bertahan Empat Tahun
Sekelompok anak duduk semeja menyantap makanan di kantin sekolah
Harapan Orang Tua pada Program MBG dari 63 Kota di Indonesia
Tangan seseorang memetik buah kopi merah matang dari ranting
Kopi Gayo Bersertifikat, Untung Lebih Besar tapi Kurang Efisien