Cekricek.id — Pada pertengahan 2024, ketika dapur-dapur umum program makan bergizi gratis belum satu pun berdiri, sebuah tautan kuesioner beredar di antara orang tua murid.
Isinya satu pertanyaan terbuka yang pendek saja, tanpa pilihan jawaban. Apa yang Anda harapkan dari program makan bergizi gratis itu nanti?
Selama satu bulan, 1.014 orang tua menjawabnya. Mereka mengetik harapan, kekhawatiran, dan syarat masing-masing di kolom yang disediakan.
Jawaban itu kemudian dipilah, dikodekan, dan dikelompokkan menjadi tema. Hasilnya memperlihatkan bahwa yang diminta orang tua bukan sekadar piring yang terisi.
Penelitinya Rathma Inna Soma dan Tomohiro Uchiyama. Keduanya dari Departemen Manajemen Agribisnis, Tokyo University of Agriculture, Jepang.
Laporannya berjudul Parents’ Expectations on the Emerging Free Nutritious Meal Program in Indonesia. Naskahnya ditulis dalam bahasa Inggris.
Artikel itu dimuat Jurnal Gizi dan Pangan Volume 21 Nomor 2 terbitan Juli 2026, halaman 119 sampai 126. Penerbitnya IPB University.
Survei daringnya berlangsung 25 Juni sampai 25 Juli 2024. Kuesionernya disebar lewat Google Forms kepada orang tua murid di berbagai daerah.
Respondennya tersebar di 63 kota di seluruh Indonesia. Anak mereka berumur empat sampai delapan belas tahun, dari taman kanak-kanak sampai kelas dua belas.
Sebarannya tidak merata dan peneliti mengakuinya. Jawa Barat menyumbang 670 responden, disusul Bali dengan 81 orang dan Jawa Timur dengan 38 orang.
Sebagian besar anak responden duduk di sekolah dasar, yaitu 731 orang atau 72,1 persen. Anak taman kanak-kanak 154 orang, sekolah menengah pertama 75, dan menengah atas 54.
Sekolah negeri mendominasi dengan 562 anak atau 55,4 persen. Sisanya sekolah swasta 214 anak, madrasah negeri 152 anak, dan sekolah swasta Islam 86 anak.
Jawaban terbuka itu dianalisis dengan metode tematik induktif enam tahap. Pengodean dilakukan secara sistematis dengan bantuan lembar kerja.
Tahapannya dimulai dari pembacaan berulang seluruh jawaban sampai peneliti akrab dengan isinya. Sesudah itu barulah kode awal disusun dan disaring menjadi tema.
Identitas responden disamarkan dan diganti kode. Setiap kutipan dalam laporan hanya ditandai nomor responden dan nama kota asalnya.
Baca juga Kesehatan Jantung Meningkat dengan Makan Buah dan Sayur
Daftar Isi
Delapan Subtema dari Seribu Jawaban
Seluruh jawaban itu akhirnya mengerucut menjadi delapan subtema yang berbeda. Kedelapannya lalu dikelompokkan lagi ke dalam empat tema besar yang saling berkaitan.
Tema pertama menyangkut keberlanjutan program dan standar mutunya. Tema kedua soal pendidikan gizi dan dampak program pada tumbuh kembang anak.
Tema ketiga menyangkut pemerataan, keterjangkauan, dan pemakaian bahan pangan lokal. Tema keempat berbicara soal transparansi dan pertanggungjawaban dalam pengelolaan anggarannya.
Subtema terbesar justru bukan soal rasa atau menu. Sebanyak 198 jawaban menyoroti promosi kesehatan, pencegahan gizi buruk, dan pengembangan anak.
Di urutan berikutnya, 186 jawaban meminta program membangun kebiasaan makan sehat. Orang tua ingin anak belajar memilih makanan, bukan sekadar menerima jatah.
Sebanyak 182 jawaban menekankan pemerataan wilayah. Daerah tertinggal, terdepan, dan terluar diminta didahulukan tanpa menurunkan mutu makanannya.
Sebanyak 154 jawaban berbicara tentang kesinambungan program. Orang tua ingin program itu tetap berjalan meskipun pemerintahan berganti.
Sebanyak 133 jawaban menyinggung kepercayaan publik, transparansi, dan pengawasan. Kekhawatiran akan penyelewengan anggaran muncul berulang di kelompok ini.
Sebanyak 68 jawaban menuntut profesionalisme dan integritas pengelola. Sebanyak 49 jawaban menyoroti standar mutu, keamanan pangan, dan pelatihan juru masak.
Subtema terkecil, dengan 44 jawaban, meminta pemakaian bahan pangan lokal. Alasannya bukan gizi semata, melainkan agar ekonomi desa ikut terangkat.
Sebagian orang tua menyebut pelibatan warga setempat sebagai bagian dari harapan itu. Bagi mereka, program ini berpeluang membuka lapangan kerja, terutama di sektor pertanian.
Peneliti menautkan harapan tersebut dengan temuan kajian terdahulu. Pembelian bahan dari produsen lokal berpotensi memperkuat pendapatan petani di sekitar sekolah.
Yang Diminta Sebelum Dapur Pertama Berdiri
Yang perlu diingat, jawaban itu dikumpulkan pada pertengahan 2024. Program makan bergizi gratis baru dijalankan secara nasional pada Januari 2025.
Artinya orang tua menjawab berdasarkan gambaran di media, bukan pengalaman. Peneliti sendiri mencatat hal itu sebagai salah satu keterbatasan kajian.
Justru karena itu jawabannya menarik dibaca sekarang. Daftar permintaan orang tua bisa dipakai sebagai tolok ukur atas apa yang kemudian terjadi.
Menurut para peneliti, temuan itu menunjukkan orang tua tidak melihat program ini sebagai pembagian makanan semata. Mereka memandangnya sebagai sistem yang menuntut tata kelola.
Tiga syarat disebut berulang dalam jawaban mereka. Yakni tata kelola yang transparan, akses yang merata, dan pengawasan yang berjalan terus-menerus.
Orang tua juga menaruh perhatian pada dapur pusat. Pengawasan berkala atas kebersihan dan keamanan pangan di dapur diminta tidak hanya di awal.
Permintaan lain menyangkut keterbukaan dokumen program. Asal bahan pangan lokal diminta dicatat rapi dan dibuka kepada publik, bukan disimpan di laci dinas.
Laporan keuangan tahunan juga masuk daftar permintaan. Begitu pula survei kepuasan yang melibatkan siswa dan orang tua secara langsung.
Sebagian responden menyatakan mendukung gagasannya, tetapi tetap menyimpan keraguan. Kekhawatiran mereka bukan pada menunya, melainkan pada kemungkinan penyimpangan dalam pengelolaan dana.
Peneliti mencatat bahwa standar kebersihan yang ketat ikut menentukan kepercayaan publik. Tanpa itu, manfaat kesehatan yang dijanjikan program sulit benar-benar sampai.
Baca juga Sudah Punya Rekening, Belum Tentu Terlayani
Pendidikan Gizi yang Diminta Masuk Kurikulum
Satu permintaan muncul cukup kuat dan jarang terdengar dalam perdebatan publik. Orang tua ingin pendidikan pangan dan gizi diselipkan ke dalam kurikulum sekolah.
Alasannya sederhana dan berjangka panjang. Makanan gratis berhenti ketika anak lulus sekolah, sedangkan kebiasaan makan yang terbentuk akan terbawa sampai dewasa.
Sebagian orang tua menyebut program ini juga berguna bagi mereka sendiri. Menu yang disajikan di sekolah menjadi contoh untuk masakan di rumah.
Ada pula alasan yang lebih mendesak. Sebagian anak berangkat sekolah tanpa sarapan, dan bagi mereka satu porsi di sekolah berarti banyak.
Indonesia sendiri menghadapi beban gizi berlapis. Kekurangan gizi berdampingan dengan obesitas dan kekurangan zat gizi mikro yang sebarannya tidak merata.
Menurut para peneliti, orang tua adalah pengasuh utama yang membentuk pola makan anak. Karena itu pandangan mereka layak dijadikan bahan perancangan program.
Pelatihan berkelanjutan bagi penjamah pangan juga masuk rekomendasi. Begitu pula penilaian kinerja berkala bagi tenaga dapur pusat.
Permintaan itu bertaut dengan subtema mutu yang dikemukakan 49 responden. Juru masak dan tenaga dapur diminta terlatih dan bekerja dengan cara yang profesional.
Menurut para peneliti, program berkelanjutan menuntut tata kelola yang terpadu. Strategi pengadaannya harus sesuai konteks daerah dan selaras dengan sistem pasokan setempat.
Sebaran Responden yang Belum Mewakili
Kajian ini menyebut sendiri lima keterbatasannya. Yang pertama, jawabannya hanya berasal dari orang tua, sehingga rawan bias jawaban yang dianggap pantas.
Yang kedua, survei daring menuntut akses internet. Rumah tangga di pedesaan dan berpenghasilan rendah dengan sendirinya tersaring keluar.
Yang ketiga, analisis tematik atas jawaban tertulis tidak sekaya wawancara mendalam. Konteks di balik tiap jawaban tidak sempat digali.
Yang keempat, pengambilan sampelnya bersifat kemudahan dan menumpuk di Pulau Jawa. Hasilnya karena itu belum bisa disebut mewakili Indonesia.
Yang kelima, datanya dikumpulkan sebelum program berjalan. Harapan yang terekam belum diuji oleh pengalaman sehari-hari di sekolah.
Peneliti menyarankan kajian lanjutan menelusuri perubahan harapan itu. Bagaimana harapan orang tua bergeser seiring program berjalan, dan apa pengaruh mutu tata kelola di tiap daerah.
Baca juga Beras Analog Ubi Ungu, Dikukus Dulu agar Warnanya Tak Pudar
Daftar Permintaan yang Bisa Diuji
Dibaca hari ini, delapan subtema itu berfungsi seperti daftar periksa. Setiap butirnya bisa diadu dengan apa yang berjalan di lapangan sekarang.
Sebanyak 198 jawaban meminta dampak nyata pada kesehatan anak. Butir itu hanya bisa dijawab oleh pengukuran gizi, bukan oleh jumlah porsi yang dibagikan.
Sebanyak 182 jawaban meminta daerah tertinggal didahulukan. Butir itu bisa diperiksa dari peta sebaran dapur yang sudah beroperasi.
Sebanyak 133 dan 68 jawaban berbicara soal kepercayaan dan integritas. Keduanya menyangkut hal yang paling sulit dipulihkan begitu retak.
Menurut para peneliti, besarnya investasi negara pada program ini menuntut sistem pemantauan yang jelas. Mekanisme pelaporannya pun harus bisa diakses publik.
Sambutan orang tua pada program ini, tulis mereka, hangat tetapi berhati-hati. Dukungan diberikan, namun disertai syarat yang cukup panjang.
Yang tersisa adalah pertanyaan yang tidak dijawab kuesioner itu. Ketika daftar permintaan ini diadu dengan kenyataan dua tahun kemudian, berapa butir yang sudah terpenuhi?














