Cekricek.id — Badan Tenaga Atom Internasional menyatakan Iran tidak memberikan informasi mengenai bahan nuklir yang dideklarasikan dan inspektur tidak memperoleh akses ke lokasi.
Pernyataan itu disampaikan Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi kepada Dewan Gubernur, menurut laporan Euronews, Senin (07/09/2026).
Menurut IAEA, Iran tidak memenuhi kewajiban pengamanan berdasarkan Traktat Nonproliferasi Nuklir.
“Sebuah kesalahan menguji apa yang sudah pernah diuji,” kata Rafael Grossi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut laporan IAEA sebagai alat tekanan politik Barat.
Ia mengaitkan pembatasan akses inspektur dengan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur pengayaan Iran.
Baca juga keraguan Washington atas jalur perundingan nuklir
Baghaei juga memperingatkan Iran akan mengambil langkah balasan bila berkas nuklirnya dibawa ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pada saat yang sama, pembicaraan bilateral Iran dan Oman mengenai koridor transit sementara di Selat Hormuz mendekati rampung.
“Kami kini dapat mengatakan pembicaraan antara Iran dan Oman telah mencapai tahap akhir,” ujarnya.
Iran mengumumkan pembentukan zona larangan di luar Selat Hormuz.
Baca juga tekanan ekonomi yang membayangi Iran
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan konsekuensi bagi kapal yang melintas tanpa izin.
“Setiap kapal yang memasuki wilayah ini tanpa izin dan koordinasi Iran akan dicatat rinciannya, termasuk nama pemilik dan penyewanya, lalu dimasukkan ke daftar sanksi Iran,” katanya.
Baghaei memperingatkan Korea Selatan bahwa kehadiran militer negara lain di Teluk Persia akan dianggap sebagai dukungan langsung terhadap agresi.
Baca juga penguatan kekuatan laut di kawasan lain
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan Seoul berkomunikasi erat dengan komunitas internasional untuk memulihkan stabilitas.














