Cekricek.id — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan persatuan nasional saat mata uang rial jatuh ke rekor terendah dan Amerika Serikat memperketat blokade serta sanksi ekonomi.
Seruan itu disampaikan Pezeshkian di hadapan para pejabat pada Jumat. Al Jazeera memuat keterangannya sehari kemudian, Sabtu (05/09/2026).
“Lewat perang, blokade dan sanksi, musuh berusaha menciptakan perpecahan, keretakan dan kerusuhan di dalam negeri,” kata Pezeshkian.
Ia menilai persatuan bisa menetralkan upaya tersebut. Pemerintahnya juga menyatakan siap kembali ke nota kesepahaman Juni dengan Washington bila Amerika Serikat membalas langkah serupa.
Nilai tukar rial menembus 2,25 juta per dolar Amerika Serikat pada Sabtu. Angka itu menjadi yang terendah sepanjang sejarah mata uang Iran.
Baca juga AS Jatuhkan Sanksi ke Presiden Mahkamah Pidana Internasional
Inflasi menekan hampir seluruh rumah tangga. Pasokan energi menipis akibat penyelundupan bahan bakar dan infrastruktur minyak serta gas yang terus menua.
Pemerintah berencana melipatgandakan harga pada salah satu dari tiga jenjang kuota bensin. Kuota bulanan untuk kendaraan pribadi juga dipangkas.
Pezeshkian mengakui kebijakan itu berisiko. Ia menyebut kenaikan harga bahan bakar yang lebih luas akan memperburuk inflasi dan biaya logistik.
“Rakyat sekarang berada di tepi jurang; kalau saya menambah satu tekanan lagi, mereka bisa jatuh,” ujarnya dalam sebuah penampilan di televisi.
Baca juga Putin Terima Utusan Trump di Kremlin, Serangan ke Kyiv Dijeda
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut empat medan yang sedang dihadapi negaranya. Selain militer, diplomasi dan layanan ekonomi, ia menambahkan satu lagi.
“Medan keempat adalah jalanan, yakni bidang sosial,” kata Ghalibaf.
Washington bulan lalu mengumumkan paket sanksi yang mereka sebut Economic D-Day. Sasarannya seluruh jalur ekonomi yang menopang pemerintahan Iran dan Garda Revolusi.
Angkatan laut Amerika Serikat juga memberlakukan blokade yang menghambat ekspor minyak mentah Iran. Sebuah kapal tanker dibom di dekat Pulau Kharg pada Sabtu.
Baca juga AS Tolak Usulan Pejabat Israel Mengusir Warga Palestina dari Gaza
Kekhawatiran pemerintah bukan tanpa dasar. Kenaikan harga bahan bakar pada 2019 dan 2020 lebih dulu memicu gelombang unjuk rasa antipemerintah yang meluas.
Kepala Kepolisian Iran Ahmad-Reza Radan memerintahkan pemantauan terus-menerus terhadap potensi kerusuhan. Aparat menyebut unjuk rasa Januari lalu sebagai upaya kudeta yang didalangi asing.














