AS Tolak Usulan Pejabat Israel Mengusir Warga Palestina dari Gaza

A A

Warga Palestina berada di antara reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Kota Gaza, 17 Agustus 2026. [Foto: Jehad Alshrafi/AP via Al Jazeera]

Cekricek.id — Amerika Serikat menolak seruan sejumlah pejabat tinggi Israel agar warga Palestina dipindahkan dari Gaza, dan menegaskan tidak seorang pun boleh dipaksa meninggalkan wilayah itu.

Penolakan itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat lewat keterangan tertulis kepada Al Jazeera, Jumat (04/09/2026), ketika ditanya soal desakan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz yang menyebut pengosongan Gaza sebagai satu-satunya solusi.

Kementerian itu merujuk butir 12 rencana perdamaian 20 poin Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menyatakan tidak ada yang akan dipaksa meninggalkan Gaza, sedangkan yang ingin pergi bebas melakukannya dan bebas kembali.

Baca juga Empat Aktivis Palestine Action Ajukan Banding Vonis Terorisme

“Amerika Serikat tidak mendukung rencana atau usulan apa pun untuk pemindahan paksa, pengusiran, atau transfer wajib penduduk Gaza,” bunyi keterangan tersebut. Washington menambahkan setiap perpindahan harus benar-benar sukarela dan fokusnya tetap pada demiliterisasi, stabilisasi, serta pembangunan kembali Gaza bagi penduduknya.

Katz sebelumnya menyatakan Trump hanya membekukan, bukan membatalkan, dukungannya atas pemindahan warga Palestina. Organisasi hak asasi manusia menyebut gagasan semacam itu sebagai pembersihan etnis.

Baca juga Trump Ancam Serangan Lanjutan, Iran Bantah Klaim AS

“Pada akhirnya, tidak ada solusi nyata untuk Gaza tanpa migrasi ini,” kata Katz. Ia menyatakan pemerintahnya siap memindahkan warga Palestina lewat laut, udara, dan segala cara yang memungkinkan.

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyampaikan hal serupa sehari kemudian. “Alih-alih ilusi perdamaian sekarang, yang kita butuhkan adalah tindakan emigrasi sekarang,” ujarnya.

Negara-negara Arab, termasuk sekutu Amerika Serikat, menolak segala upaya pemindahan warga Palestina.

Baca juga Kongres AS Tolak Amandemen Pembatasan Jumlah Hakim Agung

Kepala program Palestina/Israel di Arab Center Washington DC, Yousef Munayyer, menilai kebuntuan berakar pada keyakinan bahwa hidup berdampingan tidak mungkin. “Mereka tidak ingin hidup bersama warga Palestina dalam bentuk apa pun,” katanya kepada Al Jazeera.

Munayyer memperingatkan hasrat pembersihan etnis itu tidak berhenti di Gaza, melainkan juga menyentuh Tepi Barat dan warga Palestina yang berkewarganegaraan Israel.

Trump pada 2025 sempat mengusulkan mengosongkan Gaza yang dihuni sekitar dua juta orang dan mengubahnya menjadi “Riviera Timur Tengah”, sebelum meninggalkan gagasan itu dan mengajukan rencana 20 poin. Gedung Putih belum memberi keterangan tambahan atas pernyataan para menteri Israel tersebut.

Bagikan

Baca Juga

Pemandangan udara bundaran padat kendaraan di San Jose, Kosta Rika
Presiden Kosta Rika Buka Peluang Operasi Militer AS di Negaranya
Suasana Alun-alun Kemerdekaan di Kyiv, Ukraina
Trump Kirim Witkoff dan Kushner ke Moskow serta Kyiv Akhir Pekan
Patung Benua Afrika berhias bendera negara-negara Afrika di Place du Souvenir Africain, Dakar
PBB Sahkan Peta Dunia Baru yang Menampilkan Ukuran Asli Afrika
Sejumlah orang membentangkan spanduk penghormatan untuk Ratko Mladic di sebuah jembatan layang di Beograd
Marta Kos Batalkan Kunjungan ke Serbia soal Penghormatan Mladic
Massa mengikuti demonstrasi menentang pelarangan Palestine Action di London
Empat Aktivis Palestine Action Ajukan Banding Vonis Terorisme
Bendera nasional Ukraina berkibar di atas kawasan pusat kota Kyiv
Baku Tembak Dua Badan Intelijen Ukraina Guncang Kyiv