Cekricek.id — Prancis menolak tuduhan Niger bahwa Paris ikut memicu pemberontakan tentara yang menyerbu pangkalan udara militer dan istana kepresidenan di Niamey, dan menyebut tuduhan itu khayalan belaka.
Bantahan disampaikan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot pada Sabtu, sepekan setelah serangan 29 Agustus dan sehari setelah dewan militer yang berkuasa di Niger bersidang untuk pertama kalinya sejak kerusuhan itu, menurut laporan Al Jazeera, Sabtu (05/09/2026).
“Tidak pernah ada niat, juga tidak ada sarana yang akan dikerahkan Prancis,” kata Barrot.
Baca juga Laporan Bocor soal Peran Maroko Guncang Pemerintah Spanyol
Juru bicara pemerintah Niger Soumana Boubacar menuding jaringan yang dipimpin Prancis berada di balik operasi tersebut. “Operasi ini, dengan cabang-cabang internasionalnya, digerakkan dan ditopang oleh jaringan persekongkolan luas yang dipimpin rezim Prancis Tuan Emmanuel Macron,” katanya.
“Unsur-unsur pengkhianat dan pembangkang, yang dijanjikan hal-hal besar, ditugasi menjalankan ambisi Macron dan kroni-kroninya yang tidak kesampaian di negeri kami,” ujar Boubacar.
Baca juga PBB Sahkan Peta Dunia Baru yang Menampilkan Ukuran Asli Afrika
Ia menambahkan upaya semacam itu tidak akan berhasil. “Manuver yang merongrong akan selalu gagal,” katanya.
Baca juga Marta Kos Batalkan Kunjungan ke Serbia soal Penghormatan Mladic
Laporan tersebut tidak memuat rincian jumlah korban serangan 29 Agustus maupun langkah lanjutan kedua pemerintah.














