Pernikahan Adat Dayak Kanayatn dan Tiga Belas Tumbuhannya

A A

Daun sirih, salah satu dari tiga belas tumbuhan yang dipakai dalam pernikahan adat Dayak Kanayatn. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Sebuah pernikahan adat kerap dibayangkan sebagai urusan manusia semata, soal dua keluarga yang bersepakat. Di Ambawang, urusannya lebih ramai daripada itu.

Yang hadir di sana bukan hanya kerabat dan tetangga. Ada daun, biji, buah, dan rimpang yang diletakkan dengan urutan tertentu, masing-masing membawa tugasnya sendiri.

Tumbuhan itu bukan hiasan meja. Ia bekerja sebagai sesaji, sebagai wadah, sebagai pewarna, dan sekali waktu sebagai jalan bagi roh untuk datang.

Sebuah kajian etnobotani mencatat kerja tumbuhan itu satu per satu. Hasilnya memperlihatkan bahwa adat dan tegakan tanaman di halaman rumah saling menopang.

Penelitinya Wolly Candramila, Siti Uswatun Hasanah, dan Syamswisna. Ketiganya dari Program Studi Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tanjungpura, Pontianak.

Laporannya berjudul The Ethnobotanical Study of Traditional Wedding Rituals among the Dayak Kanayatn Tribe. Naskah itu ditulis dalam bahasa Inggris.

Artikel tersebut dimuat Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Volume 31 Nomor 3 tahun 2026, halaman 440 sampai 445. Penerbitnya IPB University.

Lokasi kerja lapangannya di Desa Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Empat dusun disambangi, yaitu Tanah Kuning, Parit Sembilan, Kuala Ambawang, dan Medan Sri.

Pengumpulan datanya berlangsung Maret sampai Juli 2023. Metodenya menggabungkan wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan dokumentasi atas jalannya upacara.

Informannya lima belas orang, terdiri atas tujuh informan kunci dan delapan informan tambahan. Pemilihannya memakai teknik bola salju, dari satu nama ke nama berikutnya.

Informan kunci itu mencakup kepala desa, pemimpin adat, dan penyangahat atau pemimpin ritual. Empat kepala dusun ikut diwawancarai sebagai pemegang pengetahuan lokal.

Setiap tumbuhan yang disebut informan dikumpulkan spesimennya, lengkap dengan akar, batang, daun, dan buahnya. Bahan itu lalu diolah menjadi herbarium untuk diidentifikasi.

Identifikasinya dikerjakan di dua laboratorium Universitas Tanjungpura, yakni laboratorium pendidikan biologi dan laboratorium biologi. Rujukannya buku flora dan basis data tumbuhan dunia.

Baca juga Naskah Turang dan Larangan Kawin Semarga di Karo

Daftar Isi
  1. Lima Tahap Adat Gawe Panganten
  2. Tiga Belas Tumbuhan dan Tugasnya Masing-masing
  3. Sesaji yang Kini Diambil dari Halaman Rumah
  4. Sembilan Stabil, Tiga Menurun, Satu Berisiko
  5. Tumbuhan sebagai Perantara, Bukan Sekadar Bahan
  6. Yang Belum Terjawab dari Empat Dusun

Lima Tahap Adat Gawe Panganten

Rangkaian pernikahan Dayak Kanayatn di desa itu disebut adat gawe panganten. Rangkaian tersebut tersusun atas lima tahap yang berurutan dan tidak bisa dipertukarkan.

Tahap pertama makan pulut tunang, yaitu peminangan sekaligus penetapan tanggal pernikahan. Tahap kedua makan pulut rakeh, ritual persiapan lanjutan menjelang hari perhelatan.

Tahap ketiga ngelulus adat, upacara pernikahan adat itu sendiri. Di tahap inilah bagian terbesar sesaji disusun dan doa-doa dibacakan oleh pemimpin ritual.

Tahap keempat pembagian pirikng panganten, yakni pembagian persembahan upacara kepada kedua belah keluarga. Tahap kelima pituah, pemberian nasihat dan berkah bagi pasangan yang baru menikah.

Dari lima tahap itu, hanya tiga yang melibatkan tumbuhan. Dua tahap penutup berjalan tanpa bahan botani apa pun, hanya dengan tutur dan kesepakatan.

Sebaran pemakaiannya tidak merata. Ngelulus adat memakai seluruh tiga belas jenis, makan pulut tunang dua belas jenis, dan makan pulut rakeh enam jenis.

Enam jenis dipakai secara ajek di ketiga ritual tersebut. Keenamnya padi dana, padi poe, kenjuank, sirih, nipah, dan kelapa.

Susunan itu memperlihatkan pola yang sederhana. Semakin dekat sebuah tahap kepada inti upacara, semakin banyak tumbuhan yang harus disiapkan keluarga.

Tiga Belas Tumbuhan dan Tugasnya Masing-masing

Tiga belas jenis tumbuhan tercatat dalam kajian ini. Semuanya sudah teridentifikasi sampai tingkat jenis, lengkap dengan nama lokal dan nama ilmiahnya.

Dua di antaranya padi, yaitu padi dana atau Oryza sativa dan padi poe atau Oryza sativa var. glutinosa. Keduanya dipakai bijinya.

Kenjuank atau Cordyline fructicosa dipakai daunnya. Fungsinya bukan sesaji, melainkan media untuk memanggil roh yang diundang hadir dalam upacara.

Sirih atau Piper betle juga dipakai daunnya, demikian pula nipah atau Nypa fruticans. Keduanya masuk kelompok persembahan bagi roh leluhur.

Tembakau atau Nicotiana tabaccum dan gambir atau Uncaria gambir menyusul dengan daunnya. Pinang atau Areca catechu dipakai buahnya.

Kelapa atau Cocos nucifera memegang dua tugas sekaligus. Daun dan buahnya dipakai sebagai sesaji sekaligus sebagai media pemanggil roh.

Buluh atau Bambusa vulgaris dipakai batangnya, sedangkan simpur atau Dillenia suffruticosa dipakai daunnya. Keduanya bertugas sebagai wadah sesaji.

Pisang atau Musa x paradisiaca dipakai buah dan daunnya. Maknanya berbeda dari yang lain, yaitu penghormatan kepada jiwa orang yang telah meninggal.

Satu jenis terakhir engkunyit atau Curcuma longa, dipakai rimpangnya. Tugasnya paling teknis di antara semuanya, yakni sebagai pewarna alami untuk beras.

Daun menjadi bagian yang paling sering diambil, tercatat pada tujuh jenis. Biji pada dua jenis, sedangkan batang, buah, dan rimpang masing-masing pada satu jenis.

Dua jenis diambil dua bagiannya sekaligus, yakni kelapa dan pisang. Keduanya memang tumbuhan yang seluruh bagiannya lazim terpakai dalam kehidupan sehari-hari.

Suku palem atau Arecaceae menjadi keluarga yang paling banyak dipakai. Tiga wakilnya masuk daftar, yaitu pinang, kelapa, dan nipah.

Baca juga Tujuh Bahasa pada Papan Nama Kebun Raya Bogor

Sesaji yang Kini Diambil dari Halaman Rumah

Yang paling menarik dari kajian ini justru bukan daftar jenisnya, melainkan asal bahannya. Peneliti mencatat dari mana tiap tumbuhan diambil ketika upacara disiapkan.

Enam jenis kini diambil dari halaman rumah. Dua jenis dari hutan di sekitar desa, dua dari sawah, dan dua lagi dari kebun.

Satu jenis sudah tidak diambil dari alam sama sekali. Tembakau tidak lagi tersedia di lingkungan sekitar dan harus dibeli dari toko di desa.

Menurut para peneliti, hutan bukan lagi tempat pengambilan yang utama. Enam jenis kini didapat dari pekarangan, dan hanya dua jenis dari hutan di dekatnya.

Pergeseran itu tampak sepele, tetapi mengubah banyak hal. Pengetahuan tentang lokasi tumbuhan di hutan tidak lagi diwariskan karena tidak lagi dipakai.

Halaman rumah lalu menjadi semacam gudang adat. Yang menentukan lengkap tidaknya sesaji bukan lagi luas hutan, melainkan apa yang sempat ditanam keluarga.

Ada risiko yang menyertai perpindahan itu. Ketika satu keluarga berhenti menanam, mata rantai bahan untuk satu tahap upacara bisa langsung terputus.

Sembilan Stabil, Tiga Menurun, Satu Berisiko

Peneliti menelusuri status konservasi ketiga belas jenis itu pada daftar merah lembaga konservasi dunia. Hasilnya dipetakan menjadi tiga kelompok yang berbeda.

Sembilan jenis berada dalam kondisi stabil. Kelompok itu mencakup padi, kenjuank, sirih, kelapa, buluh, simpur, pisang, dan engkunyit.

Tiga jenis tercatat sedang menurun populasinya, yaitu nipah, gambir, dan pinang. Ketiganya justru termasuk bahan yang sering muncul dalam sesaji.

Satu jenis lagi berstatus berisiko, yaitu tembakau. Jenis inilah yang sudah harus dibeli dan tidak lagi dipanen dari sekitar rumah.

Dua kelompok terakhir yang menjadi perhatian. Nipah dan kelapa sama-sama palem, tetapi hanya satu di antaranya yang masih aman keberadaannya.

Menurut para peneliti, kearifan lokal berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekologis. Peran itu menopang kelestarian lingkungan sekaligus kesinambungan budaya.

Susutnya ketersediaan tumbuhan ritual, tulis mereka, bukan hanya persoalan ekosistem. Yang ikut terancam adalah kelangsungan praktik adat yang bersandar pada tumbuhan itu.

Baca juga Kampung Pitu dan Pantangan Tujuh Kartu Keluarga

Tumbuhan sebagai Perantara, Bukan Sekadar Bahan

Ada cara pandang yang menjelaskan mengapa daftar ini penting. Bagi masyarakat Dayak Kanayatn, tumbuhan bukan semata sumber daya alam.

Menurut para peneliti, tumbuhan menyimpan makna spiritual yang dalam. Bagian tertentu darinya berfungsi sebagai media komunikasi dengan leluhur dan roh alam.

Karena itu tugas tiap jenis tidak bisa saling menggantikan. Kenjuank memanggil, simpur mewadahi, engkunyit mewarnai, dan pisang menghormati yang telah tiada.

Tujuh jenis masuk kategori sesaji bagi roh leluhur. Dua jenis menjadi wadah sesaji, satu menjadi media pemanggil, dan satu lagi pewarna.

Pengaruh agama Katolik sudah lama masuk ke dalam tradisi pernikahan di sana. Namun susunan sesaji itu bertahan dan tetap dijalankan sampai hari ini.

Masyarakat Dayak Kanayatn sendiri menghuni wilayah Landak, Bengkayang, Mempawah, dan Ambawang. Mereka punya pertalian bahasa dan budaya dengan komunitas Salako di Sarawak, Malaysia.

Yang Belum Terjawab dari Empat Dusun

Kajian ini punya batas yang jelas dan disebutkan sendiri oleh penulisnya. Lapangannya satu desa dengan empat dusun, bukan seluruh wilayah persebaran Dayak Kanayatn.

Informannya lima belas orang, jumlah yang memadai untuk pemetaan awal. Namun jumlah itu belum cukup untuk memotret perbedaan antardusun secara meyakinkan.

Datanya juga diambil dalam satu rentang lima bulan. Perubahan ketersediaan tumbuhan dari tahun ke tahun tidak terpantau dalam rentang sependek itu.

Yang ditawarkan kajian ini bukan angka besar, melainkan pertautan yang sering luput. Adat yang tampak kokoh ternyata bergantung pada tegakan yang jumlahnya menyusut.

Para penulisnya menyarankan pengetahuan ekologis tradisional dimasukkan ke dalam strategi konservasi. Menurut mereka, melindungi tradisi berarti melindungi pula sumber daya botaninya.

Pertanyaannya lalu berpindah dari hutan ke pekarangan. Kalau sesaji sebuah pernikahan kini bergantung pada apa yang ditanam di halaman, siapa yang akan menanamnya nanti?

Bagikan

Baca Juga

Deretan silo tinggi dan sebuah derek berdiri di kompleks pabrik semen di bawah langit terang
Amdal Pegunungan Kendeng dan Data yang Ada tapi Diabaikan
Beberapa petani bekerja membungkuk di hamparan sawah padi menjelang matahari terbenam
Petani Padi Karawang di Antara Banjir dan Tikus Sawah
Beberapa umbi ubi jalar ungu segar tergeletak berdampingan di atas permukaan kayu
Beras Analog Ubi Ungu, Dikukus Dulu agar Warnanya Tak Pudar
Gelas bening berisi kopi dingin berlapis susu dengan es batu dan buih di permukaannya
Es Kopi Susu Kekinian dan Rasa yang Berubah Tiap Detik
Ilustrasi seorang perempuan berdiri memegang buku di ruang kuliah bertingkat sementara sejumlah mahasiswa duduk di kursi di belakangnya.
Tiga Mahasiswa Prancis dan Bunyi Indonesia yang Sulit
Ilustrasi seorang perempuan menuliskan deretan rumus matematika dengan kapur pada papan tulis hijau yang penuh coretan.
Tujuh Cara Laki-laki Menyokong Perempuan di Hidden Figures