Cekricek.id — Kartika Herina Candraning Shiam menghitung titik. Bukan titik pada peta, melainkan bulatan-bulatan kecil yang tersebar di badan seekor singa pada selembar kain batik dari Sendangduwur, Lamongan. Ia berhenti di angka tujuh belas, dan angka itu terasa akrab bagi siapa pun yang pernah menghitung rakaat salat dalam sehari.
Angka itu bukan kebetulan, dan Kartika membutuhkan wawancara dengan pengelola situs serta pengrajin batik setempat untuk memastikannya. Dosen Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya itu menuliskan pembacaannya dalam Javanese-Islamic Syncretism in Singo Mengkok Batik: A Symbolic Interpretation of Sunan Drajat’s Da’wah Motif, yang terbit di jurnal Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, Volume 27 Nomor 2, tahun 2025. Simpulannya: kain itu bekerja sebagai sistem simbol, bukan sekadar hiasan pada selembar mori.
Kain yang dibacanya bukan kain sembarangan. Batik motif Singo Mengkok dikaitkan dengan masa dakwah Sunan Drajat di pesisir utara Jawa Timur, dan Kartika menempatkannya bukan sebagai busana, melainkan sebagai perkakas kerja seorang penyebar agama. Untuk membedahnya ia memakai pisau Clifford Geertz, antropolog yang memandang kebudayaan sebagai jejaring makna dan artefak sebagai teks yang harus ditafsirkan secara mendalam. Geertz membagi pembacaan itu ke dalam dua tataran, yakni tataran kognitif atau mitos dan tataran evaluatif, dan Kartika memakai keduanya berurutan sepanjang tulisannya.
Sebelum menafsir, Kartika lebih dulu tinggal di lapangan. Ia melakukan pengamatan nonpartisipan terhadap proses produksi batik Sendang, mewawancarai budayawan, pengrajin, pengelola situs Sunan Drajat, serta orang-orang yang menyimpan pengetahuan silsilah tentang motif itu, lalu menelusuri arsip visual dan artefak batiknya. Keterangan yang ia peroleh disilangkan melalui triangulasi sumber dan teknik, lalu direduksi, disajikan, dan disimpulkan. Yang ia cari bukan siapa pembuat pertama kain itu, melainkan apa yang hendak dikatakan kain itu kepada orang yang melihatnya.
Daftar Isi
Dua warna sebelum satu bentuk

Yang pertama dicatat Kartika bukan singanya, melainkan warnanya. Batik klasik Sendang mengenal tiga warna — putih, merah, hitam — tetapi motif Singo Mengkok hanya memakai dua, yakni hitam dan putih. Merah absen, dan absennya justru bermakna. Selembar Singo Mengkok karena itu terasa lebih sunyi daripada batik Sendang lain yang sezaman dengannya.
Kartika menyusun makna ketiga warna itu dari tiga sumber sekaligus. Untuk sisi Islamnya ia merujuk Syafi’i, untuk lapisan mitosnya kepada Lodra, dan untuk lapisan penilaiannya kepada Siswayanti.
Baca juga Kerajinan Karawo Bertahan di Tangan 21 Perajin
Putih menjadi nur, cahaya suci, sekaligus Dewa Iswara di timur dan pengingat pada alam kandungan. Merah menjadi mega merah dan darah, sekaligus Dewa Brahma di selatan, keberanian, kehidupan dunia yang fana. Dua kerangka yang biasanya diperlakukan sebagai lawan itu, di tangan Kartika, dibaca sebagai lapisan yang bertumpuk pada warna yang sama.
Hitam yang paling rumit. Dalam kerangka Islam hitam adalah aswad, kegelapan dan dosa; dalam kerangka Jawa-Hindu hitam adalah Dewa Wisnu di utara, kesederhanaan, kesucian, keabadian. Kartika menolak membaca keduanya sebagai saling meniadakan. Yang terjadi, tulisnya, adalah dua makna yang berdiri bersama dan menghasilkan pemahaman berlapis tentang alam akhirat. Konsep dosa tidak mengusir konsep kesucian; keduanya bertahan di dalam satu warna dan membuat maknanya lebih tebal, bukan lebih rancu.
Ketiganya, bila dibaca berurutan, adalah satu perjalanan manusia: putih untuk kandungan, merah untuk dunia, hitam untuk kematian. Siswayanti sudah menyebut pola itu sebagai pandangan dunia masyarakat Sendang. Pada Singo Mengkok, dengan hilangnya merah, yang tersisa hanya asal dan akhir — kelahiran dan kematian, tanpa jeda dunia di antaranya. Kartika tidak menyimpulkan bahwa hilangnya merah itu disengaja oleh pembuat pertamanya, sebab dokumen dari masa itu tidak tersedia; ia hanya mencatat pola yang konsisten pada kain yang masih ada.
Tujuh belas titik di badan singa
Baru sesudah warna, Kartika masuk ke bentuk. Singa pada motif ini tidak digambar sebagai singa. Tubuhnya disusun dari patahan bunga tunjung atau teratai beserta sulurnya, dideformasi dan distilisasi sampai jauh dari anatomi hewan sungguhan. Siluetnya tetap terbaca sebagai singa, tetapi singa yang duduk “mengkok”, jongkok dalam sebutan setempat, dan tampak tenang, bukan menyerang. Kesan yang muncul, catat Kartika, adalah kewibawaan, bukan ancaman.
Di sinilah Kartika melihat pertemuan budaya yang paling telanjang. Bentuk Singo Mengkok mirip Qilin atau Kirin, makhluk mitologi Tiongkok yang melambangkan kebijaksanaan, keadilan, dan penangkal bala, sebagaimana ditelaah Yoswara. Sunan Drajat, menurut pembacaan Kartika, tidak menciptakan bentuk baru dari nol; ia mengambil rupa yang sudah dikenal masyarakat pesisir lewat kontak dagang, lalu mengisinya dengan muatan lain. Siasat itu, menurut Kartika, membuat ajaran baru masuk lewat pintu yang sudah lama dikenal masyarakat pesisir, bukan lewat pintu yang harus didobrak.
Muatan itu ada pada isen, unsur pengisi di dalam motif, dan justru di situ hitungan Kartika bekerja. Enam pucuk bunga tunjung menyusun satu bagian tubuh singa; lima patahan bunga membentuk kaki belakangnya; tujuh belas bulatan tersebar di badannya. Enam untuk Rukun Iman, lima untuk Rukun Islam, tujuh belas untuk jumlah rakaat salat fardu sehari. Tubuh singa itu, dengan kata lain, disusun dari daftar hafalan yang setiap hari diucapkan orang di sekitar Sendangduwur.
Baca juga Nilai Membaca Naik Setelah Kuis Daring di Kelas Tujuh
Posisi jongkoknya pun bukan pilihan estetis. Kartika mengaitkannya dengan Surah Al-Qashash ayat 50 dan membacanya sebagai penundukan hawa nafsu, terutama amarah: kekuatan fisik yang diubah menjadi kekuatan batin, kewibawaan yang terkendali dan bukan keperkasaan yang brutal. Hewan mitos berubah menjadi apa yang disebutnya katekismus visual, alat peraga yang mengajarkan pokok-pokok ajaran kepada orang yang mungkin tidak membaca huruf apa pun.
Yang dicatat Riri di Museum Sunan Drajat
Hitungan itu tidak datang dari kepala Kartika sendiri. Sebagian besar makna isen yang ia pakai bersandar pada keterangan Riri, informan di Museum Sunan Drajat, dan pada Rif’ah yang ia wawancarai soal batik Sendang. Dari merekalah Kartika memperoleh pembacaan atas tiga corak utama lain yang mendampingi singa: kubah, mahkota, dan garuda. Ketiganya, seperti singa itu, dibangun dari bahan yang sama.
Corak kubah, kata Kartika, dibentuk dari sulur bunga tunjung sehingga tidak kaku dan tidak geometris. Djono sudah menunjukkan bahwa bentuk atap masjid Jawa berpuncak limas itu sendiri merupakan adaptasi dari gunungan atau meru dalam arsitektur candi. Kubah pada kain ini, dengan kata lain, adalah bangunan Islam yang tubuhnya terbuat dari flora Jawa. Bunga tunjung atau padma itu sendiri, catat Kartika merujuk Sukanadi, adalah lambang lama kesucian dalam kebudayaan Hindu-Buddha yang maknanya kemudian diselaraskan dengan tauhid.
Titik-titik di sekelilingnya kembali bisa dihitung. Empat garis diagonal di pucuk kubah dibaca Riri sebagai Catur Piwulang Sunan Drajat — memberi makan yang lapar, menuntun yang buta, memberi pakaian yang telanjang, memberi tempat berteduh.
Tiga titik di badan kubah untuk Iman, Islam, dan Ihsan. Empat titik di sampingnya untuk empat tingkat nafsu. Sembilan titik di kiri dan kanan untuk Wali Songo, para penyebar Islam di Tanah Jawa. Penghormatan kepada para wali itu, tulis Kartika, adalah bentuk sinkretisme itu sendiri.
Corak mahkota mengulang tata cara yang sama dengan pesan berbeda. Menurut catatan Kartika, mahkota yang juga disusun dari sulur tunjung itu berbicara tentang kekuasaan sebagai amanah, dan nilainya bertemu dengan falsafah Jawa ojo dumeh, larangan bersikap semena-mena karena kedudukan. Empat titik di dalamnya menunjuk empat unsur kehidupan dan filosofi papat kalimo pancer, empat saudara yang lahir bersama manusia ditambah dirinya sendiri sebagai pusat. Sembilan titik di sisi kiri dan kanannya kembali menunjuk Wali Songo.
Baca juga Riset Semeru Menumpuk Setelah Letusan, Lalu Surut
Corak garuda menutup rangkaian itu dan sekaligus memperlihatkan siasatnya paling jelas. Burung itu disusun seluruhnya dari sulur dan bunga tunjung sehingga tidak pernah menjadi gambar makhluk bernyawa yang utuh. Rizali menyebut kecenderungan semacam ini sebagai ciri Islamisasi motif batik Nusantara, dan Sugianto menemukan siasat serupa pada relief burung merak di kompleks makam Sunan Sendang Duwur, tempat lambang Hindu diadaptasi agar tidak berbenturan dengan larangan menggambar makhluk hidup secara realistis.
Kain yang berdiri di belakang gamelan
Tahap terakhir kerja Kartika adalah menaruh kain itu kembali pada tempatnya. Batik Singo Mengkok, tulisnya, tidak dibuat untuk pakaian sehari-hari. Ia berfungsi sebagai “geber”, latar visual yang dibentangkan di belakang pertunjukan gamelan milik Sunan Drajat, mendampingi tembang seperti Pangkur yang ditabuh untuk menyampaikan ajaran. Yang dilihat penonton dan yang didengar penonton, kata Kartika, dirancang sebagai satu paket, dan kainlah yang memegang bagian visualnya.
Dari Rif’ah, Kartika memperoleh keterangan bahwa bentuk singa pada kain itu terilhami ukiran pada gamelan tersebut, dan sosok serupa juga hadir sebagai arca di kompleks makam Sunan Sendangduwur. Desa itu, bekas pusat pengrajin senjata Majapahit dan gerbang dagang dekat pelabuhan Sedayu Lawas, memang sudah lama terbiasa dengan percampuran, dan menurut Rif’ah kebiasaan itulah yang menyediakan tanah bagi akulturasi yang kemudian dikerjakan Sunan Drajat.
Kartika membatasi kerjanya pada satu motif di satu desa. Makna tiap isen dalam artikelnya bersandar pada keterangan informan dan koleksi museum, bukan pada dokumen tertulis dari zaman Sunan Drajat, dan ia tidak mengklaim tafsir ini berlaku untuk seluruh batik pesisir Jawa. Yang ia klaim lebih sempit: satu kain, satu sistem simbol, satu cara berdakwah pada satu tempat dan satu masa.
Dan hitungan itu tetap ada di sana. Tujuh belas bulatan kecil di badan seekor singa yang tidak pernah benar-benar singa, di sebuah desa yang orang-orangnya masih membatik, menunggu dihitung ulang oleh siapa pun yang mau berhenti di depannya selama Kartika berhenti.














