Cekricek.id — Di Desa Parigi, kebun sayur tidak berdiri di atas tanah. Kebun itu mengapung di atas air rawa, dirakit dari tumbuhan air yang ditumpuk berlapis.
Rakitnya dibuat sekali, lalu dipakai bertahun-tahun. Pertanyaannya sederhana, yaitu sampai kapan media semacam itu masih sanggup memberi makan tanaman.
Sebuah penelitian tanah menguji pertanyaan itu dengan cara yang lugas. Dua kelompok rakit dibandingkan, yang berumur satu tahun dan yang sudah berumur empat tahun.
Hasilnya membalik dugaan yang biasa berlaku di lahan kering. Media yang lebih tua jauh lebih masam, tetapi fosfor tersedianya nyaris tidak berubah.
Penelitinya Akhmad Rizalli Saidy, Abdul Haris, dan Setya Hadi Purnama. Ketiganya dari Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat.
Laporannya berjudul Phosphorus Availability in Differently-Aged Growing Media within a Lebak Swamp Floating Agriculture System. Naskahnya ditulis dalam bahasa Inggris.
Artikel itu dimuat Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Volume 31 Nomor 3 tahun 2026, halaman 561 sampai 570. Terbit daringnya pada 27 Mei 2026.
Lokasi penelitiannya di Desa Parigi, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Wilayah itu termasuk kawasan rawa lebak yang tergenang hampir sepanjang tahun.
Indonesia tercatat memiliki sekitar 9,5 juta hektare lahan rawa. Dari luasan itu, sekitar 4,5 juta hektare dinilai layak dikembangkan untuk pertanian.
Daftar Isi
Catatan Iklim Lima Tahun Terakhir
Peneliti lebih dulu memotret iklim setempat sepanjang 2020 sampai 2024. Curah hujan tahunannya berkisar 1.917 sampai 2.754 milimeter.
Hari hujannya 108 sampai 126 hari dalam setahun. Periode terbasah jatuh pada Desember sampai Maret, dengan 300 sampai 400 milimeter per bulan.
Periode terkering berlangsung Juni sampai Agustus. Curah hujannya turun ke kisaran 80 sampai 100 milimeter per bulan.
Suhu hariannya bergerak antara 22 dan 34 derajat Celsius. Kelembapan nisbinya bertahan tinggi, yaitu 88 sampai 89 persen.
Muka airnya naik turun mengikuti musim. Pada kemarau fluktuasinya satu sampai dua meter, sedangkan pada musim hujan dua sampai tiga meter.
Fluktuasi itulah yang membuat pertanian di darat sulit dilakukan di sana. Rakit terapung menjadi jalan keluar agar tanaman ikut naik turun bersama airnya.
Baca juga Curah Hujan Kalimantan Selatan Nyaris Nol Saat El Nino
Tiga Lapis Tumbuhan Air di Atas Bambu
Rakit yang dipakai petani setempat dibuat dari lima belas batang bambu. Panjangnya tiga belas meter dan lebarnya satu setengah meter.
Bambu itu disusun menyilang, lalu diikat dengan tali nilon dan karet. Di atasnya dihamparkan karung goni sebagai alas media tanam.
Lapisan pertama setebal lima belas sentimeter berisi batang dan akar Neptunia oleracea. Tumbuhan air itu tumbuh mengapung dan mudah didapat di rawa sekitar.
Lapisan kedua juga setebal lima belas sentimeter, tetapi hanya berisi akar Neptunia oleracea. Susunannya sengaja dibedakan dari lapisan di bawahnya.
Lapisan ketiga berisi campuran eceng gondok dan kiambang. Nama ilmiahnya Eichhornia crassipes dan Pistia stratiotes, dua tumbuhan air yang berlimpah di rawa itu.
Setelah tiga minggu, ketiga lapisan itu memadat. Tebal akhirnya tinggal 20 sampai 25 sentimeter dari 45 sentimeter semula.
Setiap tahun petani menambahkan eceng gondok dan kiambang baru di atasnya. Penambahan itulah yang membuat rakit tetap terpakai sampai bertahun-tahun.
Kadar karbon organik bahan bakunya juga tinggi sejak awal. Angkanya 301,4 gram per kilogram pada kiambang dan 368,2 gram per kilogram pada eceng gondok.
Kadar fosfor totalnya pun tidak kalah tinggi. Angkanya 56,2 sampai 60,1 gram per kilogram pada ketiga jenis tumbuhan air tersebut.
Nisbah karbon terhadap nitrogennya berkisar 15,7 sampai 18,4. Nisbah di bawah 18 umumnya menandakan bahan yang mudah mengalami mineralisasi.
Kandungan seratnya berbeda tajam antarjenis. Kadar lignin Neptunia oleracea mencapai 381,5 gram per kilogram, sedangkan eceng gondok hanya 67,5.
Lima Rakit, Tiga Titik, Dua Kelompok Umur
Pengambilan contoh dilakukan pada lima rakit untuk tiap kelompok umur. Dari setiap rakit diambil tiga titik, sehingga terkumpul lima belas contoh per kelompok.
Kedalaman pengambilannya nol sampai dua puluh sentimeter dari permukaan media. Beratnya sekitar tiga ratus gram per titik, diambil dengan bor tanah.
Akar tanaman dibuang lebih dulu sebelum contoh dianalisis. Contoh lalu dikeringudarakan dan digiling sampai lolos ayakan dua milimeter.
Derajat keasamannya diukur dengan elektrode gelas pada nisbah media dan air satu banding lima. Karbon organiknya diukur dengan metode Walkley dan Black.
Fosfor tersedianya diekstraksi dengan pereaksi Bray dan Kurtz satu. Fosfor totalnya diperoleh lewat pengabuan basah, lalu dibaca pada panjang gelombang 660 nanometer.
Perbandingan kedua kelompok diuji dengan uji t sampel bebas. Pengolahannya memakai perangkat lunak statistik versi 31.
Tanaman yang tumbuh di atas kedua kelompok itu berbeda. Media satu tahun ditanami sawi hijau, sedangkan media empat tahun ditanami terong.
Sawi hijau dipanen pada umur 30 sampai 45 hari. Terong menyusul lebih lambat, yaitu pada umur 45 sampai 75 hari.
Baca juga Jamur yang Disemprotkan ke Cabai untuk Membunuh Kutu Daun
Empat Tahun Kemudian, Keasamannya Naik Tajam
Perbedaan paling mencolok muncul pada derajat keasaman. Media satu tahun bernilai rata-rata 6,16, dengan sebaran 4,73 sampai 6,84.
Media empat tahun turun ke rata-rata 4,88, dengan sebaran 4,34 sampai 6,05. Selisih itu nyata secara statistik.
Penyebabnya dekomposisi bahan organik yang terus berjalan. Prosesnya menghasilkan asam asetat, asam butirat, dan asam fulvat yang melepaskan ion hidrogen.
Nitrifikasi ikut menyumbang keasaman itu. Nitrogen organik diubah menjadi amonium, lalu menjadi nitrat sambil melepaskan ion hidrogen tambahan.
Menurut para peneliti, daur penghasil asam itu berjalan tanpa henti. Selama pasokan bahan organik baru terus ditambahkan, prosesnya tidak pernah benar-benar berhenti.
Karbon organiknya juga naik hampir dua kali lipat. Dari rata-rata 19,5 gram per kilogram menjadi 36,8 gram per kilogram pada media empat tahun.
Fosfor totalnya ikut menumpuk, dari rata-rata 496 menjadi 581 miligram per kilogram. Kondisi anaerob membuat perombakan berjalan lambat sehingga bahan menumpuk.
Menurut peneliti, laju dekomposisi dalam kondisi anaerob hanya 10 sampai 50 persen dari laju di lingkungan beroksigen. Karena itu masukan tahunan melampaui keluarannya.
Fosfor yang Tidak Ikut Turun
Di lahan mineral, keasaman setajam itu biasanya menekan ketersediaan fosfor. Di rakit terapung ini, hal tersebut tidak terjadi.
Fosfor tersedia media satu tahun rata-rata 15,01 miligram per kilogram. Media empat tahun justru sedikit lebih tinggi, yaitu 15,42 miligram per kilogram.
Selisih itu tidak nyata secara statistik. Keduanya sama-sama masuk kategori sangat tinggi menurut acuan kesuburan yang dipakai peneliti.
Menurut para peneliti, ketersediaan fosfor pada substrat organik ini tidak sekuat itu dikendalikan oleh keasaman. Kendalinya berbeda dari yang berlaku pada tanah mineral.
Penjelasannya terletak pada ketiadaan bahan mineral. Tanpa liat dan oksida besi atau aluminium, tidak ada mekanisme penjerapan yang mengikat fosfor.
Nisbah karbon terhadap fosfor pada kedua media berada di bawah dua ratus. Nisbah serendah itu memihak mineralisasi, bukan imobilisasi oleh jasad renik.
Menurut para peneliti, ketersediaan fosfor di sini diatur oleh keseimbangan dinamis. Yang berhadapan adalah mineralisasi oleh jasad renik dan pengikatan kembali oleh mereka.
Baca juga Titik Paling Lunak Karst Rammang-Rammang Ada di Tepi Sawah
Batas Kajian dan Umur Rakit yang Bisa Diperpanjang
Ada dua hal yang membuat pembacaan hasil ini perlu hati-hati. Pertama, jenis tanaman di kedua kelompok umur berbeda, yakni sawi hijau dan terong.
Peneliti menilai perbedaan itu tidak banyak berpengaruh. Menurut mereka, kedua tanaman punya kemampuan yang hampir sama dalam menyumbang biomasa sebagai sumber karbon.
Kedua, media satu tahun sudah kehilangan sebagian fosfornya lewat panen. Sawi hijau berumur pendek dipanen berkali-kali tanpa penggantian dari pupuk.
Kajian ini juga hanya membandingkan dua titik umur, yaitu satu dan empat tahun. Perubahan pada umur di antaranya tidak terpotret sama sekali.
Simpulan praktisnya tetap jelas bagi petani rawa. Penambahan bahan organik tiap tahun terbukti memperpanjang umur pakai media melampaui empat tahun tanpa perlu diganti seluruhnya.
Menurut para peneliti, media berbahan tumbuhan rawa mampu membangun daur fosfor yang menopang dirinya sendiri. Potensinya terbuka untuk sistem pertanian rawa yang berkelanjutan.
Catatan penutupnya soal air. Media ini akan rusak bila lahan mengering, dan haranya justru terkunci bila terlalu lama anaerob.
Karena itu pengelolaan airnya harus disesuaikan dengan kondisi setempat. Rakit yang tampak sederhana itu ternyata menuntut keseimbangan yang cukup sempit.














