Jamur yang Disemprotkan ke Cabai untuk Membunuh Kutu Daun

A A

Kebun cabai merah dengan bedengan berplastik. [Foto: Wikimedia Commons]

Cekricek.id — Ada petani yang sengaja menyemprotkan jamur ke tanaman cabainya, dan itu bukan kecelakaan. Jamur yang disemprotkan memang dipilih karena sanggup membunuh serangga, dan yang hendak dibunuh adalah kutu daun yang menempel di balik daun cabai. Kerugian hasil akibat kutu itu bisa mencapai 65 persen, angka yang cukup untuk membuat orang mencoba cara yang terdengar aneh. Kutu daun itu bernama Aphis gossypii, dan cabai merah adalah salah satu komoditas hortikultura terpenting di Indonesia, termasuk di Sumatra Barat. Produktivitasnya kerap naik turun, lalu harganya ikut melonjak dan pasar terguncang. Serangan hama diakui sebagai salah satu penyebab paling menentukan di antara sekian banyak faktor yang membuat produksi cabai tidak pernah benar-benar stabil dari musim ke musim.

Dua jamur yang diuji adalah Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae, keduanya isolat lokal. Pengujiannya dikerjakan Dang Khoa Bui dari School of Agriculture and Aquaculture, Tra Vinh University, Vietnam, bersama Hidrayani dan Nurbailis dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang. Hasilnya terbit dalam artikel Biological Control of Aphis gossypii on Red Chili Pepper using Locally Isolated Beauveria bassiana and Metarhizium anisopliae di JPT: Jurnal Proteksi Tanaman Volume 9 Nomor 2 tahun 2025, halaman 95 sampai 107. Naskahnya diterima 6 Oktober 2025 dan terbit pada 31 Desember tahun yang sama, dengan penelitian yang dibiayai sendiri oleh para penulisnya dan fasilitas laboratorium serta rumah kaca disediakan Universitas Andalas.

Daftar Isi
  1. Cara Spora Menempel dan Menembus
  2. Mengapa Jumlah Spora Menentukan Kecepatan
  3. Dua Jamur yang Unggul di Titik Berbeda
  4. Yang Terjadi pada Kutu yang Tidak Mati
  5. Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Cara Spora Menempel dan Menembus

Koloni kutu daun bergerombol rapat pada tulang daun di permukaan bawah sehelai daun
Koloni kutu daun Aphis gossypii pada sehelai daun. Kutu ini menyerang cabai merah dan sejumlah tanaman lain. [Foto: Wikimedia Commons]

Jamur entomopatogen tidak bekerja seperti racun semprot yang membunuh begitu mengenai sasaran. Yang disemprotkan adalah spora, dan spora itu harus lebih dulu mendarat di tubuh serangga, berkecambah di sana, lalu menembus kulit luarnya untuk tumbuh di dalam. Karena itu, dua hal menentukan sejak awal: berapa banyak spora yang masih hidup ketika disemprotkan, dan seberapa cepat spora hidup itu berkecambah setelah menempel.

Dua-duanya diukur lebih dulu di laboratorium. Daya kecambah spora diperiksa setelah 16 jam, dan hasilnya melewati 96 persen untuk keduanya — 96,26 persen pada B. bassiana dan 97,23 persen pada M. anisopliae. Pertumbuhan koloninya diamati selama 21 hari dan berjalan stabil pada 3,71 dan 3,74 milimeter per hari. Angka itu berarti spora yang dipakai bukan spora sisa yang sebagian sudah mati. Kedua jamur juga dipastikan identitasnya lewat penampakan koloninya. Koloni B. bassiana berwarna putih krem, bentuknya cenderung bulat dengan tepi agak tidak beraturan dan permukaan halus sampai sedikit kasar. Koloni M. anisopliae berwarna hijau zaitun, tumbuh melingkar dan berlapis dengan tepi bercuping serta tekstur berkapas yang cenderung menjadi seperti tepung. Perbedaan itu sesuai dengan pemerian yang sudah ada sebelumnya.

Mengapa Jumlah Spora Menentukan Kecepatan

Setelah itu barulah pengujian di rumah kaca. Kutu daun disemprot dengan empat tingkat kepekatan spora, dari sepuluh pangkat empat sampai sepuluh pangkat sepuluh spora per mililiter, lalu kematiannya dihitung sampai hari kesepuluh. Pola yang muncul lurus dan tidak ambigu: makin pekat sporanya, makin banyak kutu yang mati, dan pengaruh jenis jamur maupun kepekatan sama-sama nyata secara statistik. Datanya diolah dengan analisis ragam dan regresi probit, lalu rata-ratanya dibandingkan memakai uji Tukey pada taraf lima persen.

Rentang kematiannya lebar. Pada kepekatan terendah, kematian kutu hanya 26,67 sampai 40,00 persen setelah sepuluh hari; pada kepekatan sepuluh pangkat delapan ke atas, angkanya melewati 90 persen; dan pada kepekatan tertinggi, seluruh kutu mati. Penjelasannya sederhana dan mekanis: makin rapat spora hidup yang tersedia di permukaan tubuh serangga, makin besar peluang salah satunya berhasil berkecambah dan menembus. Kepekatan juga memendekkan waktu, bukan hanya menaikkan jumlah. Waktu yang dibutuhkan untuk membunuh separuh populasi kutu turun dari 10,04 hari menjadi 2,68 hari pada B. bassiana, dan dari 14,17 hari menjadi 1,64 hari pada M. anisopliae, ketika kepekatannya dinaikkan dari yang terendah ke yang tertinggi. Waktu untuk membunuh 95 persen populasi ikut turun, dari sekitar 24 hari menjadi kurang dari lima hari pada kedua jamur. Selisih sebesar itu bukan perbedaan kecil bagi petani yang populasi kutunya sedang meledak.

Dua Jamur yang Unggul di Titik Berbeda

Yang membuatnya rumit adalah kedua jamur ini tidak unggul pada titik yang sama. Pada kepekatan rendah, B. bassiana lebih cepat dan lebih mematikan — kematian 40 persen berbanding 26,67 persen pada dosis terendah, dan waktu membunuh yang lebih pendek pada dua tingkat kepekatan terbawah. Pada kepekatan tinggi, urutannya berbalik dan M. anisopliae yang lebih cepat menjatuhkan populasi.

Analisis probit yang mereka jalankan menunjukkan kemiringan garis yang berbeda di antara keduanya. Kemiringan pada M. anisopliae lebih curam daripada pada B. bassiana, dan itu berarti tanggapannya terhadap penambahan dosis lebih tajam. Persoalannya, kemiringan yang lebih curam hanya menguntungkan bila dosis tinggi memang terjangkau; pada dosis rendah, jamur dengan kemiringan landai justru lebih dapat diandalkan. Karena itu para peneliti tidak memilih salah satunya sebagai pemenang. Mereka menyebut keduanya punya daya hayati yang kuat dan saling melengkapi terhadap Aphis gossypii, dan atas dasar itulah keduanya diusulkan masuk ke program pengendalian hama terpadu. Kesimpulan itu terasa hati-hati, dan memang ada alasannya: keunggulan masing-masing terikat pada dosis, bukan berlaku di semua keadaan. Perbedaan nilai kepekatan mematikan di antara keduanya pun mereka sebut kecil.

Yang Terjadi pada Kutu yang Tidak Mati

Ada bagian yang mudah terlewat karena tidak berakhir dengan kematian. Kutu yang tetap hidup setelah disemprot ternyata berkembang biak lebih sedikit, dan penurunannya makin besar ketika kepekatannya dinaikkan. Pada kepekatan terendah kutu masih beranak cukup banyak, terutama pada perlakuan B. bassiana; mulai kepekatan sepuluh pangkat enam dan delapan, penurunan jumlah anak terlihat nyata pada kedua jamur. Untuk pengendalian di lapangan, bagian ini justru penting. Populasi kutu daun tumbuh dari kemampuan beranaknya yang cepat, sehingga menekan jumlah keturunan berarti memperlambat ledakan populasi berikutnya, bukan sekadar mengurangi jumlah yang ada sekarang. Pada urusan ini M. anisopliae disebut lebih efektif daripada B. bassiana, dan pada kepekatan tertinggi keduanya menekan jumlah anak sampai titik paling rendah.

Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Seluruh pengujiannya berlangsung di rumah kaca, bukan di lahan petani. Di rumah kaca, suhu dan kelembapan bisa dijaga, hujan tidak menghapus semprotan, dan sinar matahari tidak merusak spora yang sudah menempel — tiga hal yang justru paling menentukan nasib jamur entomopatogen di lapangan. Penelitian ini juga tidak mengukur pengaruh kedua jamur terhadap musuh alami kutu daun maupun terhadap tanaman cabainya sendiri, padahal dua hal itu yang menentukan apakah sebuah agens hayati layak dipakai berulang kali di lahan yang sama.

Ada pula soal cara angkanya disajikan. Nilai kepekatan mematikan yang disebut 8,29 untuk B. bassiana dan 8,09 untuk M. anisopliae adalah angka logaritma, bukan jumlah spora, tetapi pada abstraknya ditulis tanpa satuan dan tanpa keterangan itu. Pada tabelnya, kolom kepekatan mematikan bahkan diberi keterangan satuan hari, satuan yang seharusnya hanya berlaku untuk waktu mematikan. Beberapa selisih kecil lain juga terbawa sampai terbit. Nama Metarhizium tertulis salah di beberapa judul tabel dan gambar, begitu pula nama Beauveria pada legenda salah satu gambar. Waktu membunuh separuh populasi oleh M. anisopliae pada kepekatan sepuluh pangkat delapan tercatat 1,70 hari, sementara waktu membunuh 95 persennya 8,75 hari — jarak yang jauh lebih lebar daripada pada baris lain di tabel yang sama.

Baca juga Dua Calon Jagung Komposit Diuji di Payakumbuh dan Agam

Meski begitu, mekanismenya sendiri terbaca utuh dari awal sampai akhir. Spora yang hidup mendarat, berkecambah, menembus, lalu tumbuh di dalam tubuh kutu; jumlah spora menentukan peluang keberhasilan tahap pertama; dan peluang tahap pertama itulah yang menentukan berapa hari kutu bertahan. Kutu yang lolos pun tidak lolos sepenuhnya, karena kemampuannya beranak sudah lebih dulu terganggu.

Baca juga ITS dan BRMP Jatim Terapkan Platform Dekarbonisasi Padi

Yang belum dijawab adalah bagian yang paling mahal untuk dijawab. Dosis sepuluh pangkat sepuluh spora per mililiter menghabisi seluruh kutu di rumah kaca, tetapi tidak ada keterangan berapa biaya memproduksinya, berapa lama spora bertahan di daun cabai yang tersiram hujan, dan berapa kali penyemprotan harus diulang dalam satu musim tanam.

Baca juga Ekspor Pertanian Melonjak, Impor Turun Jadi Kado Kemerdekaan

Kembali ke penyemprotan yang tadi terdengar aneh. Petani yang menyemprotkan jamur ke tanamannya tidak sedang menumbuhkan jamur di cabainya; ia sedang menaruh sebanyak mungkin spora hidup di jalan yang akan dilewati kutu daun. Sisanya dikerjakan oleh spora itu sendiri, dan menurut penelitian ini, kecepatannya sepenuhnya bergantung pada berapa banyak yang berhasil ditaruh di sana. Aneh atau tidak, itulah yang membedakan sepuluh hari dari dua hari.

Bagikan

Baca Juga

Orang berjalan di trotoar Malioboro Yogyakarta pada malam hari dengan lampu jalan menyala
Bahasa Jawa Modern Ternyata Lebih Sering Langsung ke Inti
Sebuah neuron hipokampus dalam kultur dengan cabang-cabang bercahaya hijau dan merah pada latar gelap
Dua Metode Hitung Amiloid-Beta Memberi Hasil yang Sama
Hamparan tanaman jagung yang batang dan daunnya sudah mengering menjelang panen
Dua Calon Jagung Komposit Diuji di Payakumbuh dan Agam
Gedung rektorat Universitas Andalas berdinding beton dengan tiang bendera Merah Putih, dikelilingi rimbun pepohonan.
Mahasiswa Malaysia yang Belajar Sejarah di Padang
Ratusan peti kemas berwarna-warni tersusun berderet di dermaga sebuah pelabuhan dilihat dari udara.
Itera Kaji Ketangguhan Pelabuhan Panjang Hadapi Tsunami
Lima orang berdiri berjajar memegang papan hadiah juara ketiga di depan latar bertuliskan Greenovate.
Mahasiswa UGM Ubah Limbah Sawit Jadi Elektroda Superkapasitor