Cekricek.id — Sepanjang tiga puluh tahun terakhir, Indonesia berulang kali kering dan berulang kali kebasahan. Yang belum pernah dihitung adalah berapa kali persisnya, dan di mana.
Sebuah kajian fisika atmosfer mencoba mengisi kekosongan itu. Seluruh wilayah Indonesia dipetak-petak, lalu jumlah kejadian ekstrem tiap petak dihitung sendiri-sendiri.
Hasilnya memperlihatkan pembagian yang cukup tegas. Kekeringan ekstrem menumpuk di timur, sedangkan kebasahan ekstrem menumpuk di barat dan tengah.
Ada satu temuan yang mungkin di luar dugaan. Selama rentang itu, kecenderungan kekeringan ekstrem justru menurun di hampir seluruh Indonesia.
Penelitinya Suhadi bersama enam rekannya, yaitu Jamiatul Khairunnisa Putri, Andi Putra Sairi, Tazkia Hayati, Neneng Anjli, Pras Diansyah, dan Faizatul Mabruroh.
Ketujuhnya dari Program Studi Pendidikan Fisika, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Kajiannya dibiayai penelitian internal kampus tersebut pada tahun anggaran 2025.
Laporannya berjudul Dynamics of Extreme Drought and Extreme Wet in Indonesia: Analysis of Frequency, Trends, and Spatial Distribution 1995–2024.
Artikel itu dimuat Jurnal Ilmu Fisika Volume 18 Nomor 1 terbitan Maret 2026, halaman 105 sampai 116. Penerbitnya Universitas Andalas.
Naskahnya diterima pada 1 November 2025, direvisi 21 Februari 2026, dan disetujui 1 Maret 2026. Terbit daringnya tiga hari kemudian.
Daftar Isi
Data Tiga Dasawarsa, Kotak Setengah Derajat
Bahan utamanya data curah hujan berpetak dari pusat klimatologi curah hujan global. Resolusinya setengah derajat, mencakup rentang 1995 sampai 2024.
Peneliti memilih data itu dengan alasan yang disebutkan. Kajian terdahulu menunjukkan datanya lebih tepat mewakili pengamatan hujan di Indonesia dibanding basis data pembanding.
Anomali hujan tiap petak dihitung dengan indeks presipitasi terstandar. Indeks itu direkomendasikan badan meteorologi dunia dan lazim dipakai untuk mengenali kekeringan.
Cara kerjanya, data hujan dicocokkan ke sebaran gamma lalu diubah menjadi indeks. Rentangnya bergerak dari minus dua sampai dua.
Ambangnya sudah baku dan tidak ditawar. Indeks di bawah minus dua berarti kering ekstrem, sedangkan indeks di atas dua berarti basah ekstrem.
Perhitungannya dijalankan pada tiga skala waktu, yaitu tiga bulan, enam bulan, dan dua belas bulan. Skala tiga bulan menangkap kekeringan musiman, skala dua belas bulan menangkap yang bertahan setahun.
Frekuensinya dihitung sebagai jumlah kejadian dibagi masa pengamatan selama tiga puluh tahun. Kecenderungan naik turunnya kemudian diperkirakan dengan regresi Poisson.
Pilihan regresi itu bukan tanpa alasan. Model tersebut memang dirancang untuk peristiwa yang muncul secara acak dan jarang terjadi.
Baca juga Curah Hujan Kalimantan Selatan Nyaris Nol Saat El Nino
Musim Hujan November, Musim Kering Mei
Sebelum menghitung yang ekstrem, peneliti lebih dulu memotret yang normal. Curah hujan Indonesia selama tiga puluh tahun itu bergerak dari 3 sampai 575 milimeter per bulan.
Polanya mengikuti muson Asia dan Australia. Hujan umumnya turun November sampai April, sedangkan musim kering berlangsung Mei sampai Oktober.
Muson sendiri adalah pergantian arah angin yang membawa udara lembap atau kering. Ketika muson Asia berembus, udara lembap melintasi Indonesia dan menurunkan hujan.
Ketika muson Australia yang berembus, arahnya berbalik dan udaranya kering. Di titik itulah musim kemarau Indonesia dimulai.
Jadwalnya berbeda antarpulau. Jawa memasuki musim kering pada Mei dengan puncak Oktober, sedangkan Kalimantan dan Sulawesi mulai Juni dengan puncak Agustus.
Kepulauan Nusa Tenggara di selatan khatulistiwa menerima hujan rendah sepanjang musim kemarau. Papua sebaliknya, secara umum menerima hujan lebih tinggi daripada wilayah lain.
Papua diuntungkan oleh topografinya yang lebih tinggi dari wilayah lain. Namun keuntungan itu ternyata tidak membuatnya bebas dari kekeringan ekstrem.
Delapan Sampai Dua Belas Kali dalam Tiga Puluh Tahun
Selama rentang 1995 sampai 2024, jumlah kejadian ekstrem tiap petak berkisar dari nol sampai dua belas kali. Sebarannya membentang dari barat ke timur.
Sumatra, Kalimantan, dan Papua tercatat mengalami kekeringan ekstrem sekitar delapan sampai dua belas kali. Frekuensinya berbeda-beda menurut skala waktu yang dipakai.
Papua paling menonjol pada skala tiga bulan, terutama di bagian baratnya. Artinya kekeringan di sana lebih bersifat musiman ketimbang bertahan sepanjang tahun.
Sumatra dan Kalimantan timur menunjukkan pola sebaliknya. Kekeringannya lebih sering muncul pada skala dua belas bulan, yakni yang bertahan lama.
Sulawesi, Jawa selain bagian barat, dan Nusa Tenggara memberi hasil yang seragam. Jumlah kekeringan ekstremnya sama pada ketiga skala waktu.
Nusa Tenggara punya catatan tersendiri. Kajian terdahulu yang dikutip peneliti menyebut periode ulang kekeringan ekstrem di sana kurang dari empat tahun.
Frekuensi basah ekstrem bergerak berlawanan arah. Wilayah yang sering kering ekstrem umumnya jarang mengalami basah ekstrem, dan sebaliknya.
Sumatra bagian utara menjadi contohnya. Pada skala tiga bulan, basah ekstrem di sana lebih sering terjadi daripada kering ekstrem.
Nusa Tenggara justru menyimpan kejanggalan yang menarik. Hujannya rendah hampir sepanjang tahun, tetapi basah ekstremnya lebih sering daripada kering ekstremnya.
Menurut peneliti, hal itu menandakan hujan berintensitas tinggi tetap kerap datang di sana. Curah hujan yang rendah tidak berarti aman dari hujan ekstrem.
Baca juga Pertanian Terapung Daha Selatan, Fosfornya Bertahan Empat Tahun
Juni sampai November di Timur, Desember di Barat
Peneliti kemudian memecah hitungannya per musim. Hasilnya memperlihatkan giliran yang cukup rapi antarwilayah.
Kekeringan ekstrem lebih meluas di Indonesia timur pada musim kemarau. Puncaknya jatuh pada Juni sampai Agustus dan September sampai November.
Ketahanannya pun lebih panjang pada skala enam dan dua belas bulan. Artinya kekeringan di timur bukan hanya lebih sering, melainkan juga bertahan lebih lama.
Basah ekstrem mengambil giliran yang berbeda. Ia lebih sering muncul di Indonesia barat dan tengah pada musim hujan Desember sampai Februari.
Penyebabnya monsun barat yang membawa uap air dari Samudra Hindia. Pada bulan-bulan itulah pasokan uap airnya paling melimpah.
Untuk Papua, polanya naik turun sepanjang tahun. Frekuensi kekeringannya meningkat dari Desember ke Juni, lalu memuncak lagi pada September sampai November.
Peneliti mengaitkan kekeringan di timur dengan dua gejala samudra. Yakni osilasi selatan El Nino dan dipol Samudra Hindia.
Ketika El Nino berlangsung, penguapan terpusat di Pasifik tengah sampai timur. Hujan turun di sana, sementara Indonesia justru kekurangan.
Pola serupa berlaku pada dipol Samudra Hindia yang bernilai positif. Penguapan terpusat di sisi barat, sedangkan Indonesia mengalami defisit curah hujan.
Kecenderungan yang Justru Menurun
Bagian ini yang paling mengejutkan. Selama tiga puluh tahun itu, kecenderungan kekeringan ekstrem menurun nyata di hampir seluruh Indonesia.
Besaran perubahannya kecil, yaitu sekitar 0,1 atau 0,03 per dasawarsa. Namun arahnya konsisten dan lolos uji pada taraf 95 persen.
Menurut peneliti, penurunan itu berkaitan dengan meningkatnya aktivitas La Nina. Suhu muka laut di sekitar Indonesia naik, dan peluang hujan ikut naik.
Yang tidak terjadi adalah kebalikannya. Kecenderungan basah ekstrem ternyata tidak serta-merta meningkat secara nyata.
Hanya sebagian kecil Kalimantan barat daya yang naik nyata, itu pun pada skala enam dan dua belas bulan. Sebagian kecil Sumatra utara justru menurun.
Pada hitungan musiman pun gambarannya serupa. Penurunan kekeringan terdeteksi nyata di Papua, Sumatra tengah, dan Kalimantan timur pada musim tertentu.
Untuk basah ekstrem, hanya satu titik petak yang menunjukkan perubahan nyata. Letaknya di tengah Sumatra, dan arahnya menurun.
Peneliti menyimpulkan hal itu apa adanya. Selama 1995 sampai 2024 nyaris tidak ada kenaikan maupun penurunan nyata pada kecenderungan basah ekstrem di Indonesia.
Baca juga Titik Paling Lunak Karst Rammang-Rammang Ada di Tepi Sawah
Dua Zona Risiko, Dua Jenis Persiapan
Simpulan praktis kajian ini menyangkut pembagian wilayah. Perbedaan pola antara kering dan basah ekstrem menandai adanya zona risiko hidrometeorologi yang berbeda.
Untuk daerah rawan kekeringan seperti Nusa Tenggara, kebutuhannya jelas. Strategi penyesuaiannya berupa irigasi dan cadangan air.
Untuk daerah rawan basah ekstrem seperti Sumatra Barat dan Kalimantan, perhatiannya berbeda. Yang perlu disiapkan adalah mitigasi banjir dan tanah longsor.
Peneliti juga mengingatkan rantai dampaknya. Kekeringan ekstrem kerap diikuti kebakaran hutan dan lahan, lalu asapnya menyeberang sampai negara tetangga.
Catatan sejarah yang dikutipnya menyebut sejumlah tahun. Kekeringan besar terjadi pada 1997 dan 1998, lalu 2015 dan 2016, kemudian 2019.
Tahun-tahun kebakaran besarnya pun berdekatan. Yakni 2002, 2006, 2009, 2015, dan 2019, yang semuanya berkaitan dengan gejala El Nino dan dipol Samudra Hindia.
Batas kajian ini terletak pada bahannya. Seluruh hitungan bersandar pada satu basis data hujan berpetak, tanpa pembanding dari stasiun pengamatan setempat.
Peta yang dihasilkannya pun berskala setengah derajat. Perbedaan di dalam satu kabupaten karena itu belum tentu tertangkap oleh petak sebesar itu.
Meski begitu, kajian ini menawarkan sesuatu yang sebelumnya belum ada. Frekuensi kejadian ekstrem di Indonesia kini terpetakan secara ruang, bukan hanya diceritakan per peristiwa.













