Abu Daun Nangka Jadi Glasir Keramik dalam Empat Formula

A A

Perajin gerabah membentuk badan keramik di Dusun Klipoh dekat Candi Borobudur. [Foto: Tommy Gustaviano Yeza/Wikimedia Commons CC BY-SA 3.0]

  • Dua puluh kilogram daun nangka menyusut menjadi sepuluh kilogram abu kering.
  • Empat formula glasir sama-sama memakai abu daun nangka sebanyak 50 persen.
  • Tambahan krom karbonat 0,5 persen mengubah warna glasir menjadi biru langit.
  • Kolom unsur abu Bogor berjumlah 95,51 persen dan abu Purwakarta 101,98 persen.
Daftar Isi
  1. Halaman Rumah di Bogor dan Purwakarta
  2. Uji EDX di Laboratorium Teknik Kimia UGM
  3. Empat Formula dan Studio Keramik di Bandung
  4. Tungku Gas Kerucut 6 Selama Sepuluh Jam
  5. Kolom Tabel Abu yang Tidak Berjumlah Seratus

Daun nangka itu dipungut dari halaman rumah warga di sekitar tempat tinggal para penelitinya, bukan dari kebun nangka di Ciomas, Bogor, yang semula direncanakan. Pengumpulannya dimulai April 2020, ketika keadaan pandemi membuat survei ke kebun tidak memungkinkan. Yang terkumpul sekitar 20 kilogram daun, dan setelah dibakar tersisa 10 kilogram abu kering.

Abu itu kemudian dipakai sebagai bahan glasir keramik oleh Caecilia Tridjata Suprabanindya dari Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta, Himawan Tri Bayu Murti Petrus dari Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, dan Fariz Al Hazmi dari Desain Komunikasi Visual Universitas Indraprasta PGRI. Laporannya berjudul Utilizing Jackfruit Leaf Ash as a Glaze in Ceramic Art, terbit di Artchive, Volume 6 Nomor 1 edisi Januari–Juni 2025, halaman 1 sampai 16.

Halaman Rumah di Bogor dan Purwakarta

Sepuluh kilogram abu itu terbagi dua sama rata. Lima kilogram berasal dari daun nangka Bogor, lima kilogram lagi dari Purwakarta, keduanya di Jawa Barat. Pembagian itu dipertahankan sampai tahap pembakaran keramik, sehingga tiap karya bisa ditelusuri asal abunya. Naskahnya diterima redaksi 12 Oktober 2024, direvisi 7 April 2025, dan terbit 25 Juni 2025.

Abu kering itu digiling lalu diayak dua kali, dengan saringan 60 mesh dan 80 mesh. Tanah liat Sukabumi dan tanah liat Kebumen ikut diolah sampai cukup halus untuk dicampurkan. Bahan lain yang disiapkan adalah kuarsa, feldspar, glasir transparan siap pakai bersandi F.107, dan glasir porselen bersandi F.3T.

Alasan memilih daun nangka ditulis terus terang di bagian pendahuluan. Daun itu tergolong limbah yang jarang dimanfaatkan, sementara pohonnya mudah ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia. Perajin keramik di Indonesia, tulis ketiganya, cenderung memakai glasir pabrikan siap pakai yang praktis tetapi relatif mahal karena bahan pewarnanya diimpor dari luar negeri.

Uji EDX di Laboratorium Teknik Kimia UGM

Kedua contoh abu dibawa ke Laboratorium Fakultas Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada untuk diuji dengan EDX, yaitu pengujian sebaran energi sinar-X yang membaca unsur di dalam bahan. Hasilnya dicetak sebagai tabel berisi tujuh unsur untuk tiap contoh, dengan persentase yang berbeda antara abu Bogor dan abu Purwakarta.

Pada abu Bogor, kalsium tercatat 47,65 persen dan menjadi unsur terbesar. Unsur yang di tabel ditulis dengan lambang St menyusul di 27,11 persen, lalu kalium 12,55 persen, besi 3,37 persen, aluminium 2,303 persen, mangan 1,48 persen, dan belerang 1,05 persen.

Pada abu Purwakarta, urutannya sama tetapi angkanya bergeser. Kalsium 48,86 persen, lambang St 27,45 persen, kalium 15,00 persen, besi 6,48 persen, belerang 1,64 persen, aluminium 1,67 persen, dan mangan 0,88 persen. Besi pada abu Purwakarta hampir dua kali lipat besi pada abu Bogor, sementara mangannya justru tinggal separuh.

Dari 20 kilogram daun ke empat formulaDari 20 kilogram daun ke empat formulaDari 20 kilogram daun ke empat formulaAlur kerja glasir abu daun nangka pada keramik20 kg daundari Bogor danPurwakarta10 kg abudiayak 60 dan 80meshEmpat formulaabu 50 persen ditiap formula4karya keramikberglasir abuPembakaran memakai tungku gas kerucut 6 selama 8 sampai 10 jam.
Sumber: Suprabanindya, Petrus, dan Al Hazmi, Utilizing Jackfruit Leaf Ash as a Glaze in Ceramic Art, Artchive, 6(1), 2025, hlm. 1–16. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Gandang Sarunai Solok Selatan dan Empat Tahap Pertunjukannya

Empat Formula dan Studio Keramik di Bandung

Dari sepuluh kilogram abu itu, dua kilogram dialokasikan untuk tiap formula. Formula A berisi abu daun nangka 50 persen, glasir F.107 40 persen, dan kuarsa 10 persen. Formula B berisi abu 50 persen, glasir F.3T 30 persen, kuarsa 10 persen, dan feldspar 10 persen.

Dua formula berikutnya menukar glasir pabrikan dengan tanah liat. Formula C berisi abu 50 persen, tanah Sukabumi 30 persen, kuarsa 10 persen, dan feldspar 10 persen. Formula D memakai susunan yang sama dengan tanah Kebumen menggantikan tanah Sukabumi. Abu yang dipakai pada seluruh formula adalah abu yang tidak dicuci lebih dulu.

Pengerjaannya berlangsung di dua kota, Jakarta dan Bandung, dengan narasumber pengolahan glasir seorang praktisi dari Studio Keramik Elina di Bandung. Datanya dikumpulkan lewat survei, wawancara tidak terstruktur, dan dokumentasi. Pencampuran glasir dikerjakan secara manual tanpa ball mill, dengan penambahan air sekitar 40 persen pada tahap awal.

Kekentalan itu diatur menurut caranya melapis. Bagian dalam vas, mangkuk, dan cangkir dilapis dengan teknik tuang, sehingga adonan dibuat lebih kental. Untuk permukaan luar, airnya ditambah agar adonan cukup encer disemprotkan. Sandi formula ditandai dengan goresan cairan pewarna di bagian dasar tiap keramik supaya tidak tertukar.

Dua teknik itu meninggalkan jejak yang berbeda. Dengan teknik celup, ekstrak abu daun nangka muncul sebagai bercak cokelat berpola tak beraturan di permukaan. Dengan teknik semprot, tekstur itu hilang karena sisa abunya mengendap di dasar wadah. Teknik semprot lebih cepat dan lebih rata, tetapi lebih banyak bahan yang terbuang selama pengerjaan.

Tungku Gas Kerucut 6 Selama Sepuluh Jam

Pembakarannya memakai tungku gas selama delapan sampai sepuluh jam pada suhu kerucut 6, yang di bagian metode ditulis sekitar 1.150 sampai 1.250 derajat Celsius. Tungku gas dipilih karena panasnya lebih tinggi dan lebih stabil. Keramik disusun dalam tiga lapis dengan jarak agak longgar agar panasnya merata.

Hasil pembakarannya dicatat dalam tiga sifat. Permukaan glasirnya ada yang mengilap, agak berkilau, dan suram. Sifat tembus pandangnya ada yang bening, agak bening, dan tertutup. Warnanya berkisar dari putih terang, krem pucat, krem oker, putih keabuan, sampai cokelat tua kehijauan, dengan tekstur yang tidak sama antara satu karya dan karya lain.

“Abu daun nangka menghasilkan warna putih terang, krem pucat, krem oker, putih keabuan, sampai nada cokelat tua kehijauan,” tulis Caecilia Tridjata Suprabanindya, dosen Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta itu, bersama kedua rekan penulisnya. Kalimat itu menutup bagian pembahasan, tepat sebelum simpulan.

Baca juga Barong Ider Bumi Kemiren, Tolak Bala yang Masuk Agenda B-Fest

Karya pertama diberi nama Milk White Pottery, sebuah vas dari tanah Sukabumi yang dibentuk dengan teknik putar. Glasirnya memakai abu Bogor dengan formula A, disemprotkan ke badan keramik, lalu dibakar pada kerucut 6 di 1.200 derajat Celsius. Hasilnya putih tertutup dan mengilap, mengikuti lengkung badan vas.

Karya kedua bernama Blue Sky Pottery dan memakai abu Bogor dengan formula B ditambah oksida krom karbonat 0,5 persen. Tambahan sekecil itu mengubah warnanya menjadi biru langit berpola dan agak bening. Lelehan glasirnya mengalir sampai ke bagian bawah vas, dan efek leleh yang sama terlihat pada mangkuk dan cangkirnya.

Karya ketiga, Butter Cream Pottery, menggabungkan dua sandi glasir sekaligus, yaitu AG.04A dan AG.04D, dengan teknik semprot dan celup. Separuh atas badan vasnya berlapis glasir cokelat oker yang bening dan mengilap, sementara separuh bawahnya abu-abu krem. Bentuk vasnya sederhana dengan garis badan yang mengalir.

Karya keempat, Brown Ochre Pottery, memakai abu Purwakarta dengan formula C yang dipadukan formula D. Permukaannya cokelat oker bening dengan tekstur tidak rata dan bintik cokelat mengilap yang tersebar. Vas itu berpegangan dua di sisi kiri dan kanan, bentuk yang tidak lazim untuk vas keramik putar.

Kolom Tabel Abu yang Tidak Berjumlah Seratus

Naskah ketiga peneliti itu memuat beberapa hal yang bisa diperiksa sendiri oleh pembacanya. Tujuh angka pada kolom abu Bogor bila dijumlahkan menghasilkan 95,51 persen, sedangkan tujuh angka pada kolom abu Purwakarta menghasilkan 101,98 persen. Tidak ada keterangan mengenai sisa maupun kelebihan itu di bawah tabelnya.

Penulisan angkanya juga tidak seragam. Aluminium abu Bogor ditulis dengan tiga angka di belakang koma, 2,303, sementara seluruh angka lain memakai dua angka. Mangan abu Purwakarta ditulis dengan titik, 0.88, di antara angka-angka lain yang memakai koma. Lambang unsur pada baris kelima tertulis St, bukan lambang unsur yang dikenal dalam tabel periodik.

Keterangan karya ketiga memuat selisih yang lebih besar. Tabel spesifikasinya menyebut sandi glasir AG.04A dan AG.04D, sementara uraian di bawahnya menyebut karya itu diolah dengan formula B berisi glasir F.3T 30 persen. Formula A dan formula B berbeda bahan pabrikannya, dan naskahnya tidak menjelaskan mana yang dipakai.

Suhu pembakarannya pun ditulis dua kali dengan dua angka. Bagian metode menyebut kerucut 6 setara 1.150 sampai 1.250 derajat Celsius, sementara keempat tabel karya menyebut angka tunggal 1.200 derajat Celsius. Satu rujukan disebut terbitan 2017 di badan teks dan 2007 di daftar pustaka, satu rujukan lain disebut 2020 lalu 2019.

Batas kajiannya harus dibaca dari metodenya, sebab naskah itu tidak memuat bagian keterbatasan tersendiri. Rancangannya pra-eksperimen jenis perbandingan kelompok utuh, tanpa kelompok pembanding, dengan empat formula pada satu tungku dan satu putaran pembakaran. Ketiga penulisnya sendiri mengingatkan bahwa perbedaan asal bahan organik sangat memengaruhi hasil glasirnya.

Baca juga Empat Kuliner Tradisional Togutil yang Dibaca sebagai Arsip

Yang tersisa dari percobaan itu adalah empat vas, empat formula, dan dua tumpuk abu daun nangka yang berasal dari dua tempat berbeda. Warna yang keluar dari tungku tidak bisa dipesan sebelumnya, dan naskah itu tidak menjanjikan sebaliknya. Yang dijanjikan hanya satu: formula yang sama, dibakar dengan cara yang sama, akan menghasilkan watak yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Daun yang Digesek Jadi Motif Kain di Gorontalo
Larangan Bermain di Sungai Brantas yang Dilukis Ulang
Enam Adegan Adu Kerbau Dijadikan Motif Bordir
Botol Jamu yang Berpindah Arti dalam Abadi Nan Jaya
Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya
Dari Baju Ondoafi ke Suvenir, Perjalanan Lukisan Kulit Kayu Asei