- Arak-arakan digelar setiap tahun pada hari kedua Idul Fitri, tanggal 2 Syawal, setelah dahulu jatuh pada bulan Sura.
- Pada periode pertama, arak-arakan hanya diikuti Tompok beserta keluarga dan cucu-cucunya.
- Nama arak-arakan Barong berganti menjadi Barong Ider Bumi pada 1999.
- Karena peserta bertambah dan barisan makin panjang, arak-arakan dimajukan dari selepas Ashar menjadi jam 2 siang.
- Naskah tidak menyajikan angka peserta untuk tahun mana pun, meski perubahan jumlah peserta menjadi fokus penelitian.
Daftar Isi
Cekricek.id — Di batas Desa Kemiren, Banyuwangi, arak-arakan Barong Ider Bumi berhenti untuk ngalap berkah. Warga berbagi sesaji di sana. Sepanjang rute menuju titik itu, biji-bijian atau uang koin ditabur dalam prosesi yang disebut sembur utik-utik, lambang upaya mengusir bala dan mengundang berkah bagi warga.
Rute itu memang sengaja melintasi batas-batas desa. Menurut naskah, lintasan tersebut secara simbolis dimaksudkan untuk “membersihkan” desa dari roh-roh jahat. Momen di perbatasan disebut sebagai puncaknya. Di titik itu, ritual tidak hanya melayani kepentingan spiritual, tetapi juga menjadi sarana mempererat solidaritas sosial di antara warga yang ikut berbagi sesaji.
Arak-arakan itu digelar setiap tahun pada hari kedua Idul Fitri, tanggal 2 Syawal. Dahulu jadwalnya jatuh pada bulan Sura dalam kalender Jawa. Pergeseran ke Syawal, menurut keterangan Ketua Adat Desa Kemiren, Suhaimi, didasari oleh konvergensi antara kalender tradisional Jawa dan kalender Islam. Ritual ini dijalankan masyarakat Using yang tinggal di desa tersebut.
Perjalanan tradisi itu, dari arak-arakan satu keluarga hingga agenda festival kabupaten, ditelusuri Iin Isnaini dan Bella Riskika Taufik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Hasilnya terbit dengan judul Tradisi Barong Ider Bumi di Desa Kemiren, Banyuwangi: Dari Ritual Sakral ke Festival Kultural dalam Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan dan Humaniora Volume 9 Nomor 3, edisi Juni 2025, halaman 1006–1016.
Keduanya memakai metode sejarah yang bertahap, mulai dari pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi, hingga historiografi. Sumber utamanya lisan, dari pelaku dan saksi hidup tradisi itu, ditambah dokumen sezaman seperti arsip lokal atau catatan resmi penyelenggaraan. Wawancara berlangsung pada 9 dan 11 November 2022 dengan Suhaimi, Wakil Ketua Adat Rifai, Effendi selaku pewaris Barong Ider Bumi, dan Suwandi dari pemerintah desa.
Makam Buyut Cili
Prosesi selalu berangkat dari satu titik, yakni makam Buyut Cili. Tokoh itu dihormati sebagai pendiri Desa Kemiren dan diyakini sebagai pelindung desa. Di makam, para pemangku adat membuka ritual dengan doa-doa dan persembahan sesaji untuk memohon restu agar prosesi berjalan lancar. Menurut naskah, ketetapan lokasi ini sudah mengakar dan tidak boleh diubah.
Kisah asal-usulnya pun berpusat di makam itu. Naskah menuturkan, dahulu wabah penyakit yang disebut blindheng melanda Kemiren, disertai serangan hama tikus yang merusak hasil pertanian. Seorang tokoh tua desa lalu meminta petunjuk ke makam Buyut Cili dan menerima wangsit agar diadakan arak-arakan mengelilingi desa. Wabah itu, menurut kisah tersebut, akhirnya hilang.
Nama ritualnya merekam gerak tersebut. Ider berarti mengelilingi atau berputar, sedangkan bumi berarti tanah atau desa. Kapan tepatnya arak-arakan pertama digelar, tidak ada yang mencatat. “Belum diketahui secara pasti kapan upacara ini mulai dilakukan oleh masyarakat Desa Kemiren karena tidak adanya bukti faktual secara tertulis yang menunjukkan waktu pasti kapan ritual ini pertama kali dilaksanakan,” tulis Isnaini dan Taufik.
Makam itu juga menentukan kesenian yang tampil di desa tetangga. Mitos setempat yang dicatat naskah menyebut, seorang penari Seblang pernah dirasuki roh Buyut Cili saat Ider Bumi berlangsung di Kemiren. Roh itu memerintahkan Seblang hanya dipentaskan di Desa Olehsari, sedangkan Kemiren mempertunjukkan Barong. Hingga kini, Kemiren tidak mengadakan Seblang, dan Olehsari tidak menggelar Barong.
Baca juga Dapur Ritual Osing, Ruang Pengetahuan Perempuan Adat
Rumah Barong
Dari makam, prosesi berpindah ke rumah Barong, tempat Barong Using disimpan. Upacara kecil digelar di sana sebelum arak-arakan dimulai. Barong diyakini sebagai manifestasi Buyut Cili. Dalam arak-arakan, ia menjadi ikon utama yang dipercaya menghadirkan leluhur desa itu lewat tarian untuk melindungi desa dan mengusir bala.
Barong yang disimpan di rumah itu punya ciri yang, menurut naskah, tidak ditemukan pada Barong lain seperti Reog Ponorogo atau Barong Bali: mahkota dan sayap. Naskah menyebut Barong Using pertama kali diciptakan di Kemiren pada 1830-an oleh tokoh bernama Tompo, yang lahir sekitar 1817. Sebagian sumber, tulis para penulis, justru menyebut ayahnya, Sanimah, sebagai penciptanya.
Asal-usul bentuknya dipaparkan dari dua arah. Satu pandangan menghubungkan Barong di Banyuwangi dengan Barongsai Tionghoa, sementara tokoh lokal berpendapat Barong Using adalah kesenian asli Banyuwangi. Isnaini dan Taufik menyimpulkan, meski ada pengaruh dari luar, bentuk, makna, dan fungsinya telah disesuaikan dengan nilai-nilai lokal masyarakat Using.

Sesaji untuk Buyut Cili disiapkan dengan komposisi tertentu. Naskah menyebut tumpeng, pecel pitik, jenang abang-putih, hingga rokok dan bunga-bunga. Selain arak-arakan, ritual ini diikuti slametan, saat warga bersama-sama menggelar tumpengan dan doa bersama untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan desa.
Arak-arakan Barong Ider Bumi
Barisan di jalan desa itu tidak selalu panjang. Pada periode pertama, arak-arakan hanya diikuti Tompok beserta keluarga dan cucu-cucunya. Baru pada 1990-an pesertanya melibatkan seluruh lapisan masyarakat Kemiren, baik dari segi adat maupun agama. Namanya pun semula hanya arak-arakan Barong, lalu pada 1999 berganti menjadi Barong Ider Bumi.
Mayoritas warga Kemiren beragama Islam, tetapi naskah mencatat ritual ini juga melibatkan warga beragama Hindu, Buddha, dan Kristen. Barisannya berurutan. Pemangku adat berjalan paling depan. Kelompok kesenian Barong Using menjadi inti, disusul pitik-pitikan atau ayam-ayaman dan macan-macanan yang menari diiringi musik tradisional.
Di belakang mereka berjalan aparat desa, kelompok mocoan, karang taruna, serta kelompok samroh, kuntulan, jaran kecak, dan angklung paglak. Di ujung barisan, masyarakat umum dan penonton, termasuk yang datang dari luar Kemiren, ikut menjadi bagian ritual. Pemerintah kabupaten, menurut naskah, biasanya diwakili Bupati Banyuwangi dan pejabat lainnya.
Pada masa itu, tradisi masih dipegang dengan ketat. “Sebelum tahun 2004, tradisi Barong Ider Bumi dipandang sangat sakral, terutama karena keterkaitannya dengan sosok Buyut Cili,” tulis Isnaini dan Taufik. Karena itu, sebelum arak-arakan dilakukan, para pemangku adat selalu berkunjung ke makam Buyut Cili untuk memberi penghormatan dan meminta izin.
Baca juga Lagu Padha Nonton Gandrung Hidup Kembali di Kolom Komentar
Punggung Jaran Kencak
Antara 2004 dan 2012, barisan itu berubah rupa. Keterlibatan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi membawa Barong Ider Bumi ke dalam agenda Banyuwangi Festival atau B-Fest. Unsur seremonial ditambahkan, termasuk sambutan Bupati Banyuwangi dan acara resmi yang menyertai ritual. Para penulis menyebut periode ini ditandai komodifikasi tradisi.
Pemandangan baru muncul di tengah barisan. Bupati Banyuwangi dinaikkan di atas Jaran Kencak, elemen yang menurut naskah merupakan hal baru dalam prosesi dan menunjukkan keterlibatan resmi pemerintah. Formasi pun makin teratur, dari pembawa umbul-umbul desa, kelompok kesenian, tetua adat atau Modin, ibu-ibu pembawa sesaji, hingga muda-mudi Jebeng-Thulik.
Pakaian adat peserta disusun rapi dan seragam. Jebeng-Thulik tampil dengan busana adat yang bervariasi. Gandrung, Hadrah Kuntulan, Mocoan Lontar Yusuf, Gedhogan, Jaran Kencak, dan berbagai jenis musik angklung makin diperkuat posisinya di dalam barisan, sementara Macan-macanan, Pitik-pitikan, dan grup musik rebana ikut memeriahkan arak-arakan.
Urutan pokoknya tidak bergeser. Ziarah ke makam Buyut Cili, ritual di rumah Barong, lalu arak-arakan mengelilingi Kemiren tetap dijalankan seperti sedia kala. Yang berubah adalah jam berangkatnya. “Biasanya, arak-arakan Barong dilakukan setelah sholat Ashar, namun karena meningkatnya jumlah peserta dan barisan yang semakin panjang, waktu pelaksanaan dimajukan menjadi jam 2 siang,” tulis kedua peneliti.
Ritual yang semula berjalan sederhana dan spontan kini diatur sistem kepengurusan adat khusus. Pada 2012, saat Barong Ider Bumi resmi dimasukkan ke dalam agenda B-Fest, naskah menyebut tradisi ini mencapai puncak kemeriahan. Suwandi, perwakilan Pemerintah Desa Kemiren, menilai kebijakan itu membantu menjaga kelestarian tradisi sambil memperkenalkannya kepada audiens nasional dan internasional.
Di luar barisan, perekonomian desa ikut bergeser. Menurut Rifai, perkembangan pariwisata mengubah wajah perekonomian lokal dari agraris menjadi lebih komersial. Naskah mencatat banyak warga yang sebelumnya bekerja sebagai petani beralih menjadi pedagang atau membuka homestay dan villa. Nasi pecel dan pecel pitik, yang dulu tidak dijual, kini diminati wisatawan.
Perbatasan Desa
Rifai juga menyimpan kekhawatiran. Ia menyatakan meningkatnya jumlah wisatawan dan pihak luar yang terlibat sedikit mengurangi kekhusyukan prosesi. Keterlibatan pemerintah dan pengunjung luar desa dinilai membuat ritual menjadi kurang intim. Isnaini dan Taufik merangkumnya: “komodifikasi ini membawa ambivalensi: di satu sisi, tradisi dilestarikan dan diangkat menjadi lebih populer, sementara di sisi lain, nilai kesakralan aslinya sedikit terdistorsi.”
Naskah tidak memuat bagian keterbatasan penelitian tersendiri. Fokus yang dinyatakan di pendahuluan mencakup perubahan jumlah peserta arak-arakan, tetapi naskah tidak menyajikan angka peserta untuk tahun mana pun. Pertambahan itu hanya digambarkan lewat daftar kelompok yang ikut. Waktu awal ritual Barong Ider Bumi juga tidak dapat dipastikan karena tidak ada bukti tertulis.
Baca juga Ritual Batu Mbah-Mbeh yang Bertahan di Watugaluh
Ada pula ketidakcocokan di dalam naskah. Abstrak menyebut perubahan tradisi dikaji pada periode 2000–2012, sedangkan pendahuluan dan subbab hasil memakai rentang 2004–2012. Tokoh pencipta Barong ditulis Tompo di satu bagian, lalu Tompok dan Mbah Tompok di bagian lain. Periode 2004–2012 juga digambarkan sebagai masa masuknya ritual ke B-Fest, padahal tahun resmi masuknya disebut 2012.
Di perbatasan desa itu, sesaji masih dibagikan dan biji-bijian atau koin masih ditabur. Bedanya, sejak masuk B-Fest, barisan yang tiba di sana berangkat pukul 2 siang, bukan lagi selepas Ashar, karena pesertanya bertambah dan barisannya makin panjang. Di tengahnya ada Bupati Banyuwangi di atas Jaran Kencak, melintasi rute yang pada periode pertama hanya dilalui keluarga Tompok.















