Ornamen Waruga Minahasa Bicara tentang Hidup, Bukan Maut

A A

Deretan waruga, kubur batu leluhur Minahasa, berdiri di atas hamparan rumput. [Foto: mattjlc/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)]

  • Waruga dipakai orang Minahasa untuk menguburkan jenazah hingga awal abad ke-20 dan telah digunakan sekitar 2.400 tahun.
  • Ornamen waruga di Sawangan dan Airmadidi dikelompokkan ke dalam motif antropomorfik, hewan, taru, dan geometris.
  • Motif ular melambangkan Lumimuut, ibu orang Minahasa, dan menjadi motif yang paling banyak ditemukan pada waruga.
  • Para peneliti menyimpulkan simbol pada waruga menggambarkan pandangan orang Minahasa terhadap kehidupan, bukan kematian.
  • Tim peneliti menyatakan makna temuan mereka tidak mutlak dan tetap memberi ruang bagi tafsir lain.
Daftar Isi
  1. Kolibu dan Tim Menyusuri Sawangan dan Airmadidi
  2. Empat Motif Dasar Ornamen Waruga Minahasa
  3. Bidan Desa hingga Mamuis dalam Tafsir Freddy Wowor
  4. Ular Lumimuut dan Naga dari Masa Akulturasi
  5. Tombaloi dan Manembo pada Waruga Tona’as dan Walian
  6. Sukendar dan Wowor Membaca Garis Geometris
  7. Waruga sebagai Monumen dalam Kesimpulan Kolibu

Cekricek.id — Ornamen waruga Minahasa tumbuh dari tradisi megalitik yang semula hampir tak mengenal hiasan. Waruga, peti batu yang diletakkan di atas permukaan tanah, dipakai orang Minahasa untuk menguburkan jenazah hingga awal abad ke-20. Penanggalan radiokarbon C-14 oleh peneliti Balai Arkeologi di situs Tatelu, Kecamatan Dimembe, Minahasa Utara, menunjukkan wadah kubur itu telah digunakan sekitar 2.400 tahun.

Pada mulanya, desain waruga cenderung polos tanpa ornamen. Perkembangannya kemudian terjadi terutama lewat penambahan ukiran, dan ukiran itu tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga membawa makna dan pesan. Ritual penguburan dengan waruga yang semula berlaku bagi semua orang Minahasa lambat laun hanya diperuntukkan bagi kelompok terpandang, yakni Tona’as atau pemuka masyarakat dan Walian atau pemuka agama, sehingga waruga mereka dihiasi beragam ukiran sebagai penghormatan.

Perjalanan dari batu polos ke batu berukir itulah yang dibaca ulang Ronald M. P. Kolibu dari Program Doktor Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Agus Sachari dan Pindi Setiawan dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, serta Tjetjep Rohendi R. dari Universitas Negeri Semarang. Hasilnya terbit dengan judul Waruga Ornament Symbols; Identity and Culture Representation of the Minahasa People, Indonesia di Journal of Philosophy, Culture and Religion volume 54 tahun 2021, halaman 19–28.

Mereka menginventarisasi bentuk simbol pada ornamen waruga Minahasa, lalu menafsirkan makna di baliknya melalui wawancara dan studi literatur. Kesimpulan utama tim itu dirumuskan dalam dua kalimat. “Simbol-simbol pada ornamen waruga sebenarnya bukanlah ornamen yang berkaitan dengan kematian. Simbol-simbol itu lebih merupakan gambaran pandangan dan filosofi orang Minahasa terhadap kehidupan,” tulis Kolibu dan kawan-kawan dalam bagian kesimpulan paper tersebut.

Kolibu dan Tim Menyusuri Sawangan dan Airmadidi

Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan pendekatan etnografi kognitif James Spradley. Dalam etnografi kognitif generasi kedua itu, kebudayaan didefinisikan sebagai sistem pengetahuan yang diperoleh manusia melalui proses belajar, lalu dipakai untuk menafsirkan dunia di sekitarnya dan menyusun strategi perilaku dalam menghadapinya. Waruga beserta ornamennya dideskripsikan, dijelaskan, dan dianalisis, baik kedudukannya sebagai artefak maupun posisinya dalam kebudayaan masyarakat Minahasa.

Lokus penelitiannya adalah waruga yang tersebar di wilayah Minahasa, khususnya di kompleks Taman Purbakala Sawangan dan Tumatenden Airmadidi. Tahapannya dimulai dengan mengumpulkan data lisan lewat wawancara dengan budayawan dan akademisi, yang kemudian divalidasi dengan literatur yang ada. Validasi awal itu ditujukan untuk memperoleh gambaran dan klasifikasi bentuk serta makna yang berkaitan dengan filosofi orang Minahasa, sebelum objeknya dipelajari dengan pendekatan etnografi.

Para peneliti tidak menutupi kelemahan bahannya. Literatur tentang masyarakat Minahasa masa lalu berasal dari tulisan arkeolog dan misionaris Belanda serta Jerman, dan menurut mereka “sering kali literatur yang disajikan tidak lengkap dan tidak menggambarkan Minahasa pada masa lalu dengan jelas.” Paper juga tidak mencantumkan jumlah waruga yang diamati maupun jumlah narasumber yang diwawancarai. Daftar informan di akhir naskah hanya memuat satu nama, Fredy Wowor, 47 tahun, akademisi dan pelaku budaya Minahasa.

Empat Motif Dasar Ornamen Waruga Minahasa

Dari hasil identifikasi, ornamen waruga Minahasa di lokus penelitian dikelompokkan ke dalam empat motif dasar. Motif antropomorfik berupa ukiran manusia yang digambarkan utuh atau hanya bagian tertentu seperti wajah dan kepala. Motif hewan biasanya berbentuk ular, burung, anjing, sapi, biawak, ayam jantan, dan hewan khayalan. Motif taru menggambarkan daun, bunga, tangkai tumbuhan, dan buah, sedangkan motif geometris terdiri atas bentuk tumpal, pilin berganda, swastika, lingkaran, dan meander.

Keempat kelompok motif itu dapat divisualkan dalam bentuk natural, ornamental, figuratif, atau simbolis, dan semuanya hadir sebagai relief yang dibuat dengan teknik pahat. Paper juga mencatat bahwa budaya hias di Minahasa dapat dikatakan tidak berkembang dan mungkin telah hilang. Satu-satunya bukti yang masih bisa dilihat hari ini tentang pernah adanya budaya ornamen di Minahasa, menurut para peneliti, adalah ukiran yang terdapat pada waruga.

Baca juga Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda

Bidan Desa hingga Mamuis dalam Tafsir Freddy Wowor

Motif antropomorfik pada dasarnya menggambarkan aktivitas manusia ketika menjalani salah satu proses dalam siklus hidup, dan tafsirnya beragam. Salah satu relief memperlihatkan kepala bayi yang menghadap ke bawah saat keluar dari rahim seorang perempuan. Menurut para peneliti, relief itu menunjukkan bahwa jenazah di dalamnya adalah bidan desa, kedudukan yang sangat terhormat karena selain berperan sebagai dukun beranak, ia biasanya juga istri kepala desa.

Freddy Wowor, akademisi dan pelaku budaya Minahasa yang menjadi informan, menyebut posisi kaki mengangkang sebagai gambaran proses transformasi dalam budaya Minahasa. Posisi itu disebut lumangkoyo yang berarti abadi, dengan filosofi “torang ini cuma ada ba singgah di tampa yang ndak pasti, makanya musti ba pasti akang”. Paper menerjemahkannya sebagai kita hanya tinggal sementara di tempat yang tidak pasti, sehingga harus memperoleh sesuatu yang pasti.

Bila posisi bayi dibalik, maknanya berubah menjadi filosofi kematian sebagai peralihan dari kehidupan di dunia ke kehidupan di alam roh. Orang Minahasa, tulis paper itu, meyakini konsep kehidupan kedua, ketika meninggal berarti meninggalkan dunia menuju surga yang dilambangkan dengan kembali ke rahim ibu. Motif lain dalam ornamen waruga Minahasa menampilkan sosok berpakaian gaya Eropa, biasanya pada waruga milik Walak atau kepala kampung dan Tonaas, yang oleh para peneliti dibaca sebagai tanda kuatnya pengaruh budaya Barat.

Ada pula motif yang memvisualkan ritual kematian yang selalu disertai tarian, seperti cakalele sebagai tarian pengantar prosesi pemakaman dan tarian perempuan pada upacara malam ketiga. Ritual itu kini tidak lagi dilakukan, dan pengantaran jenazah ke kubur telah digantikan nyanyian rohani para pelayat. Motif sosok yang memegang pedang dan perisai, menurut paper, juga menggambarkan pekerjaan pemilik waruga sebagai mamuis, pemburu kepala manusia yang pada masa itu menjadi bagian dari sejumlah ritual.

Tutup kubur batu waruga Minahasa berhias ukiran wajah dan kepala manusia
Tutup kubur batu waruga Minahasa berhias ukiran wajah dan kepala manusia. [Foto: mattjlc/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)]

Motif tersebut kerap dibuat pada waruga tertentu yang biasanya milik Tonaas atau Walian. Para peneliti menjelaskan bahwa waruga semacam itu berisi ritual penempatan beberapa kepala manusia sebagai pengawal dan pembantu orang yang dikubur kelak di alam roh, yang dilambangkan dengan motif kepala yang diputar. Paper menyebut benang merah motif-motif manusia ini adalah personifikasi identitas pemilik waruga, termasuk pekerjaannya semasa hidup.

Ular Lumimuut dan Naga dari Masa Akulturasi

Motif hewan berkaitan erat dengan keyakinan orang Minahasa pada masa itu yang memandang beberapa jenis hewan sebagai utusan Tuhan untuk memberi tanda dan peringatan kepada manusia. Ular mendapat perhatian khusus dalam paper. Bagi orang Minahasa masa itu, ular adalah representasi Lumimuut, ibu orang Minahasa dan perempuan pertama. Selain melambangkan kesuburan, posisinya yang selalu berada di tengah menunjukkan ular sebagai perantara bagi manusia yang meninggal dan beralih ke alam roh.

Ular juga diyakini sebagai tanda bahaya dan nasib buruk, utusan Tuhan yang tidak berkenan atas apa yang akan dilakukan manusia. Dipadukan dengan tanaman merambat tombaloi, ular memberi makna kesuburan, sekaligus melambangkan kekuatan dan keperkasaan yang memberi arti kehormatan bagi orang yang dikubur. Tidak mengherankan, tulis para peneliti, bila motif ular menjadi motif yang paling banyak ditemukan pada waruga di Minahasa, meski paper tidak menyertakan hitungan jumlahnya.

Baca juga Keraton Buton, Nanas dan Naga di Atap Rumah Warganya

Motif naga membawa filosofi serupa, tetapi berdasarkan pengamatan para peneliti menjadi bukti akulturasi budaya Minahasa dengan berbagai budaya dunia, dan pengaruh Tiongkok sangat kuat di sini. Bukti lainnya adalah porselen Tiongkok yang dipandang sebagai barang berharga, sehingga status orang yang meninggal akan naik bila waruganya menyertakan porselen sebagai bekal kubur. Anjing dan ayam pada ornamen waruga Minahasa digambarkan sebagai hewan kesayangan almarhum yang menjadi bekal kubur.

Motif burung secara khusus menggambarkan burung Manguni, sejenis burung hantu yang diyakini sebagai utusan Tuhan dan mampu memberi tanda serta peringatan kepada orang Minahasa. Menurut paper, burung ini belakangan juga mendominasi logo daerah di Minahasa, termasuk logo organisasi Gereja Kristen Injili di Minahasa. Biawak dan sapi yang tercantum dalam daftar motif hewan tidak diuraikan maknanya dalam paper, berbeda dengan uraian panjang tentang ular dan Manguni.

Tombaloi dan Manembo pada Waruga Tona’as dan Walian

Motif tumbuhan dalam ornamen waruga Minahasa menghadirkan tombaloi, tanaman berbunga banyak yang bagi orang Minahasa melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Motif ini berfungsi estetis, tetapi orang Minahasa juga percaya bahwa dengan membuatnya, orang yang dikubur diharapkan memperoleh kehidupan layak di Kasendukan atau surga. Tumbuhan hijau yang menjalar, renga-rengan, memberi makna “ba hidop pe hidop”, yakni terus hidup dan tumbuh, sebagai visualisasi pandangan bahwa orang Minahasa harus terus berbuat serta mencari ilmu dan kehidupan.

Bunga matahari juga kerap hadir dalam ornamen waruga Minahasa karena diyakini mewakili makna kehidupan sebagai simbol matahari. Cahayanya dianggap penerang bagi roh orang yang meninggal dalam perjalanan menuju surga. Freddy Wowor menyebut motif ini manembo atau matahari, gambaran cahaya atau pemberi cahaya sekaligus penuntun hidup. Motif tersebut, menurut paper, banyak digambarkan pada waruga milik Tona’as dan Walian yang menjadi tokoh dan teladan di kampung.

Sukendar dan Wowor Membaca Garis Geometris

Motif geometris pada dasarnya ditemukan di hampir semua artefak, terutama dari masa megalitik, dan fungsinya bukan hanya memperindah, tetapi juga memberi makna komunikasi sosial-religius. Motif segitiga adalah simbol gunung sebagai tempat bersemayam para leluhur. Puncak segitiga yang menghadap ke atas dan ke bawah menggambarkan keyakinan akan adanya dua dunia, yaitu dunia atas dan dunia bawah, seperti yang dijelaskan dalam paper tersebut.

Baca juga Lambi Tei Rote, Motif Raja yang Dibakar Bila Salah Pemakai

Pada titik ini paper menyandingkan dua cara baca. Budaya megalitik kaya motif geometris seperti belah ketupat bersambung, pilin S, dan garis lengkung, dan “Sukendar mengidentifikasi motif-motif ini hanya sebagai motif hias yang berfungsi menambah nilai keindahan”, seperti yang dijumpai di situs megalitik Nias, Timor Barat, dan Sumba. Kolibu dan kawan-kawan menyebut hal itu menjadi ciri khusus motif geometris pada ornamen waruga Minahasa, karena hampir semuanya mewakili keyakinan tentang hidup di dunia dan sesudah mati di Kasendukan.

Freddy Wowor menafsirkan motif geometris itu sebagai pengembangan filosofi dasar orang Minahasa yang terdiri atas titik, suru’ atau kasuruan, yang merujuk pada Yang Mahakuasa sebagai pusat segalanya. Berikutnya lingkaran atau kayombaan yang dipahami sebagai titik yang meluas dan dimaknai sebagai alam semesta, lalu garis vertikal atau katooran yang dimaknai sebagai manusia. Bentuk-bentuk geometris itu, menurut paper, dapat ditemukan di situs Watu Pinabetengan.

Waruga sebagai Monumen dalam Kesimpulan Kolibu

Karena kaya makna filosofis, para peneliti berpendapat bahwa ornamen waruga Minahasa tetap merupakan ornamen khas Minahasa meski sebagian merupakan hasil akulturasi dengan budaya lain, sebab ornamen itu menggambarkan keyakinan dan pandangan orang Minahasa yang hidup pada masa itu. Waruga yang berfungsi sebagai kubur hanyalah salah satu media untuk mewariskan filosofi tersebut, dan peralihan dari dunia manusia ke dunia roh pada peristiwa kematian menjadikannya media yang tepat.

Hampir semua rujukan, tulis paper itu, menafsirkan ornamen pada waruga dengan makna doa seperti kemakmuran, kesuburan, kekuatan, kebijaksanaan, dan kemuliaan. Waruga juga menjadi monumen peringatan bagi yang masih hidup agar memberikan yang terbaik dalam hidupnya, sebuah penghormatan atas kerja keras dan pedoman hidup almarhum yang diharapkan berpengaruh baik bagi yang ditinggalkan. Dalam konteks karya seni, simbol pada waruga dibaca sebagai ekspresi personal yang mewakili logika imajinasi pembuatnya.

Para peneliti menegaskan batas tafsir mereka sendiri. “Adanya tafsir yang berbeda-beda menjadi salah satu tantangan dalam penelitian ini. Karena itu, makna yang ditemukan dalam penelitian ini tidak mutlak, tetapi tetap memberi ruang bagi tafsir lain,” tulis Kolibu, Sachari, Setiawan, dan Rohendi. Mereka menyatakan menghindari klaim mutlak atas fakta yang ditemukan dan menyajikan informasi dari literatur maupun sumber lain apa adanya, agar proses penelitian kaya data dan informasi.

Paper ini karenanya tidak menutup pembacaan atas ornamen waruga Minahasa. Ia berdiri di antara penanggalan Balai Arkeologi di Tatelu dan tulisan lama para arkeolog serta misionaris Belanda dan Jerman, dengan tafsir yang oleh keempat penelitinya sendiri dibiarkan tetap terbuka seiring proses penelitian itu.

Bagikan

Baca Juga

Gambar Cadas Gua Wakuntai Terpilah ke 12 Tipe di Karst Muna
Tasawuf Rejang Diwariskan Lewat Tambo, Zikir, dan Ngarak
Gandang Sarunai Solok Selatan dan Empat Tahap Pertunjukannya
Reklamasi Teluk Benoa dan Desa Adat yang Memilih Bahasa Suci
Mantra Penyembuhan Suku Tidung dari Kekapal hingga Nipah
Tradisi Perang Pandan Tenganan Ditutup Megibung Tanpa Dendam