Mantra Penyembuhan Suku Tidung dari Kekapal hingga Nipah

A A

Rumah adat Baloi Adat suku Tidung di Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. [Foto: Ezagren/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Muhammad Arbain dan tim mewawancarai sepuluh informan Tidung di Tarakan, Bulungan, Tana Tidung, Malinau, dan Nunukan.
  • Lima tanaman dipasangkan dengan bacaan tawar, yakni kekapal, sumit usi, buyu, bawang lia, dan perumpung.
  • Suku Tidung tidak menolak pengobatan modern dan memakai pengobatan tradisional sebagai pertolongan pertama.
  • Pengetahuan mantra berpindah dari guru ke murid dengan syarat pekaras, yakni pemberian atau mahar.
Daftar Isi
  1. Mendatangi Sepuluh Penyembuh di Lima Wilayah
  2. Merekam Mantra Penyembuhan Suku Tidung dari Daun Kekapal
  3. Mencatat Rebusan Sumit Usi Para Nelayan
  4. Menyimak Doa Penghenti Darah dari Daun Buyu
  5. Mengikuti Ritual Bawang Lia dan Pelepah Perumpung
  6. Menimbang Pewarisan Mantra Penyembuhan Suku Tidung

Cekricek.id — Yujang Ali, penyembuh suku Tidung, menuturkan sebuah mantra penyembuhan suku Tidung untuk sakit gigi kepada tim peneliti dalam wawancara pada 15 Maret 2025. Bacaan itu memanggil jambijin, ulat pembawa penyakit, agar berhenti memakan kulit, daging, dan tulang orang yang sakit. Menurut Yujang Ali, mantra tersebut memberi sugesti kepada tubuh yang nyeri sekaligus kepada ulat yang menggerogoti gigi.

Mantra Yujang Ali hanyalah satu dari rangkaian bacaan yang dikumpulkan Muhammad Arbain, Moh. Wahyu Agang, dan Zulhafandi dari Program Studi Agribisnis Universitas Borneo Tarakan bersama Yeisi Gusniati dari Program Studi Sastra Inggris Universitas Terbuka. Keempatnya menuliskan hasilnya dalam artikel Traditional Medicinal Plants and Healing Incantations of The Tidung Tribe, North Kalimantan. Artikel itu terbit di Aceh Anthropological Journal Volume 10 Nomor 1, halaman 23–50, pada April 2026.

Arbain dan rekan-rekannya mencatat lima tanaman yang selalu dipasangkan dengan bacaan tawar. Kekapal atau cocor bebek dipakai untuk sakit gigi dan demam, sumit usi atau kumis kucing untuk sakit pinggang, dan buyu atau sirih untuk mimisan. Bawang lia atau bawang merah dipakai untuk masuk angin, sedangkan perumpung atau nipah untuk patah tulang. Menurut mereka, mantra penyembuhan suku Tidung itu dituturkan dalam bahasa daerah, Melayu, dan Arab.

Mendatangi Sepuluh Penyembuh di Lima Wilayah

Untuk mengumpulkan bahan itu, Muhammad Arbain dan tim memakai pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasinya komunitas Tidung di Kota Tarakan, Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Nunukan. Sepuluh informan diwawancarai. Mereka terdiri atas tetua adat, dukun atau penyembuh, serta orang tua dan tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan lokal tentang pengobatan tradisional.

Informan dipilih secara purposif. Arbain dan rekan-rekannya hanya mendatangi pegiat atau praktisi pengobatan Tidung yang masih menjalankan praktik itu. Data dihimpun lewat observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, lalu dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan triangulasi. Hasilnya kemudian dicocokkan dengan kepustakaan pendukung, baik menyangkut manfaat medis maupun manfaat magis dari tanaman yang dipakai.

Baca juga Air Garam dan Mantra Sakit Perut dari Desa Jomboran

Dalam bagian pengantar, Arbain dkk. menulis bahwa pemakaian tanaman obat yang disertai pembacaan mantra penyembuhan suku Tidung masih jarang dijumpai dalam penelitian terdahulu. Kajian sebelumnya, menurut mereka, hanya mengenali khasiat dan manfaat tanaman tanpa menelusuri tulisan serta makna mantranya. Karena itu, Yeisi Gusniati dan rekan penulis lain menaruh perhatian pada teks bacaan tawar yang dituturkan para penyembuh.

Arbain dkk. juga memetakan tempat pengobatan tradisional di tengah layanan medis. “Meski hidup di zaman modern, suku Tidung tidak menolak pengobatan modern, tetapi pengobatan tradisional dipakai sebagai pertolongan pertama sebelum membawa orang sakit ke dokter bila tidak kunjung sembuh,” tulis Muhammad Arbain dan rekan-rekannya. Bila pengobatan tradisional menyembuhkan pasien, perawatan medis tidak lagi dicari, kecuali pada kasus tertentu yang memang memerlukannya.

Menurut Arbain dkk., suku Tidung juga mengenal Besitan atau Bedewa dan Bekiparat. Kedua ritual itu biasanya memakai hewan sebagai perantara untuk menghilangkan penyakit magis seperti ilmu hitam, kutukan, dan energi negatif. Dari sudut pandang Islam, agama mayoritas suku Tidung, keduanya dianggap syirik dan dosa besar. Para penulis mencatat masih ada kelompok yang menjalankannya, walau kini jarang, kecuali sebagai atraksi dan pertunjukan budaya.

Merekam Mantra Penyembuhan Suku Tidung dari Daun Kekapal

Pada tahap berikutnya, para peneliti menelusuri cara kekapal dipakai. Dalam catatan Arbain dkk., daun kekapal dipetik dalam jumlah ganjil sambil membaca Bismillah. Untuk sakit gigi, daun ditumbuk dengan benda tumpul seperti batu di seluruh permukaannya sampai keluar getah. Daun itu lalu ditempelkan di pipi bagian gigi yang sakit. Yujang Yamod, penyembuh Tidung, menuturkan bacaan untuk sakit gigi dan demam kepada peneliti.

Selain menempelkan daun, sebagian tetua memberi air putih yang sudah dibacakan mantra sakit gigi untuk diminum sampai sembuh. Arbain dan rekan-rekannya menulis bahwa proses ini membutuhkan keyakinan si sakit agar air menjadi media penyembuhan yang mereka sebut hado. Menurut para penulis, mantra penyembuhan suku Tidung tidak hanya dibaca dukun, tetapi juga oleh orang yang dianggap memahami bacaan leluhur, bahkan si sakit sendiri.

Bacaan yang disampaikan Yujang Ali memuat penggalan “jambijin sama ngakan kulit Adom, jambijin sama ngakan ansi Adom, jambijin sama ngakan tulang Adom”. Menurut tafsir para peneliti, Adom atau Adam adalah orang yang sedang sakit gigi. Bagian penutupnya berupa doa penerimaan, “La ilaha illallah Muhammadurrasulullah”. Doa itu dimaknai bahwa hanya Allah Penyembuh Agung dan Muhammad utusan yang memberi syafaat kepada umatnya.

Askandar, tokoh adat Tidung, memberikan mantra kedua dalam wawancara pada 5 April 2025. Bacaan ini dipakai untuk menurunkan demam dan juga memakai kekapal. Daun itu banyak mengandung air dan berfungsi menyerap panas tubuh sebagai kompres. Mantranya dibuka dengan “Turnia batu apui, salui badan ingkupu damo”. Menurut para peneliti, maknanya meminta batu api turun dan mendingin agar keturunan Nabi Ibrahim selamat.

Baca juga Serbuk Sari Obat Malaria di Percandian Muarajambi Abad ke-7

Arbain dkk. menulis bahwa bacaan demam dari Askandar dilanjutkan dengan Surah Al Anbiya ayat 69, yang mengisahkan api berubah dingin ketika Nabi Ibrahim dibakar. Tubuh yang demam tinggi terasa panas seperti api. Leluhur Tidung, menurut para penulis, meyakini doa Nabi Ibrahim itu menjadi sarana menurunkan demam, sebagaimana api yang menyala seketika mendingin bagi sang nabi.

Mencatat Rebusan Sumit Usi Para Nelayan

Sementara itu, Yujang Mashud, penyembuh tradisional Tidung, menceritakan penggunaan sumit usi atau kumis kucing. Saat ramuan diminum, leluhur atau tetua biasanya meniupkan doa sakit pinggang dan masuk angin untuk menambah daya ramuan tersebut. Arbain dkk. mencatat tanaman ini banyak dibudidayakan di sekitar rumah warga Tidung dan dipakai untuk mengobati sakit pinggang serta masuk angin.

Para peneliti mengaitkannya dengan pekerjaan warga. Menurut Arbain dan rekan-rekannya, sebagian besar orang Tidung adalah nelayan yang kerap bermalam di laut, kadang berminggu-minggu sebelum pulang ke darat. Akibatnya, kelelahan berat dan nyeri pinggang tidak terhindarkan. Daun dan bunga sumit usi direbus sampai tersisa satu gelas air, didinginkan, lalu diminum dua kali sehari, pagi dan malam.

Bunga putih tanaman kumis kucing dengan benang sari panjang di antara dedaunan
Bunga kumis kucing (Orthosiphon aristatus), tanaman yang oleh suku Tidung disebut sumit usi. [Foto: Adrina Aknes/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Yujang Yulai, tokoh adat Tidung, menambahkan bahwa air rebusan sumit usi tidak bekerja sendirian. Sebelum diminum, penyembuh harus lebih dulu membacakan doa, yakni mantra penyembuhan suku Tidung untuk sakit pinggang dan masuk angin. Bacaannya dibuka dengan “utok bangkung kepala bangkung, remudak tidong simangki-mangki”. Menurut para penulis, mantra itu ditujukan untuk menghancurkan gunung angin yang mengendap di perut, yang dikenal sebagai angin duduk.

Arbain dkk. juga mendaftar kandungan kumis kucing, seperti flavonoid, saponin, kalium, minyak atsiri, dan tanin, yang dikaitkan dengan peredaan sakit pinggang dan masuk angin. Metode yang dipaparkan Yeisi Gusniati dan rekan-rekannya hanya berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Daftar khasiat senyawa itu berasal dari pencocokan dengan kepustakaan pendukung, bukan dari pengujian yang dilaporkan dalam paper tersebut.

Menyimak Doa Penghenti Darah dari Daun Buyu

Yujang Yapong, penyembuh tradisional Tidung, menjelaskan kepada peneliti bahwa daun buyu atau sirih sering dipakai untuk menghentikan mimisan. Daun ini juga dipakai untuk perdarahan dari organ lain. Orang tua biasanya memetik daun sirih dalam jumlah ganjil sambil membaca basmalah, memilih daun terbaik, lalu membersihkannya dengan air. Daun itu kemudian digulung menjadi bola kecil dan dimasukkan ke lubang hidung yang berdarah.

Menurut Yujang Yapong, sebelum daun dimasukkan, doa dibacakan pada wadah berisi air dan daun sirih yang sudah bersih. Satu atau dua lembar daun masuk ke hidung, sementara sebagian daun yang bercampur air dipakai untuk mandi. Tiupan doa diarahkan ke air berlawanan arah jarum jam, ke kiri. Arbain dkk. mencatat doa ini bernuansa Islam, dituturkan dalam bahasa daerah dan Melayu, dan ditulis dengan huruf Arab Pegon.

Manijay, tokoh adat Tidung, menerangkan bahwa mantra penyembuhan suku Tidung untuk mimisan berangkat dari anggapan bahwa darah keluar karena pembuluhnya terbuka. Doa yang dibuka dengan “Assalamualaikum pintu baring, Assalamualaikum pintu kecil, Assalamualaikum pintu besi” diartikan para peneliti sebagai perintah menutup kembali pembuluh itu. Caranya dengan menyebut nama darah, baring, menyempitkannya lewat pintu kecil, lalu mengunci pintu besi agar darah tidak keluar lagi.

Mengikuti Ritual Bawang Lia dan Pelepah Perumpung

Yujang Yamanimang, tokoh masyarakat Tidung, menguraikan pengobatan sakit perut dengan bawang lia. Kulit bawang merah dikupas lebih dulu. Yang dicari adalah bawang tunggal, tetapi bila tidak ada, bawang bercabang boleh dipakai. Tetua memotongnya sampai lapisannya terlihat, lalu memasukkannya ke wadah berisi minyak tanah dan abu bakaran. Setelah itu, tetua membacakan mantra penyembuhan suku Tidung untuk masuk angin dan sakit perut.

Yambong, penyembuh tradisional Tidung, menambahkan bahwa tetua yang masih memegang tradisi ini berwudu lebih dulu agar kesembuhan lebih mudah dicapai. Menurut catatan Arbain dkk., mantra dibaca dalam hitungan ganjil, biasanya tiga kali, lalu ditiupkan ke wadah campuran dan diusapkan ke perut. Tetua kemudian mengetuk lantai atau tanah dengan jarinya, lalu mengetuk perut yang sakit sebagai isyarat agar angin penyebab sakit kembali ke asalnya.

Baca juga Kehamilan dalam Naskah Jawa Kuno: 36 Dewa Merakit Tubuh Janin

Untuk patah tulang, Yujang Yarik menjelaskan bahwa yang dipakai adalah bagian dalam pelepah perumpung atau nipah yang berserat. Kulit luar batangnya dikupas, lalu daging pelepahnya dijadikan pengikat. Arbain dan rekan-rekannya mencatat pelepah itu tidak dipakai sendirian. Tetua lebih dulu membacakan mantra penyambung tulang kepada pasien, baru kemudian bagian yang patah diikat dengan pelepah nipah yang sudah dibersihkan.

Yaman Yanai, penyembuh Tidung yang khusus menangani patah tulang, menuturkan ramuan pelengkapnya. Serai, pala, dan kayu manis dihaluskan lalu dibuat minyak urut. Penyembuh meniupkan doa ke minyak itu, mengurut dengan lembut, lalu membalut kaki atau lengan yang patah dengan pelepah. Pantangannya beragam, dari tidak makan cabai sampai larangan disentuh lawan jenis, kecuali oleh tetua.

Menurut Yaman Yanai, lama pemulihan bergantung pada keyakinan, ada yang pulih dalam sepekan dan ada yang berbulan-bulan. Syarat utamanya, tulang diurut tiga kali, tujuh kali, dan seterusnya menurut bilangan ganjil. Arbain dkk. menulis doa patah tulang juga dibacakan pada air untuk diminum atau dicampurkan sedikit ke air mandi. Tujuannya mempercepat penyembuhan dari luar dan dari dalam.

Tentang pengobatan patah tulang, keempat penulis mencatat dengan lugas. “Leluhur Tidung sudah mengenal sistem pengobatan patah tulang sejak berabad-abad lalu. Bahkan ketika dikaji dalam studi medis modern, banyak ketidaksesuaian ditemukan karena sarat dengan unsur magis,” tulis Muhammad Arbain, Yeisi Gusniati, Moh. Wahyu Agang, dan Zulhafandi. Selain kalimat itu, paper mereka tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian.

Menimbang Pewarisan Mantra Penyembuhan Suku Tidung

Beberapa bagian naskah Arbain dkk. tidak saling cocok. Bagian metode menyebut sepuluh informan, sementara badan artikel memuat sebelas nama penutur, dari Yujang Yamod sampai Yaman Yanai. Abstrak dan kesimpulan menyebut bawang lia untuk masuk angin, sedangkan uraian Yujang Yamanimang berpusat pada sakit perut. Deskripsi kumis kucing juga menulis tinggi tanaman itu dapat mencapai 1,5 cm.

Di bagian kesimpulan, keempat penulis menyoroti siapa yang masih memegang bacaan tersebut. “Namun, tidak banyak penyembuh atau orang berpengetahuan yang mengetahui mantra atau bacaan di kalangan suku Tidung. Bahkan, hanya penyembuh atau tokoh adat yang mengetahui mantra atau bacaan tersebut,” tulis Arbain dan rekan-rekannya. Warga tidak diberi tahu begitu saja tanpa niat sendiri untuk belajar.

Menurut Arbain dkk., pengetahuan itu berpindah dari guru ke murid dengan syarat pekaras, yakni pemberian atau mahar. Karena itu, mereka menilai perlu langkah strategis agar mantra penyembuhan suku Tidung bertahan. Caranya lewat pewarisan kepada generasi muda yang lebih dialogis dan inklusif sehingga pengobatan tradisional tidak terkesan eksklusif.

Bacaan yang dituturkan Yujang Ali pada Maret 2025 kini tercatat di halaman jurnal, bersama tafsir para peneliti atas jambijin, Adom, dan doa penutupnya. Seperti mantra penyembuhan suku Tidung lain yang dikumpulkan tim Muhammad Arbain, bacaan sakit gigi itu berakhir dengan permohonan kepada Allah dan Rasul-Nya: “Allah ampun tawar tawar, Rasulullah anu menawar”.

Bagikan

Baca Juga

Tradisi Perang Pandan Tenganan Ditutup Megibung Tanpa Dendam
Bumi Minangkabau Festival 2026 Digelar Empat Hari di Batusangkar
Enam Simbol Dayak Kayan Dicatat di Satu Desa di Bulungan
Suku Togutil Keluar dari Hutan setelah Dakwah Sejak 1984
Tuturan Ritual Hapo Ana, Doa Adat Sabu untuk Menyambut Bayi
Tato Tradisional Dawan Terputus, Stigma PKI Jadi Faktor Terkuat