Enam Simbol Dayak Kayan Dicatat di Satu Desa di Bulungan

A A

Ukiran motif Dayak berwarna terpasang di dinding beton tugu perbatasan Pancasila. [Foto: Martini Rahman/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Musa Kiring mendaftar enam simbol Dayak Kayan di Desa Naha Aya, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
  • Ukiran Dayak disebut sebagai bahasa tulis sebelum masyarakat Dayak mengenal tulisan.
  • Mandau sepanjang kurang lebih 80 sentimeter diserahkan kepada adat sebagai sanksi atas pelanggaran.
  • Budaya telinga panjang mulai ditinggalkan, sedangkan tato masih menandai keturunan raja.
  • Artikel itu tidak memuat bagian keterbatasan penelitian maupun jumlah narasumber yang diwawancarai.
Daftar Isi
  1. Enam Simbol Dayak Kayan Dicatat dari Desa Naha Aya di Bulungan
  2. Ukiran Menjadi Bahasa Tulis sebelum Orang Dayak Mengenal Tulisan
  3. Anjing, Naga, Harimau, dan Enggang Mengisi Empat Motif Ukiran
  4. Mandau, Kelembit, dan Hiput Berpindah dari Medan Perang ke Panggung Tari
  5. Telinga Panjang Mulai Ditinggalkan, Tato Tetap Menandai Keturunan Raja

Cekricek.id — Burung itu sudah mati ketika ditemukan, dan tidak seorang pun boleh memakannya. Bangkainya dikubur. Kepalanya diambil, disimpan, lalu dipasang menjadi hiasan kepala atau topi — dan hanya orang tertentu, para petuah bersama kepala adat, yang boleh memakainya. Burung enggang masuk ke dalam barisan simbol Dayak Kayan yang dicatat Musa Kiring di Desa Naha Aya, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Catatan itu terbit sebagai Simbol dalam Suku Dayak Kayan Kalimantan Utara, artikel Musa Kiring dari Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jaffray Makassar. Artikel itu dimuat Jurnal Adat dan Budaya Vol. 5 No. 2 tahun 2023 pada halaman 70–80, dan dipublikasikan pada 30 September 2023. Di dalamnya berderet enam simbol Dayak Kayan yang disebut diwariskan leluhur dan dilestarikan sampai sekarang.

Enam Simbol Dayak Kayan Dicatat dari Desa Naha Aya di Bulungan

Enam simbol Dayak Kayan itu disusun dalam satu deret di bagian hasil: kalung atau ukiran Dayak, mandau atau parang, kelembit atau tameng, hiput atau sumpit, iling aru atau telinga panjang, dan betik atau tato. Empat yang pertama benda buatan tangan yang bisa dipindahkan dan dipajang. Dua yang terakhir melekat pada tubuh orang yang memakainya dan tidak bisa ditanggalkan begitu saja.

Musa Kiring memakai pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Datanya dikumpulkan lewat wawancara, observasi, dan dokumentasi. Ia mendatangi langsung objek penelitian di Desa Naha Aya, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Di sana ia bertanya kepada petuah adat, kepala adat, dan warga yang memahami arti simbol Dayak Kayan di dalam kebudayaan mereka. Tujuan yang ia nyatakan hanya satu: mendeskripsikan makna dan fungsi simbol dalam masyarakat itu. Dengan pendekatan tersebut, tulisnya, data yang didapat diharapkan lebih lengkap, mendalam, dan bermakna.

Orang Kayan, tulis Musa Kiring, berasal dari hulu Kayan, Apau Kayan, dan hidup di hulu atau pesisir Sungai Kayan. Daerah itu jauh dari perkotaan, terutama jauh dari rumah sakit, dan hanya bisa dicapai lewat transportasi udara serta sungai. Karena alasan itu mereka pindah dan menetap di pesisir Sungai Kayan yang dekat kota, lalu menyebar di Kalimantan Utara.

Kalimantan Utara sendiri provinsi pemekaran dari Kalimantan Timur dan yang termuda di pulau itu. Suku Dayak di sana terbagi lagi menjadi beberapa sub-suku: Kenyah, Lundayeh, Punan, dan Kayan. Yang membedakan Kayan dari sub-suku lain adalah bahasa, tarian, dan jenis musik sape. Adat dan budaya yang mereka pelihara meliputi budaya senguyun, ritual agama dan adat, musik tradisional, serta tarian tradisional.

Ukiran Menjadi Bahasa Tulis sebelum Orang Dayak Mengenal Tulisan

“Ukiran dayak merupakan bahasa tulis sebelum masyarakat dayak mengenal tulisan,” tulis Musa Kiring di bagian hasil dan pembahasan, halaman 73. Mengukir ia jelaskan sebagai teknik membentuk karya seni dengan menggores memakai pahat, pisau, atau warna pada bahan tertentu yang sesuai maknanya. Lewat ukiran itulah pemimpin di masyarakat Dayak menyampaikan pesan kepada warga yang lain.

Ukiran dipajang di dinding rumah adat, di rumah kepala suku, di tempat pemakaman, dan di pintu gerbang jalan masuk desa. Yang paling menonjol dari ukiran itu justru warnanya. Dasarnya hitam atau putih, lalu dipercantik dengan kuning, merah, dan biru. Perbedaan warna yang disatukan sampai menjadi indah itu dibaca orang Kayan sebagai pedoman hidup harmonis.

Baca juga Ketua Adat Dayak Desa Dipilih lewat Lelehan Telur Ayam

Simbol Dayak Kayan dibagi dua, verbal dan nonverbal. Yang nonverbal berupa perlengkapan, benda, dan barang milik masyarakat adat. Yang verbal, menurut naskah itu, berupa warna dan rupa — lukisan atau hiasan — yang sudah disepakati para petuah adat. Naskah yang sama menyebut simbol dapat dilihat pada penggunaan gerak isyarat dan kata-kata di dalam bahasa, tetapi contoh itu tidak dimasukkan ke golongan verbal tadi.

Anjing, Naga, Harimau, dan Enggang Mengisi Empat Motif Ukiran

Motif pertama kalong asoq, ukiran berbentuk anjing. Filosofinya diambil dari anjing yang setia kepada tuannya dan berani menghadapi hewan seperti babi lalu memburunya. Maknanya bercabang dua: menjadi setia dan menjaga tuan, sekaligus keharusan setiap laki-laki berani dan saling bekerja sama menghadapi musuh atau tantangan. Ukiran ini digambar di dinding balai adat, gedung pertemuan adat, dan di pintu gerbang desa.

Motif kedua kalong lungunan, ukiran ular naga. Naga melambangkan kebaikan dan kemakmuran, dan maknanya ditujukan langsung kepada pemimpin dalam suku Dayak. Seorang pemimpin harus bijaksana, tidak semena-mena dengan jabatan atau kekuasaan yang ia miliki, dan wajib bermusyawarah sebelum mengambil kebijakan sampai tercapai kesepakatan. Keterangan itu diperoleh Musa Kiring dari Laing Along lewat wawancara pada 2023.

Motif ketiga kalong lenjau, ukiran harimau. Harimau disebut binatang buas, raja hutan, dan salah satu hewan tercepat dalam berlari. Lambangnya kekuatan dan kesetiaan. Bagi orang Dayak, artinya setiap pemuda harus berani menghadapi segala tantangan, berani berubah agar maju, dan mampu bersaing dengan orang lain. Ukiran harimau itu dipahat di tiang-tiang rumah dan di dinding rumah adat.

Burung enggang badak berparuh besar bertengger di dahan pohon tinggi hutan Borneo
Burung enggang badak berparuh besar bertengger di dahan pohon tinggi hutan Borneo. [Foto: Denis Luyten/Wikimedia Commons (Domain Publik)]

Motif keempat kalong tebengang, ukiran burung enggang. Burung itu berwarna hitam putih di ujung ekor dan sayap, bagian kepalanya kekuning-kuningan, dan paruhnya besar. Ia hidup di hutan hujan tropis dan pohon-pohon tinggi, selalu berpasangan dan setia kepada pasangannya. Begitu menemukan makanan ia berteriak memanggil burung lain. Burung yang lebih kecil darinya tidak ia mangsa.

Tiga sifat itu — setia kepada pasangan, tidak kikir, dan cinta damai — yang diambil orang Dayak Kayan menjadi ikon mereka. Ukirannya dipasang di dinding rumah adat dan di menara. Burung aslinya dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2018. Populasinya tetap menyusut. Burung itu diburu untuk diambil kepala serta bulu sayap dan ekornya, sementara hutannya ditebang lalu dijadikan lahan perkebunan.

Baca juga Pernikahan Adat Dayak Kanayatn dan Tiga Belas Tumbuhannya

Mandau, Kelembit, dan Hiput Berpindah dari Medan Perang ke Panggung Tari

Mandau atau parang panjang dibuat dari besi pilihan. Gagangnya dari tulang hewan yang diukir, sarungnya dari kayu kuat atau kayu meranti yang dihiasi rambut atau bulu binatang dan ditambah tulang-tulang binatang. Panjangnya kurang lebih 80 sentimeter dengan ujung yang dibuat lancip. Untuk keperluan sehari-hari benda itu dipakai membuka lahan atau ladang dan berburu.

Sejak dahulu mandau punya tempat di dalam ritual adat: untuk berperang dan memotong kepala, tetapi juga sebagai media perdamaian. Ketika warga melakukan pelanggaran adat, sanksinya adalah menyerahkan sejumlah mandau kepada adat, sehingga benda itu disebut alat tradisional keramat. “Mandau dalam suku dayak memiliki arti atau simbol kehormatan dan jati diri,” tulis Musa Kiring pada halaman 76.

Mandau juga masuk ke tarian dan ke upacara adat — upacara pernikahan, upacara perdamaian, dan upacara membuka lahan. Di luar ritual, benda itu dipajang di dinding dan dibuat menjadi aneka cendera mata, sehingga bernilai ekonomis bagi masyarakat Dayak Kayan. Musa Kiring juga menyebutnya senjata tradisional yang memiliki kekuatan gaib. Ia mencatat adanya upacara persembahan kepada leluhur serta upacara di lingkungan keluarga dan desa yang dipimpin kepala adat atau penghulu.

Kelembit atau tameng dibuat dari kayu kuat atau kayu adau, meranti, dengan panjang satu sampai dua meter dan lebar 50 sentimeter. Bentuknya persegi panjang, ujung atas dan bawah dibuat runcing, bagian tengahnya mencekung. Permukaannya diukir motif Dayak, antara lain sosok manusia lengkap dengan mulut dan mata. Ukiran itu dipercaya bermakna mistis dan mampu melindungi pemakainya. Di luar perang, kelembit dipakai sebagai alat bantu berenang menyeberangi sungai, dan juga menjadi pelengkap tarian-tarian suku Dayak.

Hiput atau sumpit panjangnya dua meter, dibentuk bulat, bagian tengahnya dilubangi untuk jalan anak sumpit yang ujungnya dilumuri racun. Akurasi tembaknya disebut mencapai sekitar 200 meter, dan ukuran sumpit ikut memengaruhi ketepatan itu. Dalam simbol Dayak Kayan, masyarakat diumpamakan anak sumpit, sedangkan sumpitnya sendiri melambangkan pemimpin yang harus diikuti dan yang mengarahkan warganya supaya maju.

Baca juga Tari Punan Leto Ditarikan di Setiap Upacara Adat Dayak Kenyah

Telinga Panjang Mulai Ditinggalkan, Tato Tetap Menandai Keturunan Raja

Telinga panjang dimulai sejak bayi. Daun telinga dilubangi, dan makin dewasa anak itu makin besar pula lubangnya. Setelah lubangnya cukup besar, telinga diberi pemberat berupa besi, dan pemberat itu terus dipakai sampai orangnya menjadi tua. Prosesnya berlangsung seumur hidup, bukan pekerjaan yang selesai dalam satu upacara. Sejak zaman nenek moyang, memanjangkan telinga adalah keharusan bagi masyarakat Dayak.

Iling aru dipakai untuk membedakan manusia dari monyet, sekaligus melambangkan ketampanan bagi laki-laki dan kecantikan bagi perempuan. Kebiasaan itu muncul dari kepercayaan orang Dayak kepada Bungan Malam, sosok roh cantik bertelinga panjang. “Namun, pada era sekarang budaya telinga panjang sudah mulai ditinggalkan ini dampak dari kemajuan zaman,” tulis Musa Kiring pada halaman 77. Dalam tarian tradisional, telinga panjang masih dipakai sebagai perlengkapan.

Betik, atau tato, ditempatkan berbeda menurut jenis kelamin. Laki-laki ditato di dada, lengan, paha, dan tangan. Perempuan di tangan dan di betis. Musa Kiring menyebutnya seni ukir yang dikerjakan di tubuh. Tradisi simbolis itu diwariskan turun-temurun sejak nenek moyang dan bertahan bersama simbol Dayak Kayan yang lain.

Tato bukan hiasan tubuh semata-mata. Ia dipakai untuk menentukan status sosial seseorang dan membedakan keturunan raja dari masyarakat biasa. Bagi masyarakat pedalaman sifatnya religius. Tidak semua orang boleh memakainya — hanya mereka yang memiliki kedudukan atau derajat tinggi, serta mereka yang ikut mengambil bagian dalam sejarah. Tato, tulis Musa Kiring, menunjukkan tingkatan sosial seseorang.

Pada masa lalu pemakaian tato terikat pada siklus hidup. Orang yang pertama kali ditato dianggap sudah mencapai kedewasaan, baik secara fisik maupun psikis. Sesudah itu ia boleh mengikuti kegiatan dan ritual tertentu: memilih jodoh, dan turut bersaing untuk mencapai kedudukan tertentu di dalam masyarakat sosialnya.

Musa Kiring tidak menyediakan bagian keterbatasan penelitian di dalam artikelnya. Ia juga tidak menyebut berapa orang yang ia wawancarai maupun kapan wawancara itu berlangsung, kecuali satu keterangan dari Laing Along yang ditandai tahun 2023. Penamaan simbol Dayak Kayan pun tidak seragam di dalam satu naskah: abstraknya menulis “Malat (Parang)” dan “Kalung”, sedangkan uraiannya memakai “Mandau” dan “Kalong”.

Ukiran anjing digambar di dinding balai adat dan di pintu gerbang desa. Ukiran harimau dipahat di tiang-tiang rumah. Kepala enggang yang ditemukan mati disimpan untuk hiasan kepala, dan hanya petuah bersama kepala adat yang boleh memakainya. Lubang telinga yang dulu diberi pemberat besi kini muncul terutama ketika tarian dimulai.

Bagikan

Baca Juga

Tari Punan Leto Ditarikan di Setiap Upacara Adat Dayak Kenyah
Tradisi Adat Suku Sasak, Atap Bale yang Membuat Tamu Menunduk
Ketua Adat Dayak Desa Dipilih lewat Lelehan Telur Ayam
Orang Punan di Longsep, dari Hutan Gaharu ke Buruh Kebun Sawit
Buntang Mamali Mati, Aruh Dayak Deah untuk Membekali Arwah
Tuturan Ritual Hapo Ana, Doa Adat Sabu untuk Menyambut Bayi