- Power lengan 15 anggota klub Muay Thai naik 67,14 sentimeter setelah 12 sesi latihan kompleks.
- Nilai signifikansi power lengan 0,015, sedangkan power tungkai 0,132 sehingga selisihnya tidak bermakna.
- Lompat jauh tanpa awalan hanya bertambah 17,87 sentimeter, dari 201,53 menjadi 219,40 sentimeter.
- Program empat pekan memakai pola beban naik, turun, lalu naik lagi untuk mencegah latihan berlebih.
- Penulis menyarankan penelitian lanjutan dengan kelompok kontrol dan durasi minimal delapan pekan.
Daftar Isi
- Peserta Berjumlah 15 dari Populasi 20 Anggota Klub
- Tinggi Rata-rata 168 Cm dan Angkatan 1RM 58,4 Kg
- Beban Empat Pekan Naik 5 Persen, Turun, lalu Naik Lagi
- Lompat Jauh Tanpa Awalan Hanya Bertambah 17,87 Sentimeter
- Angka 0,132 dan Tiga Alasan yang Ditawarkan Penulis
- Power Lengan Naik 67,14 Sentimeter pada Signifikansi 0,015
- Uji Awal 6 Mei 2025 Mencatat 263,56 dan 174,78 Sentimeter
- Tanpa Kelompok Kontrol, Penulis Menyarankan 8 Pekan
Cekricek.id — 67,14 sentimeter adalah tambahan rata-rata power lengan 15 anggota sebuah klub Muay Thai setelah 12 sesi latihan. Jarak lemparan bola medisin mereka naik dari 332,93 sentimeter menjadi 400,07 sentimeter. Kenaikannya 20,16 persen. Nilai signifikansinya 0,015.
Angka kedua bergerak jauh lebih pelan. Lompat jauh tanpa awalan 15 peserta yang sama bertambah 17,87 sentimeter, dari 201,53 sentimeter ke 219,40 sentimeter. Persentasenya 8,87. Nilai signifikansinya 0,132, di atas ambang 0,05. Power tungkai mereka dinyatakan tidak berbeda secara bermakna.
Kedua angka itu dilaporkan Harun, Romadhon Ahmad Sahedi, dan Fakhry Fajrin Kurniawan dari Department of Sports Science, Universitas Muhammadiyah Cirebon. Artikel mereka, The Effect of Complex Training Method On The Improvement of Leg and Arm Power in Muay Thai Club Members, terbit di JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol. 10 No. 2 tahun 2025, halaman 107–119.
Peserta Berjumlah 15 dari Populasi 20 Anggota Klub
Populasi penelitian ini 20 orang. Lima belas di antaranya lolos menjadi sampel lewat penarikan sampel bertujuan. Syaratnya tujuh butir: anggota resmi dan aktif, berlatih rutin minimal enam bulan terakhir, bukan pelatih, bersedia menjadi subjek, berlatih minimal dua kali sepekan, laki-laki, dan berusia 15 sampai 18 tahun.
Syarat pengecualiannya dua. Pertama, tidak memenuhi kriteria inklusi. Kedua, memiliki kondisi kesehatan tertentu yang dapat memengaruhi hasil, yakni cedera baru, penyakit kardiovaskular, dan penyakit metabolik. Rata-rata usia peserta 16,4 tahun dengan simpangan baku 0,83. Termuda 15 tahun, tertua 18 tahun.
Tinggi Rata-rata 168 Cm dan Angkatan 1RM 58,4 Kg
Pengukuran awal memakai bioelectrical impedance analysis. Tinggi badan rata-rata 168 sentimeter, dari 153,5 sampai 185 sentimeter. Berat badan rata-rata 66,7 kilogram, dari 46,3 sampai 90,3 kilogram. Indeks massa tubuh rata-rata 23,6 kilogram per meter persegi, dengan rentang 17,8 sampai 34.
Riwayat latihan rata-rata 9,2 bulan. Yang terpendek tujuh bulan, terpanjang 15 bulan. Angkatan maksimal satu kali ulangan pada back squat rata-rata 58,4 kilogram. Pada bench press rata-rata 65,2 kilogram. Nilai tertinggi kedua gerakan itu tercetak sama persis, 86,2 kilogram.
Baca juga Cedera Pesilat Remaja Lebih Banyak Lahir Saat Latihan
Beban Empat Pekan Naik 5 Persen, Turun, lalu Naik Lagi
Latihan kompleks memasangkan beban berat dengan gerakan pliometrik ringan secara berselang. Pekan pertama berisi tiga set 3–6 ulangan back squat pada 60 persen 1RM, disambung tiga set 3–6 ulangan double leg tuck jump. Pasangan kedua memakai bench press 60 persen 1RM dan medicine ball chest pass dengan set serta ulangan yang sama.
Pekan kedua menaikkan beban squat 5 persen atau 4 sampai 7 kilogram dari pekan pertama. Bench press naik 2,5 persen atau 1 sampai 2 kilogram. Pekan ketiga kembali ke 60 persen 1RM sebagai pemulihan aktif. Pekan keempat naik lagi dengan takaran serupa terhadap pekan kedua.
Tidak ada jeda di antara dua gerakan dalam satu pasangan. Jeda antarset 3 sampai 5 menit. Seluruh program berjalan 12 sesi dalam empat pekan. Rujukan durasi empat pekan diambil dari studi Karunia Saraswati dan kawan-kawan yang menilai rentang itu cukup bagi tubuh untuk beradaptasi terhadap rangsangan latihan.
Kebaruan yang diklaim paper justru terletak pada pola pembebanan itu: naik, turun, lalu naik lagi. Pola tersebut disebut mencegah risiko latihan berlebih sekaligus memanfaatkan superkompensasi. Pekan ketiga sengaja diturunkan ke 60 persen 1RM sebagai fase deload.
Prinsip kerjanya potensiasi pascaaktivasi. Beban berat lebih dulu mengaktifkan serabut otot cepat, lalu keluaran power segera sesudahnya meningkat. Paper menyebut dua mekanisme: energi elastis yang tersimpan di komponen elastis seri, dan refleks regang yang dipicu gelendong otot. Bila peralihan ke kontraksi konsentris terlalu lama, energi elastis itu hilang sebagai panas.
Lompat Jauh Tanpa Awalan Hanya Bertambah 17,87 Sentimeter
Power tungkai diukur dengan standing long jump. Peserta berdiri dengan ujung kaki di garis, lalu melompat sejauh mungkin dan mendarat dengan dua kaki. Jarak dihitung dari garis awal ke tumit terdekat. Tes diulang sedikitnya tiga kali dengan jeda satu menit, dan hasil terbaik dipakai sebagai nilai.
Uji normalitas Shapiro-Wilk memberi nilai 0,614 untuk pratest dan 0,880 untuk pascatest. Uji homogenitasnya 0,245. Ketiganya di atas 0,05, sehingga data dinyatakan berdistribusi normal. Uji t sampel berpasangan kemudian memulangkan angka 0,132.

Selisih 17,87 sentimeter itu tetap dicatat sebagai perbaikan penampilan. Namun secara statistik angkanya tidak berbeda. “Kenaikan 17,87 cm dalam penelitian ini memang menunjukkan respons positif, tetapi tidak signifikan secara statistik karena adaptasi neuromuskular dan morfologis kemungkinan belum optimal,” tulis Harun dan kawan-kawan pada pembahasan halaman 115.
Angka 0,132 dan Tiga Alasan yang Ditawarkan Penulis
Dua alasan pertama disebut berurutan. “Karena itu, kenaikan power tungkai yang tidak signifikan dalam penelitian ini mungkin disebabkan oleh ukuran otot tungkai yang lebih besar dibandingkan otot lengan dan faktor seperti metode latihan yang belum optimal,” tulis ketiganya pada halaman 115.
Alasan ketiga muncul di halaman yang sama, berupa faktor luar yang tidak dikendalikan. Kelelahan dari latihan rutin Muay Thai, kualitas istirahat, dan asupan gizi masuk dalam daftar itu. Studi Shen dan kawan-kawan yang dirujuk paper ini mencatat program latihan kompleks delapan pekan menaikkan standing long jump atlet lompat jauh remaja secara signifikan.
Otot yang disasar memang berbeda di dua sisi tubuh. Power tungkai melibatkan kuadriseps, hamstring, gluteus maximus, dan gastroknemius. Power lengan melibatkan pektoralis mayor, deltoid, dan trisep. Paper menyebut empat kelompok otot untuk tungkai dan tiga kelompok untuk lengan.
Baca juga Atlet Futsal Remaja Karawang Berlari 2.216 Meter dalam 12 Menit
Power Lengan Naik 67,14 Sentimeter pada Signifikansi 0,015
Power lengan diukur dengan medicine ball chest pass. Peserta duduk di lantai, punggung menempel dinding, lalu melempar bola medisin ke depan sejauh mungkin. Punggung harus tetap menempel sepanjang lemparan. Tes dilakukan sedikitnya tiga kali dengan jeda 2 sampai 3 menit, dan lemparan terjauh dipakai sebagai nilai akhir.
Uji normalitas data ini memberi nilai 0,213 pada pratest dan 0,701 pada pascatest. Uji homogenitasnya 0,084. Uji t sampel berpasangan memulangkan 0,015, di bawah ambang 0,05. Power lengan naik 67,14 sentimeter, dari 332,93 sentimeter menjadi 400,07 sentimeter.
Simpangan baku power lengan justru menyempit. Sebelum program angkanya 74,49 sentimeter, sesudah program 53,77 sentimeter. Pada power tungkai arahnya berlawanan: simpangan baku melebar dari 24,26 sentimeter menjadi 31,55 sentimeter. Paper tidak membahas perbedaan arah kedua simpangan baku itu.
Pembahasan menautkan kenaikan power lengan pada adaptasi neuromuskular yang cepat di otot tubuh bagian atas. Empat pekan disebut cukup untuk mengubah perekrutan unit motorik dan mempercepat waktu menuju puncak gaya. Adaptasi bentuk otot sendiri dinyatakan belum terbentuk penuh dalam rentang itu.
Uji Awal 6 Mei 2025 Mencatat 263,56 dan 174,78 Sentimeter
Pendahuluan paper memuat dua angka lain. Pada 6 Mei 2025, sembilan anggota laki-laki klub itu diukur lebih dulu. Rata-rata medicine ball chest pass mereka 263,56 sentimeter, yang disebut di bawah rata-rata. Rata-rata standing long jump 174,78 sentimeter, yang disebut kurang.
Angka pratest 15 peserta jauh di atas keduanya, yakni 332,93 sentimeter dan 201,53 sentimeter. Paper tidak menjelaskan jarak antara dua rangkaian angka tersebut. Uji awal itu dipakai sebagai dasar menyatakan kemampuan power anggota klub belum optimal.
Metode latihan harian klub sebelum penelitian disebut tiga macam: circuit training, pliometrik, dan kardio. Pengamatan lapangan serta wawancara dengan pelatih dinyatakan mendukung kesimpulan awal itu. Paper tidak mencantumkan jumlah pelatih yang diwawancarai maupun tanggal wawancaranya.
Baca juga 156 Atlet Sepak Takraw Pelajar dan Dua Angka yang Berbeda
Tanpa Kelompok Kontrol, Penulis Menyarankan 8 Pekan
Desain penelitian ini satu kelompok dengan pratest dan pascatest, tanpa kelompok pembanding. Paper tidak memuat bagian keterbatasan tersendiri. Saran perbaikannya diletakkan di kesimpulan halaman 116, sesudah pernyataan bahwa 12 sesi menaikkan power lengan tetapi tidak power tungkai.
“Untuk penelitian selanjutnya, penulis menyarankan penggunaan desain penelitian dengan subjek yang lebih besar disertai kelompok kontrol, dan durasi perlakuan latihan perlu diperpanjang menjadi setidaknya 8 pekan atau 2 bulan untuk melihat seberapa besar pengaruhnya terhadap peningkatan power lengan dan power tungkai,” tulis Harun, Romadhon Ahmad Sahedi, dan Fakhry Fajrin Kurniawan.
Analisis memakai SPSS versi 27. Uji yang dijalankan tiga: uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas, dan uji t sampel berpasangan. Tidak ada angka besaran efek yang dilaporkan untuk power lengan maupun power tungkai.
Yang tersisa adalah 0,132. Nilai itu tidak dinyatakan paper sebagai bukti latihan kompleks tanpa pengaruh pada power tungkai, melainkan sebagai selisih 17,87 sentimeter yang tidak melewati ambang 0,05. Berapa lama tungkai 15 peserta ini butuh waktu untuk melewatinya tidak dijawab penelitian tersebut.















