Batu Apung Letusan Samalas Terbaca sampai 9 Meter di Mataram

A A

Ilustrasi hamparan kerikil dan batu kecil beraneka warna di tepi pantai. [Foto: Pexels]

  • Batu apung letusan Gunung Samalas 1257 dipetakan di Kecamatan Ampenan dan Sekarbela, Kota Mataram.
  • Georadar berantena 250 megahertz dipadukan dengan geolistrik konfigurasi Wenner-Schlumberger di empat lintasan sepanjang 34,5 meter.
  • Batu apung terbaca sebagai serpihan yang bercampur pasir, kerikil, lanau, tuf, dan lempung di lapisan dangkal.
  • Penampang geolistrik hanya menjangkau kedalaman 4,78 meter, sedangkan kedalaman 9 meter bersandar pada radargram.
  • Kedalaman penetrasi georadar disebut 8 sampai 13 meter, tetapi zona rekahan track 1 dilaporkan sampai 30 meter.
Daftar Isi
  1. Letusan 1257 dan Cabang yang Melewati Mataram
  2. Georadar 250 Megahertz dan Wenner-Schlumberger
  3. Lintasan Demi Lintasan, Apung di Lapisan Dangkal
  4. Mengapa Batu Apung Sulit Dialiri Arus
  5. Batas Data dan Angka yang Tidak Seragam

Cekricek.id — Kecamatan Ampenan dan Sekarbela di Kota Mataram terletak di dataran rendah dekat pantai. Dua kecamatan itu dipilih sebagai lokasi pencarian endapan batu apung.

Batu apung letusan Samalas diperkirakan tersebar luas di sana akibat aliran piroklastik. Batu apung dari letusan besar juga bisa mengapung dan terbawa arus laut ke pesisir.

Sefti Dini Arsi, Muhammad Farid, dan Refrizon menyusun laporan tentang pencarian itu. Ketiganya dari Program Studi Fisika, Universitas Bengkulu, Bengkulu.

Naskah berjudul Identification of the Presence of Pumice Stone Based on Georadar Data and Geoelectric Resistivity terbit di Jurnal Ilmu Fisika. Muhammad Farid menjadi penulis korespondensi.

Laporan itu mengisi Volume 17 Nomor 1, Maret 2025, halaman 41 sampai 52. Penelitiannya dikerjakan pada Juni sampai Agustus 2024.

Tujuannya memetakan sebaran batu apung di lapisan dangkal kedua kecamatan. Dua metode geofisika dipakai sekaligus, yaitu georadar dan geolistrik resistivitas.

Letusan 1257 dan Cabang yang Melewati Mataram

Letusan Gunung Samalas pada 1257 Masehi disebut letusan gunung api terbesar di Indonesia. Skalanya diperkirakan mencapai tingkat tujuh pada indeks daya ledak vulkanik.

Lavigne dan rekan pada 2013 mencatat tinggi kolom letusannya mencapai 43 kilometer. Letusan itu menghasilkan material piroklastik yang sebagian besar mengalir ke utara.

Sisanya mengalir ke selatan lalu bercabang dua. Satu cabang bergerak ke tenggara sejauh 30 kilometer melintasi wilayah yang kini menjadi Kota Selong.

Cabang kedua bergerak ke barat daya sejauh 40 kilometer. Lintasannya melewati kawasan yang mencakup Kota Mataram.

Batu apung menjadi penciri material piroklastik hasil letusan tersebut. Karena itu batu apung sangat berlimpah di Lombok.

Baca juga Pakar UNAIR Nilai Mitigasi Bencana Masih Bersifat Reaktif

Ampenan dan Sekarbela disebut strategis karena posisinya rendah dan dekat garis pantai. Keduanya berpeluang menerima endapan apung dalam jumlah besar.

Penggabungan georadar dan geolistrik di Kota Mataram belum pernah dikerjakan, menurut naskah ini. Penelitian terdahulu memakai salah satu metode saja.

Georadar 250 Megahertz dan Wenner-Schlumberger

Georadar memakai gelombang elektromagnetik untuk menangkap pantulan dari perubahan konduktivitas bawah permukaan. Geolistrik memakai arus listrik untuk mengukur resistivitas berdasarkan sebaran potensial listriknya.

Konduktivitas dan resistivitas punya hubungan berbanding terbalik. Jika konduktivitas bahan tinggi, resistivitasnya rendah, begitu pula sebaliknya.

Menggabungkan dua metode itu disebut mengurangi ketidakpastian dalam menafsirkan bawah permukaan. Dua parameter fisis dipakai untuk menggambarkan bahan yang sama.

Data georadar dalam kajian ini berstatus data sekunder. Sumbernya kerja sama Program Studi Fisika FMIPA Universitas Mataram dengan Laboratorium Geografi Fisik Universitas Paris 1, Prancis.

Data itu diambil di Kecamatan Ampenan dan Sekarbela pada 2015. Jumlah titik ukurnya empat.

Perangkatnya memakai antena berfrekuensi 250 megahertz. Frekuensi itu dipilih sebagai keseimbangan antara kedalaman penetrasi 8 sampai 13 meter dan resolusi citra.

Data geolistrik resistivitas berstatus data primer dari akuisisi di lokasi yang sama. Konfigurasi yang dipakai Wenner-Schlumberger.

Pengukuran dilakukan di empat titik dengan panjang lintasan 34,5 meter tiap titik. Jarak antarelektrodanya 1,5 meter.

Empat lintasan itu disebut track 1 sampai track 4. Salah satunya berada di Pejeruk, Kecamatan Ampenan.

Data georadar diolah dengan perangkat lunak ReflexW hingga menghasilkan citra radargram. Data geolistrik diolah dengan res2dinv melalui pemodelan inversi.

Nilai resistivitas semu dihitung lebih dulu dari beda potensial dan kuat arus. Hasil inversinya berupa penampang bawah permukaan dua dimensi.

Penafsiran radargram dilakukan dengan membaca pola pantulan pada citra. Penafsiran penampang geolistrik dilakukan dengan mencocokkan nilai resistivitas pada tabel rujukan jenis batuan.

Dalam tabel itu batu apung basah bernilai 23,9 sampai 40 ohm meter. Batu apung kering bernilai 204 sampai 354 ohm meter.

Baca juga Lereng Tanah Residual Lebih Rentan pada Hujan Lama

Lintasan Demi Lintasan, Apung di Lapisan Dangkal

Pada track 1, radargram rangkaian A di kedalaman 0 sampai 9 meter menunjukkan pola pantulan berombak. Lapisan itu diduga pasir dan lumpur.

Rangkaian B memuat zona rekahan di kedalaman 9 sampai 30 meter. Penampang geolistriknya memuat lapisan bernilai 30,3 sampai 408 ohm meter.

Lapisan tersebut berada di kedalaman 1 sampai 4,78 meter. Isinya diperkirakan campuran lanau, pasir, kerikil, lempung, dan batu apung dengan kondisi basah sampai kering.

Simpulan untuk track 1, batu apung berada di kedalaman 1 sampai 9 meter. Batuan itu bercampur lanau, pasir, dan kerikil.

Pada track 2, rangkaian A di kedalaman 0 sampai 2,3 meter juga berpola berombak. Lapisannya diperkirakan pasir dan lanau.

Zona rekahan pada rangkaian B muncul di kedalaman 2,3 sampai 6,4 meter. Penampang geolistriknya menunjukkan nilai 52,1 sampai 429 ohm meter di kedalaman 1,13 sampai 4,78 meter.

Lapisan bernilai lebih tinggi, 866 sampai 7.135 ohm meter, berada di kedalaman 0,375 sampai 3,73 meter. Lapisan itu diperkirakan pasir kering dan tuf.

Zona rekahan dikaitkan dengan perbedaan tekanan pada lapisan tanah. Kemungkinan lain, rekahan itu berkaitan dengan ragam resistivitas yang tinggi.

Simpulan untuk track 2, batu apung berada di kedalaman 1,13 sampai 6,4 meter. Batuan itu bercampur lanau, pasir, dan tuf.

Pada track 3, rangkaian A di kedalaman 0 sampai 1,2 meter berpola berlapis sederhana berbentuk gundukan. Lapisannya diperkirakan pasir dan kerikil.

Geolistriknya memuat nilai 45 sampai 399 ohm meter pada kedalaman beragam, 0,375 sampai 4,78 meter. Isinya diperkirakan campuran pasir, kerikil, dan batu apung.

Rangkaian B di kedalaman 1,2 sampai 5,4 meter menunjukkan respons gelombang tidak beraturan. Pola pantulannya tidak dapat dikenali karena gelombangnya melemah.

Pelemahan itu sejalan dengan penampang geolistrik pada jarak 12,5 sampai 18 meter. Di sana nilai resistivitasnya rendah, 15,1 sampai 26,1 ohm meter.

Lapisan itu diperkirakan pasir dan lempung yang mengandung air di kedalaman 1,91 sampai 4,78 meter. Kehadiran air menjelaskan respons gelombang yang tidak beraturan.

Rangkaian C di kedalaman 5,4 sampai 9 meter menunjukkan pola pantulan kacau. Lapisannya diduga pasir dan kerikil dengan susunan yang tidak seragam.

Ketidakseragaman itu dikaitkan dengan kegiatan manusia seperti penggalian dan penimbunan tanah. Saat akuisisi lapangan, batu apung ditemukan di permukaan lokasi pengukuran.

Track 4 berada di Pejeruk, Kecamatan Ampenan. Rangkaian A di kedalaman 0 sampai 1,89 meter berpola gundukan dan diperkirakan kerikil serta pasir.

Penampang geolistriknya bernilai 36,4 sampai 388 ohm meter pada kedalaman 0,375 sampai 4,78 meter. Isinya diperkirakan campuran pasir, kerikil, batu apung, dan lanau.

Kehadiran batu apung di titik itu dikuatkan pengamatan lapangan di permukaan. Rangkaian B di kedalaman 1,89 sampai 5 meter berpola sejajar bercampur difraksi.

Pola difraksi dikaitkan dengan benda yang terpendam di bawah permukaan. Pola sejajarnya diduga lapisan lanau dan pasir basah.

Geolistriknya menunjukkan nilai rendah 22,7 ohm meter pada kedalaman 1,13 sampai 4,78 meter. Simpulan untuk track 4, batu apung berada di kedalaman 0 sampai 5 meter.

Mengapa Batu Apung Sulit Dialiri Arus

Batu apung memiliki konstanta dielektrik rendah, yaitu dua sampai empat. Nilai itu berasal dari struktur batuannya yang berpori.

Batu apung kering punya resistivitas tinggi, sama dengan atau lebih dari 200 ohm meter. Sifatnya yang tidak menghantar membuat arus listrik sulit melewatinya.

Penggabungan radargram dengan profil geolistrik dilakukan dalam empat langkah. Langkah pertama mengumpulkan citra radargram dari ReflexW dan profil geolistrik dari Res2Dinv.

Langkah kedua menyamakan skala kedalaman dan koordinat lintasan pada kedua data. Langkah ketiga menetapkan parameter litologi dari pola pantulan dan nilai resistivitas.

Langkah terakhir memadukan keduanya secara visual dengan perangkat lunak sistem informasi geografis. Keluarannya berupa peta litologi berlapis.

Baca juga Tanah Liat Harau 51,74 Persen Layak Jadi Gerabah

Batu apung yang terbaca bukan lapisan batuan murni. Bentuknya berupa serpihan yang bercampur pasir, kerikil, lanau, tuf, dan lempung.

Material vulkanik seperti batu apung disebut kerap menumpuk di permukaan atau lapisan dangkal. Lapisan tanah di lokasi kajian didominasi pasir karena letaknya di kawasan pesisir.

Ustina dan rekan pada 2020 mengukur ketebalan lapisan apung di Kecamatan Lingsar sebesar 10 sampai 21 meter. Angka itu dipakai sebagai pembanding sebaran di Mataram.

Naskah ini menyatakan hasilnya memperkuat pemahaman tentang sebaran dan susunan material vulkanik di daerah kajian. Gambaran ciri geologi setempat disebut menjadi lebih rinci.

Batas Data dan Angka yang Tidak Seragam

Kajian ini hanya mengambil empat lintasan di dua kecamatan. Panjang tiap lintasan geolistriknya 34,5 meter.

Penampang geolistrik yang dilaporkan hanya menjangkau kedalaman 4,78 meter. Kedalaman 9 meter yang disebut dalam simpulan hanya bersandar pada radargram.

Data georadar direkam pada 2015, sedangkan data geolistrik diambil pada rentang penelitian 2024. Keduanya diperlakukan sebagai satu kesatuan untuk lokasi yang sama.

Ada pula angka yang tidak seragam di dalam naskah. Kedalaman penetrasi georadar disebut 8 sampai 13 meter, tetapi zona rekahan track 1 dilaporkan sampai 30 meter.

Rentang kedalaman apung per lintasan juga berbeda-beda, dari 0 sampai 9 meter. Simpulannya menyatakan apung tersebar merata pada kedalaman 0 sampai 9 meter di seluruh lintasan.

Simpulan yang sama menyebut apung rata-rata ditemukan pada kedalaman 1 sampai 6 meter. Angka itu tidak sepenuhnya sejalan dengan rentang yang dilaporkan untuk tiap lintasan.

Ucapan terima kasih ditujukan kepada Program Studi Fisika FMIPA Universitas Mataram dan Universitas Bengkulu. Keduanya disebut membantu penyelesaian kajian ini.

Bagikan

Baca Juga

Aksesibilitas Borobudur: Enam Fasilitas, Dua Tersedia
Jejak Raja Airlangga dalam Kakawin Arjunawiwaha
Virus Melon Bengkulu, 60 Sampel Positif Tiga Virus Sekaligus
Kesantunan Bahasa Jawa Tak Selalu Lewat Putaran
Ketika Sawah Andir Diambil untuk Landasan Terbang
58 Masjid Padang Berdiri di Zona Risiko Tsunami