Kopi Keliling Payakumbuh, Harga Lebih Kuat daripada Mutu

A A

Ilustrasi pedagang kaki lima berdiri di lapaknya di tepi jalan. [Foto: Pexels]

  • Survei terhadap 100 konsumen kopi keliling Payakumbuh menempatkan persepsi harga pada koefisien 0,727, kuat dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
  • Mutu produk berada di bawahnya dengan koefisien 0,512, digolongkan sedang tetapi tetap signifikan dengan nilai signifikansi 0,000.
  • Sebanyak 49 persen responden berstatus mahasiswa dan 16 persen pelajar, dengan penghasilan di bawah Rp3.000.000 per bulan.
  • Kalimat pengantar menyebut hasil uji korelasi ada di Tabel 1, padahal hasil itu berada di Tabel 2.
  • Penelitian hanya digelar di Payakumbuh dengan rancangan potong lintang, sehingga hubungan sebab akibat tidak bisa disimpulkan.
Daftar Isi
  1. Gerobak yang Jadi Objek Penelitian
  2. Seratus Kuesioner dari Dua Bulan Survei
  3. Angka 0,727 dan 0,512
  4. Mahasiswa, Pelajar, dan Kantong Tipis
  5. Kejanggalan, Batas, dan Saran Penulisnya

Cekricek.id — Gerobak kopi itu menempel pada sepeda dan sepeda motor. Ia berhenti di tepi jalan, di area kampus, dekat perkantoran, dan di permukiman padat Kota Payakumbuh.

Kepada 100 konsumen kopi keliling Payakumbuh, kuesioner disodorkan. Hasilnya, persepsi harga punya hubungan paling kuat dengan keputusan pembelian, dengan koefisien 0,727.

Penelitian itu ditulis Silfia bersama Pinta Aftaprilia Rizki Ananda, Reza Mardhiyah Amir, Maulia Usni, dan Walmadri. Mereka berasal dari Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.

Naskahnya berjudul Analysis of Consumer Preferences to the Quality of Street-Vendor Coffee in Payakumbuh City. Artikel itu mengisi halaman 1 sampai 8.

Jurnalnya adalah Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences, volume 7, nomor 1, tahun 2026. Naskah diterima 3 Desember 2025 dan disetujui 10 Februari 2026.

Gerobak yang Jadi Objek Penelitian

Naskah ini membuka dengan angka konsumsi global. Kopi disebut diminum sekitar tiga miliar cangkir setiap hari dan menjadi salah satu komoditas paling banyak diperdagangkan.

Indonesia ditempatkan sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia. Urutannya berada di belakang Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

Mengacu data Kementerian Pertanian untuk 2022 sampai 2025, produksi kopi Indonesia sekitar 789.000 ton per tahun. Sentranya tersebar di Aceh, Sumatera Barat, Jawa, Sulawesi, dan Papua.

Iklim tropis dan tanah subur disebut menopang budidaya varietas premium. Dua yang disebut naskah ini adalah arabika dan robusta.

Konsumsi kopi belakangan meluas keluar dari rumah dan kafe modern. Usaha berskala mikro seperti gerobak kopi kini lazim di kota besar maupun kota kecil.

Menurut naskah ini, gerobak kopi menjadi alternatif populer karena harganya terjangkau. Aksesnya mudah, dan rasanya disebut tetap bersaing dengan kedai yang lebih mapan.

Hampir setiap kota kini punya penjual kopi bergerobak. Masing-masing membawa konsep usaha dan bentuk layanan yang berbeda, kata penulisnya.

Model usaha itu digemari wirausaha muda karena modalnya rendah. Gerobak juga mudah disesuaikan dengan berbagai lokasi, dari tepi jalan sampai kawasan padat penduduk.

Bagi konsumen, keuntungannya adalah kopi dengan harga lebih murah. Mereka tidak perlu masuk ke kedai kopi yang lebih besar untuk mendapatkannya.

Konsumen sekarang disebut lebih pemilih, termasuk terhadap kopi gerobak. Mereka tidak lagi hanya mencari harga murah, tetapi juga mutu rasa, tampilan sajian, dan pengalaman minum.

Baca juga Peta Risiko 20 Kedai Kopi Padang, Lama dan Baru Berbeda

Payakumbuh dipilih karena usaha mikro, kecil, dan menengahnya tumbuh cepat. Latar sosial dan ekonomi warganya yang beragam disebut membentuk pola konsumsi kopi yang dinamis.

Penulisnya menyebut celah riset yang hendak diisi. Studi terdahulu lebih banyak menyorot kedai kopi bermerek, suasana kafe, strategi harga, dan kepuasan konsumen di ritel formal.

Perhatian pada preferensi konsumen kopi gerobak disebut masih terbatas, terutama di kota kecil dan menengah. Kajian mutu kopi juga cenderung dipisah-pisah, bukan digabung sekaligus.

Seratus Kuesioner dari Dua Bulan Survei

Penelitian dijalankan di Payakumbuh, Sumatera Barat, pada Mei sampai Juni 2025. Datanya terdiri atas data primer dan data sekunder.

Penarikan sampel memakai teknik non-probabilitas. Metode yang dipilih adalah purposive sampling, yaitu kuesioner hanya diberikan kepada responden yang memenuhi kriteria tertentu.

Kriterianya tiga. Responden harus warga Payakumbuh yang pernah membeli kopi gerobak minimal sekali, berumur sedikitnya 17 tahun, dan bersedia ikut serta.

Responden direkrut lewat survei langsung di berbagai titik penjualan. Pengumpulan data dilakukan pada hari kerja maupun akhir pekan, serta pada waktu yang berbeda-beda dalam sehari.

Survei disebar di beberapa kawasan permukiman. Penulisnya menegaskan pengambilan data tidak dipusatkan di sekitar kampus saja.

Enumerator mendekati responden dari berbagai kelompok umur dan latar pekerjaan. Langkah itu diambil agar profil peminum kopi di kota tersebut lebih terwakili.

Kuesionernya memakai skala Likert dengan nilai 1 sampai 5. Rentangnya dari sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, sampai sangat setuju.

Baca juga Dua Calon Jagung Komposit Diuji di Payakumbuh dan Agam

Atribut kopi gerobak yang dipakai ada sembilan. Daftarnya mencakup harga, mutu rasa, layanan, higiene, lokasi, ragam menu, suasana, promosi, dan rekomendasi pembelian.

Variabel persepsi harga diukur dengan lima indikator. Isinya kesesuaian harga dengan mutu, kesesuaian dengan manfaat, keterjangkauan, marjin harga, dan daya saing harga.

Variabel keputusan pembelian dipecah menjadi tiga indikator. Ketiganya adalah kemudahan akses lokasi, ketersediaan produk, serta kemudahan pembayaran.

Uji validitas memakai korelasi Pearson product moment. Seluruh butir kuesioner punya nilai hitung di atas nilai tabel 0,279, sehingga dinyatakan valid.

Uji reliabilitas memakai koefisien Cronbach Alpha. Semua variabel melewati ambang 0,70, dan instrumen secara keseluruhan mencapai 0,910.

Analisisnya memakai korelasi Rank Spearman. Perhitungan dikerjakan dengan SPSS dan Microsoft Excel pada selang kepercayaan 95 persen.

Angka 0,727 dan 0,512

Hasilnya, kedua variabel bebas berkorelasi positif dan signifikan dengan keputusan pembelian. Nilai signifikansi keduanya 0,000 dengan jumlah responden 100 orang.

Persepsi harga memegang koefisien tertinggi, yaitu 0,727. Naskah ini menggolongkannya sebagai hubungan yang kuat dan signifikan.

Empat pernyataan dipakai untuk mengukur persepsi harga. Di antaranya harga sesuai mutu, harga sesuai manfaat, lebih terjangkau dari produk kopi lain, dan harga bersaing antarvarian.

Sebagian besar responden menyatakan setuju atau sangat setuju atas pernyataan itu. Harga, kata penulisnya, menjadi pertimbangan utama saat membeli kopi gerobak.

Mutu produk berada di bawahnya dengan koefisien 0,512. Naskah ini menyebutnya hubungan sedang, tetapi tetap signifikan.

Indikator mutu dalam kuesioner berbentuk lima pernyataan. Isinya kandungan kopi aman dikonsumsi, merek tercantum jelas, produk stabil pada suhu ruang, kemasan baik, dan warna kopi cerah.

Dari jawaban responden, kopi gerobak dinilai bermutu cukup baik untuk kategori minuman kaki lima. Kemasan praktis dan rasa yang memuaskan disebut menyumbang kepuasan meski harganya rendah.

Mutu produk diartikan sebagai kemampuan produk menjalankan fungsinya. Cakupannya keawetan, keandalan, ketepatan, kemudahan pemakaian, serta atribut bernilai lainnya.

Penulisnya menilai mutu tetap penting untuk pembelian ulang. Konsumen lebih mungkin membeli lagi bila rasanya konsisten, aman dikonsumsi, dan disajikan dalam kondisi higienis.

Mahasiswa, Pelajar, dan Kantong Tipis

Profil responden condong ke kelompok muda. Sebanyak 49 persen berstatus mahasiswa, dan 16 persen lainnya pelajar sekolah menengah atas.

Penghasilan mereka relatif rendah. Naskah ini menyebut angkanya di bawah Rp3.000.000 per bulan.

Banyak responden menyatakan memilih kopi gerobak karena harganya lebih murah. Pembandingnya adalah kedai kopi modern atau kafe.

Harga terjangkau membuat kopi gerobak lebih mudah dijangkau konsumen muda berdaya beli terbatas. Mereka tetap menginginkan rasa yang enak dan suasana minum yang santai.

Karena itu penulisnya menempatkan strategi harga bersaing sebagai hal penting. Harga yang dianggap setara dengan mutu disebut melahirkan nilai yang dirasakan konsumen, lalu menumbuhkan loyalitas.

Naskah ini juga menaruh catatan untuk kebijakan. Pemerintah daerah disarankan merancang program pemberdayaan untuk pelaku usaha mikro kopi gerobak.

Isi programnya disebut tiga. Pelatihan higiene pangan, peningkatan mutu produk, dan pengelolaan usaha yang berorientasi pasar.

Kejanggalan, Batas, dan Saran Penulisnya

Ada penomoran tabel yang tidak cocok di dalam naskah. Kalimat pengantar menyebut hasil uji korelasi disajikan pada Tabel 1, padahal hasil itu berada di Tabel 2.

Daftar indikator juga tidak sepenuhnya sejalan. Tabel atribut mencantumkan indikator mutu berupa performa, mutu yang dirasakan, keawetan, keandalan, layanan purnajual, dan estetika.

Di bagian hasil, indikator mutu yang disebut justru berbeda. Isinya keamanan kandungan kopi, kejelasan merek, kestabilan pada suhu ruang, kemasan, dan warna seduhan.

Sembilan atribut kopi gerobak disebut di bagian metode. Namun analisis korelasinya hanya menguji dua variabel bebas, yaitu persepsi harga dan mutu produk.

Keterbatasan disampaikan penulisnya dalam tiga butir. Pertama, datanya dikumpulkan lewat rancangan survei potong lintang, sehingga hubungan sebab akibat antarvariabel tidak bisa disimpulkan.

Kedua, penelitian hanya digelar di Payakumbuh. Temuannya tidak dapat digeneralisasi ke daerah lain yang berbeda karakter sosial, ekonomi, dan budayanya.

Ketiga, korelasi Spearman hanya memotret kekuatan dan arah hubungan. Alat itu tidak memperhitungkan variabel mediasi atau moderasi yang mungkin ikut bermain.

Baca juga Es Kopi Susu Kekinian dan Rasa yang Berubah Tiap Detik

Saran penulisnya menyusul keterbatasan itu. Penelitian lanjutan dianjurkan memakai analisis regresi atau pemodelan persamaan struktural untuk menelusuri hubungan sebab akibat.

Rancangan longitudinal juga disarankan. Tujuannya menangkap perubahan preferensi konsumen dari waktu ke waktu, bukan hanya satu potret sesaat.

Simpulan akhirnya tetap bertumpu pada dua angka tadi. Keberlanjutan usaha kopi gerobak di Payakumbuh disebut bergantung pada keseimbangan harga bersaing, mutu yang konsisten, dan kepuasan konsumen.

Bagikan

Baca Juga

Musik Banyuwangi Berganti Genre Setelah Kekerasan 1965
Ketimpangan Perempuan Jawa Bukan Kodrat Budaya
SNI Goes to Campus UNEJ: Standar Jadi Jembatan Produk Lokal
Salawat Kematian di Koto Panjang Hanya Dibaca di Rumah Duka
Sebotol Cutex 1924 Setara 83 Hari Kerja Buruh
Lima Buku Kajian Jawa, Tiga Penulis Indonesia