Lansia Jepang Berusia 100 Tahun Tembus 100.000 Orang

A A

Seorang perempuan lanjut usia di Jepang saat dirawat di sebuah salon (foto arsip). [Foto: Getty Images via BBC]

  • Jepang kini memiliki 107.677 penduduk berusia 100 tahun ke atas, jumlah tertinggi di dunia.
  • Menteri Kesehatan Kenichiro Ueno memperingatkan tantangan menjaga sistem jaminan sosial tetap berkelanjutan.
  • Angka kelahiran total Jepang turun ke rekor terendah 1,14 pada tahun lalu.

Cekricek.id — Jumlah lansia Jepang berusia 100 tahun atau lebih melampaui 100.000 orang untuk pertama kalinya, menurut kementerian kesehatan negara tersebut.

Mengutip BBC, Selasa (15/09/2026), data itu menunjukkan Jepang kini memiliki 107.677 penduduk berusia seratus tahun ke atas, jumlah tertinggi di dunia, dan 88 persen di antaranya perempuan. Perempuan tertua adalah Kishimoto Fuyo, 114 tahun, dari Kota Kyoto, sedangkan pria tertua Kato Hikaru, 112 tahun, dari Kumamoto.

Menteri Kesehatan Kenichiro Ueno mengaku “gembira karena begitu banyak orang menjalani hidup yang panjang, sehat, dan aktif”, seraya menyebut kemajuan kedokteran dan teknologi. Ia juga memperingatkan tantangan menjaga sistem jaminan sosial tetap berkelanjutan.

Para pakar mengaitkan umur panjang lansia Jepang dengan sejumlah faktor, termasuk pola makan sehat dan gaya hidup aktif. Masakan Jepang didominasi ikan, sayur, dan nasi, dengan lemak jenuh lebih sedikit dibanding banyak pola makan Barat. Warga lanjut usia juga rutin berjalan kaki, memakai transportasi umum, bersepeda, dan melakukan peregangan.

Baca juga Jepang hadapi krisis demografi terburuk, populasi turun drastis

Agar sebuah populasi dapat menggantikan dirinya, setiap perempuan rata-rata perlu melahirkan 2,1 anak. Tahun lalu, angka kelahiran total Jepang turun ke rekor terendah 1,14. Total populasi diperkirakan menyusut menjadi 87 juta pada 2070, atau 30 persen lebih rendah dari puncaknya 128 juta pada 2008.

Proporsi lansia Jepang berusia 65 tahun ke atas kini sekitar 30 persen dari populasi dan diperkirakan mendekati 40 persen pada 2070. Otoritas Jepang menyebut tren itu “krisis eksistensial”, dan Perdana Menteri Sanae Takichi menggambarkan penurunan tersebut sebagai “darurat yang senyap”.

Penjualan popok dewasa di Jepang sudah melampaui popok bayi selama lebih dari satu dekade. Sejumlah perusahaan mengembangkan produk baru bagi populasi lanjut usia, termasuk eksoskeleton bertenaga untuk menopang gerak tubuh dan kacamata yang menyesuaikan fokus secara otomatis.

Baca juga PM Jepang Takaichi absen dari Yasukuni di peringatan 81 tahun akhir perang

Saat survei penduduk seratus tahun dimulai pada 1963, jumlahnya hanya 153 orang, lalu naik menjadi 1.000 pada 1981 dan 10.000 pada 1998. Data terbaru dirilis menjelang hari libur “Penghormatan bagi Lansia”, ketika pemerintah memberi penghargaan kepada warga yang berulang tahun ke-100 berupa surat pribadi dan cawan sake tradisional.

Sejumlah studi sebelumnya meragukan keabsahan angka penduduk seratus tahun di dunia karena kemungkinan galat data, catatan publik yang tidak tepercaya, dan akta kelahiran yang hilang. Audit pemerintah Jepang atas daftar keluarga pada 2010 menemukan lebih dari 230.000 orang tercatat berusia 100 tahun atau lebih yang tidak diketahui keberadaannya, sebagian telah meninggal puluhan tahun sebelumnya.

Baca juga Jumlah penduduk Korea Selatan terus berkurang, warganya enggan nikah dan punya anak

Bagikan

Baca Juga

Jet NATO Tembak Jatuh Drone di Wilayah Udara Lituania
Drone ke Mekah Dicegat, Koalisi Saudi Sebut Garis Merah
Tanker El Gaia Diserang di Selat Hormuz, Dua Pelaut Hilang
Potensi Angin Lepas Pantai Afrika Selatan Capai 95 GW
Afrika Selatan Belum Tetapkan Zona Angin Lepas Pantai
AS Halangi Kepala Nuklir Iran Hadiri Konferensi IAEA di Wina