- Potensi angin lepas pantai Afrika Selatan diperkirakan sekitar 95 GW, sebagian besar untuk turbin terapung.
- Skenario tinggi mencapai 40 GW atau sekitar 26 persen kebutuhan listrik Afrika Selatan pada 2050.
- Potensi angin lepas pantai Indonesia 94,2 GW, sedangkan kapasitas PLTB hingga 2024 baru 152,3 MW.
Cekricek.id — Potensi angin lepas pantai Afrika Selatan diperkirakan sekitar 95 GW di zona ekonomi eksklusifnya. Sebagian besar potensi itu harus dimanfaatkan dengan turbin terapung.
Sebagian besar wilayah itu memiliki kecepatan angin di atas 9 meter per detik, sebagaimana dilansir dari laporan A Strategic Framework for Offshore Wind Development in South Africa yang diterbitkan Bank Dunia pada September 2026. Kedalaman laut turun tajam di tepi landas kontinen. Akibatnya, turbin harus dipasang terapung di kedalaman 75–500 meter.
Kecepatan angin itu sebanding dengan lokasi proyek di Belanda (9,2 meter per detik), Jerman (9,5 meter per detik), dan Inggris (9,7 meter per detik). Afrika Selatan memiliki garis pantai sepanjang 2.800 kilometer.
Potensi terbesar ada di Pantai Barat antara Saldanha Bay dan Port Nolloth, yakni 64 GW turbin terapung. Potensi terapung juga tersedia dekat pusat permintaan, yaitu Cape Town sebesar 6,4 GW dan Durban sebesar 17,4 GW. Beban puncak Cape Town sekitar 2 GW, sedangkan Durban sekitar 1,7 GW.
Lokasi untuk turbin berfondasi tetap jauh lebih sedikit, yakni dekat Saldanha Bay sebesar 1,4 GW dan Gqeberha sebesar 1,3 GW. Lokasi ini bisa dipakai untuk proyek pembuktian hingga 2040. Turbin terapung skala besar baru diperkirakan beroperasi setelah 2040.
Baca juga Indonesia-Jerman perkuat investasi EBT dan jaringan listrik
Potensi Angin Lepas Pantai Dipetakan dalam Tiga Skenario
Laporan itu menyusun tiga skenario hingga 2050. Skenario rendah menghasilkan 5 GW atau sekitar 6 persen kebutuhan listrik. Skenario menengah mencapai 15 GW atau sekitar 16 persen kebutuhan. Skenario tinggi mencapai 40 GW atau sekitar 26 persen kebutuhan, dengan proyek pertama beroperasi pada 2035.
Biaya listrik turbin berfondasi tetap diperkirakan 94–116 dolar AS per megawatt jam pada 2035. Dalam skenario tinggi, biaya turbin terapung bisa turun menjadi 47–60 dolar AS per megawatt jam pada 2050. Dalam skenario menengah, biayanya 65–84 dolar AS per megawatt jam.
Menteri Kelistrikan dan Energi Afrika Selatan Kgosientsho Ramokgopa meminta potensi itu disikapi hati-hati dalam kata pengantar laporan. “Potensi ini signifikan, tetapi harus didekati dengan disiplin, realisme, dan tanggung jawab,” tulis Ramokgopa. Ia menegaskan laporan itu bukan rencana pengadaan, penetapan kebijakan, alokasi kapasitas, maupun komitmen dana publik.
Baca juga PLTP Muara Laboh Unit-2 resmi dibangun, investasi energi bersih Rp8,2 triliun
Indonesia Punya Potensi Angin Lepas Pantai 94,2 GW
Kementerian ESDM dalam keterangan tertulis, Jumat (27/09/2024), mencatat potensi angin Indonesia sebesar 154,6 GW, terdiri atas 60,4 GW di darat dan 94,2 GW lepas pantai. Wilayah timur Indonesia, yakni Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara, memiliki sekitar 40 persen potensi angin nasional.
Namun, pemanfaatannya masih sangat kecil. Kapasitas pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) hingga 2024 baru 152,3 MW. Pemerintah menargetkan kapasitas PLTB mencapai 37 GW pada 2060. RUPTL PLN 2025–2034 yang diumumkan Senin (26/05/2025) memuat tambahan pembangkit angin sebesar 7,2 GW.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyebut target jangka pendeknya. “Kita sudah tahu langkahnya 5 GW, jadi sampai dengan tahun 2030 kita butuh 5 GW dari angin,” ungkap Eniya.
Baca juga KLH kawal registrasi karbon dan RUU Perubahan Iklim















