- Biaya hidrogen hijau dari angin lepas pantai Afrika Selatan diperkirakan 3,80–5,30 dolar AS per kilogram.
- Target internasional biaya hidrogen hijau berada di kisaran 2–3 dolar AS per kilogram.
- Kementerian ESDM menargetkan tambahan hidrogen hijau lebih dari 199 ton per tahun pada 2026.
Cekricek.id — Biaya produksi hidrogen hijau dari listrik angin lepas pantai di Afrika Selatan diperkirakan 3,80–5,30 dolar AS per kilogram. Angka itu masih di atas target internasional sebesar 2–3 dolar AS per kilogram.
Berdasarkan laporan A Strategic Framework for Offshore Wind Development in South Africa yang diterbitkan Bank Dunia pada September 2026, biaya produksi hidrogen dihitung di dua lokasi. Di kawasan Saldanha Bay–Pantai Barat, biayanya 4,6–5,3 dolar AS per kilogram. Produksi di sana bisa dimulai pada 2035. Di kawasan Durban–Richards Bay, biayanya 3,80–4,4 dolar AS per kilogram, dengan produksi mulai 2040.
Biaya di Richards Bay lebih rendah meski memakai turbin terapung yang lebih mahal. Laporan itu memakai beberapa asumsi untuk lokasi tersebut. Faktor kapasitas elektroliser lebih tinggi karena angin lebih konsisten. Teknologi elektroliser juga lebih murah dan efisien setelah lima tahun pengembangan tambahan. Biaya modalnya lebih rendah dan umur pabriknya sedikit lebih panjang.
Baca juga Metode baru menghasilkan hidrogen dari air
Hidrogen Hijau Bisa Lebih Murah jika Digabung Tenaga Surya
Biaya bisa turun jika hidrogen hijau diproduksi dengan gabungan listrik angin lepas pantai dan tenaga surya. Profil pembangkitan keduanya saling melengkapi, dan biaya tenaga surya lebih rendah. Analisis awal menunjukkan hidrogen dari gabungan itu mungkin bersaing dengan hidrogen dari angin darat dan tenaga surya. Jika hasil analisis lanjutan positif, hidrogen hijau bisa menjadi pemicu pasar angin lepas pantai Afrika Selatan.
Listrik angin lepas pantai untuk hidrogen juga dapat mengurangi kebutuhan peningkatan jaringan transmisi. Hidrogen dan turunannya disebut menjadi solusi dekarbonisasi sektor yang sulit dikurangi emisinya. Contohnya transportasi berat dan industri. Sejumlah negara telah mengumumkan rencana mengimpor hidrogen, sehingga produksinya bisa menjadi peluang ekspor.
Satu Kahkonen, Direktur Divisi Bank Dunia untuk Afrika Selatan, menyinggung hidrogen hijau dalam kata pengantar laporan. “Peluang-peluang ini berakar pada terbentuknya rantai pasok lokal, kemampuan manufaktur, industri terkait seperti produksi hidrogen hijau, dan sektor lain yang selaras langsung dengan prioritas Transisi Energi Berkeadilan Afrika Selatan,” tulis Kahkonen.
Baca juga Indonesia-Jerman perkuat investasi EBT dan jaringan listrik
Indonesia Targetkan Tambahan Hidrogen Hijau 199 Ton pada 2026
Di Indonesia, konsumsi hidrogen saat ini sekitar 1,75 juta ton per tahun, menurut keterangan tertulis Kementerian ESDM, Selasa (10/02/2026). Pemanfaatannya didominasi bahan baku urea sebesar 88 persen. Sisanya antara lain untuk amonia 4 persen dan kilang minyak 2 persen.
Wakil Menteri ESDM Yuliot menyebut Indonesia berpeluang menjadi pusat hidrogen di kawasan. “Dengan keunggulan tersebut, Indonesia berpotensi menjadi hub hidrogen dan amonia di kawasan Asia Pasifik,” kata Yuliot saat meluncurkan Global Hydrogen Ecosystem Summit 2026.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyebut target itu kini masuk indikator kinerja utama. “Jadi kita harapkan penambahan hidrogen hijau yang diagendakan 2026 ini harus mencapai lebih dari 199 ton per tahun,” jelas Eniya.
Baca juga PLTP Muara Laboh Unit-2 resmi dibangun, investasi energi bersih Rp8,2 triliun















