- Ekspor barang antara China naik 27 persen pada semester I 2026 dan menyumbang hampir tiga perempat pertumbuhan ekspor.
- Ekspor China secara keseluruhan tumbuh 18 persen, sedangkan impornya naik 26 persen pada Januari–Juni 2026.
- Impor minyak mentah China dari Timur Tengah turun sekitar 21 miliar dolar AS, sementara impor dari Indonesia meningkat.
Cekricek.id — Ekspor barang antara China naik 27 persen pada semester I 2026, jauh lebih cepat dari pertumbuhan 9 persen sepanjang 2025. Kenaikan itu menyumbang hampir tiga perempat pertumbuhan ekspor China.
Melansir pembaruan regional laporan perdagangan global McKinsey Global Institute (MGI) yang dirilis Selasa (08/09/2026), nilai ekspor barang antara China bertambah 235 miliar dolar AS pada Januari–Juni 2026. Cip memori dan baterai menjadi jenis barang yang tumbuh paling besar.
MGI menyebut lonjakan ekspor barang antara China memperkuat perannya sebagai pabrik bagi pabrik-pabrik, yakni pemasok bagi produsen lain. Ekspor barang modal tumbuh 14 persen atau 50 miliar dolar AS, hampir tiga kali laju tahun sebelumnya. Pendorongnya antara lain unit penyimpanan komputer.
Ekspor barang konsumsi naik 6 persen atau 33 miliar dolar AS, berbalik dari penurunan pada 2025. Kenaikan itu dipimpin kendaraan listrik dan hibrida serta telepon pintar. Padahal, permintaan dari Amerika Serikat melemah dan harga di sejumlah kategori turun.
Baca juga Uni Eropa beri tenggat Oktober untuk China soal dagang
Perdagangan Barang AI Ikut Dongkrak Ekspor China
Secara keseluruhan, ekspor China tumbuh 18 persen pada Januari–Juni 2026, lebih dari tiga kali laju setahun sebelumnya. Semikonduktor, elektronik, dan kendaraan listrik memimpin kenaikan itu. Impor naik 26 persen karena permintaan bahan terkait AI dan logam, menurut olahan MGI atas data Administrasi Umum Kepabeanan China.
Impor cip dan barang terkait naik 72 persen di tengah lonjakan permintaan infrastruktur AI dan tingginya harga semikonduktor. Ekspor barang terkait AI hampir berlipat dua menjadi 256 miliar dolar AS. Kenaikan itu terangkat permintaan global yang lebih kuat dan harga cip yang lebih tinggi. Pembelian emas dalam jumlah rekor mendorong kenaikan impor logam.
Ekspor peralatan transportasi melonjak 29 persen atau 48 miliar dolar AS. Kendaraan listrik dan hibrida China terus merebut pasar luar negeri.
Pangsa Amerika Serikat dalam ekspor China turun sekitar dua poin persentase, melanjutkan penurunan bertahun-tahun. Perdagangan China justru kian bergeser ke Asia, dipimpin Korea Selatan dan Vietnam. Impor dari kedua negara naik 61 persen dan 41 persen karena permintaan elektronik dan komponen terkait AI.
Impor minyak mentah China dari Timur Tengah turun sekitar 21 miliar dolar AS akibat gangguan di Selat Hormuz. Sebaliknya, impor dari Indonesia, Brasil, Rusia, dan pemasok lain meningkat.
Baca juga Perang ekonomi AS ke Iran uji gencatan dagang China
Dalam The McKinsey Podcast yang tayang Kamis (04/06/2026), Jeongmin Seong, partner MGI yang memimpin penyusunan pembaruan regional itu, menjelaskan pergeseran peran China. “Dalam kisah China yang baru, ini bukan hanya soal ‘Made in China’, tetapi juga ‘China inside’. Itu karena China sedang menjadi pabrik bagi pabrik-pabrik,” kata Seong.
Menurut Seong, barang antara pada dasarnya adalah input bagi proses produksi berikutnya. Hampir separuh perdagangan China juga berlangsung dengan negara-negara berkembang. “China memungkinkan negara-negara ini menjadi pabrik dunia. Dan tren ini, sekali lagi, berlanjut ke 2026,” ujarnya.
Baca juga KADI selidiki dumping polimer penyerap super asal Tiongkok















