- Emisi listrik Afrika Selatan bisa berkurang 530 juta ton CO2 hingga 2050 dalam skenario 40 GW angin lepas pantai.
- Afrika Selatan mengalami 335 hari pemadaman bergilir sepanjang 2023.
- RUPTL PLN 2025–2034 masih memuat 3,5 GW PLTU batu bara yang sudah dalam tahap penyelesaian konstruksi.
Cekricek.id — Emisi listrik Afrika Selatan bisa berkurang 530 juta ton CO2 hingga 2050. Syaratnya, negara itu membangun 40 GW pembangkit angin lepas pantai. Angka itu berasal dari skenario pertumbuhan tinggi dalam laporan Bank Dunia.
Laporan A Strategic Framework for Offshore Wind Development in South Africa yang diterbitkan Bank Dunia pada September 2026 menyebutkan pengurangan emisi listrik Afrika Selatan itu terjadi bertahap. Pengurangannya 15 juta ton CO2 pada 2035 dan 96 juta ton CO2 pada 2040. Skenario menengah dengan 15 GW memangkas 362 juta ton CO2 pada 2050. Skenario rendah dengan 5 GW memangkas 141 juta ton CO2.
Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara selama puluhan tahun menjadi tulang punggung listrik Afrika Selatan. Porsinya sekitar 70 persen dari bauran energi. Energi terbarukan baru menyumbang 8 persen. Kebutuhan listrik negara itu dipenuhi lebih dari 40 GW pembangkit yang didominasi PLTU batu bara.
Negara itu juga dilanda krisis pasokan. Pada 2023, Afrika Selatan mengalami 335 hari pemadaman bergilir. Banyak rumah tangga dan usaha tanpa listrik hingga 10 jam per hari. Pertumbuhan ekonominya rata-rata hanya 0,8 persen sejak 2012.
Baca juga Permintaan batu bara dunia 2026 rekor 8,94 miliar ton
Emisi Listrik Afrika Selatan dan Rencana Pensiun PLTU Eskom
Menurut rencana saat ini, perusahaan listrik milik negara Eskom akan mempensiunkan sekitar 20 GW PLTU batu bara hingga 2040. Sebanyak 30 GW lagi dipensiunkan hingga 2050, sehingga membuka kebutuhan pembangkit baru. Laporan itu menyebut tambahan energi terbarukan yang dibutuhkan mencapai 5–6 GW per tahun. Pada 2013–2023, rata-rata penambahannya hanya 1 GW per tahun.
Satu Kahkonen, Direktur Divisi Bank Dunia untuk Afrika Selatan, menyoroti manfaat lingkungannya dalam kata pengantar. “Dalam 25 tahun ke depan, pengembangan angin lepas pantai dapat mengurangi emisi pembangkitan listrik Afrika Selatan sebesar 530 juta ton CO2, berkontribusi signifikan pada target iklim benua itu dan memosisikan negara tersebut sebagai pemimpin penerapan energi bersih,” tulis Kahkonen.
Baca juga KLH kawal registrasi karbon dan RUU Perubahan Iklim
RUPTL Indonesia Masih Tambah 3,5 GW PLTU Batu Bara
Di Indonesia, bauran energi baru terbarukan (EBT) sepanjang 2025 mencapai 15,75 persen, mengutip keterangan tertulis Kementerian ESDM, Jumat (09/01/2026). Kapasitas terpasang pembangkit EBT hingga Desember 2025 sebesar 15.630 MW. Dari jumlah itu, pembangkit angin baru 152 MW.
RUPTL PLN 2025–2034 menargetkan penambahan pembangkit 69,5 GW, menurut keterangan tertulis Kementerian ESDM, Senin (26/05/2025). Sekitar 76 persen di antaranya berasal dari EBT dan sistem penyimpanan energi. Pada lima tahun pertama akan dibangun 27,9 GW. Rinciannya 9,2 GW berbasis gas, 12,2 GW EBT, 3 GW penyimpanan, dan 3,5 GW PLTU batu bara yang sudah dalam tahap penyelesaian konstruksi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan transisi energi tetap dijalankan saat mengumumkan RUPTL tersebut. “Komitmen Paris Agreement terkait transisi energi tidak lagi menjadi komitmen bersama dan beberapa negara keluar dari komitmen awal, namun kita harus konsisten untuk menjalankan ini dengan memperhatikan kemampuan kita dan tingkat ketersediaan energi dan keekonomian,” ujar Bahlil.
Baca juga Indonesia-Jerman perkuat investasi EBT dan jaringan listrik















