Tradisi Adat Suku Sasak, Atap Bale yang Membuat Tamu Menunduk

A A

Deretan rumah tradisional Sasak beratap jerami dan berdinding anyaman bambu di Desa Sade, Lombok. [Foto: Midori/Wikimedia Commons (CC BY 3.0)]

  • Asri dan rekan-rekannya membaca nilai edukasi tradisi adat Suku Sasak pada bale dan adat nyongkolan.
  • Penelitian ini memakai studi literatur dan tidak memuat bagian tentang keterbatasan penelitian.
  • Bale Jamaq masih ada di Desa Rambitan dan Desa Sengkol, Kabupaten Lombok Tengah.
  • Atap bale yang menjorok ke bawah membuat orang harus menunduk sebelum masuk.
  • Lima anak tangga Bale Bonter dimaknai sebagai rukun Islam dan jumlah waktu salat.
Daftar Isi
  1. Tim Hamzanwadi Menyebut Proses Pendidikan sebagai Proses Pembudayaan
  2. Kajian Tahun 2024 Ini Bersandar pada Studi Literatur
  3. Perwangse dan Jajar Karang, Dua Lapisan Masyarakat Sasak
  4. Bale Jamaq di Rambitan dan Sengkol Dirangkai Tanpa Paku
  5. Lima Anak Tangga Bale Bonter dan Tembok Bale Gunung Rate
  6. Tim Asri Menemukan Tata Krama dalam Tradisi Adat Suku Sasak
  7. Nyongkolan Sesudah Sorong Serah Aji Krame Menuntut Solidaritas

Cekricek.id — Kerajaan Bali pernah berkuasa atas Lombok sekitar 1678–1849, dan rentang panjang itu, menurut sebuah kajian pendidikan, ikut melahirkan kebudayaan baru dalam tradisi adat Suku Sasak. Akulturasi antara penduduk lokal dan Bali itu dicatat sebagai latar historis yang bersumber dari museum negeri NTB. Kini masyarakat Sasak dipandang sebagai penduduk asli Pulau Lombok yang masih memegang teguh kebudayaannya, sehingga tradisi yang masih dijalankan dinilai sangat memungkinkan untuk digali nilai edukatifnya.

“Kebudayaan Masyarakat Sasak memang tidak bisa dipisahkan dari pengaruh kebudayaan Bali dan Jawa,” tulis Indra Himayatul Asri dan rekan-rekannya dari Universitas Hamzanwadi. Mereka menyebut sistem adat Sasak terbagi dalam tiga golongan besar, yakni adat urif yang mengatur perikehidupan individu dalam konteks sosial dan alam, adat pati yang mengatur tata laksana mengurus orang meninggal, serta adat yang berkaitan dengan alam. Ketiganya dilandasi sistem keyakinan atau agama dan berorientasi pada konsep pemole, yakni pemuliaan kehidupan dan lingkungan.

Kajian itu terbit dengan judul Implementasi Etnopedagogi Pada Tradisi Adat Suku Sasak di Educatio: Jurnal Ilmu Kependidikan volume 19 nomor 1, Juni 2024, halaman 91–101. Penulisnya tujuh orang: Indra Himayatul Asri dari Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Hamzanwadi; Yuniar Lestarini, Zalia Muspita, Andi Sulastri, dan Musabihatul Kudsiah dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Hamzanwadi; serta Dina Fadilah dan Rohini, yang afiliasinya tidak dicantumkan dalam naskah. Artikel itu diterbitkan daring pada 7 Juni 2024.

Tim Hamzanwadi Menyebut Proses Pendidikan sebagai Proses Pembudayaan

Titik berangkat kajian ini adalah pandangan bahwa pendidikan dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Pendidikan, tulis Asri dan rekan-rekannya dengan merujuk Tilar (2010), tidak terjadi di dalam ruang hampa, tetapi terlaksana dalam kehidupan berbudaya yang dimiliki setiap masyarakat. Kepribadian seseorang, lanjut para penulis, terbentuk oleh nilai-nilai budaya tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dan dididik. “Tanpa kebudayaan tidak mungkin lahir suatu kepribadian,” tulis mereka.

Dari situ para penulis menarik pijakan pertama mereka. “Oleh sebab itu, proses pendidikan tidak lain adalah proses pembudayaan,” tulis tim Universitas Hamzanwadi itu. Menurut mereka, proses pendidikan di sekolah tidak sekadar mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi sepatutnya menanamkan nilai-nilai budaya dan meneruskan nilai yang sejak awal dibentuk dari keluarga asal peserta didik. Pendidikan sebagai proses pembudayaan juga disebut berperan mewariskan nilai-nilai positif budaya yang dapat dijadikan sarana membangun karakter peserta didik.

Nilai-nilai dalam adat dan budaya masyarakat Sasak yang diaktualkan dalam pembelajaran di kelas, termasuk pembelajaran matematika, dipandang para penulis sebagai alat pendidikan agar lahir perilaku yang mencerminkan jati diri dan karakter masyarakat Sasak. Upaya menyinergikan pendidikan dan adat itu, menurut mereka, diharapkan melahirkan peserta didik yang berbudi luhur, beradab, dan beradat. Tradisi adat Suku Sasak yang mereka pilih untuk dibaca nilai edukasinya ada dua, yakni bale atau rumah dan adat nyongkolan.

Kajian Tahun 2024 Ini Bersandar pada Studi Literatur

Kajian ini tidak berangkat dari kerja lapangan. Penelitiannya memakai metode kualitatif deskriptif berupa studi literatur, yaitu mencari literatur yang berkaitan dengan implementasi etnopedagogi pada tradisi adat Suku Sasak, baik dari jurnal maupun sumber literatur lain, serta dokumen yang membantu penulis mendeskripsikannya. Naskah tidak menyebut desa yang dikunjungi, narasumber yang diwawancarai, maupun kurun waktu pengumpulan bahan.

Naskah itu juga tidak memuat bagian tentang keterbatasan penelitian. Istilah etnopedagogi yang menjadi judul tidak diberi definisi dan hanya muncul lagi di bagian metode. Daftar rujukannya berisi sepuluh sumber, tetapi tidak satu pun disebut di badan tulisan. Sebaliknya, satu pandangan yang dikutip di pendahuluan tidak tercantum dalam daftar rujukan tersebut.

Perwangse dan Jajar Karang, Dua Lapisan Masyarakat Sasak

Sebelum masuk ke bale, para penulis menggambarkan susunan masyarakatnya. Secara sosial politik, masyarakat Sasak digolongkan dalam dua tingkatan utama, yakni golongan bangsawan yang disebut perwangse dan golongan masyarakat biasa yang disebut jajar karang atau bangsa ama. Perwangse terbagi lagi atas bangsawan penguasa bergelar datu, yang perempuannya dipanggil dende, serta bangsawan triwangse yang memakai gelar lalu untuk laki-laki dan baiq untuk perempuan. Pada jajar karang, laki-laki dipanggil loq dan perempuan dipanggil le.

Dalam pergaulan sehari-hari, masyarakat Sasak disebut memiliki tata cara bergaul dengan semangat persaudaraan yang tinggi. Mereka yang bekerja di instansi sebagai pegawai, guru, atau karyawan tetap menjadikan bertani sebagai pekerjaan sampingan karena mencintai tanah milik mereka, sementara ibu-ibu rumah tangga membantu menjaga, merawat, dan mengontrol tanaman agar hasilnya dapat dinikmati bersama. Dataran rumah orang Sasak cenderung luas dan melintang, dilengkapi berugak dan lumbung.

Baca juga Satu-satunya Nisan Bertulis di Lombok Menyebut Angka Tahun 1729

Lumbung padi disebut sebagai ciri pembeda arsitektur Sasak. Bangunan itu dinaikkan di atas tiang dan memakai atap berbentuk “topi” yang ditutup rumput ilalang, dengan empat tiang besar menyangga empat balok melintang. Satu-satunya bukaan berupa lubang persegi kecil di bagian atas, tempat padi hasil panen disimpan, sedangkan piringan kayu besar yang disebut jelepeng dipasang di puncak tiang untuk mencegah pengerat mencapai tempat penyimpanan. Menurut naskah, ada empat jenis dasar lumbung dengan ukuran berbeda, dan yang terbesar biasanya milik orang kaya atau keturunan bangsawan.

Bale Jamaq di Rambitan dan Sengkol Dirangkai Tanpa Paku

Dalam tradisi adat Suku Sasak, rumah berdenah persegi dan, menurut para penulis, bagian dalamnya tidak disangga tiang-tiang. Bubungan atapnya curam, dengan atap jerami setebal kurang lebih 15 sentimeter yang menjulur ke dinding dasar. Panggungnya setinggi sekitar satu setengah meter, terbuat dari campuran lumpur, kotoran kerbau, dan jerami yang permukaannya dipelitur halus. Perlu tiga atau empat langkah untuk mencapai rumah bagian dalam atau dalem bale, yang ditutup anyaman bambu dan sering dilengkapi daun pintu ganda berukir halus.

Pembagian ruangnya pun diatur. Anak laki-laki tidur di panggung luar dalem bale, sedangkan anak perempuan tidur di dalamnya. Rumah bagian dalam berisi tungku di sebelah kanan dengan rak untuk mengeringkan jagung, sementara sisi kiri dibagi menjadi kamar tidur anggota rumah tangga dengan rak langit-langit untuk menyimpan benda pusaka dan barang berharga. Bagian itu juga menjadi tempat melahirkan anak, dan kayu bakar disimpan di belakang rumah, di bawah panggung.

Para penulis kemudian menempatkan bale sebagai tempat berlindung secara fisik maupun psikis, raga maupun jiwa, sekaligus ekspresi budaya masyarakat dan penanda budaya suatu bangsa. Arsitektur yang sangat sederhana diberi sentuhan ornamen pada tiang, balok, dan pintu, berpegang pada nilai pemole dan semaiq, yang berarti memuliakan dan cukup atau tidak berlebihan. Secara sosial, konsep itu disebut dapat ditafsirkan sebagai penghormatan yang diterima setiap tamu.

Piringan kayu di puncak tiang lumbung padi di Desa Sade, Lombok
Piringan kayu di puncak tiang lumbung padi di Desa Sade, Lombok. [Foto: Midori/Wikimedia Commons (CC BY 3.0)]

Jenis bale pertama dalam tradisi adat Suku Sasak adalah Bale Jamaq, pola bangunan yang umumnya ada di perkampungan wilayah selatan Pulau Lombok. Dari namanya, para penulis mengasumsikan bangunan ini rumah untuk masyarakat biasa, dan saat ini Bale Jamaq masih ada di Desa Rambitan dan Desa Sengkol, Kabupaten Lombok Tengah. Atap bagian belakang dan sampingnya hampir menyentuh tanah dengan kemiringan yang melancarkan jatuhnya air hujan, sedangkan dindingnya relatif rendah, sekitar 2 meter.

Meski bentuk dan bahannya sangat sederhana, bangunan ini disusun dengan struktur lengkap, yakni pondasi, dinding, dan atap. Pondasinya dibuat berundak, dan seluruh sistem yang merangkai bangunan memakai pasak dan ikatan tanpa paku. Bale Jamaq memiliki tiga ruang, yaitu bale dalem, dalem bale, dan ampik atau sesangkoq. Ampik dibagi menjadi ampik belo yang panjang, tempat mengerjakan hal produktif seperti menenun dan menganyam, serta ampik kontek yang pendek, tempat istirahat anak laki-laki dan suami.

Lima Anak Tangga Bale Bonter dan Tembok Bale Gunung Rate

Jenis kedua, Bale Bonter, merupakan rumah bagi warga yang memiliki fungsi dan status sosial, seperti penghulu, tuan guru, keliang, kepala desa, dan bangsawan menengah. Bangunan ini dibuat lebih berwibawa daripada Bale Tani dengan simbol seperti umpak dan jejait pada rangkanya. Konstruksinya lebih kokoh dibanding bale lain karena tidak lagi memakai tiang bambu, dan tiang, blandar, serta pintunya diberi ukiran.

Baca juga Keraton Buton, Nanas dan Naga di Atap Rumah Warganya

Pondasi Bale Bonter dibangun agak tinggi sehingga perlu anak tangga dari tanah. Jumlahnya lima, dan menurut para penulis maknanya adalah pegangan hidup berupa rukun Islam serta jumlah waktu salat sebagai pengingat dalam menjalani kehidupan. Naskah yang sama juga menyebut tangga tiga, yang mengingatkan bahwa dunia memiliki tiga siklus, yakni kelahiran, kehidupan, dan kematian. Rumah jenis ini umumnya dilengkapi sekenem, berugak bertiang enam, atau bale jajar yang disebut becingah.

Jenis ketiga, Bale Gunung Rate, tidak berbeda jauh dari Bale Bonter dalam bahan dan konstruksi; bedanya terletak pada bentuk atap. Konstruksinya memakai tunjang dan sun atau bubungan yang umumnya dihiasi ukiran, dengan balok kayu sepanjang satu atau dua meter sebagai tumpuan empat ujuk-ujuk yang sama panjang. Bangunan ini memiliki tembok pekarangan, sehingga setiap orang yang ingin memasukinya tidak berlaku sembarangan.

Tim Asri Menemukan Tata Krama dalam Tradisi Adat Suku Sasak

Dari tiga jenis bale itu, Asri dan rekan-rekannya menyimpulkan nilai edukatif dalam aturan membangun arsitektur Bale Sasak, yaitu nilai kepatuhan dan nilai gotong royong. Rincian pertama ada pada atap. Bagian depan atap bale lebih menjorok ke bawah menutupi pintu bagian atas, sehingga orang harus menunduk ketika berdiri di tangga depan sebelum masuk. “Makna yang dapat diambil pada atap bale adalah sikap dalam bertamu harus menunjukkan sikap sopan santun dengan pemilik rumah,” tulis para penulis.

Pada tiang, tradisi adat Suku Sasak dibaca sebagai nilai solidaritas. Keunikan bangunan Sasak, menurut naskah, adalah tidak adanya tiang utama, sehingga semua tiang menopang bagian yang sama dan tidak memberatkan salah satu tiang saja. Dari situ para penulis menarik pelajaran bahwa pekerjaan yang berkaitan dengan kepentingan bersama hendaknya dikerjakan dengan saling bahu-membahu, tidak dibebankan kepada satu atau sebagian orang saja.

Dalam tradisi adat Suku Sasak, pintu membawa nilai saling percaya, yang tercermin dari pengaman pintu berupa kayu atau bambu sebagai pengunci ketika pemilik bepergian. Pondasi membawa nilai kebersamaan. Pondasi yang ditinggikan, tulis para penulis, juga berkaitan dengan cerita turun-temurun di kalangan masyarakat Sasak yang menjadi semacam keyakinan bahwa tiap sepuluh tahun akan datang banjir, serta dengan udara dingin, karena rumah yang ditinggikan membuat suasana di dalamnya lebih hangat.

Nyongkolan Sesudah Sorong Serah Aji Krame Menuntut Solidaritas

Tradisi adat Suku Sasak kedua yang dibaca tim ini adalah nyongkolan, yakni proses mengunjungi rumah orang tua atau wali nikah mempelai perempuan yang dilaksanakan secara meriah setelah melalui proses sorong serah aji krame. Keluarga laki-laki mengundang seluruh keluarga dan kerabat karib, sedangkan pihak perempuan mengadakan tanggep, acara seremonial di rumah keluarga mempelai perempuan untuk menyambut kedatangan pengantin. Acara nyongkolan biasanya dimeriahkan gendang beleq sebagai pengiring.

Dalam rangkaian itu, sesepuh atau wakil kedua keluarga mengadakan serah terima atau sorong serah sebagai tanda bahwa mereka sama-sama telah menyerahkan anak-anak mereka untuk menikah. Menurut naskah, serah terima ini biasanya berlangsung ketika pengantin laki-laki dan perempuan masih bersiap dan belum berangkat ke rumah keluarga perempuan; pada saat itulah sesepuh pihak laki-laki datang dan disambut sesepuh pihak perempuan.

Baca juga Kampung Naga, Larangan Listrik, dan Kampung Kedua Bernama Sanaga

Nilai edukasi yang ditemukan para penulis pada prosesi ini ada dua. “Solidaritas, karena tanpa solidaritas prosesi nyongkolan itu tidak mungkin terlaksana karena nyongkolan itu harus melibatkan banyak orang,” tulis mereka. Nilai kedua adalah sosialisasi, yaitu memperkenalkan pengantin kepada masyarakat bahwa keduanya telah menikah dan menjadi pasangan suami istri. Bahasan nyongkolan ini jauh lebih ringkas daripada bahasan bale, dan simpulan naskah mengulang hampir kata demi kata rincian nilai yang sudah dipaparkan di bagian pembahasan.

Beberapa bagian naskah juga tidak tersambung. Bahasan Bale Jamaq tiba-tiba beralih menyebut bale tani tanpa penjelasan apakah keduanya bangunan yang sama, dan Bale Bonter pun dibandingkan dengan Bale Tani. Empat jenis dasar lumbung disebut tanpa dirinci, makna tangga tiga muncul tanpa keterangan bangunan mana yang memakainya, dan pembelajaran matematika yang disinggung di pendahuluan tidak dibahas lagi di bagian hasil.

Kajian terbitan Juni 2024 ini mengumpulkan rincian bale dan nyongkolan dari literatur, lalu menandai nilai tata krama, solidaritas, saling percaya, kebersamaan, dan sosialisasi yang menurut para penulis dapat diaktualkan melalui pembelajaran di kelas. Bagaimana nilai dari tradisi adat Suku Sasak itu diajarkan di sekolah tidak diuji dalam naskah ini, sehingga langkah tersebut masih berada di luar cakupan penelitiannya.

Bagikan

Baca Juga

Ketua Adat Dayak Desa Dipilih lewat Lelehan Telur Ayam
Bahasa Adat Mombesara, Cara Tolaki Melamar lewat Kiasan Kebun
Desa Pulau Maringkik, Delapan Tahun dari Tertinggal ke Berkembang
Buntang Mamali Mati, Aruh Dayak Deah untuk Membekali Arwah
Tuturan Ritual Hapo Ana, Doa Adat Sabu untuk Menyambut Bayi
Suku Hubula Menanam Kayu Semalam sebelum Membangun Honai