Cendawan Pemerangkap Nematoda dari Kutalimbaru Bunuh 98 Persen

A A

Ilustrasi cawan petri berisi biakan jamur di laboratorium. [Foto: Pexels]

  • Peneliti Universitas Sumatera Utara memperoleh 20 isolat cendawan antagonis dari tanah kebun tomat di Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang.
  • Hanya empat isolat membentuk jerat khas, yaitu TRK 04, TRK 07, TRK 09, dan TRK 16.
  • Setelah 72 jam, TRK 04 mencatat kematian juvenil tertinggi yakni 98 persen, disusul TRK 07 pada 84 persen.
  • Keempat isolat berjerat itu berada dalam satu marga yang sama, yaitu Arthrobotrys.
  • Seluruh pengujian berlangsung di dalam cawan, dan penulisnya menyatakan uji in vivo masih diperlukan untuk memastikan efektivitas di lapangan.
Daftar Isi
  1. Dua Puluh Isolat dari Tanah Kebun Tomat
  2. Empat Isolat yang Membentuk Jerat
  3. Empat Nama Arthrobotrys di Bawah Mikroskop
  4. Seribu Juvenil dan Angka 98 Persen
  5. Cara Jerat Melumpuhkan Nematoda
  6. Yang Belum Dijawab Uji Cawan

Cekricek.id — Juvenil nematoda Meloidogyne incognita yang menyentuh jerat cendawan itu langsung berhenti bergerak. Tubuhnya melekat pada berkas hifa dan tidak lagi bisa lepas.

Pemandangan di bawah mikroskop itu dicatat tiga peneliti Universitas Sumatera Utara. Mereka menguji cendawan pemerangkap nematoda dari tanah kebun tomat di Kutalimbaru, Deli Serdang.

Hasilnya terbit di JPT: Jurnal Proteksi Tanaman (Journal of Plant Protection) Volume 9 Nomor 1 tahun 2025, halaman 26 sampai 37. Jurnal itu diterbitkan Universitas Andalas.

Naskah itu berjudul Potential of Nematophagous Fungi from Kutalimbaru, North Sumatra, Indonesia, as Biological Control Agents to Manage Root Knot Nematodes, Meloidogyne incognita. Redaksi menerimanya pada 22 April 2025.

Revisi pertama masuk 24 Juni 2025 dan naskah disetujui 30 Juni 2025. Artikel itu terbit pada tanggal yang sama dengan persetujuannya.

Penulis pertamanya Wira Risa Lina Simanjuntak dari Program Magister Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara. Dua penulis lain berasal dari Departemen Biologi fakultas yang sama.

Keduanya adalah Liana Dwi Sri Hastuti sebagai penulis korespondensi dan Yurnaliza sebagai penulis pendamping. Menurut keterangan bagian kontribusi, keduanya menangani supervisi, validasi, serta penyuntingan naskah.

Nematoda puru akar disebut naskah ini sebagai kelompok paling merusak di antara nematoda parasit tanaman. Meloidogyne menyerang lebih dari 5.500 jenis tumbuhan.

Kerusakan ekonomi akibat nematoda parasit tanaman ditaksir mencapai 1.500 miliar dolar Amerika Serikat setiap tahun. Kelompok itu berisi sekitar 4.300 jenis.

Jumlah tersebut setara sekitar 15 persen dari seluruh keluarga nematoda. Di Indonesia, infeksi Meloidogyne dilaporkan menurunkan hasil tomat sebesar 20 sampai 40 persen.

Setelah menginfeksi akar, Meloidogyne memicu sel yang terinfeksi memperbanyak diri. Perbanyakan itu membentuk puru akar yang menjadi ciri khas kelompok nematoda tersebut.

Naskah menyebut lebih dari 700 jenis cendawan pemakan nematoda sudah dipertelakan. Kelompok itu tersebar pada Ascomycota, Basidiomycota, Zygomycota, dan Chytridiomycota.

Cendawan pemakan nematoda dibagi menjadi pemerangkap, pemarasit telur, dan endoparasit. Semuanya menyerang nematoda hidup dan memakainya sebagai sumber hara.

Dua Puluh Isolat dari Tanah Kebun Tomat

Penelitian berlangsung dari Oktober 2024 sampai Februari 2025. Tempatnya di Laboratorium Riset Terpadu, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara.

Tanah diambil dari lahan tomat di Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Lokasinya tercatat pada 3 derajat 24 menit lintang utara dan 98 derajat 30 menit bujur timur.

Peneliti membuat tiga petak berukuran 50 kali 50 sentimeter dengan jarak sekurangnya 10 meter. Dari tiap petak diambil 100 gram tanah pada kedalaman 10 sampai 20 sentimeter.

Contoh tanah dicampur rata, lalu 100 gram gabungannya dibungkus aluminium foil. Bungkusan itu disimpan dalam wadah plastik steril pada suhu 4 derajat Celsius selama lima hari.

Baca juga Jamur yang Disemprotkan ke Cabai untuk Membunuh Kutu Daun

Nematodanya berasal dari akar tomat berpuru milik Kebun Percobaan Institut Pertanian Bogor. Akar itu dicuci, dipotong satu sampai dua sentimeter, lalu direndam larutan natrium hipoklorit 0,05 persen.

Rendaman dituang lewat saringan bermata 75 mikrometer dan 25 mikrometer. Telur tertahan di saringan 25 mikrometer, lalu dibilas air keran dua sampai tiga menit.

Telur yang sudah bersih dipindahkan ke gelas piala berisi akuades steril. Inkubasinya pada suhu ruang 25 derajat Celsius sampai menetas menjadi juvenil tahap kedua.

Identitas M. incognita ditegakkan lewat pola perineal betina dewasa. Betina diambil dari bagian akar yang berpuru, lehernya disayat, lalu tubuhnya ditekan sampai isinya keluar.

Kutikula yang tersisa dibersihkan memakai asam laktat 45 persen. Bagian belakang yang memuat pola perineal kemudian diamati di bawah mikroskop majemuk.

Empat Isolat yang Membentuk Jerat

Isolasi cendawan memakai teknik taburan tanah dan pemurnian spora tunggal. Satu gram tanah ditaburkan pada media CHF-WA, lalu diinkubasi gelap pada 22 sampai 25 derajat Celsius selama tiga hari.

Cawan yang sudah penuh miselium diberi sekitar 100 juvenil tahap kedua. Juvenil itu disuspensikan dalam 200 mikroliter akuades steril dan diteteskan memakai mikropipet.

Cawan dikembalikan ke ruang gelap sampai terlihat nematoda mati. Cendawan di sekitar bangkai nematoda lalu dipindahkan ke media PDA untuk memperoleh biakan murni.

Dari tanah itu diperoleh 20 isolat cendawan yang bersifat antagonis terhadap M. incognita. Kode isolatnya TRK, singkatan dari Tomato Rhizosphere Kutalimbaru.

Hanya empat isolat yang membentuk jerat khas, yaitu TRK 04, TRK 07, TRK 09, dan TRK 16. Keempatnya juga menunjukkan konidia dan nematoda yang tidak bergerak.

Enam belas isolat sisanya tidak membentuk jerat yang terlihat. Penulisnya menyatakan mekanisme antagonis keenam belas isolat itu masih perlu ditelusuri lebih lanjut.

Baca juga 24 Isolat Jamur Endofit Nanas Riau, Tujuh yang Mematikan

Pengamatan makroskopis mencatat bentuk koloni berfilamen dan bulat bertepi menonjol. Warna koloni didominasi putih dengan tekstur miselium menyerupai kapas.

Tabel karakterisasi juga memuat koloni bertekstur beludru dan bergranula. Satu isolat, TRK 03, berwarna merah keunguan dengan permukaan datar dan tepi memancar.

Pengamatan morfologi memakai mikroskop cahaya pada perbesaran 400 kali dan 100 kali. Penetapan jenis merujuk pada pustaka pertelaan cendawan pemerangkap nematoda.

Empat Nama Arthrobotrys di Bawah Mikroskop

Koloni TRK 04 pada media PDA suhu 25 derajat Celsius berdiameter 6 sentimeter setelah tujuh hari. Warnanya putih agak kecokelatan pada permukaan atas maupun bawah.

Hifanya hialin, bersekat, dan bercabang, dengan konidia berbentuk elipsoid. Jeratnya berupa jala perekat tiga dimensi, dan ciri itu mengarah ke Arthrobotrys thaumasia.

TRK 07 tumbuh sampai diameter 8 sentimeter dan berwarna keputihan. Konidiofornya tegak dan hialin, sedangkan konidianya elipsoid atau obovoid dengan satu sampai tiga sekat.

Ciri tersebut membawa TRK 07 ke Arthrobotrys sinensis. Isolat itu menangkap nematoda memakai jala perekat tiga dimensi seperti TRK 04.

TRK 09 berkoloni keputihan dan tumbuh cepat pada media PDA. Konidiofornya tegak, sederhana, hialin, dengan dua sampai delapan sekat.

Konidianya membulat sampai berbentuk gasing atau gelendong lebar, membundar di ujung dan terpangkas di pangkal. Penulisnya menempatkan isolat itu sebagai Arthrobotrys eudermata.

TRK 16 berkoloni putih di kedua sisi media, dengan miselium menyebar, hialin, bersekat, dan bercabang. Konidianya obovoid atau elipsoid, tiga sampai sembilan butir pada tiap konidiofor.

Ciri tersebut cocok dengan Arthrobotrys musiformis. Dengan begitu keempat isolat berjerat itu berada dalam satu marga yang sama, yaitu Arthrobotrys.

Arthrobotrys disebut naskah ini sebagai marga terbesar dan paling rumit di antara cendawan pemerangkap nematoda dalam suku Orbiliaceae. Sebarannya luas pada berbagai habitat.

Marga itu banyak ditemukan pada tanah maupun sedimen lahan pertanian, hutan, mangrove, dan perairan tawar. Kemampuan saprofitnya kuat dengan daya reproduksi tinggi.

Seribu Juvenil dan Angka 98 Persen

Uji pemangsaan dijalankan pada media Corn Meal Agar. Cendawan berjerat ditumbuhkan pada suhu 25 derajat Celsius selama tiga hari sampai miselium menutupi cawan.

Cawan kemudian diberi suspensi sekitar 1.000 juvenil tahap kedua M. incognita. Populasi nematoda dihitung pada jam ke-12, 24, 36, 48, dan 72 setelah inokulasi.

Jerat diamati dengan mikroskop terbalik pada perbesaran 40 kali dan 100 kali. Jumlah juvenil aktif dan juvenil yang lumpuh dicatat pada tiap titik waktu.

Data populasi dan kematian diuji dengan analisis ragam. Uji lanjutnya memakai Tukey pada taraf 5 persen, sedangkan grafiknya disusun dengan GraphPad Prism versi 10.

Setelah 72 jam, TRK 04 mencatat kematian juvenil tertinggi, yakni 98 persen. TRK 07 menyusul pada 84 persen, TRK 09 pada 83 persen, dan TRK 16 pada 72 persen.

Perlakuan kontrol tidak menunjukkan perubahan berarti pada jumlah juvenil. Penangkapan dan pelumpuhan nematoda bertambah seiring bertambahnya waktu inkubasi.

Cara Jerat Melumpuhkan Nematoda

Nematoda yang menyentuh jerat pada media CHF-WA melekat pada berkas perangkap. Gerakannya berhenti dan tubuhnya tidak lagi bisa lepas dari jala itu.

Menurut naskah ini, jerat melepaskan senyawa kimia yang membuat nematoda pingsan dan menekan pergerakannya. Enzim kemudian merombak dinding tubuh nematoda.

Miselium lalu masuk dan berkembang biak di dalam tubuh nematoda sampai habis terurai. Enzim yang disebut penulisnya mencakup kolagenase, protease serin, dan kitinase.

Penulisnya menduga frekuensi sentuhan antara TRK 04 dan M. incognita lebih tinggi daripada tiga isolat lain. Dugaan itu dipakai untuk menjelaskan selisih angka kematian.

Naskah menyebut sebagian galur cendawan mungkin tidak cukup membentuk jerat perekat. Penyebabnya dikaitkan dengan senyawa kimia yang dilepaskan nematoda.

Penulisnya membandingkan angka itu dengan laporan Kassam dan rekan yang mencatat A. thaumasia menurunkan juvenil infektif M. incognita 82 persen. Perbandingan lain menyebut penurunan di atas 70 persen.

Yang Belum Dijawab Uji Cawan

Seluruh pengujian dalam riset ini berlangsung di dalam cawan, bukan di lahan. Penulisnya menyatakan uji in vivo masih diperlukan untuk memastikan efektivitas isolat di lapangan.

Angka 98 persen itu juga hanya berlaku pada juvenil tahap kedua. Riset ini tidak menguji telur maupun nematoda dewasa di dalam akar tanaman.

Penetapan nama keempat isolat pun bersandar pada ciri makroskopis dan mikroskopis. Naskah tidak memuat penegasan molekuler untuk keempat nama Arthrobotrys tersebut.

Ada pula bagian yang janggal. Naskah menyebut perbedaan daya tarik antara galur JPN dan M. incognita, tetapi singkatan JPN tidak dijelaskan di mana pun.

Rumus perhitungan kematian nematoda juga tercetak rusak pada berkas naskah. Angka kematiannya tetap dilaporkan di badan tulisan dan pada grafik hasil.

Penulisnya menutup dengan menyebut cendawan asli setempat sebagai calon agens hayati. Penerapannya diharapkan mengurangi ketergantungan pada nematisida kimia.

Baca juga Jamur yang Membunuh Larva Kumbang Badak dari Dalam

Riset ini didanai Universitas Sumatera Utara melalui skema TALENTA. Penulisnya menyatakan tidak ada benturan kepentingan finansial maupun personal dalam pengerjaannya.

Bagikan

Baca Juga

Kopi Keliling Payakumbuh, Harga Lebih Kuat daripada Mutu
Musik Banyuwangi Berganti Genre Setelah Kekerasan 1965
Jamur Penjerat Nematoda Kutalimbaru Matikan 98 Persen Larva
Ketimpangan Perempuan Jawa Bukan Kodrat Budaya
Sebotol Cutex 1924 Setara 83 Hari Kerja Buruh
Lima Buku Kajian Jawa, Tiga Penulis Indonesia