Waktu Reaksi Pemain Bulu Tangkis Ganda 0,026 Detik Lebih Cepat

A A

Sebuah kok bulu tangkis putih tergeletak di lantai lapangan berwarna hijau. [Foto: Syed Ahmad Fathi/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Uji t sampel independen menghasilkan nilai signifikansi 0,002 pada 37 atlet putra usia 14–17 tahun.
  • Seluruh subjek berasal dari satu akademi di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, dengan data diambil 3–4 Mei 2025.
  • Peneliti menyatakan desain potong lintang tidak dapat menetapkan hubungan sebab-akibat.
  • Tabel normalitas mencatat signifikansi usia 0,008 dan 0,006, tetapi kolom hasilnya tetap menulis Normal.

Cekricek.id — 0,026 detik memisahkan waktu reaksi pemain bulu tangkis nomor ganda dari pemain nomor tunggal pada kelompok usia 14–17 tahun. Selisih itu tercatat dari 37 atlet putra. Pemain ganda bereaksi rata-rata dalam 0,260 detik. Pemain tunggal butuh 0,286 detik.

Angka tersebut berasal dari artikel Comparison of Whole Body Reaction Time Between Singles and Doubles Badminton Players Aged 14-17 Years. Artikel itu terbit di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan (JSKK) Volume 10 Nomor 2, halaman 1–12. Tanggal terbitnya 15 Desember 2025.

Penulisnya empat orang: Mar’ie Muhammad, Samsul Bahri, Rafif Rifqi Naufal Hasyim, dan Kamilia Lituhayu. Keempatnya berasal dari Department of Sports Science, School of Pharmacy, Institut Teknologi Bandung. Naskah diterima 2 Juli 2025 dan direvisi 29 Oktober 2025.

Yang diukur hanya satu variabel utama. Namanya waktu reaksi seluruh tubuh, atau whole body reaction time (WBRT). Paper menyebutnya kemampuan biomotor kunci dalam bulu tangkis. Pengukurannya memakai satuan detik dengan tiga angka di belakang koma.

Daftar Isi
  1. 0,026 Detik dalam Waktu Reaksi Pemain Bulu Tangkis
  2. 37 dari 60 Atlet di Satu Akademi
  3. 3 Percobaan, 1 Nilai Rata-Rata
  4. 4 Ukuran Tubuh Sebelum Tes
  5. 0,008 dan 0,006 yang Tetap Ditulis Normal
  6. 3 Ciri Permainan Ganda Menurut Peneliti
  7. 1 Akademi dan Batas Klaim Sebab-Akibat
  8. 3 Arah Riset Berikutnya dan 1 Saran Pelatih

0,026 Detik dalam Waktu Reaksi Pemain Bulu Tangkis

Rincian waktu reaksi pemain bulu tangkis itu begini. Pemain ganda mencatat rata-rata 0,260 detik dengan simpangan baku 0,021. Pemain tunggal mencatat rata-rata 0,286 detik dengan simpangan baku 0,024. Kelompok ganda lebih cepat. Selisih rata-rata 0,026 detik ditulis sendiri oleh tim peneliti di bagian pembahasan.

Selisih itu lolos uji statistik. Uji t sampel independen menghasilkan nilai signifikansi 0,002. Ambang yang dipakai peneliti adalah p < 0,05 pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pengolahan data memakai perangkat lunak SPSS versi 26. Dengan ambang itu, tim menyatakan perbedaan waktu reaksi pemain bulu tangkis kedua kelompok signifikan.

Nilai t yang dilaporkan 3,368 dengan derajat bebas 35 bila varians diasumsikan sama. Bila varians tidak diasumsikan sama, nilai t menjadi 3,356 dengan derajat bebas 33,920. Kedua versi tetap menghasilkan signifikansi 0,002. Uji Levene sendiri memberi nilai F 0,751 dengan signifikansi 0,392.

Paper tidak mengukur penyebab selisih 0,026 detik itu. Mar’ie Muhammad dan kawan-kawan menuliskan dugaannya di halaman 7. “Hasil ini menunjukkan bahwa jenis nomor pertandingan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan reaktif atlet, kemungkinan karena tuntutan taktik dan pola gerak yang berbeda pada tiap nomor,” tulis mereka. Kata “kemungkinan” ada di kalimat asli.

37 dari 60 Atlet di Satu Akademi

Populasi penelitian berjumlah 60 atlet aktif usia 14–17 tahun. Semuanya berlatih di Taqi Arena Badminton Academy, Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Dari 60 atlet itu, 37 menjadi subjek. Komposisinya 19 pemain ganda dan 18 pemain tunggal. Bagian hasil menyebut seluruh subjek adalah atlet putra.

Subjek dipilih dengan purposive sampling memakai empat kriteria. Pertama, berusia 14–17 tahun. Kedua, tidak cedera dalam sebulan terakhir. Ketiga, aktif berlatih minimal tiga bulan terakhir. Keempat, bersedia mengikuti seluruh prosedur pengukuran. Paper tidak merinci berapa dari 23 atlet sisanya yang gugur pada tiap kriteria.

Lokasi dipilih karena dua alasan yang ditulis paper. Akademi itu punya fasilitas latihan yang dinilai representatif. Akademi itu juga memiliki atlet aktif pada kelompok usia sasaran. Seluruh data waktu reaksi pemain bulu tangkis dalam studi ini karenanya berasal dari satu tempat latihan.

Pengambilan data berlangsung dua hari, 3–4 Mei 2025. Desainnya kuantitatif komparatif dengan metode potong lintang. Data dikumpulkan dalam satu sesi pengukuran. Angka 0,260 dan 0,286 detik diambil dari sesi tunggal itu, tanpa pengukuran ulang pada bulan-bulan berikutnya.

3 Percobaan, 1 Nilai Rata-Rata

Paper merumuskan WBRT sebagai waktu yang dibutuhkan seluruh tubuh untuk merespons suatu rangsang. Menurut paper, WBRT mencerminkan integrasi tiga hal. Ketiganya persepsi visual, pengolahan informasi, dan respons motorik. Semuanya disebut krusial dalam situasi permainan yang cepat dan dinamis.

Alat ukurnya Whole Body Reaction Measuring Equipment TKK-5408 buatan Takei, Jepang. Atlet berdiri di atas matras sensor dalam posisi siap. Begitu rangsang cahaya muncul, atlet harus melompat turun dari matras secepat mungkin. Alat mencatat jeda antara munculnya cahaya dan kaki meninggalkan matras.

Setiap atlet mendapat satu kali percobaan untuk mengenal alat dan prosedur. Sesudah itu, tes dijalankan tiga kali. Nilai rata-rata dari tiga percobaan dipakai sebagai hasil akhir. Menurut paper, pengulangan itu untuk memastikan konsistensi hasil pengukuran.

Baca juga 156 Atlet Sepak Takraw Pelajar dan Dua Angka yang Berbeda

Kondisi ruang ikut dijaga. Tes dilakukan di dalam ruangan dengan pencahayaan dan suhu yang stabil. Tujuannya menekan variabel luar, seperti kelelahan atau gangguan lingkungan. Seluruh peserta diminta tidak melakukan aktivitas fisik berat minimal 24 jam sebelum sesi pengukuran.

4 Ukuran Tubuh Sebelum Tes

Sebelum tes WBRT, tim mencatat komposisi tubuh dengan Omron Karada Scan HBF-375. Yang dicatat berat badan, persentase lemak tubuh, dan massa otot. Paper menyebut data itu diambil karena komposisi tubuh mungkin memengaruhi performa reaksi. Tinggi badan juga dicatat. Abstrak menyebut alat OneMed HT701 untuk ukuran keempat itu.

Usia rata-rata kelompok tunggal 15,1 tahun, sedangkan kelompok ganda 15,26 tahun. Tinggi badan rata-rata pemain tunggal 165,1 sentimeter. Pemain ganda rata-rata 163,5 sentimeter. Simpangan baku tinggi badan kelompok ganda lebih lebar, yakni 7,5 sentimeter berbanding 4,87 sentimeter.

Empat raket dan deretan kok bulu tangkis di lantai lapangan hijau dalam ruangan
Ilustrasi empat raket dan deretan kok bulu tangkis di lantai lapangan hijau dalam ruangan. [Foto: Pexels]

Berat badan rata-rata pemain tunggal 54,18 kilogram, pemain ganda 56,9 kilogram. Lemak tubuh 11,69 persen berbanding 12,4 persen. Massa otot kedua kelompok sama, 38,9 persen, dengan simpangan baku 0,6 dan 0,9. Paper tidak menguji apakah selisih ukuran tubuh ini signifikan.

0,008 dan 0,006 yang Tetap Ditulis Normal

Tim lalu menguji normalitas data dengan uji Shapiro-Wilk, terpisah untuk tiap kelompok. Menurut paper, tujuannya agar analisis adil dan tidak dipengaruhi perbedaan awal antarkelompok. Pada tinggi badan, signifikansinya 0,575 untuk tunggal dan 0,857 untuk ganda. Pada berat badan, angkanya 0,993 dan 0,498.

Lemak tubuh mencatat 0,212 dan 0,802. Massa otot rangka mencatat 0,922 dan 0,077. Semua angka itu berada di atas 0,05. Paper memakai p > 0,05 sebagai tanda data berdistribusi normal, seperti tertulis pada uji normalitas WBRT.

Angka usia lebih menarik. Signifikansi Shapiro-Wilk untuk usia tercatat 0,008 pada kelompok tunggal dan 0,006 pada kelompok ganda. Keduanya di bawah 0,05. Kolom hasil pada Tabel 2 tetap menulis “Normal” untuk usia. Paper tidak memberi penjelasan atas dua angka tersebut.

Kalimat sesudah tabel justru menyatakan karakteristik subjek terdistribusi normal dan seimbang antarkelompok. Untuk variabel utama, hasilnya tidak bermasalah. Signifikansi WBRT 0,549 pada kelompok tunggal dan 0,131 pada kelompok ganda. Dua angka itu yang menjadi dasar pemakaian uji t sampel independen.

3 Ciri Permainan Ganda Menurut Peneliti

Pembahasan paper menyebut tiga ciri permainan ganda untuk menerangkan selisih 0,026 detik. “Perbedaan ini dapat dikaitkan dengan sifat dinamis permainan ganda, yang umumnya melibatkan reli lebih pendek, pertukaran pukulan lebih cepat, dan kebutuhan sinkronisasi dengan pasangan yang lebih tinggi,” tulis para peneliti ITB itu. Tiga ciri tersebut tidak diukur dalam studi ini.

Baca juga Self-Talk Positif dan Keputusan Atlet Futsal Remaja

Perbedaan dua nomor itu sudah dipaparkan sejak pendahuluan. Pemain tunggal bertanggung jawab atas seluruh area lapangan. Karena itu, mereka butuh gerak lebih luas dan strategi lebih terstruktur. Pemain ganda bermain berkoordinasi dengan satu pasangan. Fokusnya reaksi cepat terhadap permainan net dan pukulan keras lawan.

Abstrak menambahkan satu dugaan. Menurut abstrak, perbedaan itu kemungkinan mencerminkan tempo permainan ganda yang lebih tinggi. Tuntutan persepsinya juga lebih kompleks, sehingga respons neuromuskular harus lebih cepat terhadap banyak rangsang. Pada 37 atlet itu, rangsang yang benar-benar diuji hanya satu: cahaya.

Di bagian kesimpulan, tempo pertandingan ganda disebut berperan kunci dalam membentuk waktu reaksi yang lebih cepat. Pemain tunggal disebut lebih fokus pada penguasaan lapangan dan perencanaan taktik. Menurut peneliti, perbedaan kedua nomor itu sejalan dengan prinsip spesifisitas latihan. Kesimpulan itu tercantum di halaman 9.

1 Akademi dan Batas Klaim Sebab-Akibat

Peneliti mengakui sejumlah keterbatasan. “Pertama, sampel penelitian terbatas pada atlet dari satu akademi bulu tangkis, yang dapat membatasi generalisasi temuan ke populasi yang lebih luas, seperti atlet tingkat nasional atau daerah dengan lingkungan latihan dan pengalaman bertanding yang berbeda,” tulis mereka. Akademi itu menampung 60 atlet pada rentang usia sasaran.

Keterbatasan kedua menyangkut faktor individu. Paper tidak memperhitungkan dominasi tangan atau lateralitas, yang disebut dapat memengaruhi performa reaksi. Desain potong lintang juga membatasi kesimpulan. “Temuan hanya menggambarkan perbedaan yang teramati antara pemain tunggal dan ganda dan tidak dapat menetapkan hubungan sebab-akibat,” tulis tim itu.

Ada ketegangan dalam naskah pada titik ini. Bagian keterbatasan menolak klaim sebab-akibat. Namun, abstrak menulis spesialisasi pemain memengaruhi performa reaksi. Kesimpulan juga menyebut jenis nomor pertandingan memengaruhi kemampuan reaksi atlet. Yang benar-benar diukur hanya selisih 0,026 detik dalam waktu reaksi pemain bulu tangkis pada satu sesi.

Data komposisi tubuh menyisakan catatan lain. Tim mengukur lima karakteristik subjek, termasuk usia. Paper menyebut komposisi tubuh mungkin memengaruhi performa reaksi. Namun, paper tidak melaporkan analisis yang menghubungkan kelima angka itu dengan waktu reaksi pemain bulu tangkis yang diteliti.

Baca juga Mental Imagery: Saat Atlet Berlatih Tanpa Bergerak

3 Arah Riset Berikutnya dan 1 Saran Pelatih

Kesimpulan paper memuat satu saran untuk pelatih. Pelatih diminta mempertimbangkan latihan berbasis reaksi yang lebih banyak, terutama bagi pemain ganda. Abstrak menyarankan latihan perseptual-motorik yang spesifik sesuai posisi. Studi ini tidak menguji program latihan apa pun pada 37 atlet tersebut.

Untuk penelitian berikutnya, peneliti menyebut tiga arah. Sampel dibuat lebih beragam. Variabel perseptual-motorik tambahan dimasukkan. Pendekatan longitudinal dipakai untuk memahami pengaruh spesialisasi latihan terhadap perkembangan waktu reaksi pemain bulu tangkis. Paper juga membuka kemungkinan meneliti mekanisme saraf di balik waktu reaksi atlet muda.

Ucapan terima kasih paper ditujukan kepada atlet dan pelatih Taqi Arena Badminton Academy. Manajemen akademi disebut memberi izin dan dukungan penuh selama pengambilan data 2 hari itu. Paper berharap temuannya berguna bagi praktik kepelatihan bulu tangkis di Indonesia.

Angka terakhir yang tersisa adalah 0,260 detik, rata-rata waktu reaksi pemain bulu tangkis nomor ganda di akademi itu. Angka itu belum menjawab apakah bermain di nomor ganda yang membuat reaksi seorang atlet menjadi lebih cepat.

Bagikan

Baca Juga

Borneo FC Tegaskan Tak Pilih-Pilih Empat Kompetisi Musim Ini
PSIM Jogja Gelar Seleksi Tertutup EPA U16 dan U18
Alex Martins Diragukan, Tavares Siapkan Rencana Cadangan
PSS Bertandang ke Bali United dengan Dukungan Suporter
Lima Pemain Persija Cedera, Arhan Absen Empat Pekan
Bhayangkara Rekrut Gelandang Timnas Kosta Rika Brenes