Daftar Isi
Cekricek.id — Tindak tutur adalah nama untuk sesuatu yang kita kerjakan tiap hari tanpa memikirkannya, yaitu mengucapkan kalimat yang sekaligus mengerjakan sesuatu. Menulis “tempatnya luas, rindang” di kolom ulasan Google bukan cuma melaporkan keadaan. Itu penilaian. Menambahkan “tambahin kolam renang dong” bukan lagi penilaian, melainkan permintaan. Dua kalimat itu mengerjakan pekerjaan yang berbeda, meski muncul di kolom yang sama, ditulis orang yang sama, dan berhenti di tempat yang sama.
Lima peneliti dari program studi English Studies, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, memakai perbedaan itu sebagai alat ukur. Aisyah Abidatul Aziz, Rahma Alya Hilyati, Ivana Cecilia Meilina, Sekar Pawestri, dan Susi Yuliawati menulis Speech Acts in Online Reviews on University Facilities and Services: A Corpus Pragmatics Study, terbit di jurnal Metahumaniora Vol. 15 No. 3 tahun 2025. Yang mereka baca adalah 215 ulasan Google tentang kampus mereka sendiri, dikumpulkan dari yang paling lama sampai yang paling baru, dan diolah dengan metode gabungan kualitatif dan kuantitatif.
Alasan memilih kolom ulasan cukup masuk akal. Kolom itu terbuka bagi siapa saja — calon mahasiswa, orang tua yang mengantar, tamu yang singgah, sampai orang yang cuma lewat dan mampir ke mesin ATM. Reputasi sebuah perguruan tinggi, tulis tim itu, ikut dibentuk penilaian semacam ini, bukan hanya oleh akreditasi dan peringkat. Unpad sendiri, menurut pemeringkatan yang mereka kutip, berada di urutan ketujuh perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Korpus: Tumpukan Ulasan yang Bisa Dihitung

Istilah pertama yang perlu diterjemahkan adalah korpus. Dalam bahasa sehari-hari, korpus kira-kira berarti tumpukan teks yang sengaja dikumpulkan supaya bisa dihitung, bukan sekadar dibaca satu per satu. Tumpukan milik tim ini berisi 7.696 kata dari ulasan sepanjang 2014 sampai 2024. Ulasan terpendek hanya satu kata. Yang terpanjang 292 kata. Sebagian besar memuji lingkungan dan fasilitas; sebagian kecil berisi kritik dan saran. Rentangnya sendiri sudah bercerita: ada orang yang cukup mengetik satu kata, ada yang menulis hampir sepanjang surat.
Alat hitungnya bernama Sketch Engine, perangkat lunak yang biasa dipakai ahli bahasa untuk menyaring kata dari kumpulan teks besar. Tim itu menyalakan penyaring adjektiva — kata sifat — lalu memerintahkan mesin menampilkan yang paling sering muncul. Sepuluh kata sifat masuk seratus besar: luas, nyaman, sejuk, bersih, bagus, enak, adem, baik, rindang, dan lengkap. Cara kerjanya bertahap: ulasan dikumpulkan lebih dulu beserta rating yang diberikan pengulas, baru disaring kata sifatnya, dan terakhir dipilah menurut jenis tuturannya.
Baca juga Pandara, Pantun Ternate yang Nyaris Tak Terdengar
Angka korpusnya sendiri muncul dua kali dengan nilai yang berbeda di dalam artikel. Di bagian metode, tim itu menyebut 215 ulasan dengan total 7.696 kata. Di bagian hasil, korpus yang sama disebut memuat 4.316 token dan 4.243 kata. Selisih sebesar itu tidak dijelaskan di mana pun. Bagi pembaca awam angka mana pun terdengar sama kecilnya, tetapi untuk perhitungan frekuensi per satu juta kata, pembagi yang dipakai menentukan hasilnya.
Angkanya dihitung dengan cara yang perlu dijelaskan juga. Frekuensi ternormalisasi bukan jumlah kemunculan mentah, melainkan perkiraan berapa kali sebuah kata muncul dalam setiap satu juta kata, supaya korpus kecil dan korpus besar bisa dibandingkan setara. Dengan ukuran itu, luas muncul 12.280 kali per satu juta kata, nyaman 8.804 kali, dan sejuk 6.024 kali. Bandingkan dengan lengkap, yang duduk di urutan kesepuluh dengan 2.085 kali, kira-kira seperenam frekuensi luas.
Yang menarik justru bukan urutannya, melainkan apa yang tidak ada di dalamnya. Dari sepuluh kata sifat itu, enam menggambarkan ruang, hawa, dan tampilan fisik: luas, sejuk, bersih, adem, rindang, dan lengkap. Tidak satu pun secara khusus menggambarkan pengajaran, dosen, atau layanan administrasi. Ada pembanding untuk kata yang paling sering itu. Situs Universitas Padjadjaran menyebut kawasan pengembangan kampusnya di Jatinangor seluas 178 hektare, dan sejak 2021 kampus itu menargetkan penanaman 200 pohon tiap tahun. Kata luas, dengan demikian, punya padanan dalam satuan hektare. Kata sejuk tetap tinggal sebagai rasa.
Tindak Tutur: Ucapan yang Bekerja
Teori tindak tutur berangkat dari pengamatan yang sederhana: sebagian kalimat tidak melaporkan dunia, melainkan mengubah hubungan antara yang berbicara dan yang mendengar. Tim Unpad memakai pembagian yang diusulkan Atifi dan Marcoccia, yang membelah tuturan dalam ulasan daring menjadi tiga jenis. Evaluatif berarti menilai. Direktif berarti mendorong pembaca melakukan sesuatu. Analitis berarti memaparkan keadaan beserta alasannya, sehingga penilaian yang menyertainya berdiri di atas keterangan, bukan di atas kesan.
Baca juga Wayang dan Sate dalam Terjemahan Cantik Itu Luka
Ketiganya kerap muncul bercampur dalam satu ulasan, dan tim itu menghitung urutan pencampurannya sebagai kategori tersendiri. Ulasan yang memaparkan lalu meminta tidak disamakan dengan ulasan yang menilai lalu memaparkan. Hasilnya, yang paling banyak muncul adalah evaluatif murni, disusul gabungan evaluatif dan analitis, lalu analitis, lalu gabungan analitis dan evaluatif. Kombinasi yang memuat direktif justru paling jarang. Pembanding untuk pola itu ada di penelitian lain. Susi Yuliawati, yang ikut menulis artikel ini, sebelumnya membaca komentar pembaca berita daring tentang kebijakan seorang gubernur selama pandemi Covid-19 bersama dua rekannya, dan menemukan hal yang sama: tuturan evaluatif paling banyak dipakai. Dominasi itu tampaknya bukan ciri khas ulasan kampus. Ia ciri khas kolom komentar.
Evaluatif: Menilai tanpa Bukti
Contoh yang dipakai tim itu memperlihatkan bagaimana penilaian bekerja tanpa perlu bukti. Satu ulasan dalam korpus berbunyi, “Tempatnya luas, rindang. Universitas yg sangat keren untuk menimba ilmu.” Bagian pertama masih bisa diperiksa terhadap keadaan; bagian kedua tidak. Tidak ada keterangan apa pun di dalam ulasan itu tentang mutu pendidikan yang bisa dipakai membenarkan atau membantah kata keren.
Ulasan lain melangkah lebih jauh dengan menggeneralisasi orang. Pengulasnya menyebut tempatnya sangat luas, bersih, nyaman, dan orang-orang di dalamnya ramah semua. Tim Unpad menandai kata semua di situ: satu pengalaman perjumpaan diperluas menjadi keterangan tentang seluruh penghuni kampus. Kritik pun bekerja dengan pola yang serupa. Ada ulasan yang mengaku singgah hanya untuk memakai ATM, kena biaya parkir, dan mendapati lokasi ATM itu kurang terjaga kebersihannya. Satu kunjungan, satu sudut kampus, satu kesan — dan tetap tercatat sebagai penilaian atas kampus seluas 178 hektare.
Jenis analitis bekerja lain. Ia memberi keterangan lebih dulu, baru menyimpulkan. Satu ulasan dalam korpus menyebut kampus itu tidak memiliki kolam renang sehingga mahasiswa yang menekuni kegiatan kemaritiman dan penyelamatan di air tidak punya tempat berlatih yang aman dan terukur. Pilihan katanya tetap subjektif, tetapi klaimnya bisa diperiksa. Kolam itu ada atau tidak ada, dan jawabannya tidak bergantung pada suasana hati pengulasnya. Justru jenis inilah yang paling berguna bagi pengelola kampus, dan justru jenis ini yang lebih jarang muncul.
Direktif: Ulasan yang Meminta
Tuturan direktif jarang berdiri sendiri. Ia biasanya menempel pada penilaian atau pada paparan. Seorang pengulas yang menyebut dirinya alumnus perikanan memuji kampus fakultasnya, lalu meminta kolam renang ditambahkan dengan alasan mahasiswa perikanan perlu belajar menyelam. Pujian di depan, permintaan di belakang. Susunan seperti itu, dalam pembagian Atifi dan Marcoccia, dihitung sebagai gabungan evaluatif dan direktif.
Baca juga Ketika Buaya dan Badak Menggantikan Wajah Penguasa
Ada pula ulasan yang mendahulukan pengamatan. Salah satunya menyebut bagian atas kampus kekurangan pohon sehingga terasa gersang. Yang lain menyebut keamanan kampus perlu ditingkatkan karena sudah banyak kabar kehilangan. Yang paling panjang memuat keluhan tentang kemacetan menuju Jatinangor, lengkap dengan permintaan agar kepolisian ikut mencari jalan keluar. Ulasan, di titik itu, berhenti menjadi ulasan tentang kampus dan berubah menjadi surat pembaca tentang jalan raya.
Kesimpulan tim itu tidak menyanjung. Ulasan Google tentang Universitas Padjadjaran, tulis Aisyah dan empat rekannya, lebih bersifat emosional daripada informatif: komentar menonjolkan kesan yang dirasakan selama berkunjung, bukan keterangan tentang fasilitas atau layanan. Yang terbentuk dari tumpukan itu adalah persepsi. Dan persepsi, sebagaimana ditunjukkan sepuluh kata sifat tadi, dibentuk lebih dulu oleh pepohonan daripada oleh ruang kelas.
Mereka juga menyebutkan keterbatasannya sendiri. Korpus 215 ulasan tergolong kecil, dan tim itu mengakuinya terus terang. Mereka membela pilihan tersebut dengan merujuk Koester serta Vaughan dan Clancy, yang menyatakan korpus kecil yang khusus pada satu ranah justru memungkinkan analisis bahasa alamiah yang lebih dalam pada konteks pemakaiannya. Pembelaan itu wajar. Tetapi kecil tetap berarti kecil, dan 215 ulasan sepanjang sepuluh tahun bukan pendapat publik.
Di sinilah istilah tadi menemukan batasnya. Tindak tutur bisa memberi tahu apa yang sedang dikerjakan sebuah kalimat — menilai, meminta, atau memaparkan — tetapi tidak bisa memberi tahu apakah kalimat itu benar. Kolom ulasan bekerja dengan cara yang sama. Ia mencatat rapi apa yang dirasakan orang selama berada di 178 hektare itu, dan hampir tidak mencatat apa pun tentang apa yang mereka pelajari di sana.















