Cara Tokoh Heartbreak Motel Menyuruh dan Meminta

A A

Ilustrasi seorang perempuan membaca buku di dekat jendela yang terang. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Empat Puluh Kali Tokohnya Bicara Langsung, dan Itu Belum Tentu Kasar
  2. Ketika Sebuah Permintaan Menyamar Menjadi Pertanyaan
  3. Kolom-kolom yang Dibiarkan Kosong di Tabel Hitungan Itu

Cekricek.id — Pertanyaan itu dilontarkan tanpa niat mendengar jawabannya. Dialog di halaman 232 novel Heartbreak Motel karya Ika Natassa berbunyi “Post lo ini udah diomongin di mana-mana. Itu yang lo mau?” Tidak ada larangan di sana. Tidak ada perintah. Yang tertulis cuma satu kalimat berita dan satu pertanyaan pendek, dan keduanya bekerja sebagai teguran keras kepada lawan bicaranya.

Kalimat semacam itu yang dihitung Ulfa Hidayaturahmi dan Haris Syukri satu per satu. Keduanya dari Universitas Negeri Padang, dan hasil hitungan mereka terbit dalam Strategi Kesantunan Tindak Tutur Direktif dalam Novel Heartbreak Motel Karya Ika Natassa di jurnal Persona Volume 5 Nomor 2 tahun 2026, halaman 414 sampai 426. Yang mereka kejar bukan jalan ceritanya, melainkan cara tokoh-tokohnya menyuruh, meminta, menyarankan, dan menantang.

Mundur sedikit ke dasarnya. Pada 1962, filsuf J.L. Austin menyatakan bahwa orang yang bertutur tidak sekadar mengeluarkan bunyi, melainkan sedang melakukan sesuatu lewat ucapannya. Searle kemudian memilah tindakan itu menjadi lima jenis, dan salah satunya disebut direktif: tuturan yang bertujuan membuat lawan bicara melakukan sesuatu. Perintah, permintaan, ajakan, saran, dan tantangan semuanya masuk ke keranjang yang sama. Persoalannya, tiap direktif menyerempet harga diri orang yang disuruh. Penelope Brown dan Stephen Levinson menyebut harga diri itu muka, dan menyusun lima strategi bertutur untuk menjaganya: berterus terang tanpa basa-basi, basa-basi kesantunan positif, basa-basi kesantunan negatif, bertutur samar-samar, dan diam sama sekali. Kerangka itu yang dipasang kedua peneliti pada dialog Heartbreak Motel, dengan cara membaca, menandai, dan mencatat tiap kutipan yang cocok.

Empat Puluh Kali Tokohnya Bicara Langsung, dan Itu Belum Tentu Kasar

Ilustrasi dua perempuan berbincang sambil memegang cangkir di meja bundar.
Ilustrasi dua perempuan berbincang sambil memegang cangkir di meja bundar. [Foto: Pexels]

Yang paling banyak justru yang paling telanjang. Ada 40 tuturan yang dikelompokkan sebagai bertutur terus terang tanpa basa-basi, jumlah terbesar untuk satu kategori tunggal di seluruh data. Salah satu contohnya sangat pendek. Pada halaman 60 novel itu tertulis dialog “Scene 3, kan? Yuk.” Reza mengucapkannya kepada Ava, di tengah pekerjaan yang sedang mereka kerjakan berdua. Tidak ada pujian di situ, tidak ada permintaan maaf, tidak ada penghalus apa pun. Menurut hitungan Brown dan Levinson, tuturan tanpa pelunak seperti itu semestinya paling mengancam muka. Yang terjadi kebalikannya. Kalimat sependek itu, tulis Ulfa Hidayaturahmi dan Haris Syukri, justru menandakan situasi yang informal dan akrab; penuturnya tidak perlu menyusun permintaan panjang karena hubungan keduanya memungkinkan maksudnya disampaikan langsung.

Baca juga Relief Borobudur yang Tak Setia pada Kitabnya

Alasan novel ini yang dipilih ada pada susunan tokohnya. Ulfa Hidayaturahmi dan Haris Syukri menyebut Heartbreak Motel menghadirkan hubungan yang bertingkat-tingkat: persahabatan, hubungan kerja di lokasi syuting, hubungan atasan dan bawahan, serta tokoh-tokoh yang jaraknya jauh satu sama lain. Keragaman itu yang membuat satu maksud yang sama muncul dalam bentuk berbeda-beda, tergantung siapa yang mengucapkannya kepada siapa.

Kesimpulan kecil itu yang membalik arah pembacaan. Keterusterangan tidak dengan sendirinya berarti tidak santun. Ia bisa jadi bentuk efisiensi, bahkan tanda kenyamanan. Yang menentukan bukan bentuk kalimatnya, melainkan siapa yang berbicara kepada siapa, sedekat apa mereka, dan dalam keadaan apa kalimat itu keluar. Dari titik ini, seluruh tabel hitungan berubah fungsi: ia tidak lagi mengukur kesopanan, melainkan memetakan jarak sosial.

Ketika Sebuah Permintaan Menyamar Menjadi Pertanyaan

Potong ke kategori berikutnya. Basa-basi kesantunan positif adalah yang paling beragam bentuknya, dan yang terbanyak di dalamnya adalah tuturan yang melibatkan penutur dan lawan bicaranya dalam satu kegiatan, sebanyak 23 data. Bentuknya sesederhana pemakaian kata kita. Pada halaman 39 tertulis “Kita coba... hmm... scene 20 di halaman 35”, sebuah suruhan yang penuturnya sekaligus ikut kerjakan. Bentuk lain menumpang pada hubungan yang sudah ada. Sembilan tuturan memakai penanda identitas kelompok yang sama, dan satu di antaranya ada di halaman 55, ketika Lara mendesak sahabatnya dengan kalimat “Ya masihlah! Apa gunanya gue sahabatan dengan seorang Ava Alessandra kalau nggak bisa ngorek masalah beginian.” Sepuluh tuturan lain memberi alasan lebih dulu sebelum menyuruh, delapan berupa gurauan, delapan lagi berupa ungkapan simpati.

Ada satu kategori yang jumlahnya mengejutkan. Di kelompok kesantunan negatif, tuturan permintaan yang dibungkus sebagai pertanyaan tercatat 28 kali, hampir menyamai seluruh kategori terus terang. Contohnya di halaman 129: “Maaf break-nya kelamaan, maaf juga udah bikin nggak nyaman. Kita mulai lagi, boleh?” Perintah untuk kembali bekerja disamarkan menjadi permohonan izin, lengkap dengan dua permintaan maaf di depannya.

Baca juga Tujuh Anak Tertinggal Ketukan di Kelas Tari Pekanbaru

Satu adegan berdiri sendiri di halaman 128. Seorang tokoh menawarkan apa saja kepada lawan bicaranya: mobil, berlian yang sedang dipakai, liburan di resor mana pun. Dialognya ditutup kalimat “Kamu bilang aja. Gampang tinggal aku kasih.” Kedua peneliti menggolongkannya sebagai direktif menantang yang dibungkus sikap optimistis. Tawaran yang terdengar murah hati itu, dalam hitungan mereka, tetap sebuah suruhan kepada lawan bicaranya.

Adegan yang lebih lunak berjalan dengan cara lain. Di halaman 13 seorang instruktur menahan muridnya dengan alasan lebih dulu, “Nanti tangan kamu lecet, Raisa. Udah deh, percaya ini sama instruktur.” Di halaman 8 perhatian dipakai sebagai pembungkus saran, lewat pertanyaan tentang jetlag sepulang dari London. Di halaman 246 saran beristirahat dilempar sebagai gurauan, dan di halaman 124 sebuah suruhan singkat didahului pujian. Sopan santun yang paling rapi justru muncul di adegan yang paling remeh. Di halaman 145, seorang petugas hotel menawarkan menyimpankan barang tamunya di lemari pendingin dan mengantarkannya kembali ke kamar bila diperlukan. Di halaman 263 seorang tokoh menitipkan barangnya di mobil sambil meminta persetujuan lewat satu partikel, ya, lalu mengusulkan pekerjaan itu dibereskan besok. Keduanya masuk kelompok yang sama meski jarak sosialnya berbeda jauh.

Sisanya tipis-tipis. Tuturan berpagar hanya satu, yaitu kalimat di halaman 125 yang menilai rambut seseorang “agak nggak rapi deh”, dengan kata agak sebagai pembatas dan partikel deh sebagai peredam. Tuturan meminta maaf empat. Di kelompok samar-samar, petunjuk asosiasi tiga, salah satunya kalimat di halaman 7 tentang sepatu yang nanti rusak, dan pertanyaan retoris lima.

Kolom-kolom yang Dibiarkan Kosong di Tabel Hitungan Itu

Kembali ke ruang kerja tempat kalimat-kalimat itu diucapkan. Sebagian besar adegan yang dikutip terjadi di sekitar lokasi syuting: pengaturan adegan, permintaan jeda, penilaian atas rambut dan kostum, ajakan mengulang bagian tertentu. Di ruang seperti itu orang bekerja rapat-rapat sepanjang hari, dan cara mereka menyuruh berubah mengikuti seberapa lama mereka sudah bersama.

Baca juga Kamar Dunya dan Sekolah Nur dalam Cerita Anak Arab

Tabel rekapitulasinya memuat lebih banyak baris kosong daripada baris berisi. Dari sembilan subkategori kesantunan negatif, lima tidak menghasilkan satu data pun: tuturan tidak langsung, tuturan yang meminimalkan beban, tuturan impersonal, tuturan yang menyatakan kepesimisan, dan tuturan yang menyatakan rasa hormat. Dari sepuluh subkategori bertutur samar-samar, delapan kosong, termasuk isyarat, tautologi, kontradiksi, ironi, dan metafora. Kekosongan itu ikut bercerita. Dua bentuk kesantunan yang paling formal, yakni menjaga jarak lewat kalimat impersonal dan meninggikan lawan bicara lewat ungkapan hormat, tidak muncul sama sekali dalam data yang mereka kumpulkan. Yang tersisa adalah dunia tempat orang saling menyuruh dengan kata kita, dengan gurauan, dengan alasan, atau dengan pertanyaan yang sudah tahu jawabannya.

Ada juga bentuk yang tidak bisa dihitung karena tidak berbunyi. Brown dan Levinson memasukkan diam sebagai strategi kelima, pilihan bagi penutur yang menilai ancaman terhadap muka terlalu besar untuk ditanggung. Strategi itu tidak berbekas di tabel mana pun, karena yang bisa dibaca dan dicatat hanyalah kalimat yang tertulis. Yang tidak diucapkan tokoh-tokoh novel itu lolos dari hitungan. Yang juga tidak tertangkap adalah nada suara. Data penelitian ini berupa kutipan tertulis, dikumpulkan dengan teknik baca dan catat, lalu dikelompokkan, ditafsirkan, dan disimpulkan. Satu kalimat pendek bisa terdengar dingin atau hangat tergantung cara mengucapkannya, dan halaman novel tidak menyimpan keterangan itu. Yang tersisa untuk dihitung adalah pilihan katanya, tanda bacanya, dan keterangan pengarang yang mengapitnya.

Kedua peneliti menyimpulkan pemilihan strategi dipengaruhi relasi kuasa, jarak sosial, tingkat kedekatan, dan situasi komunikasi. Mereka juga menandai batas kerjanya sendiri: datanya berasal dari satu novel, dan mereka menyarankan penelitian lanjutan yang memilah strategi menurut jenis relasi tertentu, seperti hubungan profesional, persahabatan, atau perbedaan status sosial. Yang terpetakan karena itu adalah dialog karangan Ika Natassa, bukan cara orang Indonesia bertutur.

Di halaman 232 pertanyaan itu tetap menggantung. Novelnya tidak mencatat jawaban, dan tabel hitungan itu tidak menyediakan kolom untuknya.

Bagikan

Baca Juga

Deiksis Novel Fabel, 3.690 Data dari Dua Novel Indonesia
Seribu Tiga Puluh Kata Tunjuk di Novel Lilin
Marah Mendominasi Novel Aku Tak Membenci Hujan
Tindak Tutur di Balik 215 Ulasan Google Kampus
Kesantunan Bahasa Jawa Tak Selalu Lewat Putaran
Ketika Mengeluh Jadi Bahasa Utama Sebuah Novel